
Sewaktu Sekolah Dasar, aku memiliki seorang sahabat. Untukku, memiliki pengertian tentang sahabat waktu itu sangat sederhana, cukup bersama setiap hari untuk bermain masak-masakan atau selalu bersama saat mengerjakan Pekerjaan Rumah untuk menggambar pemandangan atau selalu berangkat dan pulang bersama saat pergi kursus, maka itulah sahabat.
Dia adalah seorang gadis cantik dengan kulit putih. Memiliki rambut ikal berwarna pirang. Orang-orang terkadang selalu bercanda untuk memanggil nya 'gadis keturunan asing'. Dia adalah seorang sahabat yang aku miliki ketika Sekolah Dasar, Yuli Astuti. Namun pada kelas III Sekolah Dasar, aku harus pindah sekolah ke luar kota, membuatku terpisah dengan hubungan yang sudah lama aku jalin walaupun ketika aku kembali dua tahun kemudian kami benar-benar telah menjadi orang asing.
Namun ketika kami masih menjadi sahabat pena, setiap bulannya aku akan menerima sebuah surat dari sahabatku, membuatku semakin merindu. Dia akan mengisahkan tentang teman-teman, tentang prestasinya dan tentang adik barunya. Akhirnya dia menjadi seorang kakak, sebuah status yang sangat dia inginkan, sepertinya kami tak akan membuat permainan rumah-rumahan lagi, batinku*.*
Dan seiring berjalannya waktu, makna dari sahabat sangat sulit untuk aku temukan. Aku cukup percaya diri bahwa teman bukanlah hal yang sulit untukku. Tetapi untuk kata sahabat, mungkin akan butuh perjuangan.
Memikirkannya kembali, membuatku mengingat seseorang dan tanpa sadar aku mulai membuka pesan yang belum aku balas.
Kepada : Apriliawan
Arah yang kini kita lalui benar-benar berbeda dan aku mulai merindukanmu.
Apriliawan, “Suatu hari, aku akan pergi mencarimu.”
Balasannya membuatku melengkungkan bibir ke atas, beban berat itu terasa mulai ringan. Aku tidak sabar untuk menantikan hari itu.
Semua siswa baru masih mengenakan seragam sekolah lama mereka, mungkin seragam yang kini mereka pakai adalah seragam yang menjadi kebanggaan mereka sebelumnya. Terdapat beberapa titik perkumpulan siswa yang tampak sudah membuat sebuah hubungan baru namun ada juga beberapa tetap pada hubungan lama yang mereka bawa dilihat dari pakaian mereka yang serupa, memberikan rasa iri mendalam kepadaku.
Mataku terfokus pada seorang gadis mungil, berkulit cokelat mengenakan seragam Pramuka. Tahi lalat di dahinya dengan tanpa sengaja selalu mengarahkan pandanganku kesana. Mengingatkan akan aktris Bollywood. Dia manis. Dia hanya duduk pada pinggiran teras kelas sambil memeluk tas ranselnya bersama beberapa siswa lainnya tanpa melakukan apapun. Mereka terlihat tidak berada dalam hubungan baru itu, tampak canggung.
“Apakah kamu memperhatikan gadis itu?” ucap Syafa. Begitulah dia memperkenalkan dirinya padaku, seorang gadis yang memiliki kepercayaan diri yang besar. Selalu mendominasi pembicaraan, aku selalu bersyukur mendapatkan teman sepertinya. Mudah bergaul.
“Ya, dia manis.” Aku membenarkan pernyataan yang detik sebelumnya aku pikirkan.
__ADS_1
“Dia adalah siswi lulusan Mts. Model, sekolah favorit di dekat sini.” Aku mempercayai ucapannya. Menurutku seorang yang supel akan mudah mendapatkan informasi melalui hubungan barunya kepada teman yang lain. Namun mendengarnya bahwa dia merupakan lulusan sekolah favorit membuatku teringat sekolahku dulu, sekolah unggulan yang didirikan oleh pemerintah khusus untuk siswa berprestasi. Dan aku sedikit menghawatirkan beasiswaku kelak walaupun aku cukup percaya diri untuk bersaing.
Sudah beberapa tahun aku berjuang untuk beasiswa, mengejar prestasi hingga hal itu membuatku kehilangan sahabat. Mengingat nya membuatku berpikir akan masa lalu yang terasa sia-sia. Surat-surat yang begitu ternilai di masa lalu berubah menjadi sekumpulan kertas yang tak tersentuh dan menjadi santapan rayap.
“Ada apa dengamu?” Pertanyaan Syafa membuyarkan lamunanku.
Aku “...”
“Apakah kamu memikirkan gadis itu? Sejujurnya aku juga merasa akan mendapatkan saingan di sini.”
“…” Aku juga.
“Teman-teman, kita diminta masuk ke Ruang XC. Sepertinya akan ada pengarahan untuk MOS!”
“Baiklah, ayo cari ruangannya,” ucapku sambil mencoba meluaskan padangan. Sekolah ini benar-benar luas dan memiliki beberapa fasilitas yang dapat digunakan untuk siswa dan masyarakat umum. Seperti bangunan E-dotel yang kini kami lalui, beberapa siswa jurusan Akomodasi Perhotelan akan terlihat keluar-masuk ruangan untuk melakukan pelatihan pada kamar kosong atau secara langsung melayani para tamu asing yang menginap. E-dotel merupakan sebuah penginapan yang berada di sebelah barat sekolah dan dibuka untuk masyarat umum yang ingin menyewa penginapan. Sebagian besar penyewanya adalah pelancong asing.
“Lalu, jurusan apa yang memakai baju warna pine di sana? Mereka tampak sangat fasih untuk berbincang dengan para pelancong asing itu!”
“Aku rasa itu jurusan UPW, mereka ditekankan untuk bisa berkomunikasi dengan para pelancong asing dari berbagai negara.”
“Wahh ... Sekolah ini memang luarbiasa, aku semakin penasaran dan bersemangat untuk cepat-cepat diterima secara resmi di sini.”
Beberapa siswa lainnya tiada henti berdecak kagum dan tiada henti untuk melihat kekaguman luarbiasa didepan kami. Hingga, aroma nikmat makanan yang tiba-tiba terbawa angin kearah kami mengalihkan perhatian kami.
“Aroma apa ini?” Pertanyaan demi pertanyaan datang dari mulut para siswa. Hingga seorang pria tinggi dengan wajah maskulinnya keluar membawa nampan. Tanpa sadar aku memperhatikan makanan yang tampak nikmat berada di atas nampan yang semakin meyakinkan kami bahwa aroma kenikmatan itu berasal dari makanan itu.
__ADS_1
“Maaf, adik-adik. Seandainya makananan ini belum dipesan oleh tamu E-dotel kita, dengan sangat senang hati kakak akan mengundang kalian untuk satu jamuan.”
Mendengar pernyataan itu, semua mata beralih tepat kepada wajah yang memberikan senyum pemikat. Benar-benar tampan!
“Suami idaman.” Seseorang tanpa sadar mengatakan isi hatinya, membuat tawa tiba-tiba bergema di antara kami. Untuk mencoba menutupi rasa malunya, dia untuk mengalihkan suasana lalu berkata, “lalu, apakah kakak adalah siswa juga?”
Dengan karisma yang luarbiasa, senior itu menjelaskan dengan sangat sopan. “Kami adalah siswa jurusan Tata Boga. Kami setiap hari berada di dapur dengan celemek ini.” Kalimat terakhir nya terdengar sedang menggoda para siswa baru. Dan detik berikutnya, dia mengucapkan maaf untuk segera pergi mengantarkan makanan, meninggalkan siswa baru dengan wajah kekaguman.
“Aku tidak jadi menyesal masuk sekolah ini, mulai sekarang niatku adalah mencari calon suami idaman ku dimasa depan!”
Hahahhahaha
Tawa bergema hingga ujung lorong bangunan ini, tawa itu terhenti ketika tampak seorang panitia datang untuk membuat kami bergegas memasuki ruangan XC.
Aku dan Syafa duduk pada meja yang sama, kami memutuskan menjadi teman sebangku dan memilih duduk paling depan. Satu teman saja sudah cukup, aku hanya akan fokus pada tujuanku masuk kesekolah ini.
“Apakah mereka kembar?” Terdengar bisik dari teman seruanganku, aku mulai mencari arah pandangan mereka. Aku selalu melihat dua orang cewek dan cowok yang memiliki wajah mirip, mereka selalu berjalan beriringan kemanapun, gerak geriknya memperlihatkan karakter yang bertukaran. Sang gadis terlihat berjalan dengan angkuh, membawa sifat seorang cowok, seperti gadis tomboy. Namun, wajahnya cantik dan berkulit putih. Sedangkan sang cowok terlihat kemayu dengan wajah tampannya.
“Mungkin tunangan, bukankah mereka tampak keren,” ulas seorang dibelakang mejaku, “hai, perkenalkan namaku Laily.” Lanjutnya.
“Aku Syafa dan ini Zytha” Seperti djavu, aku tak perlu bersusah payah memperkenalkan diriku.
Dan begitulah awalnya aku menjalin hubungan baru, berharap hubungan ini akan lebih baik dari hubungan sebelumnya. Hari-hari disekolah ini mungkin akan lebih berwarna, teringat lagu Chrisye dengan lagunya ‘Kisah Kasih di Sekolah’. Akankah kami melewati hal-hal manis seperti bait demi bait lagunya, kami menantikan hal luarbiasa.
“Untuk kalian yang belum mengambil bagian mengukur size seragam kalian, setelah ini datanglah keruangan busana yang berada di ujung bangunan ini. Senior kalian dari jurusan busana akan membantu kalian mendapatkan ukuran.”
__ADS_1
Ternyata ada jurusan busana juga di sini.
Aku tak menyadari apapun karena kecemasanku sejak mendaftarkan diri hingga melalui berbagai tes kelulusan. Lalu, mengapa tiba-tiba aku berada di jurusan ini?