
“Jangan bercanda.” Aku menjitak kepalanya dengan cepat, hal bodoh apa yang dia pikirkan. Walaupun sekolahku lebih baik dari sekolahnya, tapi sekolah itu adalah pesan terakhir yang ditinggalkan ibunya.
“Pacarmu?”
Ya Tuhan…, aku melupakan keberadaan Syafa. Aku lupa kalau dia telah mengikutiku sejak awal. Tapi pertanyaan apa yang telah dia ajukan tadi? Aku hanya melirik Syafa dengan malas. Lihat, raut wajahnya itu benar-benar terpesona.
“Jaga Zytha untukku ya~”
“Jangan menggodanya, Wan.” Aku melayangkan tatapan tajamku padanya. Apriliawan tidak tahu bagaimana watak teman baruku ini, dia akan percaya apapun yang dia dengar. “Stop untuk bermain mata!” Aku melepaskan jentikan jariku lagi ke dahinya, benar-benar buat kesal. Untuk apa dia selalu memainkan matanya ke setiap gadis. Apakah para fans gila di luar sana tidak cukup membuatnya sibuk.
“Jangan cemburu dulu donk. Aku hanya milikmu,” ucap Apriliawan kembali. Aku tahu dia hanya menggoda. Terkadang aku heran untuk godaan yang satu ini, aku tidak pernah keberatan. Sejurus kemudian Apriliawan meraih bibirku dengan jemarinya, mengusapnya beberapa kali dengan lembut.
“Aku tidak ingin cowok lain tergoda olehmu juga,” ucapnya santai. Dia telah menghapus semua *lipstick-*ku.
“Jadi, kalian benar pacaran? Wahh…, Zytha! Pacarmu memang sebuah keindahan yang melebihi para dewa yunani.” Aku hanya memutar mataku jengah. Entah dia sedang bermain bodoh.
Aku seperti melihat pantulan seseorang yang berbahaya di bola mata Apriliawan karena sorotan matanya menjadi menyeramkan, raut wajahnya tiba-tiba menjadi dingin sehingga menghilangkan senyuman manisnya beberapa saat yang lalu. Dengan pelan aku mengikuti arah pandangannya ke arah belakangku. Tamu tak diundang telah masuk ke lingkaran kami.
“Zytha,” panggil Reza lirih dari arah belakangku. Ada apa dengannya? Dia terlihat tidak bersemangat seperti biasanya.
“Ada apa?” Aku masih memutar otakku, kenapa Reza harus berada disini sekarang. Aku tidak ingin berdebat dan melihatnya untuk sekarang.
“Bungamu.”
“Ah. Terima kasih” Aku hampir kehilangan bungaku.
Reza tiba-tiba merendahkan wajahnya ke arah telingaku lagi, tubuhku seakan menjadi tegang dan kaku. Seketika aku mengingat kejadian yang hampir sama beberapa saat yang lalu di Studio. Reza berbisik tepat di telingaku, “simpan baik-baik.”
“Uh?”
__ADS_1
Aku melihat Reza berbalik dan pergi meninggalkan kami. Ada yang aneh dengan suasana ini, apakah aku terlalu sensitive? Tidak seperti biasanya Reza pergi begitu saja tanpa membuatku kesal. Sejurus kemudian aku berbalik arah ke Apriliawan dengan keadaan setengah sadar, aku memegang erat bunga itu dalam pelukanku.
“Siapa?” Raut wajahnya sangat berbeda dari apa yang aku lihat beberapa waktu yang lalu. Sudah lama aku tidak melihat raut wajahnya yang membuatku gelisah, Apriliawan bertanya padaku seolah bertanya kepada orang asing. Dia tidak menatapku sama sekali, hanya memandang jauh dan beberapa kali akan mencoba menyentuh rambutnya.
“Di-dia seniorku.” Aku ragu untuk menjawabnya, seperti ada sesuatu yang salah di sini.
“Baiklah. Aku akan menemuimu dilain kesempatan.”
“Ta-tapi–”
“Aku lelah, Zytha,” ucapnya memotong kalimatku.
Aku terus menatap linglung dan mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi. Apriliawan masuk ke mobil tanpa mengatakan apapun lagi, dia berlalu tanpa senyuman manisnya kepadaku. Aku seperti akan menangis. Aku merasa bersalah dan khawatir. Dia sudah datang jauh-jauh dan pulang dengan raut wajah yang benar-benar aku tidak mengerti. Aku tidak suka keadaan ini.
“Zytha…,” panggil Syafa dengan lirih. Aku menatap Syafa seperti meminta bantuan untuk menyadarkan aku.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Aku bertanya pada diriku sendiri dan menerawang ujung jalan. Mobil itu sudah tidak terlihat, Apriliawan telah berlalu.
“Apakah dia marah padaku?”
“Kamu benar-benar bodoh!”
“Apa maksudmu?”
“Apa hubunganmu dengan Reza?”
“Tidak ada.”
“Terus bunga itu?”
__ADS_1
“Ayolah, kamu pasti tahu. Bunga ini adalah bunga yang diberikan Reza saat di atas panggung. Dan itu hanya untuk formalitas.”
“Oh Tuhan. Kamu tidak lihat pandangan Reza kepada pacarmu itu? Seakan ada bilah pedang yang siap untuk dihunuskan!”
“Jangan bercanda. Aku tidak ada dalam sebuah hubungan dengan Reza. Bahkan kami mungkin bisa dikatakan sebagai musuh.”
Dan mengenai Apriliawan, kami juga tidak ada dalam hubungan romantis sehingga dia harus merasa marah saat melihat Reza memberikan bunga kepadaku. Dia terlalu cepat mengambil kesimpulan dan pergi tanpa bertanya apa pun terlebih dahulu. Apakah aku salah mengerti tentang perasaan Apriliawan kepadaku? Seharusnya tidak. Aku dan dia adalah sahabat, selama ini dia tidak pernah menunjukkan sisi romantisnya padaku. Dia tidak pernah mengatakan apapun.
“Lebih baik kita kembali dulu, senior meminta kita untuk berkumpul dilapangan.”
“Syafa,” panggilku lirih menatap punggungnya.
Syafa berbalik untuk melihatku sesaat, “kenapa?”
“Kamu jangan salah paham antara aku dan Reza. Kami benar-benar tidak ada dalam hubungan apapun.” Aku tidak mau Syafa salah paham, aku tahu dia sangat mengagumi Reza.
“Aku hanya pengagumnya, aku akan menghargai perasaan Senior.” Syafa mengatakannya dengan tersenyum, dia benar-benar membuatku merasa malu. Aku seperti menghianati temanku sendiri, walaupun kami tidak memiliki hubungan namun ciuman itu cukup untuk menekanku.
Setelah memasuk area sekolah kembali, aku menyadari perbedaan besar dari tatapan semua orang. Sebelumnya, hanya cowok-cowok yang memiliki ketertarikan akan parasku yang mendekat dan membuatku risih. Namun sekarang, semua orang memandangku penuh minat.
Aku rasa kehidupan sekolahku yang dulu tidak akan berbeda jauh dengan kehidupan sekolahku sekarang. Aku cukup lelah dengan hal-hal yang merepotkan ini, selalu memasang topeng untuk tetap bersikap ramah kepada semua orang yang datang ke arahku. Tak bisakah aku diabaikan saja, anggap saja aku tidak ada.
Aku melihat Reza berdiri dengan sikap acuh tak acuh, melipat tangan di depan dada. Wajahnya telihat lebih dingin dari biasanya, membuat sebagian besar siswa enggan untuk berhenti walaupun mata mereka tersihir oleh ketampanannya. Hanya ada beberapa kata sapaan dan kemudian berlalu dengan canggung.
Dia pasti sangat lelah menangani mereka semua, apakah itu yang membuatnya memasang wajah dinginnya? Hanya untuk dijadikan benteng dan alat pengusir yang ampuh.
Melihat Reza sekali lagi membuatku memikirkan Apriliawan. Ada apa diantara mereka? Aku harus menelpon Apriliawan setelah segala urusan ini selesai. Sangat jarang melihat sahabatku itu menunjukkan sikap seperti itu, aku lupa kapan terakhir kali dia bersikap seperti itu.
Aku benar-benar tidak memahami cowok. Aku kira hanya cewek yang susah untuk dibaca, kenyataannya cowok lebih susah dari apa yang mereka pikirkan.
__ADS_1
“Hai, dek Zytha!”
Baiklah, buang semua pikiran bahwa cowok itu susah untuk dibaca. Karena pada kenyataannya, satu kelompok cowok yang satu demi satu menghampiriku ini sudah bisa aku tebak motifnya.