SENTUHANMU

SENTUHANMU
Sedikit romantis?


__ADS_3

"Adline... bisakah kau membuatkan kopi untukku?" teriak Jimin dari ruang tamu.


"Aku sudah membuatkannya untukmu." Yora datang membawa secangkir kopi di tangannya.


"Biarkan Adline saja yang membuatkannya," jawabnya tanpa menghiraukan kedatangannya.


"Bisakah kau menghargaiku sedikit saja Jim? Aku ini istrimu!"


"Tapi aku belum bisa,"


Yora berkaca-kaca, ternyata dia sudah mempunyai perasaan pada Jimin, sejak pandangan pertama.


"Maafkan aku. Aku butuh waktu!" Jimin pergi begitu saja meninggalkan Yora yang hendak menangis.


"Apa aku terlihat jahat di matamu Jim?" tanya Yora membuat Jimin menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh ke arahnya.


Jimin tak menjawab apapun. Dia kembali melangkahkan kakinya.


"Ah kenapa hatiku sakit sekali."


Akhirnya Yora memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit, dia akan mulai lagi bekerja, Yora kesepian  jika tinggal di rumah Jimin terus menerus.


"Kau mau kemana?" Jimin tiba-tiba berdiri di belakang Yora yang tengah bersiap memakai jas putih kebanggannya itu.


"A-aku akan pergi ke rumah sakit."


"Berhentilah bekerja mulai sekarang. Apa uangku tak cukup untukmu?" Jimin sibuk memainkan ponselnya, berbicara tanpa menatap Yora sedikit pun.


"Aku bekerja untuk menghilangkan rasa kesepianku di sini. Percuma saja, suamiku sendiri tak menganggapku ada." Yora menyeka air matanya sendiri, mencoba tegar di hadapan Jimin, padahal kenyataannya hatinya sangat sakit.


Jimin menghentikan jarinya yang dari tadi sibuk mengutak-atik ponselnya itu. Dia menatap ke arah lain.


"Sudah ku bilang, aku perlu waktu. Kenapa kau tak mengerti juga?"


Akhirnya, Yora pergi tanpa basa-basi menubruk sedikit badan Jimin.


Membuat Jimin menggeleng sambil menghela nafas kasar.


"Ah jinjja?! Aku tak bisa lagi pergi ke rumah sakit sekarang!"


Yora pergi ke taman belakang rumah, mencoba menenangkan diri, dan sempat menyesali sesuatu.


"Seandainya saja aku tak menikah dengan dia!"


celotehnya sambil memukul-mukul kursi yang ia duduki.


Yora sengaja tak memberitahukan ini semua pada Adline. Dia takut nanti Adline akan memarahi Jimin, dan Yora tak mau itu terjadi.


Tiba-tiba Yora memegang perutnya yang tengah berbunyi itu. Yora sempat malas untuk pergi ke dapur, hanya saja Yora tak bisa menahan rasa laparnya itu. Dengan terpaksa dia menggerakkan kakinya untuk masuk ke dalam.


Yora tertegun saat melihat Jimin di hadapannya, sepertinya dia sedang masak sesuatu.

__ADS_1


Yora membalikkan badannya, hendak pergi dari sana. Namun, Jimin menghentikannya.


"Makanlah!" ucapnya sambil meletakkan sebuah piring berisi nasi goreng di atas meja makan.


"K-kau berbicara padaku?" Yora membalikkan badannya, dan menunjuk dirinya sendiri.


"Bukan, aku berbicara pada hantu!" Jimin masih sibuk menuangkan nasi gorengnya ke dalam piring selanjutnya.


Yora perlahan mendekati meja makannya, menghirup udara yang kini keluar dari makanan kesukaannya itu.


"Kau bisa masak rupanya!"


Jimin tak menjawabnya, dia masih saja menyibukkan diri, agar dia tidak makan bersama Yora.


Tapi, Adline datang menemui mereka.


"Oow... apa aku mengganggu kalian?" Adline berhenti di ambang pintu, hendak berbalik lagi, namun Yora menghentikannya.


"T-tidak Adline, kemarilah..." ajak Yora.


"Aku sudah makan kak! Kalian lanjutkan saja." Adline tersenyum,menggoda Yora.


"Ya! Kak! Apa kau tidak menemani kak Yora makan?!" lanjut Adline berteriak dia ambang pintu setelah melihat Jimin yang masih sibuk dengan aktivitasnya, membiarkan Yora makan sendiri.


"A-aku masih sibuk!" Jimin menoleh ke arah Adline.


Tapi, Adline dengan segera menghampiri Jimin. Adline menarik tangannya, dan memaksanya untuk duduk di samping Yora.


Jimin menghembuskan nafasnya, terlihat pasrah dengan perlakuan adiknya itu.


"Hm, lumayan..." Yora layaknya seorang Chef hebat menilai makanan yang telah dibuat oleh Jimin.


Jimin diam. Dia menunduk sambil memainkan tangannya. Membiarkan Yora bercoleteh sendiri, layaknya orang gila.


Tiba-tiba sesuatu hinggap di pundak Jimin, membuat Yora membulatkan matanya kaget.


"J-jim? Ada sesuatu hinggap di pundakmu."


Ternyata itu sebuah lebah yang sangat besar.


"A-apa?!" Jimin jadi ikut panik, dan hampir memegang lebah itu, namun Yora menghentikannya.


"J-jangan! Jangan menyentuhnya! Itu lebah!" teriak Yora, kini dia naik ke atas kursi yang sempat ia duduki tadi, membawa sebatang kayu dari luar untuk mengusir lebah itu.


"Ah, aku harus bagaimana?" Jimin ketakutan, Yora sempat ingin tertawa melihatnya, karena Jimin sungguh sangat menggemaskan ketika dia sedang ketakutan seperti itu.


"Aku akan mengusirnya dengan ini!" Yora mengangkat kayu itu, layaknya seorang panglima perang yang siap bertempur menyerang lawannya.


"Cepatlah!" tangan Jimin tak mau diam, dia sungguh sangat ketakutan.


Belum sempat Yora mengusirnya, Jimin berteriak, mungkin lebah itu sudah menyengatnya.

__ADS_1


"Kau tak apa?!" Yora menjatuhkan kayunya dan langsung menghampiri Jimin.


"Coba lihat pundakku!" Jimin kini agak menurunkan sedikit badannya, mencoba mensejajarkannya dengan badan Yora.


"Omo... dia sangat keren! Baru kali ini aku melihatnya dari dekat, walaupun hanya pundaknya saja yang ku lihat, hm."


"Hanya luka bekas sengatan saja, nanti juga sembuh. Aku akan mengobatinya."


Tanpa sadar Yora mengusap-usap pundak Jimin, lupa akan janjinya yang tak akan menyentuh Jimin. Namun, yang membuat Yora agak sedikit lega, Jimin ternyata tak menyadarinya, dia tak marah ketika mendapat sentuhan dari Yora. Mungkin dia juga lupa.


Setelah itu, Yora membawa Jimin masuk ke dalam kamar. Mencoba untuk mengobati bekas sengatannya.


Namun, kini yang ia lihat wajah Jimin yang berubah menjadi pucat pasi. Yora baru menyadarinya, mungkin ini efek dari sengatan lebah sialan itu. Dia mungkin sedang meriang sekarang.


Beberapa kali Yora mencoba membujuknya agar dia mau istirahat dan tidur. Namun, kali ini dia menurutinya.


Yora sangat tak tega melihatnya, keringatnya mulai mengalir dari rambutnya. Membuatnya sangat ingin mengelapnya, namun apa daya.


"Kau pergi saja!" Jimin masih memandang dengan pandangan kosong, tak menoleh Yora sedikit pun.


"Tidak, aku akan menjaga dan mengobatimu di sini. Kali ini jangan melarangku! Aku tak akan mendengarkan apapun perkataamu!"


Setelah mengatakan itu, Yora langsung beranjak mengambil air hangat untuk mengompresnya.


Tapi, ketika Yora kembali, Jimin sudah tertidur pulas. Membuatnya menjadi bingung. Jika ia tak mengompresnya, maka demamnya tidak akan menurun. Tapi, jika ia mengompresnya, apakah Jimin akan terganggu?


Yora putuskan untuk mengompresnya saja.


Yora mulai meletakkan kain basah itu pada keningnya, perlahan.


Untungnya Jimin tak bangun.


"Tampan! Aku sangat suka ketika melihatmu tidur seperti ini."


Yora mengelus rambutnya lembut.


Ia akhirnya beranjak, dan pergi meninggalkan Jimin. Namun, ketika Yora sedang asik berjalan, tiba-tiba ponsel Jimin berdering. Yora mencoba melihatnya.


Beberapa Notifikasi muncul di layar ponselnya, sepertinya Jimin kurang memperhatikan itu semua.


"Dia punya banyak penggemar semenjak SMA." Adline datang dan berdiri di belakangnya.


"Omo! Kau mengagetkanku!" Yora hampir saja membantingkan ponsel Jimin karena kaget melihat Adline yang tiba-tiba ada di belakangnya.


"Mungkin itu dari teman-temannya! Dan..." lanjut Adline tersenyum.


"Dan?"


"Dan wanita-wanita yang selalu memperebutkan kakakku itu, ah tak ada yang cocok dengan seleraku. Hanya kau yang aku suka." celetuk Adline sambil duduk di sofa.


"Jangan kakak buka pesannya! Nanti kau kaget! Haha" Adline tertawa.

__ADS_1


"Mereka selalu mengirim pesan. Dan tak tahu waktu!" lanjutnya.


"Aku sedikit panas mendengar apa kata Adline barusan, apa mereka tak tahu jika Jimin sudah menikah?"


__ADS_2