Senior, Berhenti Menggodaku!

Senior, Berhenti Menggodaku!
Kerasukan


__ADS_3

“Sayang sekali saat ini kamu sedang sibuk, kakak ingin lebih dekat denganmu,” ucapnya dengan lirih. Senior ini benar-benar tidak mau menyerah membiarkan kami melanjutkan perjalanan berdua, dia terus mengikuti kami.


“Kamu harus kembali.” Reza berhenti berjalan, kedua tangannya terlipat di depan dada. Terlihat jari-jarinya membuat beberapa ketukan pada lengannya, seperti tidak sabaran. Wajahnya masih terlihat dingin, bahkan ketika menatap temannya itu.


“Ahhh…, aku ingin masuk juga.” Senior itu membujuk dengan nada lirih, sesekali akan memalingkan wajahnya kepadaku dan sejurus kemudian ke arah Reza. Apa yang diinginkan senior ini? Benar-benar merepotkan.


“Yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Kamu hanya akan mengganggu kami.” Reza berusaha menjelaskan dengan sabar. Kami masih berdiri membentuk sudut segitiga di depan pintu utama gedung utara. Melihat ke sekitar, terdapat beberapa senior yang berjalan melewati kami.


“Baiklah! Aku memang tidak bisa berdebat denganmu. Oh ya, nanti sore aku ke kosmu ya.”


“Untuk apa?”


“Tumben menanyaiku alasan, biasanya juga aku kesana langsung bahkan tanpa izin lebih dulu,” ucapnya dengan lirih dan terdengar kecewa, sejurus kemudian matanya menatap dengan curiga ke arah Reza dan kemudian merangkulnya dengan kuat. Bahu Reza yang lebih tinggi membuat Reza mendorong tubuhnya ke depan untuk memberikan temannya keleluasaan untuk melingkarkan tanggannya–tepat pada lehernya.


“Aku punya urusan,” jelas Reza kembali, namun kenapa menatapku ketika mengatakan itu.


“Itu membuatku semakin penasaran. Lebih baik kamu berhati-hati, aku akan tetap datang!” Senior itu pun melepaskan rangkulan dan memantapkan kalimatnya. Mereka ternyata cukup dekat.


“Terserah.” Reza membalikkan badannya dan hendak membuka pintu kaca yang cukup besar itu. “Sampai kapan kamu akan diam disana?” lanjut Reza ke arahku.


“Kalau begitu, aku permisi dulu, Senior.” Aku hanya perlu bersikap sopan untuk saat ini, dia adalah temannya Reza. Tunggu, lalu kenapa jika dia temannya Reza? Bukankah harusnya sifat temannya juga akan mengesalkan seperti Reza sendiri.


“Aku akan menghubungimu nanti.”


“Oke” Aku segera berjalan menyusul Reza yang terlihat tidak sabar dan beranjak meninggalkan aku bersama temannya. Uh, aku ingin sekali menarik wajah dinginnya itu dan kemudian menjemurnya di bawah terik matahari di luar sana. Benar-benar menyebalkan.


“Kamu sedang mengutukku dalam otakmu?”


“Uh, ahh…,” Apa yang dikatakan Reza? Dia membaca pikiranku? Atau aku mengatakannya dengan keras tanpa sengaja? “Ti-tidak!”


“Lalu kenapa menatap punggungku dengan tatapan tajam seperti itu?”


“Memangnya punggungmu punya mata? Jangan menuduhku. Kalau kamu bersikeras dengan tuduhanmu, bawakan aku bukti!”


“…”

__ADS_1


Kenapa diam? Tidak bisa memberikan bukti, bukan? Maka dari itu, jangan berdebat denganku. Semakin kamu mencoba berbicara lebih banyak, aku semakin takut. Seolah kamu sedang menyiapkan jebakan untuk aku tangkap.


Suara deritan pintu terdengar ketika Reza membuka pintu ruangan, di depan pintu terlihat selembar kertas yang bertulis ‘Jangan Ganggu’.


“Se-Senior, di sini tertulis ‘Jangan Ganggu’, apakah kita diperbolehkan masuk?”


“Masuk.” Reza tidak menjawab keraguanku, namun perintahnya terasa sulit untuk aku tolak. Aku mulai mencuri pandang kesekitar. Ruang ini terlihat lebih luas dan benar-benar seperti studio foto pada umumnya.


“Kak Reza?” Aku memanggilnya dengan ragu.


“Mn”


“Kenapa belum ada orang?”


Reza masih sibuk dengan stopkontak yang berada di bawah meja komputer, mencoba untuk menghubungkan arus listrik. Detik kemudian, terlihat beberapa power supply menyala dan mengeluarkan bunyi beep.


Tak lama kemudian nada dering handphone-ku menyusul mengeluarkan bunyi lagu ‘Fake Love’ dari BTS. Aku lupa mengubahnya ke ‘mode senyap’. Untung tidak ada yang menelpon ketika berada di dalam aula tadi. Oh, dari Apriliawan.


“Hai…,” suaraku terdengar antusias. Aku melirik Reza sesaat, takut membuat mood-nya jelek karena kebisingan yang aku buat.


“Mn…, sangat menyenangkan.” Kebiasaan burukku ketika menelpon itu tidak dapat diubah, lagi-lagi mencoba mencubit bibirku dan mencoba mengupasnya hingga berdarah. Benar-benar kebiasaan buruk!


“Aku seharusnya berada di sekolahmu hari ini.”


“Ah…, kenapa? Bukannya kamu juga sedang mengikuti OSPEK?”


“Aku diundang untuk menjadi Pembawa Acara di sana. Tapi seperti katamu, aku masih harus mengikuti OSPEK.”


“Benarkah? Seharusnya kamu lebih memilih bertemu denganku.” Aku menggoda sahabatku itu.


“Ya. Sekarang aku menyesalinya.”


“Kamu harus menyesa–” Handphone-ku melayang ke udara. Suaraku terasa tertahan di tenggorokan ketika melihat Reza mengambil paksa Handphone-ku ditengah pembicaraanku dengan Apriliawan. Sejurus kemudian, aku mendengar panggilan dari sambungan itu telah terputus dan mengeluarkan bunyi beep. Reza menatapku dengan lekat, lebih lekat dan sangat lekat.


“Apa yang kamu lakukan?” Aku mencoba bersikap sopan dan mengendalikan emosiku, mungkin aku menyinggungnya tanpa aku sadari atau telah membuat kesalahan dan kemudian menganggunya dengan suaraku.

__ADS_1


Tak ada jawaban sama sekali. Reza semakin mendekatkan dirinya, membuatku mengambil langkah mundur dan kemudian terpojok pada dinding ruangan. Aku mulai merasa takut.


“A-Ada apa?” suaraku terasa serak. Reza menakutiku setengah mati. Aku mendengar nada dering handphone-ku kembali, namun satu kali lagi, Reza menolak panggilan.


“Kenapa selalu menggangguku?” ucap Reza dengan lirih ke arah terlingaku, hampir membenamkan wajahnya ke leherku. Tidak ada arah satupun yang bisa aku pilih untuk melarikan diri, dia benar-benar mengurungku dengan kedua tanggannya.


“A-Apa salahku? Aku minta maaf bila mengganggu, aku seharusnya tidak sibuk menerima panggilan.” Semoga Reza memaafkan aku dan membiarkan aku lolos saat ini. Jantungku semakin berpacu dengan kencang, aku dapat menghirup aroma parfum yang dipakainya, seperti menghirup aroma mint dan daun jeruk lemon.


“Mn, kamu memang bodoh,” ucapnya tanpa bergerak sedikitpun. Hembusan napasnya semakin terasa di lapisan kulit leherku. Kesalahan apa yang aku lakukan? Apakah ada kesalahan yang lainnya?


“Ak–”


Apa yang Reza lakukan kepada bibirku? Pikiranku terasa kosong, kenapa Reza menyentuh bibirku dengan miliknya itu? Bukankah itu ciuman pertamaku?


“Yak! Kenapa menciumku?!” Aku berteriak keras kepadanya saat dia menarik wajahnya beserta ciumannya itu. Aku tersadar dari keterkejutanku sendiri. Aku hanya menangkap sekilas senyuman di bibirnya. Reza telah kerasukan hantu!


Sesaat kemudian, suara deritan pintu terdengar. Seseorang membuka pintu.


Tanpa sadar aku mendorong Reza sekuat tenaga untuk menjauh dari hadapanku, mengambil jarak yang cukup jauh darinya dan kemudian mengambil paksa handphone-ku yang berada di genggamannya. Jantungku semakin berpacu dengan cepat, seperti sedang dipergoki mencuri oleh pemilik ladang.


“Oh…, Reza! Kamu sedang apa di sini?” Pertanyaan senior itu sedikit membingungkanku.


“Bukankah sekarang ini kami akan melakukan pemotretan?” Aku bertanya dengan ragu ke arah senior itu. Senior itu dengan ragu menatap Reza dan kemudian melambaikan tangganya.


“Oh-Ooh…, ini salahku. Seharusnya aku mengabarkan secepatnya kepada kalian bahwa pemotretan hari ini ditunda.”


“Benarkah?” Aku ragu sesaat ketika melihat senior itu menggaruk belakang telinganya, seperti gelisah. Reza hanya berdiri dengan santai, bersandar pada tembok dan kedua tangannya tersembunyi di balik saku jas hitamnya.


“Lalu, kapan jadwalnya?” tanyaku kembali memastikan informasi yang tepat.


“Besok siang. Datanglah bersama Reza!”


Aku merasa ada keanehan di sini. Tidak, mungkin ini adalah akibat dari keterkejutanku sendiri akibat tindakan Reza yang tiba-tiba. Wajahku seperti memanas.


“Kalau begitu, aku lebih baik permisi duluan, Senior,” ucapku meminta izin untuk meninggalkan ruangan duluan. Tanpa menoleh sedikitpun ke belakang, aku segera membuka pintu dan berjalan dengan tergesa-gesa. Aku ingin mengutuk Reza saat ini.

__ADS_1


__ADS_2