
"Aku mengingatnya lagi..."
Jimin kini duduk di ujung lantai atap. Dia membiarkan wajahnya di terpa angin sepoi-sepoi yang membuatnya agak bergidik karena dingin. Matanya memerah dan juga sedikit menyisakan bekas air mata.
"A-aku harus bagaimana sekarang?"
Masa lalu yang kelam dan menakutkan. Meskipun itu hanya hal yang bisa dianggap remeh, namun tidak dengan Jimin. Bagaimana bisa ia hidup tenang setelah mengingatnya lagi? Pisau itu---
"Kau mau melupakan masa lalumu sekarang?
Jimin menoleh dengan cepat ke belakang. Siapa yang mengatakan itu? Padahal tak ada orang disana.
"S-siapa kau?" matanya belum berhenti mengabsen setiap sudut untuk menemukan siapa yang berkata itu.
"Aku yang akan membantumu melupakan masa lalu mu yang menyeramkan itu..."
Setan atau iblis, yang jelas itulah yang kini tengah membisiki Jimin. Selama ini Jimin menuruti semua bisikan-bisikan itu. Di mulai dari harus membenci wanita, tak boleh menyentuhnya, dan juga harus membenci ibunya sendiri. Selama ini dia menuruti setan itu.
Jimin menutup ke dua telinganya dengan mata terpejam, "Pergilah! Aku tak'kan menurutimu lagi kali ini!"
"Ayolah... kau akan melupakan semua masa lalumu jika kau mengikuti perintahku..."
Bisikan demi bisikan kini mulai terdengar semakin berdenging di telinganya. Jimin mengerang, menahan diri agar tak jatuh dalam perangkapnya.
Sementara Yora, dia kini sudah berada di depan pintu yang menembus ke atap. Dia mengistirahatkan dirinya sebentar, mengingat ia harus tetap hati-hati karena ia harus tetap menjaga buah hatinya yang kini sudah lebih berat dari sebelumnya.
Keringatnya mulai mengucur dari rambutnya. Beratus-ratus anak tangga sudah ia tempuh. Bukankah itu bukan main capenya?
"Huh... kau harus tenang Yora! Tetaplah berdoa untuknya, tetaplah berfikir positif." bisiknya menyemangati diri. Meskipun kini air matanya sudah mulai menyeruwuk memaksa untuk keluar.
Yora melanjutkan langkahnya, sampailah ia disana. Namun Yora tak mendapati siapapun disana. Itu karena Jimin duduk di ujung sana, dan tubuhnya tertutupi benda yang membuatnya tak terlihat.
"Jim..." atap yang sangat luas membuat Yora agak kelelahan memeriksa setiap sudutnya. Yora berjalan dengan memegangi perutnya dengan harapan ia akan menemukan Jimin dalam keadaan baik.
"Kau sebelumnya selalu menuruti perintahku, sampai akhirnya kau tak menurutiku lagi gara-gara wanita itu. Apakah kau sudah memaafkan ibumu? Yang tak ingin kau hidup di dunia ini? Apakah kau sudah lupa?"
Rayuan demi rayuan terus bermunculan. Jadi selama ini, Jimin hanya terjerumus dalam bisikan-bisikan menyesatkan itu.
"Berdirilah... aku akan menunjukkan caranya untukmu..."
Jimin sudah tak bisa mengendalikan diri, ia kini sudah berdiri di ujung seperti bersiap akan melompat dari sana. Jimin menatap kosong, kepalanya sudah gelap. Bisikan itu berhasil membuatnya lupa akan Yora dan semuanya.
"Dalam hitungan ketiga, kau akan lompat."
Jimin mengangguk, ia benar-benar sudah tak sadar dengan apa yang kini akan ia lakukan.
Yora akhirnya menemukannya, ia berada jauh dari keberadaan Jimin. Dengan cepat ia menghentikan aksinya.
"Jim! Aku disini!" Yora berlari sambil meneteskan air matanya, tak bisa di bayangkan jika tadi ia telat memanggilnya, dia mungkin akan kehilangan Jimin selamanya.
Jimin menoleh ke arah Yora, dia akhirnya terdasarkan, "Kenapa aku berdiri disini?" bahkan ketika melihat ke bawah, Jimin langsung mundur. Dia turun dari sana.
"Aku disini... kau jangan lakukan itu..."
Yora terus saja berlari, dengan tangisan yang sudah tak terbendung lagi.
"Diamlah disana! Jangan lari seperti itu!" teriak Jimin, khawatir melihatnya yang tengah berlari tanpa menghiraukan apa yang sekarang ada dalam perutnya.
__ADS_1
Yora menghentikan langkahnya, ia nampak mengatur nafas. Menangis dan tersenyum melihat Jimin yang kini berlari menghampirinya. Namun tiba-tiba...
BRUK!
Tubuh Yora ambruk seketika, wajahnya sangat pucat, tapi matanya masih terbuka. Membuat Jimin semakin mengencangkan larinya.
"Yora-ah... kau tak apa?!" Jimin dengan nafas yang masih terengah, membawa Yora ke dalam dekapannya.
"Aku tak apa... apa ini dirimu, Jim?" lirihnya menatap Jimin dengan mata yang sangat sayu, tak lupa kini bibirnya sedikit terangkat, senyumannya melambangkan bersyukurnya Yora masih bisa melihat Jimin di hadapannya. Tangannya tergerak menyentuh pipi Jimin yang kini sudah basah karena air matanya yang tengah mengalir.
"Maafkan aku..." Jimin mencium pucuk kepala Yora dengan air matanya yang terus saja menetes.
"Ah kali ini aku yang akan merepotkanmu lagi Jim..." Yora memejamkan matanya. Tangannya tiba-tiba terjatuh dari pipi Jimin. Yora tak sadarkan diri sekarang.
Jimin membawa Yora dengan langkahnya yang setengah berlari. Jimin panik.
Ia menyerahkan Yora pada dokter Hye, untuk segera ia periksa.
**
"A-ada apa?" Taehyung menghampiri Jimin yang tengah tertunduk. Matanya sembab, Jimin sangat menghawatirkan istrinya.
"Semua karenaku! Aku benci diriku!"
Jimin menonjok kursinya, ia nampak sangat marah pada dirinya sendiri.
"Ah maafkan Aera, ini semua berawal darinya. Aku sungguh minta maaf." Taehyung membungkuk di hadapan Jimin. Mewakili Aera untuk meminta maaf padanya. Taehyung kini benar-benar bertanggung jawab penuh atas Aera.
Jimin tak mempedulikannya. Dia terus saja mengusap matanya, "Ah kenapa aku terus menangis? Aku ini pria, aku harus kuat!"
"Sekali lagi aku minta maaf padamu." Taehyung masih membungkuk di hadapan Jimin. Dia tak'kan mengangkat tubuhnya sebelum Jimin memaafkannya.
"Tenanglah! Tak'kan terjadi apa-apa pada istrimu." Taehyung datang menghampiri dan mengelus pundak Jimin pelan. Itu membuatnya menoleh.
"Kenapa aku juga ingin menangis melihat Yora seperti ini?" batinnya.
Memang, Taehyung masih belum bisa melupakan perasaannya yang selalu mengganggu kepalanya. Perasaan yang bisa di bilang terlarang. Bagaimana tidak? Yora sudah bersuami begitu pun dengan Taehyung yang sebentar lagi akan menikahi Aera.
"Bagaimana keadaan Aera?" tanya Jimin, mencoba menghargainya. Meskipun begitu, Jimin tetap khawatir juga padanya.
"Ah sudah mendingan. Dia kehilangan sangat banyak dar---"
"Ah syukurlah." Jimin menyela, dia tak ingin mendengar kata itu lagi. Ia jadi agak sensitif ketika mendengar kedua benda tersebut. 'Darah' dan 'pisau' keduanya sangat menakutkan bagi Jimin.
Taehyung mengangguk pelan sambil tersenyum. Ia ikut menoleh pada pintu itu.
**
"Yora hanya kelelahan saja. Jangan khawatir, dia akan pulih sebentar lagi."
Jimin menghembuskan nafas lega. Tak lupa menyunggingkan senyumnya pada dokter Hye, sebagai ucapan syukur dan terima kasih padanya.
Setelah dokter Hye menjelaskan semuanya, Jimin keluar dari ruangan dokter Hye. Ia berniat ingin menemui Yora dan menunggunya di dalam. Tapi...
Ketika Jimin masuk... dia mendapati Taehyung yang sudah berdiri di samping Yora dan menatapntnya lekat. Jimin diam, memerhatikan Taehyung yang tak menyadari kedatangannya.
"Sudah lama disini?" Jimin tak sabar, dia tak bisa menunggu Taehyung menyadari bahwa kini ia ada di hadapannya. Jimin berjalan menghampiri Taehyung yang tengah terperanjak melihat Jimin dengan wajah datarnya.
__ADS_1
Taehyung mundur, mempersilahkan Jimin untuk berada di samping Yora menggantikan posisinya. Jimin menaikkan selimutnya, lalu duduk di samping Yora.
"M-maaf aku tak izin dulu padamu masuk ke sini." Taehyung gugup, dia tak menyangka Jimin akan masuk ketika ia masih ada disana.
Taehyung tak bisa mengelak sekarang.
"Tak apa." jawabnya datar.
"A-aku permisi." Taehyung pergi dengan langkahnya yang setengah lari. Ia takut Jimin akan mengintrogasinya. Taehyung belum siap mengungkapkan semuanya.
**
Aera terkapar lemas diatas kasur dengan pakaian rumah sakitnya. Entah kenapa kini ia hanya melihat langit-langit ruangan VIP itu. Biasanya ia tak'kan tahan untuk tinggal lama-lama di rumah sakit. Wajahnya masih sangat pucat.
Taehyung lalu datang dengan nafas yang tersenggal-senggal, "Kau sudah sadar?"
Aera memalingkan wajahnya, ia enggan menatap Taehyung yang kini berdiri di sampingnya.
Taehyung duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Taehyung memerhatikan gerak gerik Aera dari jauh. Taehyung tahu dia marah padanya. Taehyung tahu Aera tak menginginkannya. Begitu pun dengannya. Yang ada di kepalanya hanya Yora.
"Aku akan segera menikahimu."
Tak ada jawaban darinya. Yang Taehyung lihat hanyalah air mata yang kini mulai mengalir dari pelupuk matanya. Taehyung berfikir apakah ini waktu yang tidak tepat untuk mengatakannya? Atau Taehyung salah bicara?
Taehyung mendengus sambil berjalan untuk menghampirinya. Mencoba menanyakan alasan kenapa ia menangis, "Ya, apa aku salah bicara?"
Tiba-tiba Aera bangkit dan mencabut selang infusnya. Tak peduli darah yang kini mengalir membasahi keramik putih itu. Aera nampak marah dengan apa yang telah Taehyung ucapkan.
"Aku hanya akan menikah dengan Jimin! Kau tahu?! Aku tak pernah mencintaimu sedikit pun! Aku tak mau!" Aera hendak turun dari ranjangnya. Tangan kekar Taehyung tak tinggal diam, ia menghadang Aera, menahannya agar tak pergi kemana-mana.
"Lihatlah, darahmu keluar lagi. Bisakah kau tenang sehari saja eoh?!" Taehyung agak membentaknya. Aera berontak, tapi ia tak berdaya.
"Bagaimana aku bisa tenang jika kau ada di hadapanku!"
"Dengarkan aku! Jimin sudah menikah, dia bahkan sudah punya bayi sekarang. Apa kau tak bisa menerima kenyataannya eoh? Apa kau tahu? Aku pun tak pernah mencintaimu sedikit pun. Namun aku tak tega membiarkanmu mengurus bayi ini sendiri. Aku berusaha menerimanya karena ini kesalahanku, aku tak bisa lari dari kenyataan ini, meskipun itu sulit!"
Taehyung keluar untuk memanggil dokter setelah mengatakan semuanya. Aera kembali menangis kali ini lebih deras dari sebelumnya, "Kenapa ini seperti mimpi?" lirihnya kembali naik ke atas ranjang.
**
"Kak? Kau kenapa? Ada apa ini?" Adline datang, nafasnya memburu melihat Yora yang tengah berbaring memandangnya sambil tersenyum.
"Ya! Tenang sedikit bisa?" Jimin menghampirinya yang tengah mengatur nafas. Adline sangat cemas setelah mendapat kabar dari Jimin.
"Ah maaf Hyung! Adline agak terlambat karena menjemputku dulu di bandara." Jungkook masuk menyusul Adline.
"Kenapa kau tak mengabariku eoh?" Jimin memeluk Jungkook dengan tawa khasnya. Bahagia melihatnya yang kini sudah kembali.
Adline menyeringai, dan berdiri di samping Yora, "Kau sudah mendingan 'kan kak? Aku sangat kaget ketika kak Jimin memberitahuku tentangmu." Adline memegang tangan Yora dengan mata yang berkaca-kaca.
Sementara Jungkook dan Jimin duduk di sofa yang letaknya cukup jauh dari ranjang Yora. Mereka berdua melihat Adline dan Yora yang tengah berbincang.
"Ah kenapa lagi dengan istrimu? Apa ini gara-garamu Hyung?!" Jungkook menatap Jimin dengan matanya yang membulat.
"Iya ini semua karenaku. Aku sangat menyesal."
Tadinya Jungkook berniat untuk bergurau saja. Tapi kenyataannya, ternyata ucapan Jungkook memang benar.
__ADS_1
"Ya! Maafkan aku, aku tak bermaksud." Jungkook merasa bersalah. Ia membujuk Jimin untuk tetap tak menyalahkan dirinya sendiri.
Lagi pula disini tak ada yang patut untuk di salahkan. Aera melakukan itu tak sengaja, ia tak tahu menahu tentang masa lalu Jimin. Begitu pun dengan Jimin, ia hanya terlalu lemah untuk mengikuti bisikan setan itu. Jimin tak berdaya, maka itu kesempatan emasnya untuk menghilangkan Jimin dari dunia ini. Dia ingin Jimin mati. Sementara Yora? Dia terlalu hawatir, sehingga ia tak memikirkan semua resiko yang akan ia dapat ketika menaiki beratus-ratus anak tangga itu. Semuanya terjadi tanpa di sengaja. Tak ada yang patut di salahkan untuk kejadian ini.