
"Apa Aera dan Taehyung akan benar-benar pindah lagi kesini?" tanya Yora dengan tatapan kosongnya. Sementara Magy sudah tertidur sangat lelap di tengah-tengah mereka.
"Ya, kurasa Taehyung tak'kan main-main dengan keputusannya." jawab Jimin sambil memainkan pipi Magy. Jimin tersenyum melihat malaikat kecilnya yang kini sudah terlelap di sampingnya. Jimin selalu merasa tak puas bermain dengan Magy.
"Huh..." Yora menarik nafas sangat panjang mendengarnya. Yora nampak tak senang mendengar kabar itu, meskipun di grup chat ia terlihat sangat senang, namun hati tak bisa di bohongi. Ia takut Aera akan berulah lagi pada keluarganya.
"Tenang saja, dia sudah melupakanku. Lagi pula Taehyung juga sudah sangat mencintainya. Jangan khawatir." Jimin tiba-tiba sudah ada di hadapan Yora. Dan itu membuat Yora terperanjak karena dari tadi ia hanya melamun, tak memperhatikan Jimin yang sudah ada di hadapannya.
"K-kau yakin?"
"Sangat yakin." tangannya tergerak mengelus rahang putihnya, Jimin tersenyum dan menciumnya kilat.
"Apa aku mendapatkannya malam ini?" lanjutnya sambil menggaruk dagunya, lalu menggigit bibirnya sendiri.
"Huh... baiklah kau mendapatkannya."
**
"Ya! Berat sekali aw..."
"Jeon Jungkook! Kau ini sangat berat kau tahu?" lanjutnya yang terlihat sangat tersiksa menahan tubuh Jungkook yang kini berada diatas tubuhnya.
"Kau sudah bangun?" lirihnya sambil beranjak meninggalkan tubuh Adline yang sudah tak berbalut kain sehelai pun.
"Kenapa kau tidur diatas tubuhku eoh?" tanya Adline membulatkan matanya. Ia menaikkan selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Ah aku bermimpi semalam." Jungkook dengan mata yang masih tertutup. Ia berbicara layaknya orang yang mengigau saja.
"Mimpi apa?"
"Aku bermimpi seorang pria yang ingin mencoba membawamu pergi, jadi aku ingin menyelamatkanmu dengan cara itu. Mereka jadi tak bisa membawamu pergi karena aku menindih tubuhmu." Jungkook lalu tertawa dan langsung memeluk Adline erat.
"Tak masuk akal sekali." ucapnya sambil memainkan hidung mancung Jungkook. Adline sangat suka memainkan hidungnya ketika Jungkook tertidur. Dan itu pun akan membuat Jungkook tertidur sangat pulas.
"Aku sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan aku."
**
10 Tahun kemudian...
"Apa semuanya sudah siap?"
"Sudah Ayah, ayo kita berangkat sekarang!"
Senyuman dari bibirnya terus saja ia sunggingkan karena terlalu senang. Matanya terbenam saat ia menyunggingkan senyum khasnya. Tak lupa lesung di pipinya yang menambah kesan ketampanan seorang Kim Soobin. Bocah yang kini sudah berusia 10 tahun, hanya beda beberapa bulan saja dengan Magy.
Hari ini, Taehyung, Soobin, dan Aera sudah berada di Bandara. Mereka akan menuju Korea hari ini. Rencana yang sudah sangat lama, akhirnya hari ini adalah waktunya.
Soobin terlihat sangat bahagia. Sejak kecil, ia telah di kenalkan dengan kebudayaan Korea, tempat kelahiran ayah dan ibunda tercinta. Soobin bahkan sudah biasa berbicara bahasa Korea ketika di Swiss. Taehyung selalu mengajarinya apapun mengenai Korea, karena ia sangat bangga pada tempat kelahirannya.
Soobin tumbuh dalam pengawasan Taehyung dan Aera dengan sangat baik mereka merawatnya. Ia tumbuh menjadi anak yang pintar, baik hati, dan penurut.
Sementara Magy, ia juga kini sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat menggemaskan. Dengan rambut hitam pekatnya yang sudah sebahu, menambah kesan cantik dan gemas ketika orang melihatnya.
Berbeda dengan Soobin, Magy justru biasa-biasa saja dengan sekolahnya. Ia tidak pintar juga tidak bodoh. Seimbang seimbang saja. Magy sangat suka menari dan bernyanyi dari kecil. Dan tentu saja Jimin dan Yora pun tak pernah memaksanya agar selalu menjadi juara kelas. Menurut mereka, bakat Magy bukan dalam bidang pelajaran, tapi ia sangat berbakat dalam seni musik dan tari.
__ADS_1
Maka dari itu, Magy mengikuti les menari dan bernyanyi sejak ia masih kecil.
Orang tua memang tak seharusnya memaksa segalanya. Lihat dulu kemampuan si anak, dan jangan menyepelekan kemampuannya. Bisa jadi, di masa depan, ia bisa membawa kedua orang tuanya pada gerbang kesuksesan. Maka dari itu, tuntunlah anak anak sesuai kemampuan mereka. Jangan paksakan mereka jika mereka tak mau. Itu hanya akan membuatnya merasa tertekan, dan akhirnya ia merasa bosan dengan mehidupan.
"Kenapa kau sangat gelisah hm?" tanya Taehyung yang kini duduk sambil menggendong Soobin yang sudah terlelap.
"Tidak. Aku hanya lelah saja." ucapnya tak menatap Taehyung. Sementara ia memalingkan pandangannya ke arah luar jendela.
"Kau bohong!"
Tiba-tiba taksinya berhenti, dan mereka ternyata sudah sampai di depan rumah tua besar. Tempat Aera dan direktur Lee dulu tinggal. Rumahnya sudah sangat tua dan tak terawat.
Aera langsung turun, itu kesempatannya agar Taehyung tak mendesaknya lagi. Taehyung pun hanya berdecik dan langsung saja keluar mengikuti sang istri.
**
"Appa? Kakiku sakit..." lirihnya yang kini sudah berbaring di atas kasur berwarna biru yang sangat lucu. Ya, Magy suka warna biru, tak heran jika semua isi kamarnya di penuhi dengan barang yang serba biru.
"Besok Magy tak usah pergi sekolah dulu ya? Biar Appa yang berbicara pada gurumu nanti. Juga jangan datang les dulu." ucap Jimin sambil mengompres kedua kaki Magy.
Magy selalu berlatih tanpa henti. Itu sebabnya ia sering mengalami sakit pada bagian kakinya. Itu bukan sekali, tapi hampir setiap minggu Magy akan berbaring tanpa bisa menggerakan kakinya.
"Eomma sudah bilang. Jangan ikut lagi les menari. Cukup bernyanyi saja ya? Eomma khawatir padamu nak. Kau selalu kesakitan, Eomma tak mau putri Eomma yang cantik ini selalu merasa kesakitan." Yora datang membawa nampan yang berisi segelas susu dan sepotong sandwich. Yora menjadi lebih cerewet dari sebelumnya. Kini, ia menjadi ibu yang sesungguhnya.
"Sudahlah... berapa kali pun kau menyuruhnya untuk berhenti, dia tak akan mau. Kau tahu Magy begini karena apa? Karena dia berlatih sangat keras dan itu tandanya Magy sangat menyukainya." jelas Jimin tersenyum pada Magy.
Meskipun ini terdengar seperti sebuah perdebatan, namun Jimin selalu mencairkan suasana. Ia berusaha untuk tetap bersikap lembut di depan Magy.
**
Sementara Jimin hanya tersenyum mendengarnya. Selama usia pernikahannya, Yora tak pernah sekali pun mendapatkan pukulan atau kata-kata kasar yang Jimin keluarkan padanya. Yora selalu salut pada Jimin yang selalu bisa mengendalikan amarahnya.
"Ah kau tahu apa cita-citaku dulu ketika aku masih kuliah?" tanya Jimin mendekati Yora dan duduk di lantai, tepat di hadapan Yora.
Yora menggeleng sebagai jawaban.
"Aku malu mengatakannya." Jimin menggaruk kepalanya, pipinya memerah sekarang.
"Kau ingin jadi apa?" tanya Yora penasaran.
"Idol, aku ingin mejadi idol yang terkenal. Namun cita-citaku itu ku urungkan. Aku selalu merasa tak percaya diri kala itu, jadi ku putuskan, aku ingin menjadi seorang CEO saja. Dan itu terwujud."
"Kenapa baru menceritakannya sekarang?" bibir Yora semakin mengerut.
Jimin memegang kedua tangannya dan menatapnya lekat, "Aku malu." Jimin menyeringai.
"Ya!" Yora menghempaskan tangannya dan memalingkan wajahnya.
"Jadi tak heran jika sekarang Magy seperti itu. Itu cita-citaku yang terpendam yang sekarang putrikulah yang akan mewujudkannya. Biarkan saja dia seperti itu, kita hanya harus mencegahnya agar tak berlebihan saat latihan, itu saja. Jangan sampai menyuruhnya untuk berhenti. Dia sudah berjuang, akan sangat sia-sia jika sekarang ia mengakhiri semuanya. Mengerti?" Jimin menenggelamkan matanya, lalu mengayunkan kedua tangan Yora seperti anak kecil.
"Ya Tuhan! Terima kasih! Kau sudah memberiku suami yang tak pernah membentakku ketika marah, dan tak juga tak pernah melukaiku dengan kekerasan. Aku sangat bersyukur bisa hidup denganmu Jim!"
**
"Ayah... aku haus..." teriaknya sambil menuruni tangga. Soobin nampaknya kehausan setelah terakhir kali ia minum di pesawat tadi.
__ADS_1
"Soobin-ah hati-hati. Jangan menuruni tangga sambil tidur." teriak Aera dari meja makan.
Akhirnya Taehyung berlari menghampiri putra kesayangannya. Ia menggendong Soobin ke meja makan.
"Ibu? Masak apa hari ini?" tanyanya masih menggesek-gesekan mata dengan tangannya.
"Aku masak makanan kesukaanmu. Makanlah!"
Soobin tersenyum menatap Aera dan juga Taehyung. Soobin merasa sangat bahagia melihat kedua orang tuanya yang sudah ada di hadapannya. Berbeda dengan Magy, Soobin sering kali mendengar kedua orang tuanya yang tengah berdebat dan seakan-akan melupakannya yang kini bisa mendengar apa saja yang mereka debatkan. Soobin tak seberuntung Magy, ia sering kali melamun sendiri hanya karena berfikir bahwa kapan orang tuanya akan berhenti berteriak?
"Pakai sabuk pengamanmu jangan lupa!"
Mereka akan pergi jalan-jalan hari ini. Taehyung dan Aera akan mengajak Soobin berkeliling Seoul hari ini.
**
"Nanti malam, Soobin dan orang tuanya akan makan malam disini. Kau jangan terlambat pulang ya?" ucap Yora mencubit pipi tembem Magy.
"Soobin? Jinjja? Aku akan bertemu dengannya Eomma?" Magy nampak bahagia mendengarnya. Ia sampai meloncat-loncat dan tertawa.
Mereka bahkan sudah saling kenal sejak bayi, bagaiamana Magy tak bahagia. Kini, sahabat jauhnya akan menemuinya secara langsung.
"Iya, untuk apa Eomma berbohong padamu hm?" ucap Yora meyakinkan.
Rumah Yora dan Jimin memang tak jauh dari sekolah Magy. Itu sebabnya, setiap hari Magy selalu pergi sendiri. Magy tak mau di antar siapapun ketika berangkat sekolah, kecuali pulang sekolah. Magy berjalan sambil bernyanyi. Ia sekarang sudah kelas empat SD, sama dengan Soobin. Namun, Soobin belum mendaftar di sekolah mana pun di Seoul.
"Ayah... coba lihat gedung itu... ayah lihat..." rengek Soobin yang memaksa Taehyung untuk segera menengok ke sampingnya. Soobin menggoyang-goyangkan tangan Taehyung yang berada pada stir mobil sehingga mobil kerap beberapa kali oleng.
"Duduklah dengan tenang! Ini bahaya Soobin!" bentak Aera yang ternyata tak di gubris sama sekali.
"Ayah lihat..."
Mobilnya kini benar-benar oleng, Tehyung hampir saja tak bisa mengendalikannya dan...
BRUK!
CEKIT!
Taehyung menginjak rem mobilnya sangat mendadak karena ia merasakan bahwa sudah menabrak seseorang.
"Kita menabrak seseorang!" matanya membulat, Taehyung tak berani keluar dari mobil. Ia tetap di dalam bersama Soobin dan Aera.
"Ah bagaimana ini?" decik Aera memukul kursi mobilnya.
"I-itu 'kan Magy! Iya ayah itu Magy, ayo kita tolong dia!" teriak Soobin melihat Magy dari dalam. Dia sudah berbaring tak berdaya dengan darah yang mulai mengalir dari tubuhnya. Soobin hendak membuka pintu mobilnya, berniat akan menolong sahabatnya, tapi Aera menahannya.
"Tetap di tempatmu Soobin! Kau jangan kemana-mana!" bentaknya dari kursi belakang.
"Ayo cepat kita pergi!" Aera menepuk-nepuk Taehyung yang bengong tak tega melihat Magy seperti itu.
"Kita harus tanggung jawab!"
"Aku bilang pergi ya pergi! Cepat orang-orang sudah mulai berdatangan!" teriak Aera. Dia makin emosi di buatnya.
Dengan terpaksa, Taehyung pun menurutinya. Soobin terlihat murung dan sedih, sepanjang jalan ia hanya menunduk sambil memainkan tangannya. Soobin sangat merasa bersalah atas semua ini.
__ADS_1
"Maafkan Soobin Magy! Maafkan ayah dan ibu Soobin yang tak mau bertanggung jawab atas semua ini. Ini semua salah Soobin!"