
“Aku mempercayaimu.”
Kenapa jantungku berdetak keras mendengar kata itu dari Reza? Aku sudah gila. Benar-benar gila. Aku segera mengganti sudut pandanganku ke arah layar komputer. Mataku semakin terhipnotis oleh barisan kode-kode yang berjajar rapi di sana, aku seperti tak mengenali hasil kerjaku sendiri.
“Senior…,” panggil seorang siswi dari arah belakangku sontak membuatku tersadar dari lamunanku sendiri. “Aku masih bingung. Tolong jelaskan lagi padaku,” lanjutnya kembali. Terdengar memelas dan tak berdaya.
“Baiklah.” Reza melepaskan mouse-nya dan berlalu menghampiri siswi lainnya.
Uuuuuhh…, aku membuang nafas panjangku. Terasa dinding-dinding sudah tidak menghimpit dadaku lagi–tak lama kemudian bel istirahat pun berbunyi.
“Ayo kita ke kantin bareng,” ucap Syafa kepadaku dengan senyum yang merekah.
“Ayo buruan!” panggil Nurul dan Suci. Mereka berdiri di luar pintu untuk menunggu kami.
“Hmmmm…, kamu duluan, ya. Aku ada urusan sebentar,” ucapku tidak enak hati. Aku sudah menghitung berulang kali pengeluaran yang harus aku habiskan hari ini. Keadaan keuanganku saat ini dalam keadaan buruk, aku tidak mau menyusahkan ayah dan ibu untuk saat ini. Aku hanya akan makan saat istirahat kedua, pada siang hari.
“Kenapa, sih? Kamu susah sekali diajak ke kantin barengan.”
“Hehe. Aku akan menyusul, kok. Pergilah” Aku mendorong Syafa pelan untuk segera menyusul teman lainnya.
“Awas, Lho. Harus cepat susul kami.”
“Iya, iya…,” jawabku lemah. Satu per satu siswa lainnya telah keluar dari ruangan, sedangkan aku masih merapikan beberapa peralatanku dengan santai.
“Reza, bisakah kamu membantu ibu memperbaiki kabel LAN ini sebelum pergi? Jaringannya tidak bisa tersambung. Ibu ada kelas setelah ini,” ucap ibu Desy dari arah depan kelas. Menyibukkan diri untuk melepaskan ikatan kabel yang terlihat rumit.
“Iya, Ibu Desy. Komputer di sini juga sepertinya bermasalah.”
“Aww…, kita harus mengatasinya sebelum pembelajaran berikutnya dimulai,” ucap ibu Desy dengan cemas.
“Biarkan aku membantu, Bu.” Aku mengajukan diriku sendiri, tentunya untuk membunuh waktu istirahatku. Ibu Desy menatapku dengan ragu, apakah aku mengambil tindakan yang salah?
“Ibu tak mau merepotkan kamu, ini adalah waktu istirahat.”
“Tidak apa-apa, Ibu. Aku hanya mencari kerjaan untuk membunuh waktu istirahatku,” jelasku dengan sungkan.
“Baiklah, maaf merepotkan mu ya, Nak.”
“Tidak masalah. Apa yang bisa aku bantu?” tanyaku kemudian. Ibu Desy tampak memperhatikan ujung kabel LAN dengan seksama.
“Sepertinya kita harus mengganti ‘Connector RJ-45’ nya,” jawabnya setelah mengamati beberapa permasalahan yang mungkin terjadi.
“Aku bisa melakukannya.”
__ADS_1
“Benarkah?”
“Iya. Aku memiliki keluarga yang mengambil jurusan Teknik. Terkadang aku akan membantunya untuk melakukan hal-hal ini.”
“Waww, kamu memang patut menjadi 'ikon sekolah' kita,” ucap ibu Desy. Kalimat pujiannya sontak mengingatkanku tentang spanduk yang terpampang lebar di gedung utama.
“Jangan membuatku malu, Ibu…,” ucapku. Aku belum terbiasa dengan julukan itu.
Beberapa saat telah berlalu, aku telah menyelesaikan pekerjaanku. Memperbaiki kabel LAN memang tidak susah, kok. Hanya mengurutkan berdasarkan warna, memotong ujungnya, memasang ‘connector RJ-45’ dan kemudian melakukan pengetesan.
“Istirahat hampir selesai, kamu benar tidak akan makan?” ucap Reza menghampiriku.
“Tidak,” jawabku sambil membungkuk mencari port pada CPU untuk memasang kabel LAN itu kembali. “Aku tidak lapar, aku berencana untuk makan pada saat istirahat kedua nanti,” lanjutku menjelaskan.
“Baiklah, kita akan makan bersama nanti.” Mendengar perkataannya sontak membuatku memandang Reza dengan wajah penasaran. Kenapa kita harus makan bersama?
“Tidak perlu, Senior. Aku akan makan dengan teman-temanku.”
Tanpa memberikan komentar apapun, Reza berbalik untuk melanjutkan pekerjaannya. Aku pun tanpa sadar mengikutinya, rasa penasaranku mulai muncul. Reza telah membawa CPU ke depan kelas untuk mencari area yang lebih luas.
“Apa permasalahannya?” tanyaku sembari mengamati beberapa perangkat yang telah dibongkar menjadi beberapa bagian.
“Mengganti beberapa komponennya. Aku rasa itu sudah lama tidak mendapatkan perawatan,” jelasnya kepadaku. Tentu aku paham akan hal mendasar ini. Aku mengingat tentang kakak sepupu yang mengambil jurusan teknik di sebuah STM. Kamarnya tidak pernah rapi sehari pun, kamarnya seperti sebuah bengkel suku cadang. Setiap pulang dari sekolah pada akhir pekan, dia akan selalu membawa satu hal yang terlihat berbeda. Dia selalu memanggilku untuk menunjukkan ini dan itu, menjelaskan tentang beberapa logika rumit tentang mesin dan kemudian memamerkan keahliannya untuk membuatku memberikan beberapa sanjungan.
“Aku penasaran akan sesuatu,” ucapku ketika mengingat kata ‘Magang’.
“Apa?” Reza menghentikan kesibukannya, menatapku dengan intens. Rasanya aku hampir menarik rasa penasaranku kembali karena jantungku seolah kembali berdebar.
“Kenapa mengambil sekolah ini untuk dijadikan tempat magang? Bukankah banyak perusahaan ternama di luar sana yang bisa Senior ajukan. Aku rasa, perusahan-perusahaan itu akan menerimamu dengan senang hati,” jelasku penasaran.
“Kenapa kamu beranggapan bahwa mereka akan segera menerimaku?” Ada apa dengan pertanyaan baliknya itu. Bukankah sudah jelas, itu karena dia adalah siswa terbaik. Apakah sifat narsisnya telah muncul?
“Senior adalah siswa terbaik. Mereka tidak mungkin untuk menolakmu,” ucapku malas. Aku seperti sedang memuji seekor kucing yang sudah melakukan kebaikan.
“Sekolah kita adalah sekolah terbaik. Apakah kamu tidak yakin tentang ilmu apa yang bisa kamu dapatkan di sini?”
“Kenapa selalu menjawabku dengan pertanyaan lagi!”
Reza kembali terdiam dan sibuk untuk menyatukan komponen-komponen yang berserakan itu kembali.
“Biarkan aku membantu,” ucapku seraya mengambil sebuah obeng. Melihat apa yang aku pegang sekarang membuatku tersenyum lucu.
“Kamu tersenyum bodoh lagi seperti itu.”
__ADS_1
“Jangan mulai berdebat denganku, Senior. Kamu membuat mood-ku memburuk.”
“Seorang gadis memegang obeng dan baut. Apakah itu yang membuatmu merasa lucu?”
Ahhh…, bagaimana bisa Reza mengetahui isi pikiranku. Aku menatapnya dengan curiga, apakah dia seorang peramal.
“Melihatmu tersenyum bodoh melihat obeng itu, tentu aku bisa menebak apa yang kamu pikirkan,” jelasnya kembali. Sejurus kemudian dia memandangku dengan tajam, “Menurutku itu keren,” lanjutnya.
Seperti pujian secara tidak langsung untukku, dan itu membuatku semangat. Aku mulai membantunya untuk memasang beberapa baut. Inilah kerja tim kami yang pertama kali.
Beberapa saat kemudian, para siswa dari kelas lain telah masuk ke dalam lab. Seharusnya kami melakukannya dengan cepat, para siswa mulai membuat lingkaran untuk mengamati pekerjaan kami.
“Kenapa ‘Ikon Sekolah’ kita melakukan pekerjaan ini?”
“Waaah, kalian melakukannya dengan rapi.”
“Aku baru sadar bahwa siswi baru kita ternyata ahli dalam bidang ini. Aku bangga menjadi senior jurusanmu.”
“Kalian memang patut menjadi ‘Ikon Sekolah’ kita.”
Sepertinya kami harus segera menyelesaikannya untuk membubarkan kerumunan senior kelas IX ini. Mereka mengatakannya dengan sangat jelas ditelingaku.
🍀🍀🍀
***Note penulis***
Author:"Inilah potongan kode-kode yang menghipnotis Zytha, Dia yang buat dia yang bingung sendiri. gara-gara Reza nih"
Zytha:"Author..., jangan membuatku malu."
Author: "..."
function update_all_keranjang(){
$id_transaksi\=$this->input->post('id_transaksi')
$id_barang\=$this->input->post('id_barang');
$jumlah_ak\=$this->input->post('jumlah'); $this->mtransaksi->update_multi_keranjang($id_transaksi,$jumlah_ak);
$url\=base_url('transaksi/keranjang');
redirect($url);
__ADS_1
}