SENTUHANMU

SENTUHANMU
Mimpi buruk


__ADS_3

Jimin terbangun dengan nafas yang memburu, bajunya basah karena keringat. Sepertinya dia mimpi buruk.


"Menjauhlah dariku!" Jimin membentak Yora dengan nafas yang tersenggal-senggal.


"M-maaf, aku tak bermaksud." Yora sambil berjalan mundur menjauhinya.


Jimin lalu kembali duduk dengan tangan yang memegangi kepalanya.


Yora berlari ke dapur, membawakan Jimin segelas air hangat. Mencoba menenangkannya.


"Ini minumlah!" Yora menyodorkan segelas air putih dengan tangannya yang super gemetar.


"Simpanlah di bawah, nanti aku akan mengambilnya." ucapnya dengan tangan yang masih memegangi kepala.


Yora menyimpannya dibawah, didepan Jimin.


Yora bingung, ia harus berbuat apa lagi?


"Apa kau mau obat penenang?" Yora kebetulan membawa persediaan obat-obatan dari rumah sakit untuk berjaga-jaga.


"Tidak! aku tidak membutuhkannya!" Jimin menolak dan memalingkan wajahnya kasar.


"Apa kau pusing? Aku akan memijat kepalamu!" Yora lupa dengan janjinya.


"Tidak. Kau sudah berjanji untuk tidak menyentuhku 'kan?" dia mengambil air yang tadi Yora bawa.


**


Matahari, kini sudah mulai masuk ke dalam kamar, membuatnya terpaksa harus  membuka mata.


Yora melihat ke sekeliling, dia sudah tak ada di sofanya. Mungkin Jimin sudah keluar.


Tapi, tiba-tiba Jimin keluar dari kamar mandi. Ternyata dugaannya salah.


Dia keluar dengan memakai handuk yang membaluti setengah badannya.


Yora sempat melihat kulit putihnya itu dengan perutnya yang terlihat kotak-kotak, dan juga jangan lupakan otot lengannya yang sangat berisi.


Yora memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Sementara Jimin, dia membelakanginya karena malu.


"K-kau sudah bangun?" ucapnya gugup.


Yora hanya mengangguk. Ia merasa malu sendiri melihatnya seperti ini.


Lalu Jmin menggaruk kepalanya, bingung.


"A-aku akan keluar." ucapnya masih tak berani melihat Jimin.


Akhirnya Yora beranjak dari kasur, dan mulai pergi keluar. Namun, karena buru-buru Yora tak melihat jalan, akhirnya  kakinya tergelincir di ambang pintu.


BRUK!


Yora memegang kakinya, nampak sangat sakit.


"K-kau tak apa?" Jimin agak kaget melihat itu, dia terlihat panik, dan bingung harus berbuat apa.


"Kau tahu? Aku sampai menangis. Ini sangat sakit, aku belum pernah terkilir sampai seperti ini."


Untung saja Adline datang dan segera membantunya.


"Kak?! Kau kenapa?" tanyanya kaget.


"Kak! Apa kau tak membantunya berdiri?" tanya Adline menatap Jimin kesal.


"Kau tahu 'kan aku tak bisa!" Jimin menggaruk-garuk  kepalanya tanda bingung. Dan gilanya dia belum memakai baju.


"Ah tapi dia 'kan istrimu kak!" Adline mendengus kesal sambil mencoba membantu Yora untuk berdiri.


Akhirnya Adline memopongnya ke ruang tengah untuk membantu mengobati kakinya.


Sementara Yora terus saja menangis,  mungkin Adline ingin tertawa melihatnya seperti ini.


"Kau sangat lucu kak! Aku belum pernah melihatmu seperti ini!" benar saja Adline mengejeknya.


"Kau tahu? Aku ini sangat cengeng, apalagi ketika aku seperti ini...hiks... aku sangat malu." Yora terisak, membuat Adline malah semakin menertawakannya.


"Bagaimana semalam?" Adline mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Ya, tak bisa di pungkiri bahwa dia juga sudah besar, dia sudah mengerti semuanya. Usianya tak jauh beda dengan Yora.


Yora menggeleng sebagai jawaban.


"Hah, sudah kuduga. Maafkan aku kak, kau seharusnya bahagia menikah dengan laki-laki yang kau cintai. Bukan dengan kakakku yang aneh itu." Adline menunduk merasa bersalah.


"Ah tak apa. Mungkin sekarang belum waktunya. Kita lihat saja nanti." Yora coba menghiburnya dengan membalas kedipan itu, walaupun dia masih terisak.


Adline tertawa geli melihatnya seperti itu. Membuat Yora sedikit lega melihatnya.


Yora dan Adline sebenarnya sudah merencanakan sesuatu untuk membantu menyembuhkan Jimin, lebih tepatnya untuk melupakan masa lalunya itu.


Tapi jangan lupakan Yora yang juga memiliki penyakit cukup parah. Dia mempunyai penyakit asma, penyakitnya akan kambuh jika dia terkena pada udara yang sangat dingin. Maka obatnya adalah dengan sebuah pijitan pada punggungnya, itu akan membuat Yora merasa mendingan. Karena ketika kecil, ibunya selalu melakukan itu untuk menyembuhkannya.


Semoga penyakitnya tak kambuh ketika bersama Jimin.


"Jika kalian berfikir aku membenci wanita, tidak! Aku tak membencinya. Hanya aku sedikit takut.


Setiap hari, aku selalu dihantui oleh mimpi buruk, yang memaksaku untuk selalu mengingat masa lalu."


"Tangisanku, teriakan Ibuku, suara pecahan barang- barang, terus saja berdenging di telingaku."


"Aku selalu mengingatnya, ketika Ibuku memarahiku tanpa alasan, memukuliku tanpa ampun, juga menghukumku layaknya seorang penjahat.


Ibuku seperti orang gila kala itu, dia selalu menyakiti dirinya sendiri, menangis dan berteriak."


"Kau tahu kenapa sekarang Adline rentan terkena penyakit? Ya karena waktu itu Ibuku sedang mengandung Adline, hampir saja Adline terlahir tak sempurna karena ulah Ibuku sebelumnya, yang kurang menjaga kesehatan dirinya dan juga kandungannya."


"*Aku lega, karena saat itu Adline belum ada. Aku lega karena hanya aku yang merasakan semuanya."


"Sebenarnya ini semua tidak sepenuhnya salah Ibuku, karena semua masalahnya berasal dari Ayahku. Dia selingkuh dari Ibuku, sedangkan ibuku sangat mencintainya. Pantas saja dia hampir gila karena Ayahku itu."


"Dan dia melampiaskan semua amarahnya padaku. Seolah-olah aku hanya anak dari sebelah pihak saja."


"Setelah  kematian Ibuku, Aku dan Adline di ajak tinggal bersama  Ibu tiriku.


Aku menurutinya, namun masalah baru datang."


"Ibu tiriku tak menyukaiku dan Adline, dia sama seperti Ibuku dulu, menyiksaku, memarahiku bahkan ingin membunuhku.

__ADS_1


Aku bertahan sampai lulus SMA di sana, lalu aku memutuskan bahwa aku ingin tinggal berdua saja dengan Adline.


Dia mengizinkanku,  sampai saat ini*."


__ADS_2