Senior, Berhenti Menggodaku!

Senior, Berhenti Menggodaku!
Kamu bisa terluka!


__ADS_3

Yuli Astuti.


Dialah sahabat terbaikku dahulu sewaktu kecil. Saat perekonomian keluargaku semakin memburuk, ayah memilih membawa kami untuk pulang ke kampung halaman ibuku. Setidaknya kakek dari ibu memiliki beberapa bidang pekarangan sawit yang bisa dijadikan tempat untuk mencari nafkah, maka aku dan saudara-saudaraku harus rela untuk meninggalkan sekolah lama kami.


Selama 2 tahun terpisah, dia menjadi sahabat penaku. Lembar demi lembar surat mewakili perasaan rindu kami satu sama lainnya. Awalnya semua itu sangat indah, hingga akhirnya masalah terjadi ketika aku kembali ke sekolah yang sama dengannya.


Aku berhasil meraih gelar bintang kelas pada saat semester pertama sejak kepindahanku dan tanpa sengaja membuat peringkat Yuli berubah ke peringkat kedua, itulah awal dari masalah yang terjadi. Dia mulai menghindariku dengan memilih teman duduk yang berbeda saat semester baru dimulai, pada saat tahun terakhir di Sekolah Dasar.


Aku mengira, hal itu terjadi karena kami canggung akibat perpisahan selama 2 tahun itu dan berpikir bahwa selama 2 tahun itu cukup untuk dia memiliki sahabat yang lebih baik dari aku. Namun ketika sekolah hanya mengirim aku seorang diri untuk mengikuti berbagai ajang Olimpade, Yuli semakin memperjelas ketidaksukaannya padaku. Dia sudah berubah.


Satu tahun terakhir di Sekolah Dasar, kami dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Kami mulai bersaing dan mulai menampakkan ketidaksukaan dengan terang-terangan. Setelah kelulusan Sekolah Dasar, aku tidak pernah bertemu dengannya. Yuli masuk ke sekolah bergengsi di kota sedangkan aku melanjukan ke sekolah terbaik di desaku, keluargaku tidak memiliki biaya untuk mengirimku ke kota seperti Yuli namun aku cukup berpuas diri bisa masuk melalui jalur beasiswa di sekolah tempat tinggalku.


Lamunanku tiba-tiba terhenti ketika mendapati Reza yang tengah berdiri tegak dihadapanku. Aku masih linglung untuk beberapa saat. Aku dan Suci telah duduk pada meja makan, sedangkan Nurul dan Syafa tengah memesan makanan untuk kami.


“Kamu sangat setia dengan teman-temanmu,” ucap Reza kemudian.


“Ah! Maaf Senior. Aku kesini bersama teman-temanku,” jelasku pada Reza. Seharusnya tidak masalah, bukan? Tidak ada hal spesial di antara kami sehingga harus berdua dengannya. Sejurus kemudian Reza mengambil tempat duduk di depanku.


Kantin timur memiliki gaya dengan konsep outdoor, tidak ada dinding sama sekali, hanya ada atap yang ditopang oleh pilar-pilar kayu yang terukir indah, lantainya tersusun dari kayu terbaik dan terlihat mengkilap. Terdapat belasan meja yang memiliki bangku panjang sebelah kiri dan kanannya.


Sebelumnya kami telah memilih meja yang berdekatan dengan taman sekolah, sangat sejuk dan memiliki pemandangan yang sangat asri. Terdapat bunga-bunga yang terlihat indah dan berbagai jenis pohon yang sangat rindang, rerumputan hijau memenuhi taman sekolah. Kantin ini seperti sebuah restoran mewah untukku.


“Bahumu kenapa?” tanya Reza kearahku.


“Uh…. Tidak ada,” ucapku menghentikan aktifitasku, aku tanpa sadar terus memijat bahuku yang masih terasa sakit dan meninggalkan rasa nyilu.


“Makanan datang…, loh! Senior juga ada di sini,” ucap Syafa dengan semangatnya seraya meletakkan dua mangkok bakso dari kedua tangannya. Tak lama kemudian, Nurul datang dengan makanan lainnya.


“Suci, bantu aku membawa pesanan lainnya,” ucap Nurul.

__ADS_1


“Biarkan aku memban–”


“Tidak! Kamu duduk saja. Biarkan aku dan–hei! Aku bilang jangan membantu!” ucap Nurul berlari kecil menghampiriku.


“Tidak apa. Aku hanya ingin membantu. Apa yang harus aku bawa?” ucapku ke arah Syafa yang sudah memegang beberapa gelas minuman ditangannya.


“Kamu pegang minuman ini terlebih dahulu, aku akan membayar sebentar,” ucap Syafa seraya menyerahkan dua gelas minuman yang beroma teh ke arahku.


“Aku akan ke meja kita duluan,” ucapku meninggalkan Syafa di antrian kasir. Sedangkan Nurul sudah berjalan lebih dahulu menuju meja kami dengan benerapa hal di tangannya.


Brakkk


Seseorang telah sengaja menghalangi kakiku, membuatku terhuyung dan menjatuhkan minuman itu ke lantai saat terlepas dari tanganku. Aku berhasil untuk mempertahankan keseimbangan tubuhku agar tidak jatuh, tapi jantungku semakin berdegup kencang karena terkejut.


Gelas-gelas minuman itu telah pecah menjadi beribu-ribu bagian, lantai menjadi basah dalam kekacuan besar.


“Kenapa bertanya padaku. Kamu yang tidak hati-hati kalau jalan.” Yuli tidak menatapku sama sekali, dia semakin menyeringai puas dengan perbuatannya.


“Berhenti bertingkah kekanak-kanakan. Ini sudah tidak lucu lagi,” ucapku dengan tegas. Aku tidak percaya bahwa sahabat lamaku telah menjadi seseorang yang tidak berprasaan seperti sekarang ini.


Namun tidak ada jawaban sedikit pun atas perkataanku padanya. Yuli semakin mengacuhkanku, bercanda dan tertawa bersama teman-temannya di meja makan. Sedangkan beberapa siswa lainnya telah menatap ke arahku dengan tatapan aneh.


“Jangan bergerak,” ucap seseorang yang tiba-tiba membungkuk di depanku.


“Reza! Jangan memegang pecahan gelas itu, biarkan petugas kebersihan yang bersihkan,” ucap Yuli tiba-tiba. Dia tampak gelisah ketika melihat Reza membungkuk dan membersihkan pecahan gelas di sekitarku, sedangkan aku hanya terdiam dalam keterkejutan sendiri saat mengetahui seseorang itu adalah Reza.


“Tidak apa-apa, Senior. Biarkan aku yang bersihkan,” ucapku ikut berjongkok untuk meraih pecahan gelas itu.


“Aku bilang jangan bergerak!” Reza berteriak padaku. Oh Tuhan! Apa yang sedang terjadi disini. Aku takut bahkan tak berani untuk menatap Reza sedikitpun.

__ADS_1


“…”


“Aku bilang, jangan bergerak. Jangan sentuh apapun, kamu bisa terluka,” lanjut Reza dengan suara lembut menahan emosi beberapa saat yang lalu. Rasa takutku sebelumnya hilang dengan nada suaranya saat ini, mengembalikan ketenanganku. Beberapa saat kemudian, pihak kebersihan datang untuk membantu membersihkan kekacauan yang sudah aku buat.


“Reza,” panggilan Yuli terdengar lirih. Dia tampak semakin bingung karena Reza tidak mengindahkan perkataanya. Yuli terlihat akrab dengan Reza, dia sudah memanggil Reza hanya dengan nama. Mungkinkah mereka sudah saling mengenal sebelumnya. Ah…, kenapa aku selalu membuat asumsi sendiri tentang siapapun yang terlihat dekat dengan Reza. Aku mengutuk diriku sendiri saat ini.


Setelah pihak kebersihan datang, Reza dengan cepat meraih tanganku untuk bangkit dari posisi jongkok. “Jangan buat ulah di sekolah. Kamu harus tahu batasannya,” ucap Reza kepada Yuli kemudian menarikku menjauh.


“Kamu tidak apa-apa, Zytha?” Teman-temanku datang menghampiri dengan perasaan cemas.


“Tidak apa-apa,” ucapku seraya mencoba melepaskan genggaman Reza namun genggamannya sangat erat. Terus menarikku hingga ke meja makan kami sebelumnya. Bahuku semakin sakit, Reza menarik tepat pada tanganku yang memiliki cidera bahu.


“Ada apa sebenarnya dengan dia? Bahkan tadi dia sudah dengan sengaja menabrakmu saat keluar dari kelas,” ucap Nurul semakin geram. Badan dan matanya sudah tepat mengarah kepada Yuli yang sedang melotot tajam ke arah meja kami.


“Kenapa dia menabrak Zytha?” tanya Reza ke arah Nurul. Reza tidak berniat untuk bertanya padaku karena dia mungkin tahu bahwa aku mungkin tidak akan mejawabnya.


“Entahlah, dia tiba-tiba datang dari arah yang berbeda dan kemudian dengan sengaja menabrak Zytha. Bahunya sampai cidera tuh,” jelas Nurul seraya melirik tangan yang sedang memijat bahuku dengan pelan.


Sejurus kemudian, Reza menatapku dengan tajam. Seperti mendapatkan diriku sendiri telah berbohong sebelumnya.


“Ayo kita ke UKS,” ucap Reza terburu-buru.


“Ke UKS nanti saja. Aku lapar,” ucapku meminta pengertian bahwa makan saat ini lebih penting dari pada UKS. Reza sendiri tahu bahwa aku tidak makan sejak istirahat pertama.


“Gio!” Panggil Reza kepada siswa magang yang tengah melayani meja sebelahnya.


“Iya, Reza. Mau pesan apa?”


“Menu seperti biasanya, untuk dua orang. Jangan lupa Chocolate ice satu. Jangan lama!”

__ADS_1


__ADS_2