
“Jadi, Ramli itu siapa?” Aku memastikan sekali lagi, aku tak ingin dibodohi oleh dua senior ini lagi. Aku seperti dipermainkan tanpa alasan.
“Ramli itu nama Ayahnya Reza.” Jaelani hanya tersenyum bodoh dan sesekali menggaruk kepalanya.
“Lalu kenapa mengenalkannya sebagai Ramli kepadaku?”
“Hanya candaan biasa, tapi aku tidak menyangka akan membuatmu salah paham begitu lama.”
'hanya candaan?' Rasanya aku benar-benar ingin memukulnya sekali saja untuk memuaskan emosiku.
“Berarti ... kalian semua satu kos?” Syafa memotong pembicaraan kami tanpa memahami apapun.
“Iya. Kami satu kos.” Jaelani menjawab Syafa dengan godaan kecil disana.
“Aku hanya penghuni baru di sana, jangan mengharapkan informasi apapun dari aku.” Aku menegaskan posisiku pada Syafa, aku baru dipermainkan di sini dan kenapa reaksinya malah seperti ingin menggali informasi padaku.
“Lain kali aku akan berkunjung ke kosmu!” Pernyataan Syafa begitu mantap.
“Percuma!” Aku dan Jaelani menjawab dengan kompak.
Ya percuma saja, karena halaman kos cowok dan cewek itu berbeda. Apa iya aku harus sengaja untuk berkunjung ke halaman cowok demi temanku yang satu ini? Dan hanya untuk Ramli? Eehh, demi Reza maksudku.
Ahh ... aku ingin menjambak rambutku sendiri. Aku menyadari kebodohanku akhir-akhir ini. Aku kini mengerti tiap tatapan yang mengarah kepadaku saat aku dan Reza bersama.
Dan 'si kutub utara' hanya diam tak meluruskan kesalahpahamanku.
“Kenapa percuma?” Syafa melempar tatapan penuh intimidasi padaku.
“Baik, baik ... datanglah! Pintuku terbuka lebar untukmu.” Syafa kemudian tersenyum puas, aku bisa menebak isi pikiranmu saat ini. Stop memikirkan hal-hal tidak berguna!
“Jadi ... aku minta maaf, ya. Aku nggak bermaksud untuk membodohimu.”
Ketika kata 'membodohimu' terdengar, raut wajahku terasa semakin mengencang. Seperti dunia membenarkan kebodohanku.
“Lupakan!”
“Jangan seperti ini, nanti Reza tidak akan membiarkanku untuk hidup tenang.”
“Apa hubungannya denganku?”
“...” Ada jejak keraguan di raut wajahnya namun detik kemudian dia akan tersenyum mencoba menunjukkan wajah polos dan tak bersalah.
“Seperti aku punya hubungan khusus saja. Aku tak akan memikirkannya. Jadi Senior bisa melupakannya.”
__ADS_1
“Baiklah, jangan dibawa kehati ya~”
Apa sangat menyenangkan kalian menggodaku.
Jaelani berlari kecil ke arah Reza dan berdiri tepat disampingnya, sesekali Jaelani akan melirik ke arahku dan tersenyum kembali.
Hal yang mengejutkan ini membuatku berpikir ulang tentang 'si kutub utara', pandanganku seolah tak mau lepas ke arahnya.
Tinggi badannya benar-benar melampaui senior lainnya. Bahkan kemeja putih dengan bawahan hitam sangat cocok untuknya, dasi hitam tersimpul rapi dengan bross perak di sana.
Dia berdiri dengan tubuh tegak, membiaskan aura penuh percaya diri. Wajah dinginnya tidak berubah sama sekali. Walau begitu, wajahnya memang sangat tampan. Kenapa baru sekarang aku memperhatikan aspek ini?
Tatapan tajamnya menyapu seluruh barisan siswa baru dan berakhir padaku. Kenapa dia menatapku dengan durasi yang terlalu lama? Tatapan dinginnya terasa membekukan.
Dialah si pusat gosip akhir-akhir ini; tampan, peringkat pertama dengan segala nilai sempurnanya, ketua OSIS. Bukankah itu terlalu luarbiasa? aku rasa beberapa cowok memang layak mendapatkan anugerah ini.
“Bagaimana dengan misi buku merah kalian?” Akhirnya tatapan dingin itu terputus padaku dan terlempar ke tengah barisan.
Beberapa keluhan akhirnya terdengar dari seluruh sudut dengan helaan nafas panjang para siswa lainnya.
“Perhatian!”
“Siap!”
Sangat mudah mengontrol keributan ini, uh.
Kabar buruk dan kabar baik dalam satu pemberitahuan. Tidak sedikit siswa baru mulai menampakkan senyum mereka, sedangkan yang lainnya pasti mengkhawatirkan buku merah mereka.
Apakah para senior benar-benar akan begitu kejam besok?
Mungkin mereka hanya menggertak siswa baru untuk menunjukkan taring mereka.
“Apakah kamu Zytha Putri?” Seorang senior cewek memakai atribut PMR datang berbisik padaku.
“Iya, benar. Ada yang bisa aku bantu, Senior?”
“Kamu dipanggil ke aula rapat, ikutlah denganku.”
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu pasti, aku hanya diminta untuk membawamu ke sana.”
“Baiklah.” Aku akhirnya meninggalkan barisan, meninggalkan semua pikiranku di belakang.
__ADS_1
🍀🍀🍀
“Aku malas masak, Shinta~” Aku melempar tubuhku pada empuknya kasur, tenagaku habis untuk hari ini. Aku hanya ingin tidur.
“Aku juga, bagaimana kalau tidur selama satu jam. Nanti kita keluar untuk mencari makanan siap saji.”
“Okelah....”
🍀🍀🍀
Kami akhirnya keluar pada pukul 8, kami ketiduran begitu lelapnya. Kalau bukan karena lapar, kami mungkin akan terbangun besok paginya.
“Kita ke warung depan saja. Di sana ada makanan siap saji.” Shinta bertindak sebagai penuntun jalan. Aku terlalu lemah untuk berjalan, laparku terasa sampai tenggorokan.
Kami berjalan melewati parkiran menuju halaman utara, kami akan keluar lewat gerbang depan yang memiliki pencahayaan terang.
Warung itu tidak memiliki pencahayaan yang terang, hanya memiliki satu buah lampu pijar yang membiaskan cahaya remang-remang.
Aku menyesal tidak membawa kacamataku. Pandanganku kabur hingga tak dapat membedakan orang dalam pencahayaan ini, aku rabun jauh.
“Hai cantik. Kalian mau membeli apa?” Seorang cowok yang memiliki tinggi semampai denganku mencoba untuk bertanya. Apakah dia anak pemilik warung? Ada apa dengan nada pertanyaan nya.
“Lewat sini.” Shinta menarikku hingga tak sempat memberikan jawaban apapun pada laki-laki itu.
“Jangan hiraukan dia, dia itu terkenal nakal.” Shinta mencoba menjelaskan kepadaku, aku tak tahu pasti rupa cowok tadi, aku hanya dapat melihat style-nya yang mengikuti trendy para rocker. Tak ada yang menarik.
“Darimana kamu mengenalnya?”
“Dia itu satu gugus denganku, dia sering menggodaku.” Suara Shinta menekankan ketidaksukaannya dan kemudian memesan makanan untuk dibungkus.
Melihat antrean membuatku melihat sekeliling, mencari tempat duduk.
“Permisi,” ucapku sopan pada seorang cowok yang duduk di bangku panjang, walau tak mendengar jawabannya, aku kira dia tak keberatan dan membiarkan aku duduk di sini.
Beberapa saat kemudian aku berpikir bahwa posisi duduk cowok itu berubah menghadap ke arahku. Aku merasa diperhatikan sejak aku mulai duduk di sini, aku mencoba untuk menerawang sosok dari sudut bangku panjang itu tetapi gelap tak membiarkan mataku melihat secara jernih. Apakah aku terlalu lama memandang nya? Bagaimana jika sikapku tidak sopan? Mungkin ini hanya perasaanku saja.
Akhirnya aku kembali untuk fokus pada handphone-ku.
“Sudah selesai?” tanyaku pada Shinta yang baru keluar dari antrian. Dengan tergesa-gesa memberikanku segala hal yang ada di genggamannya.
“Sebentar, Shin. Aku tidak dapat membawa semuanya–” sebelum kalimatku berakhir, Shinta telah berlalu pergi. Aku membutuhkan tumpuan agar tak menjatuhkannya segera, tapi tidak mungkin untuk melepaskannya ke atas lantai.
Sepertinya akan jatuh!
__ADS_1
“ ... ”
Seseorang membantuku?