SENTUHANMU

SENTUHANMU
Masalah baru


__ADS_3

Akhirnya, setelah Yora menunggu agak lama, Jimin keluar dari kamar mandinya. Dengan baju yang sudah menempel di tubuhnya.


Rambutnya yang basah, membuat Jimin terlihat semakin mempesona, detak jantung Yora mulai tak beraturan ketika dia memperhatikan Jimin yang mengacak-acak rambutnya sendiri.


Yora duduk, dengan mata yang tak lepas memperhatikan Jimin, dan Jimin pun segera menghampiri Yora.


"Sekarang aku sudah wangi." matanya tenggelam, dia tersenyum begitu hangat. Yora tak kuasa melihatnya.


"R-rambutmu? Sedikit berantakan." Yora tersenyum kikuk, dia ingin merapihkannya, namun dia takut Jimin akan menolaknya.


Jimin dengan segera mengambil tangan Yora, meletakkannya diatas kepalanya.


"Rapihkan, sekarang aku tak akan marah. Aku bukan Jimin yang dulu lagi."


Yora tersenyum lega. Tangannya mulai bergerak, merapikan rambut Jimin yang agak berantakan. Sementara Jimin, dia menunduk, mensejajarkannya dengan posisi Yora sekarang.


"Sudah!" Yora melepaskan tangannya.


"Terima kasih!" Jimin lagi-lagi tersenyum, menghangatkan hati Yora.


"Tidurlah! Besok kau akan berangkat sangat pagi lagi 'kan?" 


"Aku belum ngantuk, jika kau sudah ngantuk, kau duluan saja tidur." Jimin berbicara sambil memainkan tangannya.


"Yakin? Oke aku akan tidur." Yora berniat ingin mengerjainya, namun...


Jimin dengan sigap menarik tangan Yora, menahannya untuk tidak pergi ke mana-mana.


Jimin menarik Yora untuk duduk di depannya. Sehingga Jimin bisa memeluknya dari belakang, kini Jimin menenggelamkan kepalanya pada pundak Yora.


"Omo? Apa-apaan ini?" Batin Yora, dengan jantungnya yang kini berdegup sangat kencang.


"Ah nyamannya..." Jimin menutup matanya sambil menciumi pundak Yora beberapa kali. Dan Yora sempat bergidik karena geli.


"J-jim?" lirih Yora.


"Hm?" Jimin masih menempelkan bibirnya pada pundak Yora.


"Sekarang kau sudah menyadarinya?" Yora ingin melihat wajahnya, namun Jimin memaku semua pergerakannya.


"Hm, aku baru menyadarinya."


"Terima kasih, kau sudah bertahan denganku selama ini." kini, Jimin melepaskan cengkraman tangannya, dia membalikan badan Yora jadi menghadap ke arahnya


"Aku takut." Yora menunduk, sambil memainkan tangannya.


"Heh?"


"Aku takut jika kau akan meninggalkanku!"


Jimin malah tersenyum mendengar ucapan Yora. Mendongakkan wajah Yora untuk menatap wajahnya.


"Lihat aku! Hanya kau satu-satunya wanita yang ku perlakukan seperti ini sekarang, sungguh, aku tak tertarik lagi pada wanita selain kau. Aku rasa kau juga tak akan habis." Jimin menyeringai.


"Ya! Aku serius! Kenapa kau selalu bercanda dari tadi!"


"Ululu!" Jimin memeluknya lagi.


Yora tak tahan melihat pipi Jimin yang agak memerah, dia sangat ingin memakannya.


CUP... tiba-tiba Yora mencium pipi Jimin.

__ADS_1


Jimin tertegun, mulutnya terbuka, tangannya kini memegang pipinya.


Sementara Yora, dia bersembunyi di balik bantal karena malu.


"M-mian!" teriak Yora


BRUKK!


Jimin membantingkan dirinya, merasa sangat canggung dan juga bahagia.


"Kau harus tanggung jawab! Kenapa kau melakukan ini padaku... ah..." Jimin merengek, layaknya seorang anak kecil yang akan menangis.


Yora tertawa pelan, merasa puas dengan apa yang telah dia lakukan. Jimin beranjak menghampiri Yora, mebantingkan bantal yang menutupi wajah Yora. Tak percaya Jimin menjadi segarang itu.


Yora menatap mata Jimin, gugup.


Jimin lalu memegang rahangnya lembut, sambil sesekali menggigit bibirnya sendiri.


"Aku belum pernah melakukannya, tapi aku akan berusaha." bisik Jimin pada telinga Yora.


Jimin mendekatkan wajahnya, sedikit memiringkannya, hendak mencium bibir mungil Yora, dengan mata yang memejam.


Sementara Yora dengan siap menerima perlakuannya, dia ikut memejamkan matanya. Namun hal tak di duga terjadi...


SRET!


"Kau hanya pembawa sial untukku! Lebih baik kau bunuh saja aku! Anak tak berguna!"


Terbesit di kepala Jimin. Ketika ibunya membawa sebuah pisau yang di todongkan padanya waktu itu.


Jimin meneteskan air matanya, belum sampai bibirnya pada tujuan utamanya, Jimin menghempaskan tubuh Yora agak kasar.


"M-maaf, aku tak bisa melakukannya!" Jimin mengelap air matanya, sambil berlalu keluar dari kamar.


"Dia kenapa lagi? Kenapa dia tiba-tiba menangis seperti itu? Apa ada yang salah denganku?"


kepala Yora kini dipenuhi oleh pertanyaan yang tak masuk akal.


"Sial! Kenapa aku harus mengingat kejadian itu lagi?"


Jimin duduk di taman belakang, memegangi kepalanya.


Kejadian itu selalu terbesit di kepalanya. Menurutnya, itu kejadian yang paling menyakitkan hatinya. Bagaimana tidak, ibunya menganggap Jimin sebagai anak yang sama sekali tak berguna, bahkan dia menyebut Jimin anak pembawa sial. Penyebab semua masalah terjadi.


**


Kini, Jimin telah bersiap. Dia akan berangkat ke kantornya. Namun, kali ini dia membangunkan Yora terlebih dahulu.


"Hei..." Jimin menepuk lembut pipi Yora, mencoba membangunkannya.


"Nghhh..."


"Aku akan pergi sekarang."  bisik Jimin pada telinganya.


"Semalam kau tidur dimana?" Yora bangkit dari tidurnya, dengan mata yang baru setengah terbuka, dia menanyakan itu.


"Kamar tamu." Jimin selalu menunduk ketika dia merasa bersalah.


"Maaf atas kejadian semalam, aku sungguh tak bisa mengendalikan diriku ketika mengingat itu." lanjutnya.


"Hm? Apa yang kau ingat? Apa ini berkaitan dengan ibumu dulu?"

__ADS_1


Jimin mengangguk, dengan wajah yang masih tertunduk.


"Lihat aku, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kau fokus saja pada kata hatimu. Lakukan apapun yang menurutmu baik dan bisa membuatmu senang." Yora memegang tangan Jimin, mencoba menyemangatinya.


"Baik. Akan ku coba." Jimin tersenyum seperti biasa, dia menenggelamkan matanya, dan membalas genggaman tangan Yora.


Akhirnya Jimin pergi. Yora mengantarnya sampai depan.


"Bahkan ketika dia sudah bisa ku sentuh pun, aku tak melakukan apapun dengannya, tapi aku sangat bersyukur, melihat perubahannya saja, aku sangat bahagia."


Yora menatap mobil Jimin yang kini sudah mulai tak terlihat.


**


"Apa kau sudah berbicara dengan Jimin?"


"Gadisku... di luar sana masih banyak laki-laki yang lebih dari dia. Jangan mengganggu rumah tangganya."


"Heh, aku hanya mencintainya. Jika ayah sudah tak mau membantuku, tak apa. Aku akan mendapatkannya dengan tanganku sendiri!" Aera keluar dari mobil, kesal dengan apa yang telah direktur Lee katakan padanya.


Aera berjalan tergesa-gesa, masuk ke dalam kantor. Dan mulai mencari Jimin.


Sungguh, wanita ini sangat tergila-gila padanya.


"Ah sial, kantung mataku semakin membesar. Sudah tiga hari aku tidak bisa tidur, aku selalu saja memikirkan pria brengsek itu."


Aera membuka cerminnya, mulai menata lagi riasannya, dia harus tampil sempurna ketika bertemu Jimin.


Tidak di sangka, Tuan Oh sudah berdiri diluar ruangan Jimin, dia terlihat seperti seorang bodiguard yang sedang menjaga majikannya, terlihat sangat tegas dan berwibawa.


"Tunggu Nona, Tuan Jimin sedang tidak bisa di ganggu!" Tuan Oh menghentikan Aera yang selangakah lagi akan masuk ke ruangan Jimin.


"Kau tahu aku siapa 'kan?!" Aera membulatkan matanya menatap Tuan Oh, terlihat seperti macan yang sedang mengamuk.


"T-tapi Nona, ini perintah Tuan Jimin. Pekerjaannya sangat banyak, jadi dia tidak bisa di ganggu." sekali lagi Tuan Oh mencoba menjelaskannya.


"Aku tak peduli, singkirkan tanganmu!"


Akhirnya, Aera masuk. Tuan Oh selalu kalah olehnya, bagaimana pun juga Aera wanita yang tak suka di atur, malah dia yang suka mengatur sesuka hatinya.


"Ah kau keterlaluan sekali Jim! Tak membiarkan seorang putri direktur utama di perusahaan ini untuk masuk ke sini!" tanpa Jimin persilahkan, Aera  kini duduk di depan Jimin.


"Kau tak lihat aku sedang bekerja?" Jimin tak menolehnya.


Aera menghembuskan nafasnya cukup panjang,  "Sebenarnya... aku sudah tahu alamat rumahmu, akan sangat mudah bagiku untuk datang dan memberitahu istrimu!" Aera tersenyum sinis.


Jimin mencoba menenagkan diri, menahan emosinya yang kini mulai naik.


"Apa yang akan kau beritahu?" Jimin mulai geram.


"Bahwa... aku sudah lama berpacaran denganmu! Bahkan sebelum kau dan dia menikah. Ya, itu yang akan ku beritahukan." Aera megancamnya.


"Kau gila heh?!" Jimin bangkit, menatap Aera geram, dengan rahangnya yang kini mengeras.


"Ayolah..." Aera beranjak dari kursinya, mendekati Jimin dan tiba-tiba memeluknya.


"Ya! lepaskan! Apa kau sudah gila!" Jimin memberontak, mencoba melepaskan pelukan Aera.


CEKREK...


Seseorang memotret mereka, dari pintu ruangan Jimin yang terlihat sedikit terbuka.

__ADS_1


__ADS_2