SENTUHANMU

SENTUHANMU
Rambut biru


__ADS_3

Yora dan Jimin tertidur, setelah seharian mereka bekerja. Keduanya terlihat sangat lelah. Jimin terbangun, melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 22:00 malam. Yora masih mengenakan jas putihnya. Membuat Jimin tergerak untuk membangunkan Yora, agar ia segera mandi.


"Yora-ah..." Jimin menggerakan jari telunjuknya, menekan pipi Yora lembut, beberapa kali.


"Apa ini sudah pagi?" Yora malah menarik selimutnya, enggan untuk bangun dari tidur nyenyaknya.


"Ya! Kau harus mandi!" bisik Jimin, membuat Yora bergidik dengan mata yang masih terpejam. Ia masih setia menenggelamkan tubuhnya pada selimut tebalnya.


"Jangan ganggu aku!"


Tanpa ragu, Jimin menarik kedua tangan Yora, memaksanya untuk segera bangkit, "Bangunlah..." Jimin dengan sekuat tenaga membuat tubuh Yora terduduk.


Dengan terpaksa Yora membuka matanya, ia kemudian beranjak untuk segera membersihkan badannya. Jimin sudah menyiapkan air hangat untuk Yora berendam.


Beberapa menit kemudian...


Yora kini sudah siap dengan baju tidurnya. Ia terlihat sangat segar kali ini.


Kini, giliran Jimin yang Yora paksa untuk mandi. Dia juga masih mengenakan kemeja kerjanya.


"Jim?"


Jimin yang kini tidur di pangkuan Yora, mendongakkan wajahnya, setelah mendengar Yora memanggilnya. Dengan tangan yang tak hentinya Yora usapakan pada rambut hitam miliknya.


"Aku bosan melihat warna rambutmu..." rengek Yora, bibirnya kini terlihat mengerut, tangannya yang tadinya mengelus rambut Jimin, berubah jadi mengacak-acaknya.


"Aku ingin melihat rambutmu berwarna." Yora menyeringai sambil menatap Jimin memelas.


"Eoh? Apa kau lupa? Aku ini seorang direktur!" Jimin membulatkan matanya, kaget mendengar permintaan Yora yang lagi-lagi tak masuk akal menurutnya.


"Lalu? Apa  salahnya?" Yora mengangkat kedua bahunya.


"Aku akan di tertawakan Yora-ah. Lagi pula aku ini bukan seorang idol atau aktor." Jimin berbicara tanpa menatap Yora, Jimin menatapa langit-langit kamarnya.


"Andai saja kau tahu, ini kemauan bayimu!"


"Apakah bayiku akan menjadi idol di masa depan? Kenapa kau menyiksa Appamu sayang?" Jimin berbicara pada perut Yora, dia seperti anak kecil.


"Ah sudahlah...kalau kau tak mau, aku takkan memaksamu!" dengan nada ketusnya, Yora beranjak untuk tidur. Mengacuhkan Jimin.


Jimin menghembuskan nafas panjangnya, mengingat Yora yang sedang hamil, tak boleh stres atau terlalu memikirkannya, "Baiklah, warnai rambutku sesuai keinginanmu." ucap Jimin pelan, dengan mata yang tak lepas dari Yora. Namun, tak ada jawaban darinya, Yora sudah tertidur, sangat pulas.


**


"Argh..."


Taehyung, lagi-lagi sadar dengan pakaian rumah sakit dan selang infus yang sudah menempel di tangannya. Ia berusaha mendudukkan dirinya, melihat ke sekeliling. Dan...


Drtt drtt drtt


Ponselnya bergetar, Taehyung sempat ragu untuk menyentuhnya, namun rasa penasarannya mengalahkan semuanya. Akhirnya Taehyung membuka pesannya.


"Kim Taehyung-ssi? Ah maafkan aku, aku sudah lancang meracunimu. Aku harap kau takkan memberitahu ini pada siapapun. Karena, nyawa adikmu yang jadi taruhannya!"


"AERA!" teriak Taehyung, mengeraskan rahangnya, lalu membantingkan ponselnya hingga pecah.


Taehyung terduduk di lantai. Wajahya menunduk, "Sampai kapan aku akan terbebas dari iblis itu?!" teriaknya.


**


Hari ini, Jimin libur kerja. Ini membuka kesempatan untuk Yora mengajaknya ke salon. Untuk apa? Yang pasti Yora sendiri yang akan mengantar Jimin untuk mewarnai rambutnya.


"Kau yakin?" Jimin dengan tangan yang sudah siap menyetir mobil, menoleh ke arah Yora yang tersenyum padanya.


"Iya, aku sangat yakin!" jawab Yora sangat bersemangat.


"Ah yasudah."

__ADS_1


Jimin menginjak gas mobilnya, mereka pun segera menuju ke salah satu salon ternama disana. Yora ingin membuat Jimin sempurna, dengan rambut yang kini berwarna.


"Warna apa Tuan?" tanya pelayan salon pada Jimin yang sudah siap duduk di kursi dengan cermin yang sangat besar di depannya.


"Tanya saja pada istriku." Jimin menoleh pelayan itu, sambil melirik Yora yang sedang duduk di belakang mereka. Yora sedang melihat-lihat majalah.


"Maaf Nona, saya akan segera mewarnai rambut suami anda. Mau warna apa?" tanya pelayan itu sangat ramah sambil agak membungkuk pada Yora.


"Aku mau yang ini!" Yora tersenyum sambil menunjukkan foto dalam majalah itu. Dan itu ternyata warna biru tua.


"Baiklah." pelayan itu kembali menghampiri Jimin, dan segera mewarnai rambutnya dengan warna yang sudah di pilihkan oleh Yora.


Jimin nampak pasrah ketika pelayan itu mulai mengecak-acak rambutnya yang akan segera di baluri dengan pewarna rambut. Jimin hanya terdiam sambil menatap dirinya sendiri di cermin.


Sebelumnya, Jimin  belum pernah mewarnai rambut seperti itu. Jadi, dia akan sangat tak percaya diri nanti. Namun sekarang, demi Yora dan bayinya, Jimin siap melakukan apapun. Selama itu masih bisa ia lakukan untuknya.


**


"Semuanya sudah di bayar."


"Hah? Siapa lagi?" ucap Taehyung bingung. Siapa lagi yang kini membayar biayanya?. Apakah Yora?


"Disini tertulis atas nama Aera yang sudah membayarnya."


"Kau yakin?" Taehyung nampak tak percaya. Dia merebut kertasnya dan membaca kembali dengan sangat teliti.


Taehyung yang sekarang dan yang dulu memang sangat jauh berbeda. Taehyung yang sekarang  sudah memiliki cukup banyak uang, namun kenapa masih ada saja orang yang beranggapan bahwa dia masih miskin?


"Oh ya, dia menitipkan ini padaku!"  ucap suster itu sembari menyodorkan kertas yang sudah di lipat.


Tanpa basa-basi, Taehyung langsung membukanya.


"Jangan terkejut Kim Taehyung-ssi. Ini sebagai tanda permintaan maafku padamu."


Isi surat itu, yang sepertinya ia tulis sendiri.


**


"Ya, Jungkook-ah, apakah kau tak merindukanku eoh?"


Ponsel yang menempel di telinganya, dengan senyuman yang terus saja ia sunggingkan. Tanda bahwa ia sangat bahagia. Bagaimana tidak, pria yang sangat ia rindukan kini menelponnya secara tiba-tiba. Membuat Adline beranggapan bahwa ini adalah sebuah hadiah yang selalu tak terduga.


"Kapan kau akan pulang?"


Rengekan seorang Adline yang membuat siapapun akan menurutinya ketika melihatnya merengek seperti itu. Adline yang tak pandai merengek, kini tiba-tiba dengan refleksnya ia merengek pada Jungkook.


"Seberapa besar kau merindukanku hm?" tanya Jungkook yang membuat pipi Adline merah merona karena pertanyaannya.


"Bolehkah aku tak menjawabnya?"


"Kenapa? Apa kau tak merindukanku?" Jungkook nampak bingung.


"Tentu saja aku merindukanmu, hanya saja, besarnya kerinduanku padamu, tak'kan bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sangat sulit untuk menggambarkannya. Besarnya melebihi apapun di dunia ini. Bahkan dunia saja tak'kan mampu menampung rasa rinduku padamu."


Gelak tawa, Adline keluarkan diakhir kalimatnya, membuat Jungkook menggigit bibirnya sambil tersenyum. Ia mengganti posisi ponselnya yang kini ia pindahkan ke telinga kirinya.


"Sepertinya kau sudah banyak belajar dari kakakmu eoh?" Jungkook tertawa.


"Tidak. Aku belajar dari seorang pria tampan yang bernama Jeon Jungkook!" tawa Adline tak kalah keras. Membuat Jungkook menunduk dan ikut tertawa.


Aline? Kau di rumah kah?" teriak Jimin, membuat Adline hampir menjatuhkan ponselnya karena kaget. Adline dengan terpaksa mengakhiri obrolannya dengan Jungkook.


"Iya kak! Aku disini!" Adline lari terbirit-birit menghampiri Jimin.


"Woah..." betapa tercengangnya Adline, ketika melihat Jimin yang kini telah berubah layaknya seorang idol.


"Dia sangat tampan 'kan?" Yora mengusap rambut Jimin. Lalu menyeringai pada Adline.

__ADS_1


"Iya, kau sangat tampan kak! Woah..." Adline  masih menganga melihat Jimin dengan matanya yang tak berkedip.


"Sudah ku bilang. Kau lebih tampan sekarang!" ucap Yora meyakinkan Jimin.


"Baiklah. Demi kau!" Jimin mendekatkan wajahnya pada Yora, dengan senyum super hangatnya yang ia sungginggkan padanya.


Jimin memainkan pipi Yora tanpa ampun. Sepertinya Jimin sangat gemas, "Aku ingin memakannya, pipimu sangat kenyal."


Yora mencubit perutnya pelan, mengingat bahwa disana masih ada Adline yang sedang memperhatikan mereka.


"Eem, aku pergi..." Adline lari menuju kamarnya.


Ketika Yora dan Jimin sampai di kamar mereka, Yora baru menyadari sesuatu. Bahwa kemarin Taehyung terkena racun, dia lupa memberitahu Jimin tentang itu. Maka Yora dengan cepat memberitahunya.


"Siapa yang melakukannya? Kau tahu?" Jimin terlihat panik, ia menatap Yora lekat.


"Aku tak tahu. Saat ku tanya petugas keamanan yang membawa Taehyung kemarin, mereka juga tak tahu."


"Jika saja ku tahu orangnya, maka aku akan memecatnya jika dia bekerja di sana!" Jimin nampak  emosi, dia mengepalkan tangannya.


"Kau telpon saja dia. Barang kali Taehyung mengingat sesuatu." Yora mengelus tangannya, mencoba menenangkan Jimin.


Jmin  merogoh ponsel di saku celananya, tapi nampaknya tak ada jawaban. Ponsel Taehyung pecah, mungkinkah dia membuangnya? Atau membeli lagi yang baru?


"Tak bisa ku hubungi!"


**


Keesokan harinya...


Jimin dengan rambut barunya mulai berjalan masuk. Semua orang sangat terkejut, mereka melihat Jimin tanpa berkedip. Bahkan ada yang melompat-lompat kegirangan.


"Tak seburuk itu." batin Jimin, sambil tersenyum.


Memang, pilihan Yora tak'kan salah. Semuanya memuji ketampanan Jimin. Kali ini, berbeda dengan sebelumnya. Bahkan banyak yang mengajak Jimin berfoto. Jimin hanya memgangguk sambil tersenyum, "Dengan senang hati."


TRING... sebuah pesan masuk di ponselnya. Membuat Jimin agak menghindar dari kerumunan, dan langsung membukan pesannya.


"NGAT! AKU PUNYA MATA-MATA DISANA! JANGAN MACAM-MACAM!"


Bukannya takut, Jimin malah tertawa, menenggelamkan matanya. Yora mengancamnya, namun itu seperti sebuah gelitikan untuk Jimin, "Omo... dia benar-benar punya mata-mata disini, dia mengirimku pesan di waktu yang tepat." Jimin melanjutkan langkahnya, tak mempedulikan lagi pegawai-pegawai yang kini ingin berfoto dengannya.


Yora tak bermaksud serius dengan perkataannya, dia hanya menakut-nakuti Jimin saja. Namun Jimin, suami penurut. Dia langsung menurutinya.


**


"Bisakah kita bertemu di cafe dekat rumah sakit?"


Pesan dari nomor tak di kenal masuk. Siapa lagi kali ini?


"Siapa?'" balas Yora penasaran.


"Aku Kim Taehyung."


Yora mengangguk, ia pikir Taehyung membeli ponsel baru, atau mengganti nomornya. Yora segera bergegas menemuinya. Berharap Taehyung akan memberitahunya sesuatu tentang kejadian kemarin.


Yora melihat Taehyung yang sudah duduk di kursi paling pojok di cafe itu. Yora lalu melambaikan tangannya sambil tersenyum.


"Sudah lama?" tanya Yora dengan ramahnya. Menyimpan tas dan jas nya di sebelah kursi yang kosong.


"Aku baru sampai."


"Ada apa? Kau ingat sesuatu tentang orang yang meracunimu?" tanya Yora, membuat Taehyung mencoba mengingat sesuatu, namun dia terpaksa harus berbohong padanya, pada semua orang.


"Ah aku tak ingat apapun kemarin." Taehyung tersenyum.


"Ya Taehyung? Tenanglah... kenapa kau seperti ini hah?" batinnya terus saja menggerutu.

__ADS_1


Sebenarnya apa yang sekarang Taehyung rasakan ketika melihat dan berada di dekat Yora?


__ADS_2