Senior, Berhenti Menggodaku!

Senior, Berhenti Menggodaku!
Bermain Bodoh


__ADS_3

Pernyataan 'si cowok kutub' utara kemarin kini tampak berdasar, bukan hanya bisa mendapatkan seribu paraf tapi bahkan lebih dari itu. Entah bagaimana pengaturan yang dilakukan untuk hari kedua ini, tetapi yang jelas sebagian besar senior telah hadir menyaksikan OSPEK.


Perkumpulan senior menyebar kesemua titik sekolah pada awalnya, namun lambat laun mulai berkumpul mengelilingi lapangan luas tempat kami para siswa baru berkumpul. Kami diberikan waktu sampai besok, tepat pada hari penutupan OSPEK untuk mengisi penuh buku merah itu.


Langit tampak bersahabat hari ini. Angin bertiup dengan pelan ke arah kami bahkan seberkas sinar matahari tidak sedikit pun yang jatuh dari langit akibat gumpalan awan raksasa.


“Kita akan berkumpul lagi pada pukul 04:00 sore.” Arahan dari panitia dan kemudian membubarkan barisan kami.


Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak pada bangku panjang di bawah pohon besar nan rindang, sambil menunggu Syafa untuk kembali dari kantin. Beberapa siswa baru terlihat sudah mulai mengambil tindakan misi buku merah, beragam taktik yang mereka keluarkan untuk melancarkan misi seperti mengeluarkan jurus penggoda, muka polos, bersikap keren bahkan tidak jarang ada yang bersikap kaku karena malu.


“Kok sendirian di sini, Adik Manis?” Aku hanya menggerakkan bola mataku melirik dua orang senior yang datang mendekat kearahku, aku sangat benci cowok penggoda tapi memikirkan posisiku sebagai siswa baru membuatku harus memasang topeng dengan benar.


“Aku sedang menunggu temanku, Senior.”


“Wah, suaranya manis” Memang benar-benar cowok penggoda, “siapa namamu, Dek?” lanjutnya.


“Sebelum bertanya nama, bagaimana bila Senior mengisi buku merah untukku dahulu?” Ingin rasanya aku menambahkan kata kutukan pada akhir panggilan ‘Senior’ untuknya.


“Kamu pintar menawar ya, bagaimana kalau Senior tampan ini tidak mau?” Dia mulai menggoda lagi.


“Kalau begitu, pertukaran batal!” Kemudian enyahlah kalian dari sini, kalian membuatku merinding.


“Kamu harus mengisi penuh buku merah itu lhoo ..., nggak takut sama air got?” Seperti menakuti anak kecil saja. Seharusnya kalian bisa mikir arah pertanyaan itu lebih tepat diberikan kepada siapa.


“Masih banyak senior baik hati yang akan mengisinya untukku.” Aku memutuskan untuk berhenti berdebat dan mulai memasukkan buku merah ke dalam tas plastik merah muda.


“Oke, oke. Kamu memang pintar berdebat. Bagaimana jika dua paraf untuk nama dan nomor handphone?” Seraya menunjukkan temannya kepadaku.


“Oke!” Kalian lebih baik tidak menyesali ini. Aku tak bisa menahan senyum licikku sendiri.


Beberapa saat kemudian dua paraf telah mengisi kolom pertama dan kedua pada buku merahku, tidak buruk juga.


“Kenapa nomormu tidak bisa dihubungi?”


“Kami siswa baru tidak dibolehkan membawa handphone, Senior. Tentunya handphone-ku sekarang dalam keadaan mati di locker.”


Walaupun terlihat ragu untuk beberapa saat, akhirnya mereka meyakini jawabanku.

__ADS_1


“Baiklah, Senior akan menghubungimu setelah OSPEK berakhir.”


Aku hanya menganggukkan kepala, aku tak akan berjanji untuk hal itu.


“Kamu tidak takut akibat membohongi senior?” Sepertinya aku sudah bisa mengenali suara si cowok kutub utara tanpa melihat wajahnya. Dia kini tepat berada di depanku dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Mencoba untuk tampil keren, uh?


“Siapa bilang aku membohongi mereka?”


“…”


Aku dapat menangkap kebingungannya walaupun samar-samar, terlalu susah untuk menebak apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Semua yang ada di wajahnya menunjukkan kata dingin dan misterius.


“Permisi, Senior. Bisa minta tanda tangannya?” Dua siswi baru datang dengan jurus penggodanya. Tersenyum bodoh di depan senior yang memasang wajah dingin. Kalian sangat mudah ditebak.


“Hitung jumlah daun yang berguguran ke tanah, setelah itu kalian bisa memintanya kembali kepadaku.”


Hahahaha, dia memang suka sekali menghitung, batinku.


Melihat raut wajah kedua siswa baru itu sekarang tak lagi membuatku keheranan, mereka benar-benar tampak ragu-ragu sesaat dan saling mencuri pandang di antara mereka.


“Kenapa kamu tertawa? Apa kamu bodoh?”


“Siapa yang Senior sebut bodoh, uh?” Aku menghentikan tawaku dan berubah menjadi perasaan kesal.


“Dari semua bagian wajahmu mengatakan bodoh.”


“Maksud Senior, semua coretan bodoh yang ada di wajah ini? Lalu siapa yang bertanggung jawab untuk kami terlihat bodoh ketika memenuhi permintaan para senior?” Emosiku sampai ke ubun-ubun. Memikirkannya kembali memang membuatku merasa paling bodoh dengan rambut 25 kucir, lipstick merah merona bahkan dengan alis sebesar pagar tetangga. Kami hampir terlihat seperti badut, hanya tinggal menambahkan bola merah di hidung untuk menyempurnakannya.


“Bukankah itu lebih baik, setidaknya coretan bodoh itu bisa menutupi kebodohan sejatimu.”


“Aku baru menyadari dibalik wajah sedingin es, Senior ternyata memiliki lidah yang bisa membuat darah memanas.”


Kami berdua hanya terdiam dengan melepas pandangan mematikan, kami sepertinya memiliki dendam di kehidupan lalu. Kami memiliki karma yang harus kami bayar di kehidupan ini.


“Permisi, Senior?” Seseorang datang lagi dan memutuskan garis es dan api yang tak terlihat di mata kami, tapi bukan dengan jurus penggoda melainkan dengan aura keanggunan yang luarbiasa–Distri. Wajahnya sangat cantik dengan bibir merah merona. Akankah senior luluh dan memberikan paraf tanpa syarat bodoh itu lagi?


“Persyaratanku tetap sama, hitung daun yang berguguran ditanah itu, setelah itu kamu bisa memintanya kembali kepadaku.”

__ADS_1


Oh Tuhan ... bahkan sosok seperti dewi yang turun dari surga pun tak mampu mengalahkan niatnya untuk menghitung. Melihat kondisi ini, aku pun tidak akan mau untuk menawarkan diri dan menjatuhkan harga diriku. Detik kemudian Distri pun ikut berlalu dengan kecanggungan di wajahnya.


“Kamu mau mencoba?”


“Uh?” Pikiranku masih fokus ke Distri yang berlalu tadi.


“Menghitung daun berguguran di sana demi tanda tanganku.”


“Seperti aku benar-benar bodoh saja! Bahkan kalau pun semua daun sudah selesai aku hitung, angin akan datang menggoyangkan ranting dan menjatuhkannya lagi.”


“Rupanya kamu tidak sebodoh mereka.” Aku hanya dapat memberikan tatapan mematikan kepadanya, kenapa mencoba bermain bodoh denganku saat ini. Tidak jarang beberapa siswa akan melintas kearah kami dan mencuri pandang untuk beberapa saat, beberapa ragu untuk berhenti dan beberapa lagi hanya berlalu dengan lirikan kagum ke arah Ramli.


“Simpan saja tanda tangan Senior, kalau pun sampai akhir penutupan OSPEK buku merahku belum terisi penuh, mungkin saat itu Senior boleh datang menawariku lagi.”


Ramli, “….”


Apa aku salah menggodanya? Wajahnya semakin menyeramkan, seperti ikut membekukanku sesaat. Sebaiknya aku pergi sebelum tubuhku benar-benar ikut membeku.


“Sebaiknya orang bodoh ini pergi.” Aku memutuskan untuk cepat-cepat menyeret tas plastik merah muda, Aku memang tampak bodoh dengan segala benda ini.


“Kamu sebaiknya tidak beniat membiarkan buku merahmu meninggalkan satu kolom kosong yang tersisa.”


Apakah itu sebuah ancaman? Kekuasaan memang akan selalu menang dan membenarkan sesuatu yang salah.


“Aku pamit, Senior Ramli!”


🍀🍀🍀


Note penulis


Reza : “Kapan kamu akan memperbaiki kesalahanmu, itu?”


Jaelani : “Kenapa kalian tidak berkenalan dari awal saja sih? Kenapa tetap menggangguku dengan sebuah nama!”


Reza : “Nama itu nama Ayahku”


Jaelani: “...” Kenapa akhir-akhir ini kamu menjadi agak cerewet.

__ADS_1


__ADS_2