SENTUHANMU

SENTUHANMU
Harapan Adline


__ADS_3

"Kapan kakakku akan berubah? Kapan dia kan bersikap normal layaknya seorang pria yang mendambakan seorang kekasih di hidupnya?"


Adline sangat khawatir padanya, dia memiliki rasa trauma yang  cukup tinggi terhadap seorang perempuan. Tapi tidak dengannya, dia sangat menyayangi adinya. Adline satu-satunya wanita yang sangat ia sayangi selama ini. Dia selalu menjaganya dengan baik, juga mengurusnya dengan tulus.


"Kau sudah minum obat Adline?" Jimin mengagetkan Adline dengan membawa nampan yang diatasnya terdapat roti dan susu, masuk ke kamar adiknya.


Adline menggeleng, tanda ia belum meminumnya.


"Ishhh kau ini, kapan kau akan sembuh jika terus saja seperti ini." dia merogoh obat yang diletakkan di dalam laci, dan segera menyiapkannya.


"Kak?" 


"Iya? Kau perlu sesuatu?" dia menoleh.


"Tidak, bukan itu." jawab Adline lemas.


"Lantas?" sekarang dia tak menoleh, dan fokus menyiapkan obatnya.


"Aku ingin  melihatmu menikah! Sebelum aku mati." pintanya yang selama ini terpendam.


Terlihat raut wajahnya yang kini berubah. Terlihat agak risih dengan ucapan itu. Namun dia menyembunyikannya dengan senyum hangatnya yang selalu membuat adiknya itu tak bisa berkata apa-apa.


"Dengarkan aku Adline, jika nanti sudah waktunya, aku akan menikah. Dan kau tidak boleh berbicara seperti itu, kau harus semangat untuk sembuh." lagi-lagi dia tersenyum dan mengelus rambut Adline lembut kemudian pergi meninggalkannya sendiri.


"Hm, berapa lama lagi aku harus menunggu kakakku itu menikah? Aku sangat ingin melihatnya."


Park Adline, adik dari Park Jimin ini memiliki penyakit yang cukup serius. Yaitu, kekebalan tubuhnya yang menipis dan akan sangat mudah terserang penyakit. Sehingga tak jarang jika Adline akan pergi ke rumah sakit tiga kali dalam seminggu. Karena dia sangat rentan terkena penyakit. Membuatnya tak bisa menikmati masa-masa remajanya dengan baik.


Dia hanya dirawat dan dijaga oleh kakaknya, Park Jimin. Ayah dan ibunya sudah lama meninggalkan mereka. Ayahnya meninggal terlebih dahulu, kemudian disusul oleh ibunya yang meninggal ketika melahirkan Adline.

__ADS_1


Terlebih Adline harus sabar menghadapi kakakknya yang memiliki sikap tak biasa pada perempuan, kecuali padanya. Jimin seolah-olah jijik melihat perempuan, dia bahkan akan marah ketika dia disentuh oleh perempuan tersebut.


Tapi jangan berfikir karena Jimin membenci perempuan, dia akan menyukai laki-laki. Tidak! Tidak seperti itu.


"Adline satu-satunya wanita yang kupercayai, selebihnya aku tak yakin."


Itu yang selalu Jimin ucapkan.


Hari ini Adline kembali berbaring di rumah sakit, dia sakit lagi. Penyakitnya kini tambah parah dari sebelumnya, membuat Jimin khawatir dibuatnya.


"Kak..." lirih Adline yang kini mulai sadar.


"Iya? Aku disini Adline." Jimin kini berada disamping Adline dengan wajah cemasnya.


"Cepatlah menikah..." Adline tersenyum.


"Aku mohon..." lagi-lagi Adline memohon dengan tatapan yang membuat Jimin tak tega melihatnya.


Jimin hanya terdiam, dia tak menjawabnya. Jimin sangat bimbang dengan perasaanya. Dia sungguh tak ingin membuat Adline kecewa. Tapi Jimin tak bisa melakukannya.


Suara langkah kaki seseorang yang tengah masuk ke kamar Adline.


"Selamat pagi, bolehkah aku memeriksanya sebentar." ternyata itu dokter yang akan memeriksa Adline.


Jimin langsung menjauh, ketika melihat dokternya ternyata seorang perempuan.


"Dokter? Kau sangat cantik." celetuk Adline, membuat dokter itu tersipu malu.


"Ah biasa saja." pipinya kini memerah karena pujian Adline.

__ADS_1


Sementara Jimin, dia duduk di sofa memperhatikan mereka dari jauh.


"Apakah dokter sudah menikah?" tanya Adline membuat suasana tiba-tiba hening.


"Oh aku belum menikah." jawabnya sambil sibuk memeriksa Adline.


"Kalau begitu, nikah saja dengan kakakku!" Adline tersenyum dan sesekali melirik Jimin.


"Ya! Adline, jangan berbicara seperti itu, tidak sopan." teriak Jimin.


"Siapa nama dokter?" tanya Adline penasaran dan tak menghiraukan Jimin.


"Choi Yora. Kau bisa memanggilku Yora saja." ucapnya sambil tersenyum, membuat matanya tenggelam. Sama seperti Jimin ketika sedang tersenyum.


Dua minggu berlalu, Adline dirawat di rumah sakit itu, dengan dokter Yora yang kini sudah dekat dengannya. dahkan bisa dibilang mereka bersahabat baik. Bahkan sekarang   Adline memanggil Yora bukan dokter lagi, melainkan kakak, karena itu keinginan Yora juga.


Hari ini, hari terakhir Adline dirawat. Besok Adline sudah bisa pulang.


"Kak? Aku mohon ya, menikahlah dengan kakakku." Adline memang setiap hari memohon pada Yora agar dia mau menikah dengan kakaknya itu.


"Apa kau tak kasihan padaku? Apa kau tak mau membantuku untuk menyembuhkan kakakku?" Adline berkaca-kaca, sungguh dia sangat menyayangi Jimin.


"T-tapi Adline... aku belum siap." Yora memegang tangan Adline dan mengusapnya lembut.


"Kau tahu keadaanku semakin hari semakin memburuk, aku tidak mau mati sebelum melihat kakakku menikah. Itu yang sangat aku inginkan." Adline kini menunduk dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.


Yora tak tega melihat Adline seperti ini, Yora sangat menyayanginya sekarang.


"Baiklah, akan ku pikirkan lagi nanti." ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Adline langsung memeluknya erat setelah mendengar ini, dan dia menangis sejadi-jadinya karena bahagia.


__ADS_2