
(Jangan lupa untuk dukung Author ya dengan memberikan like disetiap Episode nya. Dukungan kalian sangat berharga🥺)
🍀🍀🍀
"Selamat berkencan, semoga hari minggumu menyenangkan."
Itu adalah kalimat yang tertulis di layar handphone-ku, sebuah pesan dari Reza. Aku tidak dapat menebak dengan ekspresi apa pesan itu harus dibaca. Apakah Reza menyerah padaku dan kemudian mengharapkan agar aku memiliki kencan yang menyenangkan? Ataukah kalimat itu adalah sebuah pesan kekecewaannya padaku?
“Apakah kamu sudah sarapan sebelumnya,” tanya Apriliawan membuyarkan lamunanku.aku harus menyingkirkan segala pikiran tentang Reza, aku tak ingin mengabaikan kebaikan Apriliawan yang sudah rela untuk menjemputku.
“Belum, ayo kita makan di rumahku nanti,” ucapku semangat mengundang Apriliawan. Ini adalah pertama kalinya aku mengajaknya ke rumahku, walaupun ada sedikit kekhawatiran karena tempatku jauh dari kata layak dibandingkan tempat tinggalnya.
“Tentu! Aku sudah mengosongkan perutku untuk makan denganmu pagi ini. Tapi kita akan sampai dalam waktu 30 menit berikutnya, sekarang kamu makan ini dulu,” ucap Apriliawan sembari menyodorkan sekantong makanan ringan.
“Wah! Sejak kapan kamu membeli ini?”
“Aku membeli beberapa kue yang dijual oleh kakek tua waktu mengisi bensin.”
“Aku rasa ini lezat,” ucapku antusias mencoba menunjukkan rasa terima kasihku dan segera memakannya, sesekali aku akan membantu Apriliawan untuk memakan kue itu dari tanganku.
“Jadi, apakah kamu akan tetap kembali untuk mengikuti pertemuan di sekolahmu nanti?” tanya Apriliawan padaku sembari membersihkan beberapa remah makanan yang menempel pada bibirnya.
“Iya. Aku tidak enak hati bila tidak hadir di pertemuan pertama,” ucapku menunjukkan wajah pasrah.
“Mau bagaimana lagi, kita harus kembali jam 9:00 agar tidak terlambat.”
__ADS_1
“Iya, terima kasih sudah mau direpotkan olehku,” ucapku seraya tersenyum tak tahu malu.
Beberapa menit kemudian, kami pun sampai di tempatku. Apriliawan memakirkan mobil di pinggir jalan dan memutuskan untuk berjalan masuk ke gang rumahku, kami tidak mungkin untuk melewati gang sempit untuk membawa mobil.
Sejak aku keluar dari mobil itu, aku dapat melihat tatapan dingin yang berasal dari beberapa pasang mata milik keluarga dari pihak ayahku, biasanya mereka akan berkumpul disalah satu titik untuk menggosipkan ini dan itu. Dan sekarang, aku yakin bahwa mereka sudah menjadikan aku bahan gosipan mereka.
Aku sudah terbiasa dengan tatapan dan omongan yang mereka dengungkan untukku. Apapun yang aku lakukan akan mejadi hal yang salah di mata mereka, karena pada awalnya keluarga dari pihak ayah tak pernah merestui ibuku menjadi bagian dari mereka.
Prestasi dan sikap baik ku akan dengan mudah diputar menjadi celaan dan hinaan. Keluarga dari pihak ayah tak selalu memberikan dukungan seperti keluarga dari pihak ibu. Dalam keluarga ini, akan selalu ada persaingan yang sengit untuk hal sekecil apapun.
“Nenek!” Aku memanggil dengan antusias yang sangat tinggi. Nenek dari ibuku telah datang dari jauh, membutuhkan waktu setidaknya tiga hari baginya untuk sampai kesini. Aku berlari kecil untuk memeluknya dengan kegirangan.
“Cucuku sudah besar rupanya,” ucap nenek membelai rambutku.
“Tentu! Sudah 4 tahun lebih kita berpisah. Waktu itu aku masih kelas 5 Sekolah Dasar. Aku merindukan mu!” ucapku memeluknya semakin erat.
Ooopss… aku melupakan Apriliawan karena kesenangan ku.
“Selamat pagi, Nenek. Namaku Apriliawan, aku temannya Zytha.” Apriliawan menyapa dengan sangat sopan dan dia tidak terlihat canggung sedikitpun. Aku melihat senyum ramah dari nenekku, aku rasa aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun.
“Hanya memeluk nenekmu? Bagaimana dengan ibu mu ini?”
“Ibu…, aku merindukanmu juga. Dimana Ayahku?” ucapku sembari beralih pelukan.
“Dia sedang mengerjakan beberapa pesanan tetangga dibelakang,” ucap ibuku. Ayahku pasti sedang bergelut dengan kayu dan mesin-mesinnya, merakit lembar demi lembar kayu. Kadang ayahku akan membuat pintu, jendela, lemari dan lainnya. Ayahku memiliki keterampilan yang luarbiasa bagiku, tidak ada yang tidak bisa dia buat. Hanya saja, keterampilan itu terasa percuma ketika tidak ada pesanan yang datang. Dan pada akhirnya, ayah akan memutuskan untuk kerja kasar keluar desa seperti pergi menggali lubang dipertambangan illegal.
__ADS_1
“Ayo persilahkan temanmu masuk dahulu, kalian pasti belum makan.” Ibuku dengan insting yang luarbiasa menebak perut keroncongan kami. Aku melayangkan senyum dan mendorong Apriliawan untuk masuk ke rumah kumuh kami.
Rumahku tidak jauh berbeda dari rumah yang lainnya, hanya saja terdapat beberapa cat tembok yang mengelupas dan warna yang mulai memudar. Lantainya juga terbuat dari semen yang sudah mulai retak. Bahkan jika hujan, kami akan berlari dengan cepat untuk mencari wadah untuk menampung air hujan yang berembes dari atap yang bocor.
Aku melihat wajah Apriliawan sekali lagi, aku memastikan ekspresi apa yang akan dia berikan ketika melihat tempatku yang tidak sebagus rumahnya. Namun, aku cukup lega. Apriliawan memancarkan tatapan antusias yang luarbiasa, dia melihat kesana kemari seolah sedang berada di sebuah museum barang-barang kuno.
“Sudah! Jangan melihat terlalu jauh kemana-mana. Ayo kita makan dulu!” Aku menarik Apriliawan untuk duduk pada meja makan. Menu yang disajikan diatas meja cukup memuaskan, hari ini sepertinya nenek telah merogoh kantongnya untuk membeli bahan makanan yang bergizi ini.
Setelah makan, kami pun duduk diruang keluarga. Ukurannya tidaklah besar dan tidak juga terlalu sempit. Tidak lama kemudian, kami berkumpul pada titik ini. Nenek, ayah, ibu dan kedua adikku–Ria dan Hidin. Apriliawan sedang menyibukkan diri dengan beberapa burung peliharaan Hidin diluar sana, mungkin dia mengerti bahwa kami akan membicarakan hal yang penting.
“Nak,” ucap ayahku memulai pembicaraan. Dia tampak mengambil pandang ke ibuku dan nenekku.
“Kalian kenapa? Bicara saja. Aku akan mendengarkan,” ucapku bersikap tegar walaupun aku merasa takut akan suatu hal.
“Nenek akan membawa Adikmu bersamaku.” Akhirnya nenek mengambil alih pembicaraan yang tidak bisa ayah ucap. Aku cukup terkejut, aku melihat kedua adikku yang masih kecil. Adikku yang perempuan masih berumur 12 tahun dan adikku yang laki-laki berumur 14 tahun, kami terpaut usia 2 tahun satu sama lainnya.
“Kenapa tiba-tiba?” Aku bertanya dengan mencoba mempertahankan getaran suaraku.
“Ibu dan Ayahmu akan pergi ke tempat tante Liza untuk mencoba keberuntungan. Dan kedua saudaramu akan ikut dengan nenek,” ucap ibuku melanjutkan. Kabar itu semakin menghantam hatiku, tanpa sadar, aku pun menangis.
“Jangan sedih, Sayang! Ibu minta maaf membiarkanmu sendirian disini. Kami berjanji, tahun depan kami akan menjemputmu.”
Aku menyadari takdir masih mempermainkan nasib kami, takdir yang membuat beribu alasan agar kami terpisah. Ibu dan ayahku akan pergi mengadu keberuntungan ke wilayah paling barat negeri ini, kedua adikku ke timur dan aku berada di selatan–sendirian. Sangat ironis, bukan lagi dua pulau tapi tiga pulau.
“Kalian tidak akan membawaku?” ucapku tersedu, ibuku mulai mengelus punggungku dengan lembut.
__ADS_1
“Kami tidak dapat membawamu sekarang karena kamu masih menjadi siswa baru di sekolah terbaik. Sangat disayangkan jika kamu harus keluar dari sana. Tapi tahun depan kami akan memutuskan apakah kita akan bersatu kembali disini atau kami akan membawamu juga bersama kami.”