Senior, Berhenti Menggodaku!

Senior, Berhenti Menggodaku!
Tanda Hati


__ADS_3

“Wah..., aku sangat gugup. Buku merahku belum terisi penuh.” Aku mendengar Syafa mengeluh tentang satu hal dari awal pertemuanku pagi ini dengannya.


“Sudahlah, kita sudah berusaha.” Nurul mencoba untuk mencari keikhlasan dari balik kalimatnya, dia mulai saling merangkul dengan Syafa seolah berkata takdir mereka telah datang dan akan menghadapi hukuman bersama.


“Akankah senior setega itu pada kita?” Suci mulai ikut terbawa suasana melihat dua temannya merangkul satu sama lain dalam satu duka.


“....”


“Zytha, aku tidak dapat menebak apa yang ada dipikiran mu saat ini. Kamu tidak takut dengan air got itu?”


“Sekarang musim kemarau, semua got pasti mengering.”


Maksud kalimatku itu untuk bercanda dengan kalian, tapi mengapa kalian menunjukkan wajah penuh harap dan tercerahkan.


“Tapi, akan ada beberapa genangan yang cukup untuk beberapa siswa baru. Berdoalah semoga kalian tidak kebagian,” lanjutku.


“Apaaaa...!?” Mereka sangat kompak membuat ekspresi ketakutan.


“Ayoo kita lihat siapa yang memiliki jumlah terendah diantara kita.” Syafa dengan antusias untuk menghitung.


“Ayolah teman-teman. Aku hanya bercanda. Aku yakin senior tidak akan ada waktu untuk menjahili kita hari ini.” Lanjutku sebelum kekonyolan ini semakin menjadi-jadi. Aku sudah cukup terhibur untuk melepaskan keteganganku saat ini.


“Bercanda? Coba lihat ekspresi mu itu! Itu datar sama sekali!” Suara Nurul memekik telinga.


“Aku tak bisa membantumu,” ucapku datar. Aku seperti kehilangan cara untuk membentuk senyum di bibirku.


Sebenarnya hari ini aku merasa sedikit gugup. Hari ini aku akan naik ke panggung aula untuk beberapa kata mewakili siswa baru.


Aku berusaha menekan segala kepanikanku, terus mencoba melempar wajah datar. Namun jantungku tidak dapat dibohongi, itu sedikit terpompa dengan cepat.


Ada sosok menyilaukan dari arah depan yang tiba-tiba muncul. Tampilannya sangat berbeda hari ini. Reza tampak dengan pakaian yang lebih formal dari biasanya, kemeja putih dibalut jas hitam. Rambutnya pun tertata rapi. Segala hal yang dia kenakan tampak sempurna dan membuatnya tambah mengagumkan.


“Mana buku merahmu?” tanya Reza tiba-tiba memecah perhatianku untuk meniti sosoknya.


“Untuk apa mencari buku merahku? Sekarang masih tersisa dua jam lagi sampai batas pengumpulan.”


“Kamu belum mendapatkan parafku.”


Sepenting itukah parafmu? Biarpun aku belum mengisinya dengan penuh, hatiku masih berat untuk membiarkan coretanmu berjejak pada milikku, batinku.


“Tidak perlu.” Setelah jawabanku, semua teman-teman menatapku dengan penuh intimidasi. Apa Reza mencoba untuk menyusahkan aku lagi? Seolah membuatku diperhatikan olehnya namun ternyata aku hanya mendapatkan kesusahan setelahnya. Tatapan para penggemarnya lebih menakutkan dari wajah dinginnya itu.


Aku jelas melihat bibirnya melengkung ke atas untuk beberapa saat kemudian. Apakah benar ini rencananya?


“Karena teman kalian menolak, kalian tidak akan mendapatkannya juga.” Reza seperti menambahkan api pada bau bensi yang menyebar dari segala arah.


“Zytha, jangan pikirkan egomu sendiri. Cepat serahkan bukumu.” Syafa meraih tas plastikku dengan seluruh kekuatannya. Dan bergegas mencari apa yang diinginkan musuh.


Tatapan mematikan ke arahku dan berubah ke tatapan manja ke arah lain. Kalian seperti serigala berbulu domba.


Reza terus membalikkan lembar demi lembar buku merah dengan pelan. Matanya seperti membaca satu demi satu baris. Kami seperti menunggu hakim mengetuk palu untuk menerima hukuman atau sebuah kebebasan.

__ADS_1


“Kamu berhasil mendapatkan nama para senior yang sulit.”


Sulit? Tak ada yang sulit. Hanya kamu yang memiliki persyaratan bodoh dan tidak masuk akal, batinku.


“Cepatlah. Aku harus menemui seseorang saat ini” Aku mendesak Reza untuk segera berhenti dari aktifitasnya.


“Ke mana?”


“Sejak kapan senior menjadi perhatian seperti ini?” Aku hanya mencoba melemparkan kalimat sinisme di sini.


“Sejak sekarang.”


Apa? Jawaban apa itu? Kamu masih ingin melanjutkan permainanmu? Lihat para tatapan para penggemar mu padaku. Kamu memang sangat menyebalkan, batinku.


“Aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu.” Aku sekali lagi melemparkan tatapan mematikan, namun Reza terus fokus pada lembaran buku.


“Kenapa beberapa senior membuat tanda hati pada tiap parafnya?”


“Hei, itu bukan urusanmu.”


Tanda Hati? Aku tidak pernah melihatnya. Lebih baik jangan menghiraukan mereka saat ini. Reza hanya ingin mencari masalah denganku.


Setelah selesai bermain dengan buku merah itu, dia segera meraih pulpen dan mulai membuat paraf.


Detik kemudian, buku merah itu telah menutupi wajahku.


“Tidak bisakah kamu memberikannya baik-baik? Lipstick-ku habis tertempel di sana!” Aku benar-benar murka. Tuhan, aku adalah anak baik. Aku sangat pandai mengendalikan diri, tapi kenapa ketika berhadapan dengan Reza aku menjadi sangat pemarah.


Aku melihat seringai kepuasan di sudut bibir Reza. Baiklah, hari ini aku memutuskan untuk menjadikanmu musuhku, batinku.


“Zytha, ayoo bergegas pergi.” Seorang siswa baru mendatangiku. Dia adalah Joni. Kami berkenalan saat dewan memanggil kami kemarin sore. Aku berencana menemuinya duluan, tapi akhirnya dia yang menemukanku lebih dulu sekarang.


Aku harus mendinginkan kepala dan hatiku. Sabar, Zytha. Jangan biarkan dia menang karena berhasil memprovokasimu, batinku.


“Ke mana?” Reza kembali bertanya dengan tatapan dingin ke arah siswa baru itu.


“Kami a–”


“Bukan urusanmu. Ayoo kita pergi.” Aku segera menahan suara yang akan keluar dari lidah Joni. Aku segera bangkit dan kemudian bergegas pergi.


Aku mendengar beberapa suara keluhan teman-temanku yang akan ditinggalkan oleh Reza dan beberapa saat mereka berhasil membuat Reza tetap diam disana untuk sebuah paraf.


“Kamu sangat dekat dengan para senior,” ucap Joni padaku. Suaranya agak serak.


“Tidak juga. Jangan terlalu bergaul dengan senior itu. Itu tidak baik”


Pftttt


Joni menahan tawanya, aku berkata jujur di sini dan tidak ada yang lucu.


“Kenapa tertawa?”

__ADS_1


“Kamu lucu!”


Ahh ... biarkan saja dia berpikir pada pikirannya sendiri. Aku sudah tidak dapat membaca sikap orang lain lagi, itu membuatku lelah.


“Ke mana kita akan pergi?”


“Ruangan Busana, para senior di sana menunggu kita.”


🍀🍀🍀


“Mengapa kalian sangat lama sekali, cepat-cepat!!” Seorang cewek cantik datang menyambut kami dengan tergesa-gesa.


“Mengapa para siswa yang memiliki wajah cantik dan tampan membuatku stres hari ini!!” Senior itu melanjutkan segala omelannya.


Terdapat 4 senior dalam ruangan, 2 orang sibuk dengan setelan busana dan 2 lainnya siap dengan segala alat make up-nya.


“Aku ingin mendadani Reza agak lebih lama. Tapi dia selalu saja berlari dan menghindari ku.”


“Bagaimana tidak Reza takut padamu? dia tidak suka didandani dengan style opa-opa!”


“Diamlah, aku masih berduka disini. Jangan menaburi garam pada lukaku.”


“Tsk, Tsk, Tsk.. lakukan pekerjaan kalian. jangan mengeluh. Aku tidak mau ketinggalan pembukaan acaranya!”


“Iya....” Semua senior menjawab dengan lemah dan segera memulai misi.


“Ada apa dengan make up di wajahmu itu? para panitia sekarang membuat para siswa menjadi badut!” Aku tertawa kecil mendengar seorang senior yang kini menaruh cleanser pada wajahku.


“Wahh ... kamu tampan sekali!” Puji senior lainnya kepada Joni. Joni sekarang memakai setelah jas yang sama dengan Reza, hanya saja Joni memakai kemeja warna peach.


“Kamu ini adalah siswa tertampan di angkatan siswa baru. uuh~~ gemes aku,” lanjut senior lainnya. Senior itu tampak menjadikan Joni idol barunya sekarang.


Akhirnya setelah beberapa waktu pun berlalu. Penampilan kami berdua berubah total. Kemana tampilan badut itu?


Rambutku yang panjang, terurai dan bergelombang pada tiap ujungnya. Aku seperti sudah menjadi siswa resmi dengan sentuhan blazer hitam. Rok sepanjang lutut masih terasa nyaman untuk aku gunakan serta hak sepatu yang tidak terlalu tinggi.


Make up pada wajahku tampak ringan namun benar-benar memberikan sentuhan musim semi. Aku menyukainya.


“Kalian luar biasa!” Salah satu senior cewek masuk keruangan dengan atribut yang menunjukkan bahwa dia benar-benar seorang panitia.


“Ayo kita pergi”


🍀🍀🍀


note penulis


Reza : "Stop?! apa yang akan kamu berikan ke wajahku??"


Senior :"Ini hanya liplos, tidak akan berwarna."


Reza :"Jauhkan!"

__ADS_1


Senior:"..." aku ingin memakanmu saat ini juga Reza.


__ADS_2