
Kami memasuki aula utama dengan langkah pelan, berharap suara langkah kami tidak mengundang perhatian satu orang pun ke arah kami. Aku memilih kursi paling belakang, diikuti Joni yang mengambil tempat di sebelahku. Kami berdua memperhatikan keadaan dan suasana di sekitar kami kemudian.
Aula ini tampak dibagi menjadi dua, sebelah kanan adalah tempat siswa baru serta siswa senior sedangkan di sebelah kiri adalah tempat bagi wali siswa baru. Kemudian guru dan dewan sekolah menempati posisi paling depan. Panggung besar menjadi pusat perhatian semua orang.
“Marilah kita ikuti bersama, sambutan dari siswa terbaik tahun ini. Reza Suryadinata!”
Tanpa aku sadari, mataku memfokuskan diri untuk menatap panggung dari kejauhan, berharap menangkap bayangan Reza yang akan menaiki panggung besar itu.
Karena belum melihat Reza maju ke panggung, aku mengedarkan pandanganku ke arah kursi siswa. Dan–Reza ternyata berada di sebelah kursiku. Hal yang tidak aku sadari itu membuatku terkejut dan membuat jantungku berdetak lebih kencang.
Reza berdiri setelah mendengar suara pembawa acara, untuk sesaat dia memperbaiki kancing jas dan mencoba merapikannya dan kemudian keluar dari deretan kursi kami.
Reza berjalan membelah perhatian semua orang yang hadir. Semua tatapan mengarah kepadanya seperti anak panah yang siap lepas dari busurnya. Tak ada suara satu pun yang terdengar, yang ada hanya lirikan mata yang terus mengikuti langkah Reza hingga menaiki panggung–termasuk aku.
“Senior mamang luarbiasa …,” bisik Joni dengan pelan ke arahku. Aku hanya mengangguk kecil untuk membenarkan bahwa Reza memang seorang yang luarbiasa, kecuali sikapnya itu. Aku masih bergidik ngeri mengingat aura dinginnya.
Reza memberikan beberapa kata sambutan serta kata selamat kepada siswa baru yang telah berhasil lulus untuk menempuh pendidikan di SMK ternama ini. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Reza kemudian memberikan kalimat penutup yang kemudian diikuti suara tepuk tangan yang bergema keseluruh sisi aula.
Mendengar suara tepuk tangan menyadarkanku bahwa waktu terus berjalan sehingga akan tiba waktunya untuk kami naik ke panggung juga. Pikiranku menjadi sedikit rumit, naskah yang aku hafalkan seakan siap terbang dan menghilang.
__ADS_1
“…” Aku seperti diperhatikan dari arah kananku, keadaan ini membuatku menegang dan melupakan sosok Reza yang telah duduk pada kursinya kembali. Reza tengah menatapku dengan tatapan yang sulit untuk aku artikan.
“Ada apa dengan pandanganmu itu?” ucapku pada Reza dengan keadaan setengah sadar. Karena tidak ada jawaban, aku ikut menatapnya dengan lekat untuk mencari niat dibalik tatapannya padaku.
Mendengar pertanyaanku padanya membuat ekspresi wajahnya berubah santai, seakan telah mengkonfirmasi keingintahuannya sendiri.
“Zytha?” ucap Joni dengan lirih kearahku dan membuatku mengalihkan padangan dari Reza, sejurus kemudian aku dapat mendengar bahwa nama kami telah menggema keseluruh ruangan. Waktuku telah tiba, kami akan menaiki panggung untuk memberikan kata sambutan mewakili siswa baru.
“Inilah mereka, peringkat pertama dan kedua dari daftar Penerimaan Siswa Baru tahun ini ...,” suara pembawa acara. Aku mulai berjalan menuju panggung yang terasa semakin menjauh akibat kegugupanku sendiri.
“Untuk prestasinya, sekolah telah memberikan beasiswa penuh ….” Pipiku terasa memerah saat mengetahui seluruh tatapan yang kini berpusat padaku.
Mereka selalu memiliki alasan untuk menghindari berbagai undangan dari sekolahku, baik sengaja maupun tidak sengaja. Alasan yang aku terima saat kelulusan tiga bulan yang lalu adalah karena sebuah pekerjaan. Mereka bukanlah seorang pegawai pada suatu instansi pemerintahan ataupun pada sebuah perusahaan swasta yang menjadikan waktu mereka terikat kontrak sehingga tak bisa mendampingi anaknya.
Keadaan itu terkadang membuatku berpikir keras sebab dibalik mengapa mereka tak pernah mendampingiku satu kalipun. Diluar sana, banyak orang tua yang akan meminta anak mereka mengejar prestasi yang luarbiasa sehingga mereka bisa bangga untuk mendampingi anak-anak mereka dan mengumumkan pada dunia bahwa mereka memiliki anak bak permata yang akan menyilaukan dunia. Namun, tidak bagi orang tuaku.
Aku mulai melafalkan naskah yang sudah aku rangkai tadi malam. Hanya butuh waktu kurang dari dua menit untuk menyelesaikan bagianku dan kemudian beralih ke Joni.
“Kami persilahkan kepada wali dari dua siswa terbaik kita untuk naik keatas panggung.” Keadaan ini terulang lagi, aku benar-benar sendirian tanpa seorang wali yang mendampingiku. Seorang pria separuh baya naik keatas panggung, tampil dengan pakaian formal dan terlihat berwibawa. Joni tersenyum lebar menyambutnya seiring menaiki panggung. Joni beruntung memiliki seorang pendamping hari ini, batinku.
__ADS_1
Aku hanya menatap dari kejauhan, pandanganku seolah menembus pintu masuk aula. Tidak mungkin orang tuaku berada di sini sekarang. Mungkinkah mereka masih menunggu angkutan umum? Atau mereka sedang berada ditengah kemacetan? Apakah sebentar lagi pintu itu akan terbuka? Sekali lagi, aku merasa sia-sia berada di atas panggung ini.
Selagi pikiranku menerawang jauh, seorang pria yang beberapa waktu yang lalu duduk di barisan depan, kini tersenyum ramah ke arahku dan kemudian berdiri di sampingku dengan membawa kebanggaan di dadanya. Aku dapat menebak dengan mudah, dia akan menjadi wali dadakan untukku–Itu selalu terjadi.
Tak perlu menanyakan apapun saat ini, cukup biarkan pria baik hati ini untuk mendampingiku dahulu. Setelah acara, aku akan menanyakannya segala hal dan mengucapkan terimakasih kepada beliau.
“Anda cepat sekali untuk mengambil tempat di samping siswi terbaik kita,” ucap kepala sekolah dengan guratan senyum di bibirnya, menatap cerah ke arah pendamping dadakanku hari ini. Mereka cukup dekat untuk melempar candaan itu.
“Kamu harusnya menjadi seorang yang sangat beruntung hari ini,” ucap kepala sekolah ke arahku seraya menyematkan selempang berwarna hitam dengan garis berwarna emas. Aku memberikan senyum terbaikku untuk mengatakan bahwa aku mengerti dan benar-benar bersyukur akan hari ini. “Tersenyumlah, orang tuamu pasti bangga di mana pun mereka berada saat ini,” lanjutnya dengan senyum yang menenangkan. Ya, mereka pasti bangga dan aku tidak mungkin meragukan itu, batinku kemudian.
Mereka pasti sedang berjuang di luar sana untuk mencari nafkah seperti biasanya, berjuang untuk mengubah takdir dan berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Sedangkan aku di sini, aku harus berjuang untuk mereka dan membuang segala hal negative dalam pikiranku seperti beberapa saat yang lalu.
“Otakmu ternyata tidak kosong,” bisik seorang yang mengikuti kepala sekolah dari belakang. Reza mendorong seikat bunga dengan pelan. Seikat bunga besar kini telah berada dalam pelukanku, terasa berat namun energiku terasa terisi dan siap untuk menanggung berat lebih dari ini. Dia tidak melayangkan tatapan dinginnya saat ini, ada sedikit kehangatan dalam tatapannya.
“Jangan menggoda juniormu, dia adalah siswi terbaik kita,” ucap pendamping dadakanku.
Apa yang terjadi disini? Sepertinya wajahku penuh dengan deretan tanda tanya diantara mereka. Hubungan apa yang mereka miliki untuk melontarkan segala candaan yang terdengar dingin itu.
“…” Reza kemudian melempar tatapan dinginnya mendengar perkataan itu dan kemudian segera mengambil tempat di sisi kananku untuk mengambil photo, sedangkan di sebelah kiriku adalah Joni. Semua pihak kemudian mengambil tempat berjajar. Fotografer telah siap pada posisinya.
__ADS_1
Banyak hal yang kini aku pikirkan ketika keadaan sunyi seketika, saat lampu kamera menyala dengan terangnya kearah kami untuk beberapa kali. Seandainya ayah dan ibu berada disini, bukankah mereka akan sangat berbangga dan menyombongkan diri kepada wali siswa lainnya? Seharusnya aku sudah terbiasa dengan keadaan ini–Ini bukan pertama kalinya untukku.