
“Kami harus segera kembali untuk menghadiri pertemuan di sekolah,” ucapku dengan suara yang masih serak karena habis menangis. Jam sudah menunjukkan pukul 8:30, sebenarnya masih ada banyak sisa waktu untuk bersama keluargaku. Namun, entah kenapa perasaanku saat ini sangat sedih, kesal dan juga marah. Perasaan itu membuatku menolak untuk terus melihat mereka sementara waktu, aku butuh waktu untuk menenangkan pikiranku.
Apriliawan hanya memandangku tanpa mengatakan apapun, setelah berpamitan kami pun bergegas pergi tanpa melihat siapa pun bahkan menyapa siapa pun yang kami lalui.
Didalam mobil hanya ada keheningan, aku mencoba untuk menegarkan hatiku agar air mataku tidak keluar kembali. Mataku sudah cukup sembap dan memerah.
Aku cukup paham dan mengerti kenapa orang tuaku mengambil keputusan ini, keadaan ekonomi kami sangat buruk. Seberapa besar usaha kami, kami masih harus berusaha lagi dan lagi untuk bertahan hidup.
Disaat ekonomi kami sedang terpuruk, sangat mudah untuk bangkit jika keluarga pihak ayahku mendukung dan memberikan sedikit bantuan. Tapi sangat ironis mendapati fakta bahwa mereka seolah menutup mata dan meninggalkan kami dibelakang.
Mengetahui bahwa aku akan hidup sendirian sekarang, jauh dari orang tua dan saudaraku, membuatku merasa mengasihani kehidupanku sendiri.
Walaupun aku mendapatkan beasiswa untuk mendapatkan pendidikan gratis, tapi orang tuaku perlu mencari biaya tempat tinggal dan uang makan untuk ku. Aku rasa, pengeluaran mereka bertambah seiring kami tumbuh besar. Hal-hal itu membuatku tidak bisa menolak kepergian mereka.
“Kita masih ada waktu selama 30 menit sebelum pertemuan mu,” ucap Apriliawan menghentikan laju mobilnya. Aku menyadari bahwa kami sudah berada di Taman Kota, dekat dengan kost-ku.
Apriliawan hanya mengembangkan senyum tipis tanpa menanyakan tentang apapun, dia mencoba untuk menenangkanku dan membawaku kesini. Kami duduk pada bangku panjang dekat air mancur, matahari mulai menghangatkan tubuhku dan sedikit membuat mataku yang perih merasa silau.
“Maaf, seharusnya hari ini kita bersenang-senang,” ucapku merasa tidak enak hati pada Apriliawan.
“Hari ini cukup menyenangkan, setidaknya aku bisa lebih dekat dengan mu.” Aku menatap Apriliawan yang tersenyum tipis dan terlihat menenangkan, “apakah sekarang kamu merasa sedikit baikkan?” lanjutnya seraya menatapku dengan lekat.
__ADS_1
Aku menghindari tatapannya yang mulai terasa lebih menyilaukan dari matahari, aku membuang pandanganku ke langit yang tampak biru dengan awan tipis yang melayang dengan pelan.
“Kamu tahu, Wan? Aku merasa bahwa hidupku ini lebih menyedihkan dari kehidupan orang lain. Aku membutuhkan beasiswa untuk tetap melanjutkan pendidikanku, untuk mendapatkan beasiswa itu tanpa sadar aku mengorbankan seorang sahabat terbaikku di masa lalu. Mereka bilang bahwa aku adalah seseorang yang sangat beruntung selalu berada di peringkat teratas, namun pada kenyataannya peringkat itu seperti tali yang terus menjerat leharku semakin keras seiring berjalannya waktu.”
“Namun usahaku itu ternyata belum cukup, masih banyak hal yang harus diselesaikan dengan uang. Takdir seperti mempermainkan kami begitu saja, sekarang aku harus rela hidup terpisah dengan keluargaku,” lanjutku.
“Apakah mereka akan pergi dalam waktu yang lama?”
“Entahlah, tidak ada yang tahu sampai kapan. Bisa saja itu membutuhkan waktu lebih dari satu tahun atau bahkan tiga tahun hingga aku lulus.”
“Tapi kamu cukup beruntung terpisah oleh perbedaan waktu dan jarak.”
Ya, aku mengerti makna dibalik perkataan Apriliawan. Aku memang cukup beruntung bahwa keluargaku dalam keadaan sehat. Ibu dan ayah Apriliawan sudah lama tiada, mereka telah tenang di alam sana, mungkin telah menjadi bintang di atas langit sana.
“Terkadang, namun ketika aku merindukan mereka aku berpikir bahwa kehidupanku tidak seberuntung kehidupan orang lain,” ucap Apriliawan. Walaupun aku tahu bahwa kalimat itu adalah kalimat yang penuh kesedihan didalamnya, tapi entah kenapa aku seakan merasa lega karena setidaknya orang tua dan adikku masih berada di dunia ini.
Aku tersenyum kecut, “terlalu banyak cara takdir mempermainkan kita.”
Kini aku berpikir dari arah sudut berbeda, mungkin ini adalah jalan terbaik saat ini. Suatu saat nanti, takdir pasti lelah untuk mempermainkan kami dan kemudian memberikan kami suatu kehidupan yang lebih baik lagi. Aku hanya perlu untuk menanggungnya sedikit lebih lama dan menguatkan hati dan pikiranku, ada saatnya suatu saat kami akan berkumpul tanpa harus mengkhawatirkan apapun.
“Sekarang perbaiki wajahmu, kamu tidak berniat menunjukkan wajah murung itu kan ke teman lainnya, kan?”
__ADS_1
“Aaah…, aku seharusnya mengkhawatirkan masalah itu sebelum aku memutuskan untuk menangis,” ucapku menghela nafas. Aku teringat kaca mataku, aku segera meraihnya dalam tas dan kemudian memakainya.
“Lebih baik!” ucap Apriliawan tersenyum hangat padaku. Kini aku sudah menata pikiran dan perasaanku, setidaknya aku tidak akan terlalu mengeluh akan nasibku dan kembali fokus pada apa yang menjadi kewajibanku.
“Maaf tidak bisa menemanimu lebih lama lagi,” ucapku pada Apriliawan.
“Tidak apa! Ada hari lainnya. Bagaimana kalau kita kencan hari minggu depan?”
“Hahaha, baiklah. Biarkan aku menebus dosaku hari ini.”
Beberapa saat kemudian, aku telah berdiri diambang gerbang sekolah. Apriliawan telah pergi setelah mengantarku. Aku menatap gambar spanduk yang masih terpaku kuat didepan gedung, aku dan Reza hanya dapat bersama pada spanduk itu saja.
Aku meraih ikat rambut yang berada di dalam tas dan kemudian mengucirnya agak tinggi, aku biasanya akan melakukan itu pada rambutku ketika aku memutuskan untuk memakai kaca mata. Kini aku seperti menjadi seorang gadis kutu buku dengan kaca mata silinder yang lebih besar dari mataku. T-shirt putih dengan bawahan celana jeans. Aku siap!
“Hei, Zytha! Kearah sini!” seseorang memanggilku dari arah kelompok kecil yang terdiri dari enam orang siswa dan seorang guru.
“Maaf terlambat,” ucapku seraya memberikan hormat kepada guru yang akan memberikan bimbingan. Mataku tertuju pada Reza yang menghadap ke sisi yang berbeda, sikapnya sudah dingin kembali dan tak memperdulikan aku seperti pagi tadi. Sedangkan disampingnya, berdiri Yuli dengan raut wajah yang sangat tidak bersahaja kearahku. Aku kira, aku tidak akan mendapatkan kenyamanan sama sekali berada dalam kelompok ini.
“Tidak apa-apa, Zytha. Kesini, berdiri disampingku,” ucap seorang senior yang terlihat ramah, aku cukup lega mendapatkan seorang yang bisa menerimaku dalam kelompok.
“Sebenarnya, kelompok ini sudah terbentuk dari semester lalu dan sudah melakukan persiapan. Hanya saja, ada beberapa siswa yang memilih untuk mundur karena ketidaksiapan mereka, jadi bapak sangat mengandalkan bantuan kalian sekarang,” jelas seorang guru pembimbing yang menatap kearahku, beliau terlihat tegas dan penuh harap pada kelompok ini.
__ADS_1
“Maaf telah menunggu, ini kuncinya,” ucap seorang penjaga sekolah yang datang dengan terengah-engah, dia sudah terlihat tua dengan badan yang tetap membungkuk untuk memberikan hormat. Tidak ada yang mengatakan terima kasih kepadanya, semua orang, satu demi satu bergegas pergi mengikuti guru pembimbing tanpa menoleh kepada sang penjaga sekolah.
“Terima kasih, Pak.” Aku yang masih tertinggal di sini pun berinisiatif mengatakannya. Akankah tubuh ayahku tahun demi tahun akan membungkuk sepertinya?