SENTUHANMU

SENTUHANMU
Selamat ulang tahun Park Jimin


__ADS_3

Seorang pria masuk membawa nampan yang berisi dua gelas kopi. Pria itu nampak seperti petugas kebersihan disana (OBE). Dia menyimpan dua gelas itu diatas meja, dan berlalu setelah memberi hormat pada Aera.


"Minumlah." Aera mengambil segelas, lalu meminumnya tanpa ragu. Sedangkan Taehyung, dia masih bingung dengan perlakuan Aera yang sedikit aneh menurutnya.


"Ya, minumlah! Kau pasti penat seharian bekerja 'kan?"


Taehyung lalu mengambil satu gelas yang tersisa, mengambilnya perlahan, lalu meminumnya. Aera tersenyum di balik gelasnya, dia merasa menang lagi kali ini.


Sementara Jimin sedang menemui kliennya di sebuah restoran yang jaraknya sangat jauh dari kantor, tanpa ditemani Taehyung.


Begitupun dengan Yora, ia kini sudah bersiap akan segera pulang. Hari sudah mulai sore, waktunya Yora untuk mempersiapkan semuanya.


TRING... sebuah pesan masuk.


"Kak? Aku tahu kau pasti sangat lelah hari ini, jadi aku sudah mempersiapkan semuanya. Kau tak perlu khawatir lagi."


Adline sungguh anak yang sangat baik. Dia sangat mengerti apa yang kini Yora rasakan. Letih dan penat pasti Yora rasakan hari ini. Sendi-sendinya telah ia bunyikan, melepas pegal yang dari tadi mengganggunya. Yora dapat beristirahat sebentar sebelum pulang.


**


BRUK!


Taehyung ambruk, setelah dari tadi ia memegang kepalanya karena pusing. Entah apa yang Aera lakukan padanya.


"Tolong..." teriak Aera, semua orang berhamburan datang, memeriksa apa yang terjadi. Setelah petugas keamanan datang, Aera menyuruhnya untuk segera membawa Taehyung ke rumah sakit tempat Yora biasa bekerja. Padahal rumah sakit disekitar sana banyak.


Taehyung terkapar tak berdaya, bibir dan wajahnya sudah sangat pucat.


"Yora?! Tangani pasien itu!" titah dokter Hye menunjuk Taehyung. Tapi Yora belum menyadarinya, Yora berlari menyusul segerombol orang yang membawa Taehyung. Baru saja ia duduk, ada saja yang membuatnya bekerja lagi di jam pulangnya.


Yora melihat jam tangannya, "Ini sudah pukul 17:00, bagaimana ini?" batin Yora gelisah. Di satu sisi, Yora harus menyelamatkan nyawa Taehyung, di sisi lain, Yora juga harus merayakan ulang tahun Jimin. Pilihan yang sangat sulit.


Yora memutuskan untuk menyelamatkan Taehyung. Meskipun nanti ia akan telat pulang, setidaknya Yora telah melakukan tugasnya sebagai seorang dokter.


"Dia kenapa?" ucap Yora di balik masker hijaunya. Bertanya pada salah satu petugas keamanan yang mengantar Taehyung.


Pria itu menggeleng tak tahu. Membuat Yora langsung saja memasukkan Taehyung ke dalam ruang Unit Gawat Darurat. Sebelum Yora memeriksanya, Taehyung sempat membuka matanya dan tersenyum.


"Ohok..."


"T-taehyung-ssi... kau sadar?" Yora kaget, lalu mendekatkan wajahnya, melihat Taehyung yang seperti ingin mengatakan sesuatu, namun dia terlihat tak sanggup untuk mengatakannya, dia hanya mengatakan...


"Selamatkan aku..." Taehyung kembali tak sadarkan diri, setelah mengatakan itu. Yora segera mengambil tindakan untuk memeriksanya.


Yora yang kini di temani satu suster nampak kewalahan. Dia dengan sigap menyuntikkkan obat pada lengan Taehyung, "Dia keracunan." Yora melirik suster itu, mengisyartkan agar dia cepat membawa semua obat pencegah, agar racunnya tak menyebar.


Yora harus memasangkan selang infus pada tangan Taehyung, tapi tiba-tiba Yora hampir terjatuh sambil memegang perutnya, ia memegang ranjang Taehyung sangat keras.


"Dokter tak apa?" suster itu panik melihat Yora yang kini setengah berjongkok, mengerang sambil memegangi perutnya. Sepertinya perut Yora keram.


"Tak apa," Yora menguatkan diri untuk berdiri lagi, dan memasang selang infusnya. Dengan keringat yang mulai mengucur dari rambutnya, Yora nampak kelelahan.


18:00, Yora berdecik ketika melihat jam tangannya. Yora masih ada di rumah sakit dia belum berdandan atau mempersiapkan dirinya menyambut Jimin.

__ADS_1


"Yora-ah..." teriak Jimin. Matanya nampak tenggelam, menandakan ia sedang tersenyum sekarang.


"K-kenapa kau ke sini?" Yora gelagapan, nampak tak percaya diri dengan dirinya yang sekarang nampak acak-acakan. Sepatu putihnya sangat kotor, rambutnya yang tadinya diikat rapih, kini sangat tak beraturan. Begitupun dengan wajahnya yang sangat kotor. Yora sangat tak percaya diri berhadapan dengan Jimin.


"Ayo pulang!" Jimin menarik tangannya sambil berjalan.


Akhirnya mereka masuk ke dalam mobil, Yora langsung membuka ponselnya untuk memberitahu Adline, bahwa Jimin sudah dalam perjalanan pulang. Yora sangat asik berbincang lewat pesan dengan Adline, sehingga mengacuhkan Jimin.


"Coba kulihat!" Jimin hendak mengambil ponsel Yora. Namun, untungnya Yora dengan  sigap menepis tangan Jimin.


"Menyetirlah dengan baik, kenapa kau menggangguku?" bentak Yora, dengan pandangan masih setia pada layar ponselnya.


"Dia kenapa?" batin Jimin. Sudah biasa menghadapi tingkah istrinya yang sangat sulit di tebak dan juga mudah berubah.


Sampailah mereka di depan rumah. Kini, detak jantung Yora berdenyut sangat kencang. Ia akan merayakan ulang tahun suaminya dengan jas putihnya yang kotor? Dia bahkan tak sempat mandi. Tapi itu tidak menjadi penghalang untuk Yora, ia akan tetap memberikan hadiah yang terbaik untuk Jimin.


Kebetulan, Adline mempersiapkannya di kamar mereka. Tidak di ruang tengah ataupun  di ruang lainnya. Adline telah menghias kamar Jimin dan Yora dengan pernak pernik yang sangat indah. Tak lupa dengan kue ulang tahunnya yang bertuliskan 'Happy Birthday Park Jimin.' dengan cream berwarna putih di atas kue nya, sangat cantik!


Jimin dan Yora berjalan memasuki rumah, semuanya  nampak gelap, "Apakah Adline tak ada di rumah?" tanya Jimin, menghentikan langkahnya.


"Mungkin." jawab Yora singkat.


Yora berdehem ketika hendak membuka pintu kamarnya, memberi kode pada Adline, jika mereka akan segera masuk.


Tap...


Jimin yang duluan masuk, dan...


"Selamat ulang tahun Jim!" Yora tersenyum sangat lebar pada Jimin.


"Selamat ulang tahun kak!" Adline memeluk Jimin. Dia langsung membawa kue ulang tahunnya.


"Kalian mempersiapkan semuanya?" Jimin dengan mata yang berbinar, terus saja melihat sekelilingnya. Tak henti-hentinya ia tersenyum.


"Adline yang mempersiapkannya," Yora tersenyum dengan tangan yang kini sudah membawa sebuah kotak berwarna ungu di tangannya.


"Tidak. Kita yang mempersiapkannya." Adline mengedipkan matanya, "Berdoa, dan tiuplah!" Adline menyodorkan kue nya.


Lilin dengan angka 2 dan 6 kini telah Jimin tiup. Semuanya bertepuk tangan, Jimin terlihat sangat senang.


"Ini kak! Semoga kau suka." Adline memberikan sebuah kotak berukuran agak besar pada Jimin.


"Gomawo." Jimin memeluk Adline sambil mengacak-acak rambutnya.


"Baiklah, aku akan menghubungi Jungkook dulu." Adline mengedipkan sebelah matanya pada Yora, mengisyaratkan agar Yora segera memberitahu Jimin tentang kado spesialnya.


Kini, hanya mereka berdua disana, "Mana kadomu?" ucap Jimin,   nampak tak serius dengan ucapannya. Ia membuka jas hitamnya, kini, ia hanya mengenakan kemeja putihnya yang dilipat hingga sikut.


"Maaf Jim," Yora menunduk.


"Kenapa kau harus minta maaf eoh?" Jimin membungkuk, memegang lengan Yora yang tengah memegang sebuah kotak.


"K-kau tahu? A-aku tidak sempat merias diriku. Aku sangat jelek sekarang. Maaf..." Yora berkaca-kaca, hampir saja menjatuhkan air mata berharganya.

__ADS_1


"Duduklah! Lihat aku! Kita sama-sama berjuang hari ini, kau pasti sudah menyelamatkan nyawa seseorang atau bahkan beberapa orang 'kan hari ini?" Jimin menatap Yora lekat.


Yora  mengangguk.


"Pasti keluarganya sangat senang, melihat kau yang berhasil menyelamatkannya. Begitu pun denganku, aku sangat senang memiliki istri penyelamat sepertimu. Itu sudah menjadi hadiah terindah, selamanya, dalam hidupku. Tuhan  telah mengirimkan hadiah terbaik di dunia ini padaku, kau tahu apa?" Jimin tersenyum menatap Yora, dengan tangan yang tak henti-hentinya mengusap tangan Yora lembut.


"A-apa?"


"Kau, kau hadiah terindah yang telah Tuhan berikan padaku!" Jimin menyeringai. Dia sangat pandai menggoda istrinya.


"Ah... " Yora memeluk Jimin, dengan pipi yang telah memerah.


"Ini! Aku punya hadiah kecil untukmu, bukalah!" Yora menyodorkan kotak itu pada Jimin.


"Tunggu, aku haus." Jimin merogoh dua gelas jus yang sudah Adline persiapkan untuk mereka. Jimin memberikan segelas untuk Yora.


Jimin membuka kotak itu dengan tangan yang masih memegang gelas. Ia membukanya dengan sebelah tangannya.


Mulutnya masih penuh dengan jus, Jimin membuka kertas yang terdapat dalam kotak itu. Sempat bingung, namun Jimin terus saja membacanya. Dan...


BYURR ...


Jimin menyemburkan jus dalam mulutnya. Dia menelan salivanya sangat kasar, Jimin bangkit dari duduknya, dengan mata yang kini membulat.


"Kau tak apa?"  Yora mendekati Jimin yang tengah mematung.


"Kau hamil?!" Jimin masih membulatkan matanya tak  percaya.


"Heem." Yora mengangguk sangat bersemangat.


"Apa aku tak bermimpi? Apa ini nyata?" kini, ia meletakkan tangan Yora pada  pipinya.


"Kau tak mimpi Park Jimin-ssi, kau akan menjadi seorang ayah!"


Jimin berjongkok, dia nampak lemas dan tak percaya. Dia membacanya lagi, memastikan bahwa semuanya benar ,"Jadi selama ini, kau... ah... aku  akan jadi seorang ayah." Jimin bangkit lagi, kini dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf, aku baru memberitahumu sekarang. Usia kehamilanku sudah hampir tiga minggu."


Lalu, Jimin meletakkan tangannya pada perut  Yora. Dia membungkukkan badannya dan berkata, "Ini Appa sayang..."


Yora mengelus rambut Jimin, sangat terharu melihatnya seperti itu. Yora bahkan hampir menangis lagi.


"Gomawo, kau telah memberiku hadiah yang takkan bisa aku lupakan, selama hidupku!" tangannya memegang rahang Yora lembut, Jimin menatap Yora dengan  mata yang berkaca-kaca. Ya, itu air mata bahagia.


"Ya! Apa kau menangis?" tanya Yora meledek.


"Aku sangat bahagia, aku tak bisa berkata-kata lagi sekarang." Jimin menyeka air matanya.


Jimin  memiringkan wajahnya dengan mata yang terpejam, membuat Yora ikut memejam. Dan... mereka berciuman.


Adline tersenyum di dekat ambang pintu, melihat mereka. Dia juga ikut terharu melihatnya.


"Hm, rasanya, aku ingin segera menikah saja dengan Jungkoook!" ucap Adline sambil berlalu dari sana.

__ADS_1


__ADS_2