
Jimin terdiam. Wajahnya menunduk dan tangannya ia tautkan. Dia nampak gelisah.
Jungkook merasa bersalah telah mengucapkannya, "Maafkan aku Hyung..." rengek Jungkook, dia menjongkokkan dirinya di depan Jimin. Membuat Adline dan Yora menoleh ke arah mereka.
"Kau akan terus seperti itu Jim? Kau terus saja merasa bersalah. Aku benci itu!" teriak Yora gemetar, membuatnya menoleh dan menghampirinya. Sementara Adline, dia duduk di sofa itu bersama Jungkook.
"Ikut aku!" Jungkook menarik tangan Adline untuk segera mengikutinya keluar. Sepertinya mereka ingin membiarkan Jimin dan Yora menyelesaikan masalahnya berdua saja.
Bibir pucatnya terlihat agak gemetar, Yora menahan air matanya. Mengingat ini bukan salah siapapun, ia hanya ingin Jimin memperhatikannya di bandingkan dengan terus menerus malah menyalahkan diri sendiri. Yora hampir saja mati karena dehidrasi.
"A-aku minta maaf."
**
"Maaf Nona, kau jangan mencabut ini lagi ya. Kau sudah banyak kehilangan darah tadi. Jangan sampai bayimu terganggu karena ini."
Taehyung mengangguk mewakili Aera yang nampak tak mempedulikan dokter yang sedang berbicara padanya.
Taehyung mendekatinya, ia menatap Aera yang terus saja memalingkan wajah pucatnya, "Kau harus makan." Taehyung sudah memegang sebuah mangkuk putih berisi bubur tanpa lauk.
Tak ada jawaban. Aera terus saja membisu.
"Jangan membuatku terus menunggumu disni! Kau harus cepat sembuh."
**
"Ya, dengarkan aku, aku sungguh tak tahu jika yang ku katakan tadi membuatnya sakit hati."
Adline menggeleng dengan tangan yang bertumpu di dadanya, "Sudahlah! Biarkan mereka selesaikan berdua. Kau tak salah, oke?"
"Hm." Jungkook menyenderkan tubuhnya pada bahu Adline. Jungkook mungkin lelah, dia tak sempat istirahat setelah turun dari pesawat. Dia langsung ke rumah sakit untuk menemani Adline.
Adline nampak bahagia, pria yang sangat ia rindukan kini ada di hadapannya. Beberapa kali ia menepuk-nepuk pipinya, bahkan dia mencubit tangannya sendiri. Adline tak percaya, membuat keduanya tertawa.
Kini mereka ada di restoran dekat rumah sakit. Tak ada yang lebih indah dari menghabiskan waktu dengan orang yang kita sayangi. Itu sangat menyenangkan!
**
Beberapa bulan kemudian...
Kini usia kandungan Yora sudah delapan bulan. Sedangkan Aera, dia sudah menikah dengan Taehyung dua bulan yang lalu, dan usia kandungannya sekarang sudah empat bulan.
"Arghhh." deciknya geram, Aera mencoba semua baju, namun tak ada yang muat satu pun. Itu karena perutnya yang kini sudah membesar. Aera berdiri di depan cermin dengan tatapan kosongnya.
"Bersiaplah! Kita akan pergi sekarang." Taehyung berdiri di sampingnya, ia merapikan baju yang di pakainya. Dia nampak tampan, ya selalu tampan!
Aera pergi dan duduk di atas kasurnya tanpa mempedulikan Taehyung. Dengan hanya mengenakan bra dan CD, Aera sudah tak peduli lagi dengan semuanya. Termasuk dengan tubuhnya sendiri.
"Kau akan seperti itu seharian?" tatapannya selalu mengintimidasi, meskipun sebelumnya Taehyung yang selalu mengalah dengan semua perintahnya, kali ini terbalik. Seangkuh apapun seorang Aera, dia tetap punya kelemahan. Dan sekarang Taehyung sudah dapat menguasainya.
Setelah mendengar perkataan Taehyung barusan, Aera memutar bola matanya lalu mengambil satu-satunya dres yang tergantung dalam lemarinya. Aera terpaksa memakai itu meskipun itu dres yang menurutnya sudah ketinggalan zaman. Namun Aera tak punya pilihan lagi.
__ADS_1
**
"Bagaimana dengan rencana bulan madu kalian?"
Senyuman itu... selalu berhasil membuatnya merasa tenang ketika melihatnya. Nyonya Jeon memang sangat baik pada Adline. Dia tak pernah memarahinya sekali pun walaupun Adline melakukan kesalahan. Begitu pun dengan putranya, Jeon Jungkook.
Mereka kini sudah menikah, Jungkook membawa Adline untuk tinggal di rumahnya. Itu karena permintaan ibunya yang selalu merasa kesepian. Oh ya, ayahnya meninggal baru-baru ini karena kecelakaan yang terjadi ketika ia sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota. Jungkook dan ibunya masih sangat terpukul dengan itu semua.
"Kurasa aku sudah memutuskan semuanya."
balas Adline menyeringai dengan pipinya yang sudah mulai matang.
"Ah syukurlah." tangan lembutnya kini menyentuh tangan Adline. Ia selalu seperti ini. Penuh kasih sayang dan perhatian. Adline rupanya sangat bersyukur memiliki ibu mertua yang sangat menyayanginya. Ia merasa sangat puas dengan kasih sayang yang di berikan oleh Nyonya Jeon dan juga putranya.
**
"Ah kenapa sulit sekali..." gumamnya membuat Jimin sesekali menoleh dan memperhatikan apa yang sebenarnya sedang Yora lakukan.
Jimin tertawa pelan, ketika melihat Yora yang berusaha menyentuh jari kuku kakinya, namun ia selalu gagal menyentuhnya. Itu semua karena perutnya yang sudah sangat besar.
Jimin mengambil alih gunting kuku yang Yora pegang, dengan matanya yang kini sudah tenggelam karena menertawakannya tanpa henti.
"Ya! Apa ini lucu?" Yora melipatkan tangannya di dada, bola matanya memutar karena kesal. Ia menatap Jimin sinis. Tak lupa dengan bibir tipisnya yang mulai mengerut.
"Iya kau sangat lucu. Aku gemas sekali melihatmu." Jimin mencubit kedua pipi Yora dengan gelak tawanya. Jimin benar-benar mudah tertawa tanpa bisa menghentikannya segera.
**
"Apa aku yang harus memilihkan baju untukmu?" Taehyung diam mematung, menatap Aera sambil mengeraskan rahangnya. Sementara Aera masih setia melipat tangannya dengan mata yang tak pernah menoleh Taehyung sedikit pun.
Kini keadaan menjadi terbalik. Dulu, Aera yang selalu memerintah dan menindas, sedangkan sekarang? Aera menjadi sangat lemah sehingga harus menuruti apa yang Taehyung perintahkan padanya. Aera yang malang!
Bagaimana dengan direktur Lee? Dia sudah pergi ke luar negri setelah pernikahan Aera dan Taehyung. Direktur Lee tak pernah mengabarinya sekali pun setelah kepergiannya dari Korea, itu membuat Aera sering kali termenung memikirkan bagaimana keadaannya sekarang? Apakah ayahnya itu baik-baik saja?
Kabar baik terus bermunculan. Setelah kurang lebih empat bulan Jimin menggantikan posisi direktur Lee. Perusahaannya semakin maju pesat dari sebelumnya. Tak lupa juga itu berkat bantuan Taehyung yang ikut bekerja keras membantu Jimin dalam mengelola perusahaan.
"Kau harus menandatangani ini!" Taehyung menunduk sambil menyodorkan sebuah berkas yang di bungkus dengan map berawarna biru. Taehyung tampaknya masih sangat menghargainya sebagai atasan, meskipun diluar jam kerja mereka terlihat sangat akrab, namun ketika berada di dalam kantor beda lagi. Mereka jadi lebih menghargai jabatan masing-masing.
"Baiklah." Jimin mengambilnya dengan sesekali menoleh ke arah Taehyung yang menunduk. Membuat Jimin tersenyum, menenggelamkan matanya. Jimin merasa ini seperti sebuah drama, dimana ia dan Taehyung harus banyak berakting di dalamnya.
Begitulah keseharian mereka, ya bisa di bilang penuh dengan drama. Namun mereka layaknya aktor yang sudah berpengalaman. Memainkan peran dengan sangat hebat dan tepat. Mereka benar-benar pandai berakting.
"Tuan ada istrimu di luar!" tiba-tiba sekertaris Taehyung masuk. Dia tampak mengatur nafasnya setelah berbicara dan menunduk. Apakah ini pertanda buruk?
"Istriku?" tanya Taehyung meyakinkan. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan mata yang kini saling bertatap dengan Jimin tak lupa dengan menaikkan bahu dan alisnya.
"Istrimu juga Tuan!" sekertaris Taehyung menunjuk Jimin dengan sopan.
Sontak keduanya membulatkan mata tak percaya. Kenapa mereka datang secara bersamaan? Apakah mereka merencanakan ini sebelumnya? Atau ini hanya kebetulan saja.
Keduanya berlari setelah cukup lama mereka saling menatap dengan mulut yang membulat. Yang mereka takutkan Aera akan membuat ulah di sana. Maka dengan cepat mereka menemui Yora dan Aera.
__ADS_1
"Jim!" Yora berlari merangkul Jimin setelah melihatnya dari jauh. Sementara Aera, masih setia melipatkan tangannya di atas dada sambil sesekali menatap sinis ke arah Yora dan Jimin yang tengah bermesraan.
"Ada apa kemari?" tanya Jimin sambil merapihkan rambut Yora yang sedikit berantakan. Mereka berada agak jauh dari Taehyung dan Aera.
Belum sempat Yora menjawab, Aera berbicara sangat lantang sehingga Jimin dan Yora ikut menolehnya, "Ya Taehyung-ssi! Kenapa kau tak menjawab telponku hah?" Aera membentaknya.
"Ya! Pelankan suaramu! Kau tahu ini dimana eoh?" Taehyung mengeraskan rahangnya dengan tangan yang sudah memegang rahang istrinya itu dengan kasar. Lalu ia menarik Aera untuk segera pergi dari tempat itu.
Yora dan Jimin saling menatap, heran dengan mereka. Jimin menarik tangan Yora untuk segera duduk, "Apa tadi Aera tak berbuat apapun padamu? Atau berkata kasar? Atau---"
Yora menyeka pembicaraan Jimin dengan meletakkan tangannya pada kedua pipi Jimin. Membuatnya diam membisu, ia hanya menatap Yora lekat. Dan di balas dengan senyum terhangat yang Yora sunggingkan.
"Tidak. Aera tak melakukan apapun padaku."
Jimin tersenyum lega, lalu memeluknya dengan hembusan nafas yang terdengar agak tenang dari sebelumnya. Itu karena tadi ia sangat cemas, dan sekarang jawaban Yora sangat meyakinkannya.
"Aku ingin makan siang denganmu, boleh?" Yora melepas pelukannya, mendongakkan wajahnya dengan tatapan memelas. Membuat Jimin menenggelamkan lagi matanya dan mengacak-acak rambut Yora gemas.
"Tentu saja istriku!" Jimin mengecup pucuk kepala Yora, lagi-lagi Yora tersungkur malu dan menyembunyikan wajah merah meronanya di belakang tubuh Jimin. Rasanya ia ingin berteriak namun ia hanya akan malu sendiri saja.
Tanpa basa-basi Jimin menarik tangan Yora untuk segera pergi dari sana. Jimin membawa Yora pada salah satu restoran yang sangat ingin Yora kunjungi dari dulu dan ia baru bisa mengunjunginya sekarang bersama Jimin.
Mereka memesan makanan masing-masing, Yora sempat kesulitan beberapa kali karena perut buncitnya yang sudah sangat besar. Namun Jimin selalu membantunya dengan sangat baik. Jimin selalu siap sedia ketika Yora membutuhkan bantuan apapun.
**
"Lepaskan! Tanganku sakit brengsek!" Aera menepis tangan Taehyung sangat kasar. Mereka kini berada dalam mobil, bersiap untuk segera pulang. Taehyung masih memasang wajah sangarnya, ia masih marah atas perbuatannya tadi yang hampir saja mempermalukannya.
"Kenapa kau bersikap seperti itu tadi?" Taehyung mulai meredakan sedikit demi sedikit emosinya. Belajar mengalah mungkin itu lebih baik daripada sama-sama keras kepala. Taehyung mencoba menanyakannya dengan baik dan kepala dingin pada Aera yang nampak sangat kesal.
"Kau mungkin sudah tahu jawabannya!" ketusnya tanpa menoleh Taehyung. Ia memandang datar ke depan. Tatapannya sangat menyeramkan ketika sedang marah seperti itu.
Taehyung menghembuskan nafas kasar, sambil kembali pada posisinya. Jimin! Taehyung tahu jawabannya pasti karena Jimin. Taehyung memegang keningnya yang berkerut. Taehyung merasa usahanya selama ini gagal total, ia masih belum bisa membuat Aera melupakan Jimin sepenuhnya.
"Ya, lihat aku!" Taehyung membalikkan tubuh Aera perlahan, memegang bahunya lembut dan mulai berbicara serius padanya.
"Apa lagi yang harus ku lihat selain dari kemesraan mereka tadi yang menusuk hatiku?!" Aera berkaca-kaca, sempat-sempatnya ia membicarakan tentang itu di hadapan Taehyung. Namun Taehyung tak akan menyerah semudah itu. Meskipun untuk saat ini ia belum bisa sepenuhnya mencintai Aera, namun ia juga tak mau Aera terus saja tenggelam dalam kesedihan itu karena Jimin.
"Apa bedanya aku dengan Jimin?! Katakanlah... jika ada yang harus ku ubah agar kau bisa melupakannya dan belajar mencintaiku, maka katakanlah... akan ku lakukan apapun itu." Taehyung ikut berkaca-kaca, ia rasa kini ia harus mengorbankan segalanya demi Aera.
"Kau tahu? Bayi ini tak bersalah. Jangan menyiksanya seperti ini. Kau harus bahagia agar bayinya juga sehat dan selamat. Aku tak bisa melihatmu seperti ini terus menerus. Mulailah belajar menghargaiku sebagai suamimu sedikit saja." lanjutnya.
CLAK...
Air matanya mulai menetes tak terasa. Aera kini menatap Taehyung dengan tatapan yang tak seperti biasanya. Matanya mulai sayu, dan... tubuhnya jatuh ke dalam pelukan Taehyung. Aera tak sadarkan diri sekarang!
**
"Kenapa sudah pulang?" Adline terperanjak melihat kedatangan Jungkook yang sangat tiba-tiba. Membuatnya bangkit dari duduknya, menyimpan buku yang sedang ia baca, dan setengah berlari menghampiri Jungkook yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Aku ingin makan siang dengan istriku." Jungkook tersenyum lalu merangkul Adline. Sementara Adline, dia mengaitakan kedua tangannya pada bahu kekar Jungkook. Lalu saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
Kedua pasangan ini tak kalah romantis. Selama ini Jungkook selalu memanjakan Adline. Ia tahu Adline akan mudah sakit jika dia setres. Jadi, Jungkook memutuskan untuk selalu membuatnya tertawa dan bahagia. Tak ada lagi kebahagiaan selain dari melihatnya tertawa bahagia dan penyebabnya adalah Jungkook sendiri. Menurutnya itulah definisi kebahagiaan yang sesungguhnya.