
"Ah itu---" ucapan Tuan Oh terpotong karena Jimin datang menghampiri mereka, dengan baju yang basah kuyup.
"Kenapa kau tak menanyakannya padaku?"
"Tuan!" Tuan Oh membungkuk, memberi salam.
Jimin hanya mengangguk. Dan ikut duduk bersama mereka.
Yora sempat ingin memarahi Jimin karena sudah mencarinya ketika hujan, membuat baju dan tubuhnya basah. Namun, Yora menahannya, dia masih mengacuhkan Jimin kala itu.
"Dia Putri direktur Lee, dia sudah sangat lama menyukaiku, namun aku tak pernah menghiraukannya sedikit pun." jelas Jimin sambil menatap kosong.
"B-benar! Aku selalu berada di samping Tuan Jimin setiap hari. Jadi aku tahu semuanya, dan itu tidak seburuk apa yang Nona pikirkan!" sambung Tuan Oh.
"Lalu apa maksud dari foto itu?" Jimin menoleh Tuan Oh.
"Ah sebelumnya aku ingin minta maaf padamu Tuan, dan juga istrimu. Aku tak sengaja mengirimkannya padamu Nona, aku harusnya mengirimkan foto itu pada direktur Lee." Tuan Oh menunduk.
"Apa maksudnya? Kenapa dia menyuruhmu untuk memotretku dan Aera?" Jimin mulai kesal.
"Direktur Lee hanya ingin tahu gerak-gerik Nona Aera Tuan! Takutnya Nona Aera akan berbuat yang tidak-tidak padamu. Dan itu benar!"
Yora yang dari tadi menyimak, kini mulai membuka mulutnya.
"Jadi maksudmu putri direktur Lee memaksamu?!" Yora menatap Jimin.
Jimin mengangguk sambil menggigit tangannya sendiri.
"Ini semua kesalahanku, maaf jika sudah membuat kalian bertengkar seperti ini."
"Tak apa." Jimin tersenyum tipis padanya, membuat hati Yora terenyah lagi melihat sikapnya yang begitu lembut pada Tuan Oh.
Tuan Oh pamit, tinggalah mereka berdua di cafe itu.
"M-mianhe." Yora menunduk.
"Heii, kau belum pesan makanan?" Jimin mendekatkan wajahnya.
"Aku tak lapar." Yora masih menunduk sambil memainkan tangannya.
"Kita pulang saja!" Yora pergi lebih dulu di susul oleh Jimin dengan bajunya yang masih basah kuyup itu.
**
Yora sungguh tak enak hati pada Jimin, dia sudah marah-marah padanya tanpa tahu alasan yang sebenarnya.
Suasana hening, hanya suara mesin mobil yang terdengar kala itu.
__ADS_1
"Yora? Apa kau cemburu?" Jimin memecah keheningan.
Yora membulatkan matanya, "T-tidak!" ucapnya gugup.
"Ya! Lihatlah, istriku sudah mulai pandai berbohong!" Jimin tertawa kecil melihat ekspresi Yora.
"Kenapa kau membasahi tubuhmu seperti ini eoh?" Yora menatap sekujur tubuh Jimin.
"Aku mencarimu." Jimin tak menoleh.
"Bagaimana jika nanti kau sakit?"
"Tak apa. Istriku seorang dokter, dia akan menyembuhkanku." Jimin tersenyum menatapnya.
Yora jadi salah tingkah dibuatnya, kini dia tak berani menatap Jimin sedikit pun. Menyembunyikan pipi merah meronanya di balik tangan mungilnya.
**
Ketika Jimin dan Yora masuk, Adline dan Jungkook sudah ada di sana.
Jungkook terlihat menjaga Adline dengan baik.
"Kapan kalian pulang?" Yora sempat kaget melihat mereka.
"Tadi. Maaf aku tak mengabarimu dulu." ucap Jungkook.
"Tentu." Jimin mendekatinya.
"Aku sudah sembuh kak, jangan khawatir." Adline tersenyum, sepertinya dia sudah bisa menebak bahwa Jimin akan menanyakan itu padanya.
"Gomawo!" Jimin menepuk punggung Jungkook cukup keras.
Membuat semua yang ada disana terharu melihatnya. Ya, Jungkook memang pria yang sangat baik dan bertanggung jawab. Sama seperti Jimin. Yora dan Adline sangat beruntung.
**
Setelah mandi dan mengganti pakaian, Jimin merasa tak enak badan. Dia langsung saja berbaring dan tenggelam dalam hangatnya selimut tebalnya itu.
Sekarang sudah sangat larut, tapi Jimin belum bangun juga, membuat Yora cemas.
"Aku sudah memberinya obat, kenapa dia belum bangun juga?"
Yora mendekati Jimin, menempelkan tangannya pada kening Jimin perlahan.
"Ah syukurlah..." dilanjutkan dengan memegang tangannya, memastikan panasnya sudah turun.
Yora mulai membaringkan tubuhnya di samping Jimin, memperhatikan setiap lekuk wajahnya.
__ADS_1
Tiba-tiba tangan Jimin terangkat, menjadi memeluk Yora.
"Aish... apa dia mengigau?" Yora merapatkan tubuhnya.
"Ah aku lupa, aku sedang sakit, menjauhlah..." Jimin hendak melepaskan tangannya, dengan mata sipitnya yang setengah terbuka.
"Tak apa!" bisik Yora menarik kembali tangannya, bahkan kali ini sudah tidak ada jarak diantara keduanya.
"Kau tahu? Sekalipun aku mati karenamu, aku sangat rela." Yora tersenyum menenggelamkan wajahnya pada dada Jimin.
"Baiklah... aku akan membunuhmu malam ini!" Jimin tersenyum smirk.
"Heh?"
Bukannya menjawab, Jimin malah menaikkan kedua alisnya. Mencoba memberi kode pada Yora.
Yora belum siap, meskipun dia sudah hampir satu bulan menunggu malam ini, namun, Yora masih sangat takut untuk melakukannya.
"Ayolah..." Jimin merengek
"T-tapi Jim! Beson kau 'kan---" ucapan Yora terpotong karena Jimin dengan segera menempelkan jari telunjuknya pada bibir Yora.
"Besok hari minggu! Sudah jangan mengelak!"
Yora lupa, besok itu hari minggu dan Jimin libur. Dengan begitu Yora pasrah saja.
Jika pasangan lain melakukannya di awali dengan berciuman mesra, beda dengan Jimin dan Yora, mereka langsung pada intinya.
Karena Jimin takut kejadian waktu itu terulang lagi. Karena setiap ia menutup mata, bayangan mengerikan itu selalu terbesit di kepalanya, dan Jimin tak mau merusak semuanya.
**
"Terima kasih hm, Sekarang, tidurlah!" Jimin mencium kening Yora dan menaikkan selimutnya untuk menutupi tubuh Yora yang kini dibuat tak berdaya olehnya.
Yora tak banyak bicara, dia masih belum percaya bisa melakukannya dengan Jimin.
Kini, Jimin memeluk tubuhnya, hingga keduanya terpejam.
Pagi pun telah tiba, mereka hanya tidur selama empat jam. Bisa dibayangkan semalam mereka melakukannya berapa jam? Ya, kurang lebih mereka melakukannya selama tiga jam.
Jimin bangun lebih dulu, bergegas mandi dan membangunkan Yora.
"Hei... apa kau tak akan mandi?" seperti biasa Jimin selalu menepuk-nepuk pipi Yora ketika ia mencoba membangunkannya.
Setelah itu, Jimin keluar, kini dia merogoh pakaian Yora dari lemarinya. Menyiapkannya untuknya.
Sungguh suami yang sangat baik.
__ADS_1