Senior, Berhenti Menggodaku!

Senior, Berhenti Menggodaku!
Cinta dan Jatuh Cinta?


__ADS_3

(Jangan lupa untuk dukung Author ya dengan memberikan like disetiap episodenya. Dukungan kalian sangat berharga 🥺)


Perasaanku sangat ini sangat aneh, jantungku tidak mau berhenti berdetak dengan cepat. Aku takut orang lain juga bisa mendengarkan suara detakannya.


“Jangan hanya menganggukkan kepalamu, aku butuh lebih dari sekedar anggukan,” ucap Reza kemudian.


“Iya. Lain kali aku akan meminta bantuan Senior untuk menemaniku,” jawabku. Kenapa aku menjadi sangat penurut ada cowok ini, sih?


“...” Reza hanya menatapku semakin tajam dan kemudian terlihat sendu.


Tidak lama kemudian, terdengar suara seorang gadis yang memanggil Reza dari arah belakangku, walaupun terlihat samar karena cahaya taman yang remang, aku dapat memastikan bahwa dia adalah Yuli.


“Kenapa kamu lama sekali, kamu bilang hanya sebentar!” ucap Yuli manja dan mulai merangkul lengan Reza kemudian.


Melihat apa yang sedang terjadi di depan mataku sendiri membuatku melenyapkan segala praduga tentang perasaanku pada Reza. Jelas Reza tidak bersungguh-sungguh tentang perasaannya padaku, dia jelas sama saja dengan cowok penggoda lainnya. Aku seperti baru tersadar dari pikiran gilaku.


Aku hanya menunduk ke arah gelapnya cahaya, menyembunyikan wajahku kembali dibalik hoodie. Taman kota adalah tempat kencan yang sangat bangus, ketika aku tahu tentang fakta itu sejak kedatanganku kesini, seharusnya aku tahu bahwa ketika aku menemukan Reza di sini maka dia sudah pasti sedang memiliki kencan.


“Kenapa hanya diam? Oh! Dia siapa, Reza?” ucap Yuli kembali sedangkan Reza hanya diam mematung tidak mengatakan apapun. Aku juga tidak tahu ekspresi apa yang sedang Reza buat saat ini, aku hanya ingin pergi dari tempat ini sesegera mungkin.


Aku kemudian membungkukkan badanku ke arah mereka tanpa mendongakkan kepala untuk melihat apapun, aku memberikan hormat terakhirku untuk kencan mereka dan aku berlalu pergi.


Aku tersenyum getir mengingat Reza hanya berdiam diri ketika Yuli menggandengnya dengan mesra. Yaah, apa sebenarnya yang aku kesalkan? Aku dan Reza tidak ada dalam hubungan apapun, perasaan Reza jelas hanya sekadar kata di lidahnya belaka.


Setelah berjalan jauh dari mereka, aku pun memilih duduk pada kursi panjang yang berada di taman kota. Masih tersisa waktu 40 menit lagi untukku pergi menemui Shinta, aku tidak ingin mengganggu acara kencannya. Pada akhirnya, aku hanya sendirian di taman kota ini.


Untuk menghilangkan kehampaan dalam diriku sendiri, aku memutuskan bermain dengan handphone-ku. Aku ingat bahwa malam ini adalah waktu siaran Apriliawan. Waktu seperti berpihak padaku, detik kemudian aku dapat mendengar suara Apriliawan dibalik handset putih yang menggantung ditelingaku.


“Apa kabar sahabat Radio Remaja? Bareng lagi bersama saya Apriliawan di sini, di Radio Remaja 93,7 FM.”


“Bagaimana kabar hari ini untuk sahabat-sahabat semuanya? Pastinya tetap sehat dan semangat, kan? Seperti biasa Apriliawan di sini bakalan menemani malam mingguan kamu selama satu jam kedepan! Untuk para jomblo-jomblo, jangan bersedih hati ya karena berdiam diri di rumah. Apriliawan akan menemani kamu kok, dan untuk para pasangan muda yang sedang berkencan di malam minggu ini semoga tidak turun hujan ya. Haha!”


Aku ikut tertawa mendengan ocehannya melalui saluran radio, dia berhasil membuat suasana hatiku menjadi lebih baik.


Pandanganku tanpa sadar ikut menerawang langit, banyak bintang-bintang yang berkilauan di sana. Langit tampak cerah dengan gumpalan awan tipis. Aku rasa pasangan muda malam ini tidak perlu khawatir.


“Ada pesan masuk nih dari nomor 67880, Apa itu cinta dan apa itu jatuh cinta? Ahhhh…, aku mengenali akhir nomor ini.”


Apriliawan terdiam dibalik saluran, dia pasti sudah mengetahui bahwa akulah yang mengirim pesan pertanyaan gila itu ke saluran radionya.


“Cinta dan Jatuh cinta. Hmmmm, sulit!”


Hahahaha…, aku tertawa mendengarnya. Aku pikir dia memang harusnya kesulitan untuk mengerti tentang itu. Apriliawan tidak pernah pacaran, bagaimana mungkin dia paham.


“Untuk mu yang bertanya apa itu cinta dan apa itu jatuh cinta. Cinta adalah apa yang di rasakan oleh hatimu bukan dari pikiranmu. Sesuatu yang membuatmu berdebar ketika mengingatnya, melihatnya satu menit saja sudah cukup untuk mengobati kerinduan setelah berhari-hari tidak bersua namun satu menit itu pula yang akan membuatmu semakin merindu untuk hari-hari berikutnya.”


“Kamu pernah berpikir tidak? Bahwa cinta itu bisa saja sangat dekat denganmu. Sangat dekat hingga kamu tidak menyadari bahwa kamu sebenarnya telah jatuh cinta.”


“Ahhh… pertanyaanmu membuatku juga semakin merindu.”

__ADS_1


Apakah Apriliawan sedang jatuh cinta? Aku bisa merasakan ketulusan di dalam narasinya saat ini.


“Baiklah, aku akan mempersembahkan sebuah lagu untuk kamu yang bertanya apa itu cinta dan jatuh cinta. Nano: Separuhku.”


Senyumanmu terlukis di wajahku


Di saat ku mengingat kamu


Tawamu manjamu membuatku rindu


Tak sabar ingin bertemu


Suara lembut menyapa aku


Lembutnya selembut hatimu


Tulusnya setulus cinta padaku


Ku sadar beruntungnya aku


Hidupku tanpamu


Takkan pernah terisi sepenuhnya


Karena kau separuhku


Berbagi suka duka


Karena kau separuhku


“Hallo,” suaraku lembut menyapa dibalik panggilan.


“Kamu sedang apa?”


“Melihat angkasa ditemani lagu dari mu. Kenapa menelponku saat kamu masih siaran?”


“Aku merindukanmu.”


“Aku juga merindukanmu.”


“Rindumu dan Rinduku itu berbeda.”


“Hahaha, bagaimana bisa itu berbeda?”


“…”


“Wan?” panggilku ketika tidak terdengar jawaban apapun dari balik sambungan.


“Kamu sibuk besok minggu?”

__ADS_1


“Entahlah, aku harus kumpul untuk membahas olimpiade besok pagi. Aku takut aku tidak memiliki waktu.”


“Jam berapa?”


“Jam 9.30”


“Tunggu aku jam 7:00. Aku akan menjemputmu duluan.”


“Sepagi itu? Kalau sepagi itu, jam berapa kamu akan berangkat.”


“Walaupun pagi buta, aku akan tetap mencarimu. Kamu harus menungguku, Oke?”


“Oke!”


“Aku akan menghubungimu lagi nanti, aku harus menyelesaikan pekerjaanku,” ucapnya menghela nafas panjang.


“Semangatlah. Aku mendukungmu.”


“Terima kasih. Bye”


“Bye”


Beep


Panggilan itu terputus dan saluran radio yang aku putar sebelumnya kembali terdengar di telingaku. Apriliawan adalah satu-satunya yang membuatku nyaman, aku akan sangat merasa kehilangan jika suatu saat dia menemukan pacar.


“Ahhh…, sudah jam 9 tepat! Aku harus menjemput Shinta,” gumamku pada diriku sendiri. Akupun bangun dari kursi panjang itu dan kemudian berjalan ke tempat kami berpisah satu jam sebelumnya.


Dari jauh aku dapat melihat sosok Shinta yang sedang berdiri kaku di samping teman kencannya. Mereka masih harus beradaptasi dengan kecanggungan itu.


“Hai, Zytha!” sapa temannya ramah kepadaku. Aku rasa teman kencan Shinta adalah seseorang yang baik dan sopan. Aku tidak perlu khawatir bila mereka pacaran.


“Hai, bagaimana kencan kalian?” godaku seraya menyikut tangan Shinta yang membuat rona wajah kemerahan dipipinya.


“Zytha!” ucapnya mencoba menghentikan godaanku.


“Baiklah, kita akhiri pertemuan kita malam ini. Kami harus kembali,” ucapku.


“Kita belum berkenalan, aku merasa tidak enak telah merepotkanmu. Namaku Seno,” ucapnya seraya menyodorkan tangannya kepadaku.


“Zytha. Aku titip Shinta padamu ya,” ucapku dengan maksud bercanda untuk melihat reaksi lucu yang dibuat oleh Shinta, itu menghiburku.


Dan beberapa saat kemudian, kami pun memutuskan untuk kembali ke kos sebelum masalah besar terjadi bila kami terlambat.


“Kita lewat gerbang samping saja,” ucapku kepada Shinta dengan nada berbisik.


“Iya. Masih ada waktu 30 menit lagi sebelum gerbang ditutup,” jawab Shinta mulai mengambil tempat didepan ku. Jelas dia ketakutan bila berada dibelakang.


Jalan melewati gerbang samping itu membutuhkan kehati-hatian yang ekstra dikarenakan lampu penerang yang tidak baik. Lebar lorong yang kami buat sebagai jalan itu sekitar satu meter, sisi kiri kami adalah pagar tinggi sebagai pembatas kos, sedangkan sisi kanan adalah tembok belakang dari bangunan kamar putri. Terdapat beberapa papan dan rongsokan peralatan yang disimpan diarea ini, jika kami tidak hati-hati, kami bisa membuat suara keributan dan bisa-bisa disangka pencuri.

__ADS_1


Tiba-tiba langkahku berhenti ketika aku merasa bahwa seseorang sedang memegang lengan hoodie-ku. Aku merasakan sayup nafas dari arah kananku, aku ragu untuk menoleh. Apakah itu manusia? Tidak mungkin hantu mempunyai nafas. Kalau manusia, apakah itu pencuri?


__ADS_2