
Senin merupakan hari satu-satunya yang tidak membedakan seragam siswa menurut jurusan, semua tampak kompak dalam satu warna; putih dan abu-abu. Sedangkan hari-hari berikutnya, kami harus menggunakan seragam jurusan masing-masing.
“Hei, Zytha!” Syafa menyapa dari luar gerbang sekolah, tampaknya dia baru sampai juga.
“Pagi…,” balas ku melempar senyum ramah.
“Zytha, kenapa aku merasa gugup ya?” Syafa mulai melingkarkan tangannya pada lenganku, kulitnya terasa sangat dingin, hampir membeku.
“Karena ini hari pertama kita,” ucapku meyakinkan. Aku pun tidak dapat memungkiri beberapa perasaan aneh dalam diriku, serta sangat sulit mengabaikan beberapa tatapan minat yang mengarah padaku.
Saat ini, kami masih berdiri di luar gerbang sekolah. Berharap untuk bertemu beberapa teman lainnya. Sambil menunggu kedatangan mereka, aku mulai meluaskan pandangan dari ujung barat ke ujung timur.
Sekolah yang kini telah resmi menjadi tempat aku menimba ilmu terletak tepat di sebelah kanan jalan raya, sedangkan di sebelah kiri jalan terdapat beberap sekolah, di antaranya adalah SMP Favorit, MA, SMK Management dan STM. Hal yang patut disombongkan lainnya yang dimiliki sekolahku ini adalah mengenai panjang area yang melebihi total panjang area dari beberapa sekolah di depannya. Dari ujung SMP Favorit sampai bertemu ujung STM, sekolahku masih membentang memamerkan keindahannya.
Wilayah ini merupakan wilayah pendidikan, tidak heran letak sekolah akan saling berdampingan. Hal ini pun menyebabkan kemacetan luarbiasa pada jalan raya di pagi hari akibat siswa yang keluar-masuk sekolah, beberapa polisi akan berjaga untuk mengendalikan jalan dan beberapa lainnya akan mendisiplinkan siswa di bawah umur yang mengendarai sepeda motor atau mobil.
Beberapa menit kemudian, Suci dan Nurul telah bergabung bersama kami. Kami memutuskan untuk masuk bersama-sama. Tepat setelah memasuki gerbang, mata kami tiba-tiba terfokus pada gambar besar yang tertempel pada gedung bertuliskan ‘Selamat Datang Siswa Baru Angkatan 2020', tidak ada hal yang aneh dalam kalimat yang tertulis di sana. Tapi, gambar utama yang tercetak jelas cukup membuat bola mataku terasa lepas dari rongganya. Aku melupakan hal ini.
Hari minggu kemarin, aku dan Reza mengambil pemotretan untuk sekolah yang sebelumnya sudah dijadwalkan. Dan hasilnya–gambar kami berdua yang telah memenuhi area spanduk itu. Aku tidak menduga akan secepat ini dipublikasikan. Dan sekarang, aku tidak dapat menyalahkan pandangan semua siswa yang mengarah padaku.
Aku melihat satu tatapan yang berbeda dari seorang senior, jauh di depan kami namun terlihat dengan jelas. Senior itu telah mencuri pandang ke arah Syafa. “Syafa, apakah kamu mengenal senior itu?” tanyaku penasaran karena pandangan itu terlihat berbeda.
“Siapa?” jawab Syafa penasaran.
“Senior yang berdiri di sana, dia jelas-jelas melihatmu dengan sangat lekat.”
“…” Syafa terdiam beberapa saat, “Ya, aku mengenalnya,” jawab Syafa dengan ragu. Aku tidak berusaha untuk bertanya lagi, mungkin ada suatu hal di antara mereka yang seharusnya belum bisa aku ketahui.
__ADS_1
Setelah beberapa langkah, jarak kami antara senior itu semakin dekat. Dia berdiri di sebelah gerbang tengah, di samping satpam yang sedang bertugas mengecek standar pakaian siswa serta kelengkapan atribut. Selanjutnya kami pun ikut mengantri untuk pengecekan rutin ini.
“Bukankah itu gadis yang kamu taksir, Jaya?” Seorang teman yang berdiri di sebelah senior itu terlihat menggodanya. Pandangannya masih lekat melihat Syafa yang kini berada di depanku.
“Kamu jangan mulai lagi…,” jawabnya lirih, agak berbisik. Senior itu terlihat tinggi dan memiliki tubuh yang ideal. Sedikit poni panjang terlihat menutupi keningnya.
“Cie…, mukamu memerah itu.” Goda temannya lagi, aku pun sepontan melihat wajah Syafa dan rona pipinya ikut memerah. Aku pun tersenyum untuk memahami situasi yang terjadi. Beberapa saat kemudian, kami pun lolos dari pemeriksaan dan berjalan memasuki lapangan utama sekolah. Kami bersiap untuk mengikuti upacara bendera.
Lapangan utama itu sangat luas, terdapat penanda di setiap sisi yang bertuliskan nama jurusan. Rupanya kami harus berbaris berdasarkan jurusan dan kelas. Tanda nama jurusan Tekhnik Komputer Jaringan telah berdiri tegak pada lapangan sebelah timur. Aku bersyukur bahwa tempat itu cukup rindang. Setidaknya aku tidak akan pingsan pada upacara pertamaku.
“Jangan mengkhayal terus,” ucapku menggoda Syafa karena dia terus terdiam sejak pemeriksaan itu, tidak seperti dirinya sendiri.
“Apa sih, Zytha ini,” ucapnya malu.
“Ayo buruan ambil tempat!” Nurul segera mengambil langkah cepat ketika suara dibalik pengeras suara terdengar. Aku tidak mau ketinggalan, tempat teduh itu adalah milikku dari awal.
“Teman! Kita ini berbaris berdasarkan tinggi,” ucapnya ngotot. Aku pun melihat kesekitar dan tak mendapatkan pembenaran dari perkataannya. Jurusan Akomodasi Perhotel (AP) berbaris berdasarkan jenis kelamin.
“Coba lihat ke sekitarmu, cewek di depan sedangkan cowok berada di belakang,” jelasku malas.
“Ahhh…, aku baru menyadarinya. Hehehe”
“Pindah kebelakang!” ucapku tegas. Aku sudah tidak tahan untuk berada di bawah sinar matahari. Aku hanya memutar mataku malas.
“Kamu cukup jutek juga.” Aku mendengar kritik tajam dari arah sampingku.
“Se-Senior, kenapa berbaris disini?” tanyaku gugup pada Reza, melihatnya secara tiba-tiba membuat jantungku berdegup kencang, ada apa denganku?
__ADS_1
“Kamu buta? Aku berbaris di barisan kelasku sendiri,” ucapnya datar.
“Jurusan TKJ juga?” tanyaku dengan ragu.
“Mn” Reza menjawab singkat dengan anggukan kecil. Aku baru menyadari bahwa Reza adalah senior jurusanku. Seharusnya aku membuat hubungan yang baik dengannya.
“Reza!” Panggil seseorang yang datang menghampiri.
“Kenapa?”
“Bisakah kamu menjadi Komandan Upacara hari ini?”
“Cari Jaelani. Minta dia yang ambil alih”
“Ta-pi…,”
“Cari!” Tatapan dingin Reza membuat senior itu ketakutan dan kemudian bergegas berlari ke arah jurusan AP. Terlihat sedikit perbincangan di antara mereka berdua, kemudian tak membutuhkan waktu yang lama, Jaelani terlihat pasrah dan berjalan ketengah lapangan.
“Tumben kamu menolak untuk jadi Komandan Upacara. Biasanya selalu bersedia,” ucap temannya yang berdiri di depan Reza.
“Hadap depan!”
Waw, dia seperti seorang wanita yang kedatangan tamu bulanan. Senggol sedikit, nyawa bisa melayang. Lebih baik aku mengabaikannya, jangan sampai aku dapat masalah karena mood-nya itu.
Waktu terus berjalan, kenapa upacara ini terasa sangat lama. Matahari sudah mulai meninggi dan menggeser arah bayang pepohonan. Nafasku terasa ikut memanas dan semakin memburu, padanganku sudah tidak fokus lagi.
“Kenapa kamu berbaris ke kelas junior?” bisik senior yang berada di sampingku. Aku menengok ke belakang sesaat dan aku dapati Reza telah berdiri di belakangku, menatapku dengan tatapan tajam.
__ADS_1
“Putar badan!” titahnya dengan tegas. Mengetahui Reza tiba-tiba berada di belakangku membuatku memiliki perasaan yang aneh. Reza seperti sengaja untuk pindah ke barisanku. Memikirkan ini dan itu membuatku lupa akan waktu, aku pun berhasil mengikuti upacara hingga selesai walaupun pikiran ku tidak berada pada tempatnya.