Senior, Berhenti Menggodaku!

Senior, Berhenti Menggodaku!
Aku merindukan mu


__ADS_3

Beberapa kantong plastik terasa ringan dan terbang ke udara, kemudian dengan cepat berpindah dari genggamanku. Dengan sedikit usaha untuk melihat dalam remang-remang cahaya.


“Senior?” Aku bersyukur mendapatinya sebagai seorang yang aku kenal, aku bisa melihat senyum ramah yang Jaelani lempar padaku.


“Kenapa lenganmu sangat lemah?” Aku tidak tahu dia mencoba mengejekku atau membuat sebuah gurauan garing.


“Temanku memberikannya secara tiba-tiba, aku tidak sempat memegangnya dengan benar.”


“Hmmm ... Kamu harus lebih hati-hati kedepannya. Bukankah begitu, Reza?” Mendengar nama Reza membuatku menatap Jaelani dengan lekat seolah bertanya di mana Reza? Aku tidak melihat keberadaannya sama sekali. Beberapa saat kemudian aku mengikuti lirikan kecil Jaelani ke arah pojokan gelap di ujung bangku panjang itu.


Keyakinanku tentang seseorang sedang mengawasiku menjadi bulat. Dia memang memperhatikan aku sejak aku duduk di sana atau dia sudah memperhatikan aku sejak datang ke sini.


Bukan itu masalahnya sekarang, memikirkannya kembali membuatku merasa sedikit marah. Jika dia memang menatap ke arahku dari awal, mengapa dia tidak memberikan bantuan ketika mendapati juniornya dalam masalah? Sedingin itukah dia?


Lupakan!


Apa hak yang aku miliki untuk mengharapkan bantuannya. Menaruh harapan padanya adalah hal yang sia-sia. Siapa yang tahu bahkan hatinya pun juga ikut membeku akibat aura dingin yang selalu dia bawa kemana-mana.


Walaupun pemikiranku penuh dengan hal buruk tentangnya, beberapa saat kemudian Reza keluar dari sudut gelap. Aku akui bahwa aku cukup terpukau dengannya. Dia seperti sebuah permata saat keluar dari balik gelap itu. Wajahnya tampak berkilau walaupun dengan cahaya remang-remang dari lampu warung, sosoknya yang tinggi sedikit membuatku menaikkan pandangan. Dia sangat berbeda ketika memakai pakaian formal dan pakaian casual.


Reza memakai kaos hitam dengan bawahan sependek lutut, sebuah headset tampak bergelantungan di telinganya. Sikapnya tetap tegak dengan aura percaya diri yang membias dari seluruh bagian tubuhnya. Jangan lupakan wajah dinginnya saat ini.


“Walaupun otakmu cukup kosong, tapi aku tidak percaya bahwa tenagamu benar-benar tidak bisa diandalkan,” ucap Reza menatapku.


Persetan dengan segala pujian yang baru aku pikirkan. Segala hal kebaikan yang ada pada dirinya terasa sia-sia untuknya.


“Kamu benar, Senior. Bahkan tenagaku tak cukup untuk menjawab segala bentuk perhatianmu padaku.” Reza benar-benar membuatku kehabisan kata-kata. Atas dasar apa dia selalu menghakimi otakku, mengatakan aku bodoh dan sekarang mengatakan otakku kosong. Aku belum terbiasa dengan kata yang tidak pernah ada dalam kamusku.


“Selamat malam, Senior” Sapa Shinta masuk kedalam lingkaran kami. Kamu membuatku kesal, Shinta. Lihatlah sebab apa yang telah kamu lakukan padaku, batinku.


“Maaf, Zytha. Aku buru-buru untuk mengambil kembalianku.” Shinta mencoba untuk memberikan wajah polosnya. Bagaimana aku bisa marah denganmu sekarang, lalu aku harus menyalahkan siapa.

__ADS_1


“Lalu apakah kamu sudah selesai?” tanyaku pada Shinta, aku mencoba melantunkan dengan intonasi rendah.


“Sudah. Maaf, ya?”


“Tidak apa, ayo kita kembali.” Aku hanya ingin segera pergi dari hadapan Reza. Sungguh melelahkan seharian menguras tenaga dan emosi untuk menghadapi senior satu ini.


“Kita barengan.” Jaelani mengalihkan padanganku ke kantong belanjaan yang telah berpindah beberapa saat yang lalu ke genggamannya. Seolah mengatakan bahwa menolak ajakannya berarti mengikhlaskan barangku untuk mereka.


“Baiklah.” Aku hanya ingin sampai ke kamarku dengan cepat tanpa berdebat apapun, aku lapar. Dalam perjalan, Jaelani dan Reza mengikuti kami di belakang dengan beberapa pembahasan mengenai penutupan OSPEK besok.


Dari pembicaraan mereka, aku dapat menangkap beberapa gambaran. Seperti pertujukan yang diadakan oleh semua anggota ekstrakurikuler yang bertujuan untuk menarik minat siswa baru dan mengambil anggota baru untuk mereka.


Pertunjukan akan dilakukan di dalam Aula besar SMK. Walaupun belum pernah memasuki aula, namun sempat beredar kabar bahwa aula dapat menampung lebih dari 5.000 orang.


Tak mengherankan untuk memiliki aula yang begitu besar untuk ukuran SMK terfavorit ini, mengingat biaya masuk pun kesana sangat besar pula. Aku bersyukur untuk masuk melalui jalur beasiswa, namun tidak pasti untuk semester berikutnya. Sejauh yang aku lihat, terdapat bayak siswa baru yang berasal dari SMP favorit lainnya di kota besar untuk memperebutkannya.


“Hallo?” Aku menjawab sebuah panggilan tanpa melihat nama dibalik panggilan itu, aku cukup kaget untuk segera menggeser tanda terima. Namun dari suara saat dia memanggil namaku, aku akan langsung mengetahuinya. Suaranya seakan mengisi ulang seluruh tenagaku.


“Kenapa deganmu?”


“Aku lelah menghindari kumpulan cewek yang terus mencoba menggodaku!”


“Hahaha, jangan sia-siakan ketampananmu itu.” Berpikir tentang masa SMP, dia memang memiliki banyak pengagum hingga sampai akhir pada kelulusan, aku baru mengetahui tentang sebuah grup fans khusus untuknya. Tidak mengherankan bagiku, karena selain memiliki wajah yang tampan dan tubuh yang tinggi, dia juga terkenal karena menjadi seorang penyiar radio pada saluran remaja yang cukup terkenal saat ini. Bahkan aku tidak pernah melewati waktu saat dia mengudara.


Untuk beberapa saat aku mendengar beberapa keributan “Zytha, aku akan menghubungimu nanti. Ada beberapa masalah sedang terjadi”


“Baiklah, jaga diri disana. Oke?”


“Oke....”


“...”

__ADS_1


“Zytha....”


“Hmmm?”


“Aku merindukanmu.” Terdengar begitu lemah dan tertahan. Dulu, ketika memasuki waktu libur sampai dua minggu lamanya, dia akan merengek mengatakannya setiap malam dan bahkan sesekali akan menitipkan kata rindunya pada saluran radio. Aku benar-benar menyesal tidak satu sekolah lagi dengannya.


“Aku juga merindukanmu”


Bipp..


Panggilan terputus


“Siapa?” Shinta menyadarkan aku dari lamunan sesaat, aku melupakan keberadaanku di tengah perjalan pulang.


“Seseorang.”


Aku rasa Shinta mengerti jawabanku untuk tidak melanjutkan pertanyaan lebih jauh lagi, untuk beberapa saat kemudian suasana kembali hening. Hanya ada suara langkah kami.


“Baiklah, kita sudah sampai.” Beberapa saat yang lalu aku melihat alis Jaelani yang menyatu hingga kemudian memudarkan raut penasarannya ke arah Shinta. Kami telah sampai pada gerbang halaman barat.


“Terima kasih, Senior.” Aku mengucapkan terima kasih dengan tulus kepada mereka, namun melihat wajah Reza yang semakin memahat wajah yang lebih dingin dari sebelumnya, membuatku berpikir ulang untuk tersenyum. Aku seperti mulai terbiasa dengan tatapannya.


🍀🍀🍀


Aku pertama menyelesaikan makananku, Shinta masih saja lahap dengan segala jenis makanan yang ada di depannya.


"Kamu harus diet, Shinta" Aku mengatakan itu demi kebaikannya sendiri namun dia sama sekali tidak menghiraukan ucapanku. Shinta semakin mencoba memperlihatkan bakat makannya yang luarbiasa.


Percuma melarang siswa jurusan Tata Boga untuk tidak makan! Percuma!


Aku memilih untuk mengambil beberapa lembar kertas kosong dan membuat beberapa coretan di sana.

__ADS_1


__ADS_2