SENTUHANMU

SENTUHANMU
Kejutan


__ADS_3

Yora kini duduk di balkonnya. Dengan tatapan kosong, tangannya refleks mengelus perutnya yang sudah berisi malaikat kecil pelengkap keluarga kecil mereka. Yora menghembuskan nafas kasar, membayangkan hidup berdua dengan bayinya di tengah kerasnya kehidupan disana. Tanpa sosok Jimin, tanpa melihat senyum hangatnya, tanpa semua tentangnya. Yora kini menunduk, air mata menetes tak terasa.


"Apa kau tak  mempercayaiku sekarang?"


Adline mematung, dengan tangan yang kini membawa nampan berisi segelas susu hangat yang ia buat untuk Yora.


Setelah menyadari kedatangan Adline, Yora buru-buru menyeka air matanya. Lalu merekahkan senyum padanya.


"Hm? Maksudmu?"


Adline duduk di samping Yora, menaruh nampannya diatas meja. Lalu menatap Yora sambil tersenyum, "Aku tahu ini bukan masalah kecil, tapi kenapa kau memendamnya sendiri kak?" Adline menarik nafasnya pelan.


"A-aku hanya tak mau kau khaw---"


Yora berkaca-kaca. Pembicaraannya terpotong.


"Tidak akan! Aku lebih khawatir jika kau hanya memendam semua sendiri, tanpa memberitahuku kak. Aku sungguh tak berniat ingin ikut campur masalah kalian, hanya saja jika kau curahkan semuanya padaku, itu akan lebih melegakkan."


Setelah mendengar ucapan Adline, Yora jatuh ke dalam pelukannya seraya air mata yang kini jatuh deras di pipinya. Yora tak ingin melakukan ini, namun perkataan Adline ada benarnya juga.


"Aku takut kehilangannya!"


"Hm, dengarkan aku kak. Aku kenal dia sangat lama, bahkan lebih lama darimu. Aku tahu dia lebih dari apa yang kakak tahu. Tak mungkin kakakku akan melakukan hal itu. Dia pria baik, dan aku tak pernah melihat dia seperti ketika melihatmu. Aku tak pernah melihat dia tersenyum, seperti ketika tersenyum padamu.  Semuanya sangat langka aku lihat, kecuali karenamu kak. Aku sangat mempercayainya, dan kau juga harus sama sepertiku. Percaya padanya, ya?"


Tak di sangka, Adline ternyata bisa bersikap lebih dewasa dari Yora. Meskipun usia mereka tak jauh berbeda, namun dalam menyikapi masalah Adline lebih bisa menyikapinya dengan bijak. Bukannya Yora tak bisa, hanya saja ia dibutakkan oleh cintanya yang sudah sangat dalam pada Jimin. Rasa cinta dan sayangnya terlalu besar, kali ini melebihi Adline.


"Kau benar! Aku selalu membesar-besarkan masalah. Aku malu padamu, Adline."


"Aku bisa memakluminya kak! Aku juga sangat menyayangi Jungkook, mungkin aku bisa saja sepertimu jika aku ada di posisimu sekarang." Adline blak-blakan mengakui perasaanya.


"Minumlah," lanjut Adline menyodorkan segelas susu yang masih hangat pada Yora.


Baru saja satu tegukan, Yora memegang mulutnya, lalu berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya. Padahal, dia sangat suka susu, namun kenapa kali ini Yora nampak tak menyukainya. Adline panik, dia menyusul Yora yang tak henti-hentinya muntah.


"Kak? Kau baik-baik saja?" Adline agak memijit punggungnya, ini biasa dilakukan pada orang yang sedang  muntah-muntah seperti Yora, itu akan sedikit melegakkan.


Yora menggeleng, membasuh mulutnya. Lalu menelan salivanya kasar. Menatap dirinya pada cermin. Lalu menangis, "Aku sangat ingin minum susu. Tapi kenapa ini sangat bau dan tak enak?" Yora membalikkan badannya menatap Adline.


"Tapi kau 'kan sangat suka susu kak. Kenapa bisa?"


"Aku tak tahu."


Ya, ini memang sudah menjadi sebuah ciri khas orang yang sedang hamil. Dimana makanan atau minuman kesukaannya ketika  belum hamil akan terasa enak dan nikmat. Namun, akan sebaliknya jika kau sudah hamil. Apalagi usia kandungannya masih sangat muda. Akan banyak hal-hal yang tak bisa di duga yang akan diminta.


"Aku baru ingat." tangannya masih memegang gelas yang berisi air hangat dari Adline. Yora melamun, lalu akhirnya ingat bahwa ini efek dari kehamilannya.


"Ingat?" Adline merapatkan duduknya. Penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Iya, aku sedang hamil." Yora menyeringai menatap Adline yang tengah menganga ketika mendengar perkataannya.


"Jinjja?" Adline menganga dengan mata yang mulai membulat.


Yora mengangguk bersemangat. Menyimpan gelasnya, lalu memeluk Adline bahagia.


"Akhirnya, akan ada bayi disini! Aku akan punya teman!"


"Tapi sttt... jangan beritahu kakakmu ya?"


Yora menaruh jari telunjuknya pada bibirnya sendiri.


"Hah? Kenapa?" Adline melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap Yora.


"Aku akan memberitahunya tepat di hari ulang tahunnya nanti. Sebagai hadiah terbaik yang aku berikan."


"Ah... baiklah. Idemu sangat bagus kak." Adline tertawa sambil memeluknya lagi. Betapa bahagianya dia, bagaimana dengan Jimin.


**


"Mau makan siang denganku?" Jimin membuyarkan Taehyung yang dari tadi menatap ipadnya dengan tatapan kosong. Entah apa yang kini ia pikirkan.


"Kau duluan saja. Aku belum mau." Taehyung agak kaget, menatap Jimin sekilas.


"Ah baiklah!" Jimin beranjak pergi meninggalkan Taehyung sendiri.

__ADS_1


"Apakah Aera tak punya rencana lain? Aku takut."


Taehyung ternyata memikirkan hal itu, dia takut Aera memiliki  niat jahat pada Jimin dan Yora. Taehyung takkan bisa memenuhi perintahnya jika seperti itu. Bagaimana pun mereka berdua sudah banyak menolongnya. Taehyung tak bisa.


Taehyung menelpon Aera, memastikan lamunannya itu tak benar. Ia ingin menanyakan apa yang sebenarnya Aera inginkan.


"Ya! Sebenarnya apa maumu hah?"


"Hm, Kim Taehyung-ssi? Kau kenapa? Apa aku memberi pekerjaan yang tak nyaman untukmu?"


"A-aku hanya memastikan, bahwa kau tak punya rencana apa-apa lagi setelah ini."


"Sepertinya tidak. Aku hanya ingin menolongmu saja, memperbaiki keuanganmu, itu saja."


Tut...


Taehyung menutup telponnya. Membuat Aera berdecik, "Cih! Lihat  saja nanti! Aku akan membuatmu jatuh cinta pada Yora. Dengan begitu, aku tak perlu cape-cape untuk menghancurkan mereka." Aera tersenyum sinis,  menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Jimin disana.


Taehyung duduk dan bernafas lega setelah mendengarnya. Ia lalu menyusul Jimin.


**


18:00


"Aku ingin tidur, aku ingin memeluk Jimin."


Yora berguling kesana kemari diatas kasur luasnya. Entah kenapa dia sangat ingin tidur sambil memeluk Jimin. Yora gelisah,  matanya sudah sangat lelah, namun kenapa dia tak mau terlelap?


Tap...


Tap...


Tap...


"Ah itu pasti Jimin!" Aera pura-pura tertidur.


CEKLEK!


Jimin membuka pintunya. Masuk ke kamar perlahan, sesekali melihat Yora yang sudah berbaring disana.


Ketika Jimin membuka pintu, keluar dari kamar mandi, Yora kembali pura-pura tertidur. Tanpa basa-basi Jimin naik ke kasurnya dengan badan yang sudah sangat segar. Namun ada yang membuat Yora merasakan mual lagi, bau sabun mandi yang menempel pada tubuh Jimin. Yora berlari menutup mulutnya dengan tangannya. Membuat Jimin terperanjak kaget. Dia kira Yora sudah benar-benar tertidur. Jimin menyusulnya ke kamar mandi.


"Kau  tak apa?" Jimin berada di belakang Yora.


"Kau pakai sabun mandi apa? Kenapa sangat bau!" Yora masih muntah. Tapi tak membuat Jimin menjauh darinya.


"A-aku memakai Sabun mandi yang setiap hari ku pakai,"


"Bau sekali..." lirih Yora.


Jimin mendengus seluruh badannya. Memastikan bahwa ucapan Yora itu tak benar. Namun, yang Jimin cium hanya aroma sabun mandi yang memang setiap hari ia pakai. Aroma khas laki-laki, sebelumnya Yora tak ada masalah dengan itu, namun kenapa sekarang dia malah tak suka?


"Aku akan memakai body lotion punyamu. Agar baunya tak tercium, tunggu." Jimin berlari dengan rambut yang masih basah, dia buru-buru mengoleskan body lotion pada seluruh tubuhnya.


"Apa masih tercium?" Jimin kembali menghampiri Jimin.


Yora menggeleng, kini ia terlihat agak mendingan, "Ah aku  sangat lemas..." Yora terduduk di toilet. Wajahnya pucat.


"Aku tak akan memakainya lagi." Jimin terlihat sangat khawatir. Dia mendekati Yora, berjongkok di hadapannya. Memegang tangannya lembut.


"Aku ingin tidur!" Yora pergi terlebih dulu ke kamarnya. Disusul oleh Jimin di belakangnya. Yora sangat mudah lelah akhir-akhir ini.


"Mau ku buatkan susu hangat kesukaanmu?" Jimin menyelimuti Yora, mentapnya dengan tatapan yang sangat cemas. Takut sesuatu terjadi padanya.


"Tidak, aku tidak suka. Itu bau!"


Lagi-lagi Jimin mengernyitkan keningnya. Bingung, sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa semuanya terasa aneh.


Jimin tidur di samping Yora, Jimin tak mau menutup matanya, sebelum Yora terlelap. Jimin terus saja memandangnya. Sementara Yora, dia masih belum bisa terlelap. Keinginannya untuk tidur dalam dekapan Jimin masih menggebu-gebu.


"Yora-ah... apa kau masih marah padaku?" Jimin menyingkapkan sedikit rambut Yora.


"Kau maunya?" Yora tak menatapnya sedikitpun. Yora masih dalam posisi berbaring dengan mata yang menatap langit-langit.

__ADS_1


"Aku maunya tidak." Jimin tersenyum, menenggelamkan matanya.


Kini, Yora tak peduli dengan amarahnya sebelumnya pada Jimin. Yang jelas sekarang dia benar-benar membutuhkan dekapan Jimin. Yora memeluk Jimin tanpa aba-aba.


Jimin tersenyum, mengelus rambut panjang Yora dengan sangat lembut, "Ada apa hm?" Jimin yang masih heran, kenapa Yora memeluknya seperti itu, padahal tadi saja dia terlihat mengacuhkannya.


"Biarkan aku tidur seperti ini!" lirih Yora, mengeratkan pelukannya.


"Baiklah, tidurlah!" Jimin pun ikut merangkul tubuh Yora, mengeraskan cengkramannya. Mereka berdua terlelap, dengan perasaan keduanya yang sudah mulai kembali membaik.


**


Hari yang  ditunggu-tunggu telah tiba. 13 oktober, Jimin akan berusia 26 tahun. Masih beda selisih tiga tahun dengan Yora. Ia bersiap, akan pergi belanja untuk mempersiapakan semuanya. Yora pergi dengan Adline. Tak lupa Yora juga ingin memberi Jimin hadiah, selain dari kabar kehamilannya yang kini sudah hampir berusia Dua minggu. Yora membeli jam tangan yang cukup mewah, namun elegan. Yora sangat menyukainya.


"Aku mau yang ini!"


Matanya berbinar, menatap pegawai yang menjaga lase jam tangan itu. Yora tersenyum, sambil menunjukkan dengan jari lentiknya diatas lase. Membuat pegawai itu segera bergegas mengambilnya dan membungkuskannya untuk Yora.


Sementara Adline, dia nampak sedang memilih jaket denim. Itu kesukaan Jimin dari dulu. Koleksinya memang sudah sangat banyak, namun kali ini beda, Adline melihat jaket denim yang berbeda.


"Aku ambil yang ini!"


Adline pun hampir sama dengan Yora. Senyum yang tak lepas dari bibir indahnya terus saja melekat. Tiba-tiba ponselnya bergetar.


Drtt drtt drttt


Adline merogoh ponsel yang ia simpan pada tasnya. Ia melihat siapa yang menghubunginya itu.


"Yeobseo?"


"Ah aku sangat merindukanmu."


Hm, itu ternyata Jungkook. Adline berbicara padanya sambil berjalan melihat-lihat barang disana. Senyumannya tambah merekah ketika mendengar suara pria yang sudah lama sangat ia rindukan. Pria yang membuatnya menjadi lemah. Ya, Jeon Jungkook.


"Baiklah, sudah dulu ya? Nanti ku kabari lagi setelah aku sampai di rumah."


Tutt...


Adline menutup telponnya. Kembali mencari Yora.


**


"Jadwal pekerjaanku sampai pukul berapa?" Jimin yang menghidupkan ponselnya, melihat pukul berapa sekarang. Lalu menatap Taehyung yang berdiri dengan ipad di tangannya.


"18:00."


"Tapi sekarang pekerjaanku  sudah selesai! Mari kita pergi ke kafe disana sebentar." Jimin tersenyum, menunjukkan sebuah kafe yang tak jauh dari kantornya.


"Baiklah." Taehyung mengangguk lalu berjalan mengikuti Jimin dari belakang.


"Berjalanlah di sampingku Kim Taehyung-ssi." Jimin tertawa seraya merangkulnya. Mereka berdua terlihat seperti adik dan kakak. Apalagi keduanya sama-sama tampan!


"*Wahh apakah mereka berteman?"


"Dua pangeranku!"


"Ah aku ingin mati saja!"


"Ya, bagaimana bisa? Ada dua pria yang sempurna disini?"


"Kurasa aku sesak nafas sekarang*."


Semuanya nampak kacau ketika melihat dua pria yang berjalan beriringan dengan jas hitam mereka yang menambah kesan ketampanan dan kegagahannya. Para karyawan wanita sangat shock melihat mereka, begitu pun dengan pegawai pria, yang nampak iri melihatnya.


Semuanya menggeleng. Tak tahu lagi harus berkata apa untuk memuji mereka. Yang jelas, itu tak akan cukup hanya dengan kata-kata.


"Meskipun direktur sudah menikah! Tapi kenapa dia semakin tampan?!" teriak salah satu pegawai wanita disana, mencubit-cubit pipi temannya karena gemas melihat Jimin.


Akhirnya mereka sampai di kafe. Disana pun sama, semua mata seolah-olah memantau pergerakan mereka. Bak Idol yang selalu diburu oleh sekumpulan wanita. Mereka nampak berbisik-bisik melihat kedatangan dua pria tampan ini. Sepertinya mereka sedang memuji Taehyung dan Jimin.


"Ah kau sangat terkenal ya." Taeyung memainkan kopinya. Menatap Jimin lalu tersenyum sekilas.


"Kau juga! Semua orang membicarakanmu sejak kau pertama masuk! Katanya kau bukan manusia."  gelak tawa keluar dari mulut mereka. Taehyung yang tak pernah seceria ini, kini dia menggerutu dalam hatinya.

__ADS_1


"Dia sangat baik. Aku tak yakin jika Aera tak ingin melakukan sesuatu padanya. Aku benar-benar takut sekarang."


__ADS_2