
"Ayah...."
Bunyi sirene ambulan mulai menjauh dari rumah megah nan mewah direktur Lee. Ia telah di bawa ke rumah sakit. Sementara Aera, dalam keadaan genting pun sempat-sempatnya ia tak mengantar ayahnya ke rumah sakit. Melainkan malah mencari tahu siapa orang yang telah mengirimkannya foto itu, Aera sangat murka.
drt drtt drtt
Sebuah panggilan masuk, dari nomor yang tak di kenal. Aera mencoba mengangkatnya.
"Yeobseo?"
"Apa kau sudah menikamatinya Tuan putri?"
"S-siapa kau? Kenapa kau memata-mataiku hah? Apa maumu?"
"Oww, tenang. Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa dalam lima menit, aku akan menyebarkan artikel mengenai kejadian semalam."
"Brengsek! Apa maumu?!"
"Jika dalam waktu lima menit setelah telponku terputus kau tak mengirimku uang sebesar 1M, maka aku akan segera mengunggah artikel ini agar semua orang tahu, siapa Aera itu. Wanita ****** yang menjijikan!"
"Ya apa tidak ada cara la---"
Tutt....
"Sial!"
Jarinya dengan cepat segera membuka aplikasi untuk mentransfer uang. Ia terpaksa melakukan ini, daripada harus menanggung malu, mungkin lebih baik ia menyumpal pria itu dengan uang.
Setelah itu, Aera menelpon pria itu untuk memastikan bahwa ia tak'kan mengungah artikel tak berguna itu. Aera telah memberinya uang, dia harap pria itu tak'kan mengganggu hidupnya lagi.
Tangannya sudah diatas stir, namun Aera malah menempelkan ponselnya pada telinganya. Entah siapa lagi yang kini ia hubungi.
**
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
Jimin dan Yora yang terpogoh-pogoh kini berusaha tenang. Mereka hanya mendapati supir kepercayaan direktur Lee, tidak dengan Aera. Jimin membawa Yora untuk segera duduk, sedangkan Jimin, ia terlihat sangat cemas. Terus saja bertanya pada supir tua itu. Bertanya tentang kronologis kejadiannya, yang supir itu pun tak tahu dengan pasti.
"Jim!" Aera datang, berlari dan memeluk Jimin. Tanpa mempedulikan Yora yang kini beranjak melihat kedatangannya. Aera tak melepaskan pelukannya. Beberapa kali Jimin menoleh Yora, berharap ia tak'kan kecewa melihat Aera yang tak tahu malu datang dan memeluk suami orang.
"Aku permisi." Yora berusaha tenang, ia tak ingin melihat pemandangan menjijikan itu. Sebaiknya ia pergi saja dari sana daripada darahnya akan naik.
"Ya! Lepaskan!" Jimin agak mendorong tubuh Aera yang tak mau melepaskan pelukannya. Aera hampir terjengkang karena dorongan tangan Jimin yang cukup kasar. Tapi itu tak membuatnya kapok, Aera terus saja mengemis perhatian darinya.
"Yora-ah kau harus lebih tenang sekarang.''
batinnya sembari mengatur nafas. Menarik dan menghembuskannya pelan. Lalu menarik bibirnya untuk tetap tersenyum, dan ia melangkahkan kakinya keluar dari sana.
Yora hampir saja menubruk tubuh Jimin yang akan menerobos masuk. Jimin menatap Yora dengan tangan yang sudah ada di pundaknya, "Aku sungguh min---"
"Tak apa. Aku mengerti." Yora mendartkan jari telunjuknya pada bibir tebal Jimin. Menyela pembicaraannya. Meskipun Yora sakit melihat mereka tadi, namun itu bukan sepenuhnya salah Jimin. Yora kini mulai bisa mengerti.
Jimin memeluk Yora lega. Beberapa kali kecupan mendarat di pucuk kepala istrinya. Jimin sangat bersyukur Yora tak marah lagi seperti waktu itu. Mereka berjalan berdampingan kembali ke tempat semula. Mereka terperanjak ketika mendapati Taehyung yang sudah ada disana. Terlihat sedang beradu argumen dengan Aera. Membuat keduanya mengerutkan kening, mencoba memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.
"A-aku tak ingat apapun! Kita dalam pengaruh minuman waktu itu!" Taehyung dengan suara seraknya mulai membentak Aera yang tengah duduk di lantai tenggelam dalam larutan air matanya sendiri. Baru kali ini Aera menjadi selemah ini. Wanita angkuh itu akhirnya bisa meneteskan air mata juga.
"Sebaiknya kita pergi saja dari sini! Tak baik menguping pembicaraan orang lain."
Jimin merangkul Yora, membalikan badannya segera. Pembicaraan mereka nampak samar-samar di telinga Jimin dan Yora. Jimin pun tak tahu apa sebenarnya yang terjadi.
"Taehyung mengenal Aera?" Yora memecah keheningan, dengan mulut yang masih penuh dengan makanan. Mereka kini berada di luar rumah sakit, dan membeli makanan yang ada di sekitar sana.
"Aku tak tahu. Aku juga terkejut melihatnya tadi." ucap Jimin yang tak kalah menggemaskan karena pipinya yang juga mengembang seperti balon, membuat Yora tertawa ketika melihatnya.
**
"Ya, ayahmu terkena serangan jantung."
__ADS_1
Aera terperanjak mendengar pernyataan dokter tentang direktur Lee. Aera bangkit dari duduknya, hendak membentak dokternya karena ia merasa tak percaya. Namun untungnya ada Taehyung. Ia menarik kembali Aera untuk tetap duduk dan mendengarkan penjelasan dokter.
"Tenanglah!" Taehyung memberi tatapan yang membuat Aera enggan untuk melihat wajahnya.
"Sekarang bagaimana keadaanya dok?" tanya Taehyung menaruh kedua lengannya di atas meja lalu menautkan jari-jarinya. Gelisah tergambar jelas di matanya, berbeda dengan Aera yang dari tadi selalu memandang ke arah luar jendela, kekesalan pun tergambar sangat jelas di wajahnya.
"Untuk saat ini beliau belum sadar, kita tunggu saja beberapa jam lagi."
Taehyung dan Aera pun keluar. Sementara Jimin dan Yora, mereka sedang duduk menunggu, "Bagaimana?" Jimin beranjak menghampiri Taehyung yang baru saja keluar dari ruangan dokter.
Taehyung menjelaskan semuanya. Jimin nampak lemas, dia tak percaya, selama ini yang Jimin tahu direktur Lee sehat-sehat saja, bahkan sangat sehat. Tapi kenapa? Jimin sudah menganggap direktur Lee seperti ayah kandungnya sendiri. Dia yang telah mengantarkan Jimin pada kesuksesannya yang ia dapati sekarang. Jimin sangat terpukul mendengarnya.
"Sudahlah..." Yora menyusul Jimin, mengelus-elus punggungnya untuk menenangkannya. Yora tak bisa melihat suaminya seperti ini, jika Jimin sedih, maka ia pun akan turut merasakannya.
"A-aku perm---"
"Tunggu! Bolehkah aku berbicara sebentar denganmu?" Yora menghentikan Taehyung, membuat kegugupannya kembali lagi. Alih-alih menenangkan Jimin dengan membiarkannya sendiri, Yora membawa Taehyung ke tempat yang agak jauh dari Jimin. Jimin seolah-olah tak menyadari kepergian mereka dari hadapannya. Ia sangat terpuruk saat ini!
"A-ada apa?" Taehyung membuang pandangannya pada sebuah pintu berwarna putih yang ada di depannya. Taehyung tak berani menatap Yora. Itu akan membuat Taehyung sangat tersiksa dengan melihat senyumnya, walaupun sekarang Yora nampak serius, tapi tetap saja, Taehyung masih enggan untuk menatapnya.
"Apa kau sekongkol dengan Aera?"
"Maksud---"
"Apa kau merencanakan sesuatu dengannya untuk memisahkan aku dan Jimin?!" mata Yora mulai memerah, membayangkan bahwa Taehyung yang selama ini ia anggap seperti adiknya sendiri, malah akan menghancurkan kebahagiaannya. Yora mentap Taehyung sangat lekat.
Meskipun kenyataannya benar, namun Taehyung tak tahu menahu tentang rencana busuk Aera selanjutnya. Malah baru-baru ini ia yang menjadi korban atas rencananya, "Aku sungguh tak tahu tentang itu." beberapa kali Taehyung membasahi bibirnya dan mengepalkan tangannya.
Ternyata dugaannya selama ini benar. Aera selalu merencanakan sesuatu untuk mengahancurkan rumah tangga Yora dan Jimin.
"Aku sedang dalam masalah besar kali ini," Taehyung menunduk, seolah-olah ia ingin mencurahkan semua isi hatinya pada Yora. Yora pun mulai mundur perlahan, mencoba mengatur emosinya, dan mulai mendesaknya lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat dari tadi membuatnya sangat penasaran.
"Masalah? Apa ini menyangkut direktur Lee?"
__ADS_1
"Iya. Bahkan ini menyangkut Aera juga." Taehyung menoleh Yora sesekali, ia tak mau melihatnya namun juga tak mau membiarkan kesempatannya sia-sia.