
Setelah selesai sarapan, Yora dan Jimin kembali ke kamar mereka. Berbeda dengan Adline, dia pergi bersama Jungkook hari ini.
"Mau jalan-jalan?" ajak Jimin menatap Yora yang kini tengah memoles dirinya.
"Kemana?" Yora menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh Jimin.
"Kulihat kau tak punya banyak baju, kita jalan-jalan ke mall saja. Beli semua keperluanmu." ucap Jimin membuat Yora terperanjak.
"Kenapa kau tahu?" Yora membulatkan matanya.
"Aku membuka lemarimu tadi." ucap Jimin santai.
Memang, selama hampir satu bulan ini, Jimin belum pernah mengajaknya pergi berbelanja. Bahkan pakaian Yora pun, hanya ada beberapa saja. Akibat kurangnya perhatian Jimin waktu itu.
Akhirnya Yora setuju. Dan langsung mengganti pakaiannya.
Yora mengenakan dress warna putih yang terbilang cukup pendek, dengan talinya lengannya yang hanya sebesar jari kelingking.
Sementara Jimin, dia terlihat sangat tampan, dengan mengenakan celana Jeans warna hitam, kesukaannya. Dan baju putih polos yang di balut lagi dengan jaket denimnya. Sangat cocok!
Jimin pergi ke luar terlebih dulu, menunggu Yora di dalam mobil.
Yora masuk, dan betapa tercengangnya Jimin ketika melihat Yora yang kini nampak lebih seksi, sebelumnya dia belum pernah se seksi ini.
Jimin membuka kacamatanya dengan mulut yang sedikit terbuka, "Ya! Apa aku tak salah mengenakan ini?" Matanya menatap Yora lekat.
"Aku hanya punya dress ini." Yora menyeringai.
"Cepatlah, hari sudah mulai gelap." sambungnya.
Jimin menancapkan gas mobilnya, dan memakai kacamata hitamnya lagi. Sambil sesekali melirik Yora.
Sampailah mereka di mall terbesar disana...
Layaknya sepasang idol, mereka menjadi sorotan semua orang. Mereka terpukau melihat Jimin dan Yora.
Meskipun jika dilihat, kebanyakan orang kebanyakan memerhatikan Jimin. Membuat Yora agak risih.
Jimin memegang tangan Yora sangat erat, menunjukkan pada mereka bahwa Yora itu miliknya.
"Pakailah ini!" Jimin membuka jaket denimnya, lalau membalutkannya pada tubuh Yora.
Dia tak ingin keindahan tubuh istrinya itu, dinikmati oleh semua orang.
"Eoh?" Yora kaget.
"Tubuhmu terlalu bagus! Hanya aku yang boleh melihatnya!" bisik Jimin lalu tertawa geli.
Yora memukul dadanya pelan.
Lalu mereka menuju ke tempat sepatu, tadinya Yora ingin sendiri memilih sepatunya, namun Jimin malah terus saja mengikutinya.
"Kenapa kau terus mengikutiku,hm?" Yora membalikan badannya, menatap Jimin.
"Apa kau tak membutuhkan bantuanku?" Jimin menyenderkan tubuhnya pada rak di sana.
Yora menggeleng. Dan langsung saja pergi.
Yora memang lebih suka sepatu daripada high heels, dia hanya punya dua pasang high heels di rumahnya, selebihnya, raknya di penuhi dengan sepatu.
Setelah melihat-lihat, akhirnya Yora menemukan sepatu yang cocok dengan seleranya. Dia menjinjitkan kakinya, mencoba meraih sepatu yang berada pada rak teratas. Namun, karena badannya yang lebih pendek dari Jimin, membuat Yora kesulitan untuk menggapainya.
"Sudah kubilang!" tiba-tiba tangan Jimin meraih sepatunya, membantu mengambilkannya untuk Yora
"Kau ingin mencobanya?" Jimin mengangkat sepatunya..
Yora mengangguk dengan wajah yang agak menunduk.
"Ayo ikut aku!" Jimin menarik tangan Yora, membawanya ke tempat yang lebih nyaman.
Setelah menemukan tempat yang cukup nyaman. Jimin mendudukan Yora, dan dia langsung saja memasangkan sepatu untuknya.
"Bagaimana?" Jimin tersenyum menatap Yora.
"Ku rasa ini sangat cocok, bolehkah aku ambil yang ini?" Yora membalas senyuman Jimin, membuat suasana semakin hangat.
"Ambil apapun yang kau mau." Jimin berdiri diikuti oleh Yora.
Jimin pun pergi entah kemana, mungkin dia ingin mencari barang-barang kesukaannya.
Betapa terkejut Yora, ketika melihat ada pegawai mall yang sedang berdiri dan menatap kosong di dekat ruang ganti. Tak jauh dari tempat Yora dan Jimin duduk tadi.
"Permisi?" Yora melambai-lambaikan tangannya.
"Ah nee, ada yang bisa saya bantu?"
"Kenapa kau melamun seperti itu?" tanya Yora, kebetulan usianya mungkin tak jauh beda darinya.
"K-kau beruntung sekali memiliki suami seperti dia. Aku sangat iri." wanita itu menyeringai.
__ADS_1
"Hm, iya aku sangat beruntung sekali." kini mereka berdua menatap Jimin yang tengah sibuk mondar-mandir, entah sedang mencari apa.
"Ah sudahlah... bantu aku menemukan baju-baju yang cocok untukku oke?" Yora membuyarkan lamunannya, mulai berbelanja lagi.
BRUK!
Yora menabrak seseorang.
"Ah maaf, aku tak sengaja!" Yora sibuk membereskan barang-barang orang itu yang berjatuhan, sementara barangnya, masih tergeletak berserakan.
Yora tersenyum dengan tangan yang kini menyodorkan setumpuk belanjaannya.
Namun, tatapannya bengis, tak ada sedikit pun senyum yang merekah dari bibirnya. Ya, dia Aera.
"Ini salahku, aku sungguh minta maaf!" Yora membungkuk, meminta maaf padanya, padahal ini bukan sepenuhnya salah Yora. Namun, itulah Yora.
Aera menatap Yora dari atas hingga bawah. Lalu memutar bola matanya, dengan tangan yang terlipat di dada.
"Aku baru lihat ada orang miskin yang berkeliaran di mall ini!" ucapnya tanpa ragu, malah dengan suara yang sangat lantang.
"K-kita pergi saja!" ucap pegawai yang menemani Yora, dia sangat ketakutan.
"Kau pergi saja. Biar ini aku yang urus!" bisik Yora, kini hanya ada mereka berdua di sana.
"Iya, aku orang miskin, namun masih punya sopan santun!" jawaban yang cukup keji, dibarengi dengan senyuman khas seorang Yora.
"Jadi menurutmu aku tak punya sopan santun hah?!" Aera mengangkat jari telunjuknya dan mulai menunjuk-nunjukkannya pada Yora.
Sementara Jimin memerhatikan mereka dari jauh, "Cuih gadis itu! Sungguh tak tahu malu!" gerutu Jimin sambil berlari menghampiri mereka.
Yora yang sangat penyabar itu, tidak membalas lagi ucapan Aera, dia malah hendak berbalik, karena tidak ingin menimbulkan kekacauan.
Namun ketika Yora membalikkan badannya, Jimin sudah berdiri di belakangnya. Menatap Aera geram.
"J-jim?" Yora kaget.
Sementara Aera, dia menjatuhkan semua belanjaannya karena kaget.
"Sudahlah, ayo pergi!" Yora mendorong tubuh Jimin agar dia mau pergi dari tempat itu, namun...
"Omo... kenapa rambutmu berantakan sekali?" Jimin agak menunduk, merapihkan rambut Yora sangat lembut.
"J-jadi dia istrimu?" Aera membulatkan matanya dan menunjuk Yora lagi.
Jimin mengangguk sangat cepat. Kini, dia membuka jaket denim yang sempat Yora pakai.
Kini, Yora nampak lebih cantik dan seksi di banding Aera.
"Kau lelah? Mau pulang?" Jimin menghadapkan tubuh Yora ke hadapannya, membuat Yora dengan refleks memegang pinggang Jimin.
"Iya, kita pulang saja." Yora mendongakkan wajahnya, tersenyum sangat lebar.
"Kita sangat serasi 'kan?" tanya Jimin pada Aera.
Aera terlihat sangat marah, dia pergi dengan menghentakkan kakinya cukup keras, membuat orang-orang di sana merasa heran, kenapa dia?
Jimin berhasil membuatnya menjadi macan yang mengamuk lagi.
"Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?" Yora heran.
"Apa kau tahu? Dia itu putri direktur Lee." Jimin melepaskan lagi jaketnya, memakaikannya lagi pada Yora.
"Ya! Jadi, dia itu Aera?" Yora terbelalak.
"Heem."
"Jika di bandingkan denganmu, sungguh kau yang lebih seksi dan menggoda. Aku tak tertarik padanya!" lanjut Jimin mengedipkan sebelah matanya menggoda Yora.
Lagi-lagi Yora memukulnya pelan.
"Tak baik untumu berada di ruangan yang ber AC ini terlalu lama, kita pulang saja ya?" Jimin mengelus rambut Yora.
Akhirnya mereka keluar dari mall itu. Yora kini sudah tahu bagaimana Aera yang sebenarnya. Yora jadi bisa mengerti.
**
"Jim?"
"Iya? Kau lelah?" balas Jimin.
Yora mengangguk, seperti anak kecil.
Jimin menyenderkan kepala Yora pada bahunya.
"Tidurlah!" lanjutnya.
Yora dengan cepat menutup matanya, walaupun hanya beralas bahu kekar milik Jimin, namun itu lebih nyaman dari apa pun di dunia ini. Yora terlelap.
"Aku sangat mencintainya, aku sangat menyayanginya, beruntung sekali aku memilikinya. Aku sangat malu pada diriku sendiri kala itu, aku membentaknya, aku tak memperhatikannya, ah... jika aku yang menjadi Yora, mungkin aku sudah pulang ke rumahku. Namun dia beda, aku sangat merasa bersalah padanya."
__ADS_1
**
CUP... Jimin mencium pipi Yora. Mencoba membangunkannya.
"Ah, apakah aku bermimpi?" Yora berbicara seperti orang yang sedang mabuk, mungkin dia merasakan ciumannya, namun dia menganggap itu hanyalah mimpi.
Jimin tertawa geli, lalu menciumnya lagi, sekarang, bibirnya yang menjadi mangsa.
Jimin mendiamkan bibirnya agak lama menempel pada bibir Yora. Namun Yora tak kunjung membuka mata juga.
Jimin menggelitik tenggorokannya, lalu meniup-niup telinganya. Dengan terus tertawa.
"Ah..." lirih Yora tak mau di ganggu.
Jimin mendengus, dengan terpaksa ia harus mengangkat tubuh Yora ke dalam rumah.
Kini jaket yang semula menempel pada tubuh Yora, Jimin lepas dan memindahkannya pada bagian kakinya, ya, Jimin membalut bagian kaki Yora dengan jaketnya.
Jimin menendang pintu masuknya, dan disana sudah terdapat Adline dan Jungkook yang sedang menonton siaran tv kesukaan mereka.
"Aku pulang..." teriak Jimin usil.
"Hyung? Istrimu kenapa?" Jungkook terperanjak melihat Jimin yang menggendong Yora.
Adline pun ikut terperanjak.
"Dia tidur!" Jimin sedikit tertawa sambil melanjutkan langkahnya.
Membuat keduanya tersenyum lega.
"Perlakukan aku seperti itu juga ya?!" Adline menggenggam tangan Jungkook.
"Siap!" Jungkook menegakkan dada bidangnya, memberi hormat layaknya seorang Tentara.
"Ya!" Adline memukul dadanya sangat keras,
"Aa... apa aku salah?" ucap Jungkook dengan polosnya.
"Tidak. Kau selalu benar!" Adline tertawa sangat keras sambil berlalu.
"Anak itu kenapa?" Jungkook tak mengerti.
Psangan ini, mereka juga tak kalah romantis dengan Jimin dan Yora.
Sebentar lagi Jungkook akan pergi untuk melanjutkan kuliahnya di luar negri. Karena sebelumnya, Jungkook sudah di beri waktu selama satu bulan untuk libur. Dan dia gunakan masa-masa liburannya bersama Adline. Adline belum mengetahuinya, Jungkook sengaja tak memberitahukannya pada Adline, dia takut Adline akan sedih. Dan Jungkook takut itu akan mengganggu kesehatannya. Dia sudah terlanjur kuliah disana, akan sangat sulit, Jika Jungkook harus pindah kuliah lagi ke negara tercintanya ini.
**
"Kenapa kau tak makan?!"
BRAK!
Aera meggebrak meja makan.
"Ya! Kau kenapa lagi?!" direktur Lee membulatkan matanya.
"Aku sangat kesal dengan perlakuan Jimin kepadaku!" Aera pergi tanpa memakan sedikit pun hidangan yang sangat banyak itu.
Direktur Lee hanya menggeleng, dia merasa sangat gagal mendidik putri satu-satunya itu.
"Tuan Oh, temui aku di kantor besok!"
Sebuah pesan dari Direktur Lee untuk Tuan Oh.
"Baik!" balas Tuan Oh.
**
"Aku pergi, jaga diri baik-baik." Jimin mengecup kening Yora yang masih berbaring di kasurnya.
Rela tak rela, Yora harus merelakannya. Jimin harus pergi, Jimin harus bekerja, itu juga demi dirinya.
Yora menarik tangan Jimin yang hendak pergi dari sana, "Emhhh..." Yora memeluk Jimin.
Jimin membelai lembut rambut Yora, "Sebenarnya, aku sangat malas pergi ke kantor."
"Kenapa?" Yora melepaskan pelukannya.
"Karena aku tak bisa melihat senyum istriku! Ah... aku bisa gila!"
Yora tersenyum malu, dengan pipi yang kini sudah merah merona.
**
"Bisakah kau melakukannya untukku, Tuan Oh?"
"T-tapi direktur, a-aku tak bisa---"
"Jika kau melakukannya dengan baik, bukan hanya kau yang akan ku naikan, tapi Tuanmu juga! Ya, Jimin akan mengambil alih posisiku, dan kau bisa mengambil alih posisi Jimin!" jelas direktur Lee.
__ADS_1