
Setelah sesi photo, kami pun bergegas turun dari panggung, satu demi satu, mencari posisi duduk semula. Pandanganku mengarah ke Joni yang mengambil arah berbeda. Joni memilih mengikuti ayahnya, mengambil posisi duduk di sebelah ibunya. Sesekali ibunya akan memperbaiki helaian rambut yang mulai menutupi pandangan Joni sambil memamerkan gigi putihnya ke para tamu undangan yang lain. Tawa bahagia terus terpancar dari raut wajah mereka.
Reza berjalan di sampingku membawa sebuah bingkisan yang seharusnya milikku. “Tidak akan ada yang mengambil bunga itu darimu,” ucapnya seraya menatap lurus kedepan. Aku memperhatikan bunga yang kini ada dalam pelukanku, aku memeluknya dengan erat tanpa sadar. Lenganku hampir tak dapat saling bertautan karena ukuran bunga yang begitu besar.
“Tentu aku akan menjaganya. Senior terlihat ingin merampasnya dariku,” ucapku dengan nada godaan jahat padanya. Kami bertukar kata tanpa ada yang mencoba melihat ekspresi masing-masing. Kami hanya dapat menebak makna apa yang ada dibalik kalimat yang kami lontarkan.
“Kamu bodoh ya, aku yang menyerahkannya padamu.”
“Terima kasih atas bunganya~”
Reza semakin melajukan langkahnya untuk mendahuluiku, mungkin saat ini dia merinding ngeri mendengar ucapan terima kasih dadakanku. Oh ya, pendamping dadakanku! Aku harus mengucapkan terima kasih kepadanya setelah acara selesai. Semoga aku bisa bertemu dengan beliau.
“Senior…,” panggilku kepada Reza yang berjarak satu langkah didepanku saat ini, namun tidak ada sahutan bahkan satu gerak pun dari tubuhnya untuk bereaksi pada panggilanku.
“Kak Reza?” Aku mencoba untuk memanggilnya kembali, dengan panggilan yang lebih akrab.
“Kenapa?” Lihat, jawabannya tanpa jeda dari panggilaku.
“Siapakah orang yang mendampingiku tadi?”
“Untuk apa kamu bertanya?”
“Hanya ingin mengucapkan terima kasih.”
__ADS_1
“Tidak perlu merepotkan diri. Beliau telah pulang!”
“Ow, bagaimana kamu tahu?!”
Reza berjalan memasuki celah barisan kursi menuju posisi duduknya kembali, dia tak menjawab pertanyaanku. Sikap dinginnya kembali lagi. Yah, terserah. Mungkin saat ini Reza sedang membohongiku untuk menutup obrolan, dia terlalu malas untuk melayani pertanyaanku, aku akan mencarinya nanti.
Ada urusan mendesak lainnya yang kini aku hadapi, bagaimana caraku memegang bunga ini sambil duduk? Aku tidak ingin meletakkannya di lantai begitu saja, sangat disayangkan untuk membiarkannya rusak begitu cepat. Haruskah aku menanyakan para senior untuk menyimpannya untukku sementara?
“Berikan padaku!” Reza merampas milikku dari pelukanku, aahhhh. Aku sudah menebak niatmu sejak awal saat kamu terus melirik bungaku diatas panggung.
“Apa yang kau lakukan?” tanyaku dengan suara lirih saat wajahnya semakin mendekat kearahku. Apakah retina matanya sejak awal memang berwarna coklat terang? Begitu berkilau ketika cahaya lampu menembusnya.
“Temanmu tak akan kembali,” ucap Reza. Suaranya terdengar pelan dari arah belakang telingaku, tanganya yang panjang mampu meraih kursi di sampingku dari arah belakang untuk meletakkan bunga serta sebuah bingkisan yang telah dia pegang erat sejak turun dari atas panggung. Setelah memastikan bahwa benda-benda itu aman dan tak akan terjatuh dengan mudah, dia kembali menegakkan diri pada kursinya dan fokus pada acara selanjutnya.
Waktu terus bejalan, satu demi satu persembahan dari masing-masing ekstrakulikuler telah tampil menunjukkan bakat. Aku sangat bosan, tak ada satupun ekstrakulikuler yang menarik minatku, sedangkan seorang yang selalu membuatku kesal, tak melakukan apapun di sampingku. Reza hanya duduk kaku menatap ke arah depan sepanjang waktu, ini semakin membosankan.
Dengan cepat bunga dan bingkisanku telah berpindah ke lantai. Oh Tuhan, siapa orang yang tak memiliki sopan santun ini. Aku ingin menangisi bungaku, sungguh malang.
“Perkenalkan, namaku Anwar. Kamu Zytha, kan?” Dia terlalu banyak bicara. “Kamu sangat terkenal sekarang. Aku tertarik padamu sejak pertama kali melihatmu” Orang ini berbicara tanpa jeda dan tak berniat membiarkanku menjawab pertanyaannya sendiri. “Oh ya, aku bisa minta nomor *handphone-*mu?”
“Hei….” Untuk pertama kalinya dalam waktu satu jam lebih, Reza mengeluarkan suaranya. Terdengar tak bersahabat sama sekali. Nadanya begitu angkuh dan terasa dingin. “Enyah dari sini, suaramu sangat mengganggu,” lanjutnya.
“Ternyata kamu Reza. Kamu masih saja angkuh dan berlagak sombong di depanku” Senior yang memperkenalkan dirinya dengan nama Anwar terlihat mulai terpancing emosi. Apakah akan ada pertengkaran di sini? Aku mengasihani posisiku yang berada diantara pertengkaran mereka saat ini. Bunga, bisakah kita bertukar tempat?
__ADS_1
“Jangan membuatku marah.” Reza mengucapkan kalimat ancaman tanpa mengubah nada dan ekspresinya. Pandangannya tidak pernah lepas dari pertunjukan di atas panggung, sebuah persembahan dari Club Karate, terlihat tangguh dan begitu menawan dengan segala gerakannya.
Aku melihat Anwar dengan lirikan kecil di sudut mataku, dia terlihat menahan amarah yang luarbiasa. Suara dari gertakan giginya terdengar menakutkan, urat nadi pada leher dan pelipisnya semakin membiru dan mengencang, matanya memerah dan hampir keluar dari tempatnya.
“Senior…,” panggilku lirih ke arah Anwar. Jangan sampai Anwar melayangkan tinjunya, posisiku tidak aman di antara Mereka. Mendengar panggilanku, Anwar segera sadar dari amarahnya dan segera mengendalikan emosi. Mungkin mencoba menyelamatkan harga dirinya di depanku untuk saat ini.
“Hmm…, Zytha. Aku akan mencarimu di lain waktu,” ucapnya dengan nada suara sedikit bergetar menahan sisa amarah. Sedangkan Reza tanpak tenang di sampingku, masih fokus dengan aktifitasnya sendiri. Anwar segera bangkit dari kursi dan berusaha menggesernya tanpa kesabaran.
“Tempatkan bunga dan bingkisan itu pada tempatnya semula,” suara Reza dengan tenang. Tapi ketenangan itu tak dapat membuat amarah Anwar hilang, malah semakin menjadi-jadi. Mereka seperti pernah berada pada sebuah pertengkaran hebat, jarang melihat dua orang cowok saling bermusuhan. Anwar meraih bunga dan bingkisan itu dengan pelan dan menempatkanya pada posisi semula. Anwar hanya tampak menghargai benda-benda itu sebagai milikku sehingga dia membawanya dengan pelan terlepas dari emosi yang kini menyelimutinya.
Aku menghela napas lega melihat mereka terpisah tanpa pertengkaran yang berarti. Melihat bungaku yang telah kotor pada beberapa kelompaknya membuatku semakin menyayangkannya. Aku mencoba merapikannya sekali lagi, setelah terlihat lebih bagus dan memastikan tidak ada yang rusak, aku kemudian memfokuskan diri kembali ke arah depan.
“Lebih baik kita keluar.” Reza tampak gelisah dan segera bangkit dari kursinya, meraih bunga dan mendorongnya kepangkuanku. Sedangkan dia membawa bingkisan dengan sebelah tangannya.
“Kenapa?” Aku bingung di sini, ada apa dengan Reza? Namun dia terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan bingungku.
“Akan ada pemotretan untuk kita, lebih baik segera pergi agar tidak terlambat,” jelas reza dengan posisi masih membelakangiku. Aku tidak dapat melihat ekspresinya saat ini. Ahh, buat apa aku penasaran, dia akan selalu memasang wajah dingin seperti biasanya.
“Tapi acaranya belum selesai,” ucapku menunjukkan acara yang masih berjalan di atas panggung. Namun Reza tidak mengindahkan perkataanku. Dia mulai berjalan ke arah pintu aula, beberapa senior cewek memandang Reza dengan mata yang berbinar. Aku sudah terbiasa dengan cara mereka memandang Reza–seperti saat ini.
Reza terus berjalan tanpa menengok kebelakang, entah dia sadar atau tidak bahwa aku masih mengikutinya dari arah belakang. Beberapa senior menyapa Reza dengan antusias, namun Reza yang menjadi pusat perhatian berlagak dingin dan hanya menganggukkan kepala satu dua kali.
“Bunga yang besar sekali. Masih ingat dengan kakak?” Seorang mencoba menyamakan langkah kakinya denganku dan bersikap akrab, aku meliriknya untuk beberapa saat. Namun, tak satupun ingatanku pernah bertemu dengannya. “Kakak yang tempo hari meminta nomor *handphone-*mu,” lanjutnya. Cowok yang mencoba meminta nomor handphone-ku bukan hanya kamu, kenapa bersikap sok kenal sekarang, batinku.
__ADS_1
“Jangan ganggu kami dulu, kami harus memburu waktu.” Aku kini bersyukur atas sikap dingin Reza, untuk kesekian kalinya, sikap dinginnya mampu untuk menolongku menyingkirkan para penggoda ini.
“Ayolah, Reza. Aku tidak akan mengganggu waktu kalian yang berharga,” ucapnya dengan tenang dan kemudian kembali memfokuskan dirinya padaku, “terlebih lagi dengan gadis cantik dan bahkan siswa terbaik pada pendaftaran siswa baru tahun ini.” Aku tidak menyukai kata demi kata yang keluar dari mulutnya itu.