
Jimin menginjakkan kakinya, mulai masuk, menerobos pintu kaca besar dengan tulisan LN grup yang terpampang sangat besar di sana. Semua orang membungkuk ketika melihat Jimin, semuanya nampak segan ketika melihat pemuda yang sudah menjadi seorang direktur itu, tak mudah untuk menaklukan hati direktur utama. Jimin sangat beruntung. Jelas, ada alasan di balik berdirinya Jimin menjadi Direktur di perusahaan itu.
Disaat semua direktur bersikap sangat dingin dan kejam pada karyawan, Jimin malah sebaliknya. Dia selalu membalas bungkukan mereka, Jimin bahkan selalu menyapa siapapun yang ia lewati ketika hendak menuju ruangannya. Senyum yang tak pernah luntur sedikitpun pada bibirnya, kadang membuat semua orang meleleh ketika melihatnya.
Beberapa karyawan perempuan di sana, selalu membicarakannya setiap hari. Entah itu di toilet, lift, kantin, bahkan di luar kantor. Mereka sangat kagum pada keramahan dan kerja kerasnya yang tak pernah mengecewakan siapapun.
Beberapa dari mereka bahkan ada yang mengundurkan diri setelah mendengar kabar tentang pernikahan Jimin waktu itu. Sakit hati luar biasa yang mereka derita, bahkan bisa di katakan hampir gila. Dan semua karenanya, mereka sangat tergila-gila pada Jimin.
"Selamat pagi Tuan!"
Sapaan yang ke berapa kali Jimin dapati ketika ia mulai duduk di kursi kerjanya. Dengan sedikit menghembuskan nafasnya, Jimin merekahkan lagi senyuman hangatnya.
"Selamat pagi! Bisa bacakan jadwalku hari ini?"
Pria setengah baya itu, kini membuka ipadnya, mencoba melihat apa yang harus Tuannya lakukan hari ini. Semuanya sudah di atur olehnya, Jimin tinggal menjalankannya saja, seperti robot yang sudah di atur gerak-geriknya.
Tuan Oh mulai membacakan jadwalnya, dari mulai pagi ini Jimin harus melakukan apa, hingga akhir.
Tuan Oh membacakannya dengan mata yang bergantian menatap ipadnya dan juga menatap Jimin, senyumnya sudah menular pada Tuan Oh. Sehingga dia selalu tersenyum hangat ketika bersama Jimin.
Jimin mendengarkannya dengan sangat baik, dengan jarinya yang sedikit ia gigiti, mengisi waktu kosongnya sambil mendengarkan Tuan Oh. Jimin tak menatap Tuan Oh, melainkan dia menatap ke arah luar, dengan tatapan kosongnya.
"Baik. Itulah jadwal Tuan hari ini!"
Tuan Oh mengakhirinya, namun dia sedikit heran, ketika mendapati Jimin yang tak menjawabnya. Dia bahkan sedang asik melamun, tak menyadari bahwa Tuan Oh sudah selesai membacakan jadwal untuknya. Tuan Oh terpaksa melangkahkan kakinya yang dari tadi diam memaku, dia gerakkan menuju meja Jimin, sempat ragu, namun tak baik membiarkannya seperti itu.
"Tuan? Apa kau baik-baik saja?"
Tuan Oh memiringkan wajahnya, menatap mata Jimin agak ragu, mencoba membuyarkan lamunannya.
"Ah iya? Sudah selesai?"
Jimin memalingkan wajah ke arah Tuan Oh sangat cepat. Dengan wajah kagetnya yang masih terlihat sangat jelas.
"Apa anda tak keberatan jika bekerja lembur hari ini?"
Tuan Oh mencoba mengulang pertanyaannya yang dari tadi Jimin tak menggubrisnya sama sekali.
"Lembur? Kenapa tiba-tiba?"
keningnya kini mengernyit bingung, tak biasanya Jimin di beri pekerjaan sehingga mengharuskan dia untuk brkerja lembur. Ada apa sebenarnya?
"Direktur Lee kebetulan sedang ke luar kota, jadi anda yang harus menyelesaikan semuanya, hanya Tuan yang Direktur percaya."
Tak ada lagi kata-kata yang kini keluar dari mulut seorang Park Jimin. Yang dia pikirkan hanya Yora, bagaimana dia bisa mengatakan padanya. Jimin sungguh tak tega jika harus membuatnya menunggu lagi.
Setelah Tuan Oh berlalu, Jimin berdecik kesal, dengan kedua tangannya yang mengacak-acak rambutnya sendiri, lalu mengetuk-ngetuk mejanya gelisah. Jimin membuka jasnya, beranjak untuk menggantungkannya di sana. Hatinya sungguh tak nyaman.
Jimin tak mengirim pesan atau menghubungi Yora sekali pun hari ini. Membuat Yora dengan setianya menatap layar ponselnya, berharap tiba-tiba ada nama Jimin di sana mengirimnya pesan atau menghubunginya. Yora memainkan ponselnya, dengan wajah yang cemberut.
"Apakah Jimin sangat sibuk?"
Adline berlari dari kamarnya, berniat ingin mengambil air minum, namun ia malah mendapati Yora yang tengah memainkan ponselnya dengan wajah yang sangat tak enak untuk di pandang. Dapat di pastikan dia sedang kesal, "Ini sudah larut kak! Sebaiknya kau tidur duluan, jangan menunggunya seperti ini."
Yora melihat jam pada layar ponselnya, tak menoleh Adline yang kini berbicara padanya. Matanya kini tertuju pada layar ponselnya, memastikan bahwa yang di katakan adik iparnya itu benar, "Ah, ku kira ini masih pukul delapan." kekeh Yora kini menoleh Adline, dengan senyuman yang terlihat sangat terpaksa ia sunggingkan pada Adline.
"Tidurlah! Aku akan menemanimu."
Adline menyimpan kembali botol yang sempat ia keluarkan dari lemari es nya. Kini, dia hanya peduli pada Yora, tidak dengan dahaganya.
__ADS_1
Yora mulai melangkahkan kakinya, mencoba menepis semua pikiran-pikiran negatif yang sempat terbesit di kepalanya, 'bagaiamana pun, aku harus percaya, Jimin pria yang baik, tak mungkin dia akan terpengaruhi oleh hal-hal buruk di sekitarnya.' batinnya.
**
"Gomawo, kali ini kau menuruti keinginanku!" tangan gadis itu kini menggelantung pada bahu seorang pria tua. Merasa sangat senang dengan apa yang telah ayahnya lakukan untuknya.
"Berhentilah marah-marah ya?"
senyuman itu, menarik pipi keriputnya, namun tetap terlihat sangat berwibawa. Meskipun sudah tua, namun direktur Lee masih terlihat awet muda. Dengan rambut yang setengahnya telah memutih. Menjelaskan bahwa putrinya juga kini sudah layak untuk menjalin hubungan yang lebih serius lagi.
"Baiklah. Semoga hasilnya tidak mengecewakan. Aku sungguh tak sabar menantikan hasilnya." kekeh Aera, si gadis penuntut yang juga sangat dingin itu. Namun kali ini dia tak bisa mengendalikan dirinya karena terlalu senang, tangannya ia tautkan, dengan tawa-tawa kecilnya, menjadi pelengkap kebahagiaannya, meskipun ini baru awal, bahkan sangat awal, namun lihat, dia sangat bahagia, bagaimana nanti?
"Maafkan aku nak!" batin Tuan Oh, mentap kosong hidangan di depannya. Tak ada selera makan sedikit pun, yang ada hanya merasa bersalah karena perbuatannya. Meskipun ini baru awalnya saja. Sungguh ayah dan putrinya yang memiliki sikap sangat jauh berbeda.
**
Jimin tak henti-hentinya untuk tidak menoleh jam tangannya. Setiap menit matanya ia sempatkan untuk menoleh jam tangan mahalnya itu. Membuatnya selalu berdecik kesal setiap melihatnya. Semakin larut namun kenapa pekerjaannya malah tak beres-beres. Apakah ini karena Jimin mengerjakannya dengan terpaksa?
Saking sibuknya, Jimin tak sempat untuk sekedar menanyakan bagaimana kabar Yora hari ini. Jimin bahkan tidak sempat untuk memberitahu Yora bahwa hari ini dia bekerja lembur di kantornya. Jimin melupakan kewajibannya yang sudah lama Yora nantikan di rumah.
Jimin malah membuat ponselnya diam. Sengaja agar tidak menganggu kerjanya. Dia hanya sendiri di kantor, Tuan Oh tadinya ingin menemani, namun Jimin kekeh menyuruhnya untuk pulang saja.
**
Nyanyian burung-burung membangunkan Yora dari tidurnya. Dengan mata sembabnya, ia paksakan untuk bangkit dan segera memeriksa ke sekeliling kamarnya.
"Dia tak pulang?"
Yora membenturkan lagi tubuh lemasnya pada kasurnya, menarik lagi selimut tebalnya itu, dan menenggelamkan wajahnya.
Yora rasa hari-harinya akan sangat hampa tanpa ada Jimin di sampingnya, dia cenderung bermalas-malasan ketika tidak ada teman hidupnya. Meskipun ini di anggap berlebihan, namun apakah ini lebih baik di bandingkan istri-istri di luaran sana yang tak mempedulikan suaminya sedikit pun? Tak peduli suaminya akan pulang atau tidak? Tidak peduli suaminya sedang dimana dan bersama siapa? Akan sangat menyeramkan jika itu terjadi pada Yora. Jimin bekerja lembur satu hari saja, Yora hampir gila!
"Aku muak menjalani hari tanpanya!" kata-kata yang sempat keluar dari mulut Yora sebelum ia kembali terlelap.
Ponselnya bergetar, menandakan ada seseorang yang mencoba menghubunginya.
"Jimin?" batinnya, membantingkan selimutnya dengan kasar, setengah berlari menuju meja, tempat ponsel itu berasal.
"Yeobseo?"
Setelah mendengar jawaban dari si penelpon, raut wajahnya kini berubah, ternyata itu bukan Jimin, melainkan itu Tuan Oh. Yora menghembuskan nafasnya kasar, menjatuhkan bokongnya pada kursi di sana, dengan sesekali melihat jam dindingnya.
"Jadi, aku minta maaf baru mengabarimu pagi ini!"
"Ya, setidaknya aku tahu keadaannya sekarang." terdengar agak malas Yora mengucapkannya, setelah mendengar beberapa penjelasan Tuan Oh mengenai tak pulannya Jimin kemarin.
Mereka mengakhiri pembicaraannya dengan Yora yang kini duduk bersilang kaki, menyimpan kembali ponselnya, lalu menatap kosong ke arah luar jendela. Mencoba memperhatikan burung-burung yang berterbangan di langit yang sangat cerah, membuatnya semakin sangat indah. Namun tidak dengan hatinya, Yora masih saja menghawatirkan Jimin. Yora masih saja gelisah.
**
"Ah..." tangannya kini menutup sebagian wajahnya karena matahari sudah memancarkan sinarnya, Jimin menggerakan tubuhnya, berusaha menegakkannya. Baru saja satu malam, badannya sudah terasa sangat remuk. Membuat Jimin refleks memutar setengah badannya, membunyikan sendi-sendinya, dan menghembuskan nafas lega.
Baru saja dia memegang ponselnya, tiba-tiba ponselnya mati, Jimin lupa membawa chargernya. Niatnya kini tak bisa ia jalankan, ingin menghubungi Yora, namun bagaimana? Ponselnya saja sudah kehabisan baterai.
"Tuan Oh, Ya, hanya dia yang bisa ku andalkan!"
Jimin menunggu kedatangan Tuan Oh ke ruangannya. Namun entah kesialan apa lagi yang menimpanya, Tuan Oh ternyata tidak masuk hari ini.
Jimin lagi-lagi mengusap wajahnya kasar, menjatuhkan badannya pada sofa dengan wajah yang kini tak terlihat karena di tutupi oleh kedua tangannya.
__ADS_1
**
Jari-jari Aera tergerak, mengetik sebuah nomor yang di tulis dari secuil kertas. Tak tinggal diam, ia segera menghubunginya.
Drtt drtt drtt
Kedua kalinya Yora berharap itu dari Jimin, namun dugaannya selalu salah. Kini nomor tak di kenal, Yora meraih ponselnya yang terus saja bergetar.
"Y-yeobseo?"
"Ah, kau masih ingat aku?"
"S-siapa?"
"Wanita yang kau bilang tak punya sopan santun! Senangnya aku bisa berbincang lagi denganmu!"
"Aera?! Kenapa kau menghubungiku hah?"
"Hm...aku hanya ingin memberitahumu, bahwa suamimu sedang bersamaku."
Aera berbisik, seolah-olah ucapannya itu benar, Yora sempat beberapa kali memegang pundaknya karena geli, nada bicaranya sangat tak biasa.
"A-apa maksudmu? Kau jangan main-main denganku!"
"Aku tak main-main denganmu! Tapi suamimu yang telah bermain-main denganku."
Aera berbisik lagi dengan nada yang sungguh membuat Yora bergidik karena jijik.
"Aku tak percaya!"
"Tunggu saja, beberapa saat lagi Jimin akan menghubungimu menggunakan ponselku!"
Tawa jahatnya kini mulai keluar, Aera sangat puas dengan apa yang telah ia katakan barusan.
Emosi Yora kini hampir meledak, tak kuasa mendengar semuanya. Yora mencoba mengatur nafasnya, memegang dadanya perlahan, lalu mendudukkan tubuhnya agar lebih tenang. Namun itu tak mempan ketika Aera terus saja mengomporinya, dengan sejuta kebohongannya.
"Dasar wanita jal----"
Tutt... Aera mematikan ponselnya, membuat umpatan Yora terpotong.
Pikirannya beberapa kali menarik Yora ke alam bawah sadarnya untuk tetap percaya pada Jimin. Namun hatinya tak bisa di bohongi, saat ini hatinya semakin tertusuk dengan apa yang telah Aera ucapkan. Bayangan-bayangan negatif yang sempat terbesit di kepala Yora, ia merasa itu benar-benar terjadi. Tak kuasa untuk tetap berpura-pura tegar pada keadaan seperti ini.
BRUK!
Yora menghempaskan tubuhnya ke lantai. Butir-butir air matanya mulai keluar dari pelupuk mata indahnya, membuat matanya semakin membengkak karena dari semalam ia tak henti-hentinya menanngis. Yora yang sangat cengeng dan memiliki hati lembut itu akan sangat mudah untuk menjatuhkan butir-butir berharganya.
Tubuhnya seolah-olah tak bernyawa, jantungnya terasa berhenti ketika membayangkan Jimin dengan Aera melakukan itu. Sementara dirinya, selalu mencemaskan Jimin yang malah sedang bersenang-senang dengan wanita lain. Yora memukul-mukul lantai cukup keras, tak peduli darah yang kini keluar dari punggung jemarinya, itu tak sebanding dengan rasa sakit pada hatinya.
**
Tap Tap Tap,
Suara langkah kaki seseorang yang dihasilkan dari high heels yang di pakainya, membuat Jimin berdecik, karena dia tahu siapa yang kini akan masuk ke dalam ruangannya.
"Aku buatkan ini untukmu, special!"
Senyuman yang kini belum pernah ia lihat sebelumnya, merekah di bibir merah meronanya. Matanya tak berkedip menatap Jimin yang kini tak menghiraukan keberadaannya. Kini kekesalan tergambar dari wajahnya, karena harus berdiri dengan nampan yang ia bawa.
"Kau membutuhkan ini untuk menghubungi istrimu?" sambungnya mengangkat ponsel mahalnya ke atas, membuat Jimin tertegun, heran dengan sikapnya yang kini berbeda. Jimin tak langsung menerima tawarannya, dia menatap Aera lekat, melihat matanya, memastikan dia melakukan ini dengan tulus atau dia menginginkan sesuatu.
__ADS_1
"Sudahlah! Aku tak mrmbutuhkannya!"
"Apa kau yakin? Istrimu pasti sangat khawatir dengan keadaanmu sekarang." Aera duduk di kursi kerja Jimin, memutar kursinya, dengan tangan yang terus menggoyang-goyangkan ponselnya, memainkannya dengan jari-jarinya.