
Ciuman pertamaku telah dicuri, aaahhhh. Aku ingin memberikannya kepada seorang yang aku cintai. Bukan kepada senior yang berhati dingin dan selalu membuatku kesal. Berani-beraninya Reza mengambil kesempatan dan berbuat curang padaku.
Tunggu, aku sudah berjalan begitu lama dan belum menemukan arah ke aula utama. Apakah aku tersesat? Aku tersesat di sekolah? Lelucon apa ini!
Sepertinya aku benar-benar tersesat, uh.
“Dek Zytha? Hei! Ternyata benar itu kamu. Kenapa berada disini? Bukannya kamu harusnya ada di aula?” Ternyata langit masih memberikan aku bantuan. Jaelani datang dengan seorang temannya, terlihat membawa kardus dan tumpukan buku di atasnya.
“Syukurlah…,” ucapku dengan helaan nafas.
“Kamu kenapa?”
“Ah, tidak ada apa-apa! Senior mau ke mana?”
“Ke koperasi sekolah”
“Hmmm…, aku boleh ikut sampai aula, nggak? Aku kayaknya tersesat.” Aku menggaruk leherku malu. Tersesat di sekolah? Itu benar-benar hal terkonyol yang pernah terjadi dalam kehidupanku.
“Hahahaha, sekolah ini memang luarbiasa. Seharusnya aku membuat sebuah dokumentasi tetang berapa banyak siswa yang tersesat tiap tahunnya.” Jaelani tertawa terbahak-bahak seraya mencoba mempertahankan barang bawaannya yang hampir jatuh. Aku memang pantas untuk ditertawakan. “Ayo, ikut aku,” lanjutnya mengambil langkah pertama ke arah kedatanganku tadi, ternyata aku memang benar-benar menjauh dari titik lokasi pencarianku.
“Terima kasih, Senior,” ucapku tulus dan mengikuti langkahnya dari samping, “biarkan aku membantu,” lanjutku kepada Jaelani dan mengambil beberapa susunan buku yang terletak di atas kardus besar.
“Kenapa kamu bisa berada di gedung utara? Ini terlalu jauh dari aula,” ucap Jaelani seraya memperbaiki pegangan tangannya dari sisi kardus.
Kenapa harus bertanya alasan, sih? Itu membuatku mengingat kejadian beberapa saat yang lalu, kenapa Reza sampai memikirkan untuk menciumku hanya untuk memberikan hukuman akibat mengganggunya? Pipiku rasanya memanas lagi. Jangan pikirkan, enyahlah!
“Aku mengikuti Reza untuk pemotreran sekolah,” jawabku dengan malas. Aku tidak berniat untuk membahas ini lebih jauh. Mengingatnya membuat darahku memanas dan kesal.
“Bukannya jadwalnya besok siang?”
“Mn, kami salah jadwal. Aku kira hari ini, bagaimana Senior bisa tahu?”
“Reza yang memberitahuku tadi pagi”
“Uh?”
“Iya, Reza seharusnya memberitahumu sejak awal. Lihat, kamu sampai tersesat sekarang!”
__ADS_1
Apakah ini memang benar-benar jebakan yang sudah disiapkan oleh Reza? Rasanya tubuhku bergetar menahan amarahku saat ini. Kenapa Reza sampai bertindak sejauh ini hanya untuk membuatku kesal.
“Aku sampai tidak mengenalimu tadi, penampilanmu benar-benar berbeda. Kamu memang cantik.”
“Senior, aku benar-benar membenci seorang penggoda,” ucapku dengan malas kearah Jaelani.
“Aku tidak menggodamu, hanya memuji.” Benarkah? Seharusnya kedua hal itu memang berbeda. “Aku mengerti sekarang, kenapa tiap kali cowok menghampirimu, kamu terlihat tidak nyaman sama sekali. Bukankah cewek suka sekali menerima pujian?” Aku menatap Jaelani dengan lekat, kenapa Jaelani bisa melihat hal itu dalam diriku. Dia sangat peka, berbeda jauh dengan temannya dari kutub utara itu.
“Yaah, pujian itu cukup diucapkan sekali. Kalau pujian itu terus terdengar, bukankah itu namanya godaan?”
“Hahahaha…. Kamu benar! Sepertinya kamu sudah bosan untuk mendengar hal-hal itu di masa lalu” Aku mulai mengagumi sisi Jaelani yang satu ini. Jaelani itu seseorang yang murah senyum, pandai bergaul dan menghormati juniornya. “Baiklah, kita bisa mengobrol lain kali. Kamu bisa ke arah sana, kamu bisa langsung menemukan aula. Aku harus ke koperasi dulu,” lanjutnya kemudian. Akupun meletakkan beberapa buku yang sebelumnya aku ambil ke tempatnya semula.
Kami pun berpisah di sana, meneruskan perjalananku ke arah aula kembali.
“Hai, Zytha. Kamu kemana saja?” Aku melihat Syafa dari kejauhan yang berlari kecil kearahku. Terlihat beberapa siswa baru telah keluar dari aula. Masih dengan pakaian hitam putih dengan segala kekonyolan yang ada diwajah dan rambutnya. Aku menyadari bahwa aku sendirian yang telah berubah penampilan.
“Bagaimana dengan acaranya?” Aku melihat sekali ke arah pintu besar aula, semua siswa terlihat membawa kotak putih di kedua lengannya.
“Nah, Aku membawakan bagianmu. Ambil!” Syafa mendorong kotak putih itu padaku, tercium aroma yang sangat lezat dari arah sana. Ah, aku sangat lapar.
“Ayo cari tempat.”
Kami pun bergegas dan mengambil sisi sebelah barat pohon, angin di sini benar-benar sejuk dan sangat nyaman. Kami menyantap hidangan dengan nikmat, untuk sesaat aku melupakan apa yang telah aku lalui hari ini.
“Aku tidak menyadari sebelumnya, ternyata memang itu adalah namamu. Aku tidak menyangka akan berteman dengan siswa terbaik tahun ini.”
“Itu bukan hal yang penting.”
“Itu sangat penting! Lihat, kamu sampai bisa berdiri di panggung yang sama dengan Reza!” Astaga…, kenapa nama itu terdengar lagi. Aku benar-benar jengkel.
“Aku sangat malas untuk membahas apapun mengenai Reza.”
Aku melihat raut wajah Syafa yang terlihat heran untuk jawabanku. Aku mengerti kalau dia menganggapku aneh. Dia pasti mengharapkan kekaguman dan kalimat puji-pujian yang keluar dari mulutku.
“Bagaimana bisa kamu tidak terpana dengan keindahan itu?”
“Aku sudah melihat seseorang yang memiliki keindahan melebihi para dewa sebelumnya,” ucapku malas.
__ADS_1
“Aku tidak yakin apakah akan ada seseorang yang bisa menyaingi Reza.” Syafa berkata dengan sikap acuh dan tak mempercayaiku sedikitpun perkataanku. Tentu aku sudah melihat keindahan lainnya sebelum itu.
“Lihat, bahkan keindahan itu telah menelponku sekarang.” Aku menyombongkan diri dihadapan Syafa tanpa menjelaskan apapun lebih lanjut.
“Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu memutuskan panggilanku dengan tiba-tiba, bahkan kamu tidak menjawabnya setelah sekian kali aku mencoba menghubungi kembali.” Apriliawan terdengar khawatir, kalimatnya tanpa jeda dan terburu-buru.
“Tenanglah, aku baik-baik saja,” ucapku untuk menenangkannya.
“Benarkah?”
“Iya!” Aku mendengar helaan nafas panjang dibalik sambungan.
“Lalu, bisakah kamu keluar sebentar? Aku sudah di depan sekolahmu”
“Uh? Sungguh? Aku akan kesana.” Aku sangat senang, aku benar-benar merindukannya akhir-akhir ini. Aku ingin segera melihatnya.
“Kamu mau ke mana?” Syafa melihatku dengan terheran-heran. Aku sekali lagi memperbaiki penampilanku, mengurai rambutku dan merapikannya.
“Menemui keindahan yang sesungguhnya,” Jawabku menggoda Syafa.
Aku melangkahkan kakiku dengan cepat, berharap jarak semakin memendek dan segera menemukan aku dengannya. Syafa terdengar mengikuti dari arah belakang.
Itu Dia.
Dari jauh, pancaran keindahannya sudah terlihat menyilaukan mata. Dia berdiri dan bersandar pada body mobilnya yang berwarna putih. Keberadaannya di sana membuat beberapa mata tertarik untuk terus menatapnya.
“Kenapa bisa berada di sini? Bukankah kamu juga sedang mengikuti OSPEK?” tanyaku padanya dengan tidak sabaran.
“Kamu membuatku khawatir,” ucap Apriliawan dengan lemah. Aku bisa melihat tatapan nanarnya menatapku.
“Maaf, tapi seharusnya kamu tidak perlu sampai sejauh ini menghampiriku.” Aku sedikit bersalah padanya, jarak dari sekolahnya itu seharusnya membutuhkan waktu tempuh sekitaran 30 menitan.
“Kamu tidak merindukanku. Aku sudah jauh-jauh ke sini menghampirimu.”
“Aku merindukanmu juga. Aku hanya mengkhawatirkamu dan merasa bersalah juga. Lihat, umurmu belum cukup untuk mengendarai mobil. Bagaimana bisa kamu ke sini sendirian?” Diujung kalimatku kemudian terdengar gesekan kaca mobil yang terbuka dari arah belakang Apriliawan.
“Tenang, dia bersamaku. Kamu tidak tahu bagaimana dia terus memaksaku untuk mengantarkannya ke sini.”
__ADS_1
“Selamat siang, Kak Gandi.” Aku mengucapkan salam terlebih dahulu dan kemudian melihat sedikit senyuman kebanggaan di wajah Apriliawan.
“Haruskah aku pindah ke sekolah ini?” ucap Apriliawan tiba-tiba, hal itu jelas lebih mengejutkanku.