
Hawa dingin semakin berhembus dari utara, sesekali aku akan menggosok telapak tanganku untuk mencari kehangatan. Setelah berjalan cukup lama, aku memutuskan untuk duduk di kursi panjang halaman barat. Dinginnya malam terasa mulai menghangat, akhirnya hari panjang telah selesai. Lusa adalah hari pertama mulai sekolah.
“Bagaimana kabarmu, Nak?” ucap seorang wanita dibalik sambungan, terdengar lembut dan penuh kehangatan.
“Baik, Bunda. Bunda bagaimana di sana, Sehat?”
“Kami semua sehat. Apakah kamu masih memiliki sisa uang untuk makan di sana?”
“Ya, Bunda.” Aku sudah berusaha untuk mengirit pengeluaranku. Walaupun tersisa beberapa tapi aku yakin itu cukup untuk beberapa hari berikutnya.
“Syukurlah. Ayahmu belum pulang dari ‘Sekotong’. Mungkin minggu depan kami baru sempat untuk mengunjungimu,” jelas bunda dengan lirih.
“Sekotong? Kenapa ayahanda mengambil kerja kasar di luar lagi?” tanyaku khawatir. Sekotong adalah sebuah wilayah pertambangan emas illegal di bagian selatan provinsi, banyak orang yang pergi kesana untuk mengadu keberuntungan walaupun harus bertaruh nyawa. Ayah dan kelompoknya biasanya akan menggali lubang panjang menembus ke dalam bumi, menggali bongkah demi bongkah batu yang sekiranya memiliki kadar emas.
“Pesanan sedang sepi sekarang, Nak.” Ibu menghela nafas panjang di sana, mungkin keadaan keuangan kami sedang berada di bawah zona merah. Bekerja mengandalkan pekerjaan sebagai Tukang Kayu terkadang tidak bisa membantu mencukupi kebutuhan kami. “Kamu jangan khawatir, Ayahmu akan baik-baik saja. Tugasmu hanya untuk belajar. Kamu mengerti maksud bunda?” lanjutnya kemudian.
“Iya,” jawabku lirih, bagaimana pun aku masih tetap khawatir. Sudah banyak kejadian di lokasi pertambangan, hal paling mengerikan adalah runtuhnya lubang galian hingga menimbun belasan pekerja. Keadaan itu tentu akan menjadi masalah besar, karena mereka tidak akan bisa lagi keluarkan. Lubang galian emas itu seperti sebuah lubang kuburan yang menanti ketika mereka tidak dalam keberuntungan.
“Baiklah, kamu harus istirahat lebih awal. Kamu pasti lelah seharian ketika mengikuti OSPEK!”
“Baiklah, Bunda. Selamat malam.”
“Selamat malam juga, Sayang.”
Sambungan telepon itu pun terputus. Aku menghela nafasku dengan panjang, nasib masih mempermainkan kami untuk berjuang lebih keras dari kebanyakan orang. Kapankah semua ini akan berakhir?
Sudah sekian kalinya lagi aku mengecek handphone-ku kembali, tapi tak ada satu pun pesan dari Apriliawan. Bahkan, panggilanku satu pun tidak ada yang diterima.
__ADS_1
Aku menghela nafas panjang, mencoba bersandar pada sandaran kursi. Menatap langit dengan jutaan bintang. Aku mulai menghubungkan titik demi titik terang di langit menjadi berbagai bentuk; kelinci, kepala kuda, panah, cinta. Sangat indah.
Waktu kecil, aku sering mengkhayalkan kehidupan di atas sana. Makhluk luarbiasa yang selalu memandang ke bawah untuk mengawasi manusia, hidup di atas gumpalan raksasa awan di sana. Mungkin sesuatu yang terlihat mirip dengan manusia, namun memiliki ukuran tubuh yang besar dan terlihat sangat indah. Masa kecil yang penuh dengan ilusi negeri dongeng.
“Kamu sedang apa?” Siluet hitam masuk area pandanganku. Seperti bayangan manusia dengan latar angkasa malam, sangat indah. “Hei!” lanjutnya.
“A-apa?” Aku terkejut. Dia bukan makhluk dari ilusi negeri dongengku.
“Kesambet baru tahu rasa!”
“Se-senior?” Aku memastikan bahwa itu adalah Reza. Dia berdiri di hadapanku dan sedikit membungkuk untuk melihat wajahku, sedangkan aku masih bersandar santai sambil melihat ke atas langit namun pemandangan langit itu kini telah berubah menjadi siluet wajah Reza.
“Sedang apa di sini?” ucapnya datar. Aku mulai menegakkan posisi dudukku, sejurus kemudian Reza menarik wajahnya seraya memundurkan langkahnya.
“Hanya mencari angin!” Aku menjawabnya dengan singkat. Aku tidak berpikir bahwa Reza bisa berada di sini. “Senior kenapa di sini? Bukankah ini halaman putri?” lanjutku.
“Bukan urusanmu! Balik sana!” ucapnya dengan tegas.
Detik selanjutnya, tidak ada suara ataupun pergerakan sama sekali dari Reza. Hal itu membuatku mendongakkan pandangan, yang ada hanya siluet tubuh tinggi dengan postur sempurna. Keadaan di sini memang tidak memiliki cahaya yang terang, hanya ada cahaya remang dari rembulan. Sangat sulit melihat tatapan apa yang kini Reza lempar padaku.
“Kenapa?” tanyaku penasaran. Sejurus kemudian dia menjatuhkan kedua lengannya di antara kedua sisi bangku, wajahnya kini tepat berada di depan wajahku. Sekali lagi, aku terpojok. Tidak ada jalan untuk keluar, membuatku takut untuk sesaat.
“Kamu sungguh ingin menjadi gadis yang pemberani?” ucapnya dengan datar. Seperti menyalurkan aura dinginnya, kini badanku mulai bergetar takut.
“A-Apa maksudmu?”
“Kamu jago Karate? Taekwondo? Keahlian beladiri mana yang kamu kuasai?”
__ADS_1
“Ti-Tidak ada. Jangan membuatku takut!”
“Kamu bisa takut?” Aku rasa itu bukan sebuah pertanyaan. Hanya seperti ungkapan bahwa aku tak seharusnya berada di sini saat malam seperti ini. Apalagi untuk seorang gadis kecil sepertiku.
“A-aku mengerti, biarkan aku pergi!” ucapku dengan takut. Aku mulai risih dengan posisi ini. Aku teringat kejadian sebelumnya, wajahku terasa memanas. Sejurus kemudian, Reza menarik wajahnya dan memundurkan langkahnya. Melihat ruang pelarian telah terbuka, aku segera mengambil langkah panjang dan cepat untuk segera pergi darinya.
“Kenapa berlarian di saat malam begini, sih?” Shinta berkata heran. Di sampingnya berdiri seorang gadis yang cantik dan terlihat menawan. Kulitnya putih, rambut ikal dan memiliki mata yang besar.
“Ada makhluk aneh di sana!” ucapku dengan nafas yang memburu. Aku gampang sekali lelah bahkan untuk berlari kecil yang terbilang tidak membutuhkan usaha yang besar.
“Makhluk aneh?” ujar seseorang yang membawa aura dingin dari arah belakangku.
“Kenapa cowok berada di area putri?” cetusku kesal. Reza berjalan dan kemudian melewatiku tanpa menjawab apapun.
“Terima kasih, Reza. Lainkali aku akan mentraktirmu,” ucap gadis itu dengan tersenyum. Sebuah koper kecil telah perpindah ke tangan gadis itu.
“Mn.” Reza hanya mengangguk kecil untuk menjawabnya. Aku rasa Reza telah membantu membawa barang bawaan gadis itu. Apakah mereka pacaran?
“Apakah kamu siswa baru?” tanya gadis itu ke arahku dengan ramah. Aku pun berjalan dengan ragu untuk masuk lingkaran mereka. Sinta hanya menatapku dengan linglung. Masih mencari pencerahan dari jawaban ‘makhluk aneh’ beberapa saat yang lalu.
“Ya, Senior. Namaku Zytha,” ucapku dengan santun.
“Panggil saja Linda. Apakah kamu siswa dari SMK yang sama dengan Reza?”
“I-ya.”
“Kalau begitu, kamu juga juniorku. Lain waktu kita berempat bisa makan bersama di sekolah, biar aku yang teraktir.” Gadis yang ramah, aku tersenyum balik kepadanya.
__ADS_1
“Baiklah, kamu harus istirahat. Kamu sudah melalui perjalan yang panjang hari ini,” ucap Reza dengan ramah. Apa? Reza ternyata memiliki sisi ini? Aku rasa Reza memang pacaran dengan Linda, mereka terlihat akrab. Tapi, kenapa hatiku terasa aneh? Aku merasa tidak nyaman sama sekali.
Reza pun pergi meninggalkan kami bertiga. Setelah menyapa dengan beberapa kalimat, kami pun berpisah untuk mengambil waktu istirahat lebih awal dan aku berencana untuk bangun telat karena besok adalah hari Minggu. Tubuhku butuh recharge energi sebelum masuk sekolah lusa.