SENTUHANMU

SENTUHANMU
Aera hamil?


__ADS_3

"Bagaimana bisa?"


Yora mengeluarkan semua pertanyaan yang sempat terlintas di kepalanya. Rasa penasarannya yang tinggi, mengalahkan semuanya. Ia tak memikirkan bagaimana perasaan Jimin ketika melihatnya yang bahkan hanya berjarak sejengkal saja dengan Taehyung. Yora tak sempat memikirkan itu, ia hanya ingin segera tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"A-aku---"


"Akh... perutku... kenapa sakit?"


Belum sempat Taehyung melanjutkan pembicaraannya, Yora mundur, mengerang sambil memegangi perutnya yang sudah agak besar. Ia hampir ambruk, jika Taehyung tak menahannya.


"K-kau kenapa?" Taehyung sangat panik, ia menahan tubuh Yora yang lumayan berat. Taehyung membulatkan matanya kaget. Ia tak menyangka ini akan terjadi. Padahal tadi Yora baik-baik saja.


"Aku tak tahu. Akh..." Yora memegang lengan Taehyung sangat kuat, melampiaskan rasa sakitnya dengan mencengkram lengan Taehyung sampai memerah.


Tanpa basa-basi Taehyung langsung menggendong Yora. Ia tak tega melihatnya yang mulai mengeluarkan bulir-bulir air matanya menahan sakit. Tak peduli jika Jimin melihat mereka. Taehyung membawa Yora pada dokter khusus kandungan, untuk segera di periksa.


Tapi, belum sampai ke tempat yang di tuju, Jimin berlari menghampiri mereka, "Kau kenapa? Apa yang terjadi?" Jimin masih ngos-ngosan, nafasnya memburu, bukan karena cape berlari, tapi melihat Yora dalam gendongan Taehyung, membuat darahnya naik.


"Biar aku saja!" Jimin mengambil alih tubuh Yora, dan langsung membawanya.


"Kau tak apa?!" dengan langkah terburu-buru, Jimin sesekali menoleh Yora yang sudah sangat pucat. Ia bahkan tak sanggup untuk berbicara, Jimin semakin tak tega melihatnya.


"Apa sebelumnya kau pernah merasakan ini?" tanya dokter itu, jika saja Yora sedang berada di rumah sakit tempat biasa ia bekerja, maka dokter Hye lah yang akan memeriksanya. Namun, ini bukanlah rumah sakitnya, Yora bahkan tak kenal siapa dokter yang sekarang sedang memeriksanya. Yang ia tahu dokter itu cantik dan ramah, usianya pun mungkin sama dengan dokter Hye.


Yora menggeleng sebagai balasan. Memang, ini pertama kalinya ia mendapatkan rasa sakit yang luar biasa selama kehamilannya. Meskipun Yora dokter, tapi ia bukanlah dokter kandungan, jadi ia tak tahu apa yang terjadi pada kandungannya.


"Ini sudah biasa di alami oleh wanita hamil sepertimu. Ini hanya kram biasa, tapi jika di biarkan ini akan berakibat fatal, kau bisa keguguran. Maka, banyak-banyaklah beristirahat ya. Dan yang terpenting, jangan stres. Itu akan berdampak pada bayimu nanti."


"Ah aku akan melarangmu bekerja lagi! Kali ini kau tak boleh membantah." Jimin mendekati istrinya, merapihkan rambut Yora yang sempat acak-acakan karena tadi.


"Baiklah, aku permisi dulu. Jaga istrimu baik-baik ya." dokter itu pun keluar, sambil menepuk bahu Jimin.


Jimin berterima kasih dan membungkuk memberi hormat.


**


Aera, dia duduk di bangku tunggu dekat ruangan diamana ayahnya di rawat. Wajahnya sangat pucat, entah sudah berapa hari ia tak mengurus wajah dan juga tubuhnya. Karena percuma saja, tubuhnya yang sempat ia jaga sebaik mungkin hanya untuk Jimin, kini malah sudah di jamah oleh pria yang bahkan tak pernah ia cintai selama hidupnya.


Matanya sembab, bibirnya pucat, rambutnya kusut. Meskipun Aera selalu bersikap angkuh, namun dia juga manusia. Dia merasa kehilangan ayahnya beberapa hari ini, dia merasa hidupnya sudah tak ada gunanya lagi di dunia ini. Sudah hampir satu minggu direktur Lee belum juga sadar. Dokter pun tak menyangka, jika prediksinya waktu itu akan melenceng.


Tiba-tiba sesuatu dalam perutnya menyeruwuk naik ke tenggorokannya. Aera berlari ke toilet, dan ia memuntahkan semuanya pada wastafle putih itu. Aera menangis lagi, "Aku bahkan tak nafsu makan selama satu minggu ini. Dan sekarang, apakah aku akan sakit dan segera mati?"


"Tidak! Kau tidak akan mati, Nona!" seseorang keluar dari bilik toilet, ia nampak mengenakan jas putih dengan rambut panjangnya yang terikat.


"Apa kau sudah menikah?" ia mendekati Aera sambil bercermin di sampingnya, ia menarik ikat rambutnya agar rambut panjangnya terurai kembali. Dia sangat cantik!

__ADS_1


"B-belum." balas Aera gugup, ia memerhatikan dirinya sendiri di cermin besar itu, dan betapa jauh berbedanya dia dengan wanita yang sekarang ada di sampingnya.


"Kau serius?" wanita itu membulatkan matanya dan membalikan badannya menghadap Aera.


"Iya. Ada apa?" bukanlah Aera jika ia tak bersikap angkuh sehari saja. Aera melipatkan tangannya diatas dada, memicingkan matanya menatap wanita di sampingnya.


"Jika aku lihat, kau yang baru saja muntah-muntah dan lihatlah wajahmu yang sangat pucat. Itu menandakan bahwa kau sedang ha---"


"Kenapa kau begitu yakin hah?" Aera melepaskan tangannya, menatap wanita yang menurutnya sok tahu itu dengan geram. Aera sangat mudah terpancing emosi.


"Perkenalkan aku Ahn So Young. Biasa di panggil dokter So. Aku dokter kandungan di rumah sakit ini." ucapnya penuh penegasan, lalu  bibirnya sedikit terangkat, dengan tangan yang masih setia berada dalam saku jasnya.


DEG!


Serasa di samabar petir, Aera kini mematung dengan tatapan kosong, "Aku hanya masuk angin, kau tahu?! Aku tak'kan mempercayaimu."


"Ini! Periksalah!" dokter So mengeluarkan sebuah benda panjang berwarna putih. Ya, itu Tespect. Dokter So menyimpannya di dekat wastafle. Karena ia yakin Aera tak akan mau mengambilnya langsung dari tangannya.


Setelah itu, dokter So pergi. Dan berkata, "Jika kau benar hamil dan ingin memeriksanya, cari saja aku! Oke?" kedipan sebelah matanya dan senyum meledeknya ia sunggingkan pada Aera, membuatnya berdecik beberapa saat.


**


"Kenapa kau tak berangkat kerja hm?" Yora menyisir rambut Jimin dan memainkannya. Sementara Jimin sibuk main game. Hari ini Jimin tak bekerja.


"Jim..." merasa di acuhkan, akhirnya Yora mengganggu Jimin, dia menutup layar ponselnya dengan tangannya.


"Kenapa dari kemarin kau selalu memainkan ini dan mengacuhkanku?!" Yora beranjak menjauh darinya. Nampaknya Yora mulai kesal.


Memang, belakangan ini Jimin bersikap tidak seperti biasanya, dia malah sering bermain game daripada mengobrol dengan istrinya. Jimin tak sehangat dulu, itu yang Yora rasakan.


"Aku tak suka!" Jimin tetap tak menoleh Yora. Wajahnya datar dan tak ada senyum hangat yang ia sunggingkan untuknya.


"Kau sudah bosan denganku?!"


"Bukan."


"Lantas kenapa?!" ucapan yang penuh penekanan, Yora tak bisa lagi membendung air matanya. Ia kini menumpahkan semuanya. Sebenarnya dari pertama melihat perubahan Jimin, Yora sangat ingin menangis sekencang-kencangnya. Namun ia terus saja berharap Jimin akan berubah lagi, tapi tidak. Jimin masih sama, itu membuat Yora sangat tertusuk dan tak kuasa menahan air matanya.


Itulah kelemahannya, itulah kelemahan Jimin. Ia tak bisa melihat Yora menjatuhkan air matanya seperti itu, "Ya, kenapa kau menangis?" Jimin meninggalkan ponselnya dan beranjak mengahampiri Yora untuk segera mengelap air matanya.


Baru saja Jimin akan mendaratkan ibu jarinya, Yora memalingkan wajahnya sambil terisak.


"Jika kau sudah bosan denganku, kenapa kau tidak membuka mulutmu hah?! Kenapa kau tidak bilang saja ini dari awal." Yora menangis sampai sesegukan, ia mengelap air matanya sendiri dengan lengannya.


"Ya, bukan karena itu."

__ADS_1


Yora tak menjawab. Sekarang, ia enggan untuk sekedar melihatnya. Entah kenapa, padahal ini masalah kecil, tapi Yora sangat emosi, Yora sangat ingin memukul dan menonjok Jimin.


"Aku hanya tak suka melihat kau dekat dengan pria lain." hampir tak terdengar, Jimin berbicara dengan nada yang sangat rendah.


Yora menghentikan tangisnya, "Andai saja kau tahu, tak ada lagi pria yang ku cintai di dunia ini selain kau!" Yora agak membentak.


Jimin membalikan tubuh Yora agar dia bisa menatapnya, Jimin menatap Yora penuh kasih sayang. Ternyata perubahannya itu bukan karena bosan atau apa, tapi Jimin sedang cemburu!


Yora menangis lagi di dalam  dekapan Jimin. Tak henti-hentinya pula Jimin menciumi pucuk kepala Yora, "Mana ikat rambutmu? Biar ku ikatkan." Jimin celingak-celinguk mencari ikat rambut Yora. Rambutnya yang terurai membuat Jimin tak tahan ingin segera mengikatnya. Ia tahu Yora merasa gerah dengan rambutnya yang di biarkan seperti itu.


"A-aku ingin memukulmu," ucapnya masih terisak.


"Ah kenapa kau malah membela Eomma mu dan ingin memukul Appa?" Jimin mengelus perut Yora yang sudah lumayan besar itu. Senyuman hangatnya kini kembali ia suguhkan, membuat Yora ikut tersenyum walaupun matanya masih sembab.


BUGH!


Ternyata Yora tak main-main. Dia memukul perut kekar Jimin. Membuatnya sedikit terjengkang, "Akh... ternyata kau sangat kuat..." lirihnya memegangi perut.


Sementara si pelaku, dia tersenyum sangat puas melihatnya.


**


"Ah hidupku benar-benar sudah hancur sekarang!"


Mati, Aera berfikir itu akan menyelesaikan semua masalahnya. Ayahnya, kehormatannya, dan satu lagi... bayi yang kini ada dalam perutnya. Bukankah itu cukup rumit untuk seorang wanita sepertinya. Dokter So benar, Aera kini tengah mengandung, itu berarti Aera sebentar lagi akan menjadi seorang ibu dan istri dari seorang pria bermarga Kim itu.


Sebelumnya ia tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Yang ia bayangkan, hanyalah Jimin, Jimin, dan Jimin. Ia selalu membayangkan bagaimana ia akan hidup bahagia dengan pria yang bertahun-tahun telah merebut hatinya.


Aera sudah berdiri tegap di ujung atap rumah sakit. Air mata terus mengalir di pipinya. Mengingat bahwa ia harus menelan semua kenyataan pahit yang terjadi pada hidupnya sekarang. Tes kehamilan itu masih ada di tangannya, ia remas sekuat tenaga, ingin menghancurkan benda yang membuatnya ingin mati saja.


Dalam hitungan ke tiga, Aera akan melompat. Dia mulai berhitung dengan suaranya yang terdengar gemetar.


"Satu..."


"Dua..."


"Tig---"


"Ya! Apa kau sudah gila?!" suara berat khas Taehyung datang menghampiri. Ia menarik tangan Aera untuk mundur dari sana.


Tangisannya pecah setelah melihat pria itu. Aera mendudukan dirinya tanpa alas kaki, karena ia sudah tak memakainya sejak tadi.


"Untuk apa aku hidup? Untuk apa?!" Aera membentak Taehyung yang tengah berdiri di depannya.


"Aku akan tanggung jawab!"

__ADS_1


__ADS_2