
Cahaya matahari kini sudah mulai menghilang. Digantikan dengan gelapnya malam. Angin sepoi-sepoi menghembus wajah mulus Yora yang sedang berada di balkonnya, melihat matahari yang kini terbenam.
Yora sangat mencemaskan Jimin, fikiran negatifnya kini mulai bermunculan dalam kepalanya.
"Kak?" Adline membuyarkan lamunan Yora.
"Iya?" sahutnya kaget.
"Aku akan pergi ke rumah Jungkook sekarang, boleh?" Adline memainkan tangannya.
"Pergilah, jangan pulang terlalu malam!" Yora mengantar Adline ke depan.
Nampak Jungkook yang sedang berada di dalam mobilnya, dengan jendelanya yang di biaran terbuka. Mengangguk setelah melihat kedatangan Yora, hendak menemuinya, namun Yora menahan Jungkook agar tetap berada di dalam mobil.
"Jaga Adline baik-baik ya? Pulangkan lagi dengan selamat." Yora tersenyum sangat lebar, membuat keduanya jadi ikut tersenyum.
"Baiklah. Aku pergi dulu, jaga diri baik-baik." Jungkook tersenyum dan mengangguk memberi hormat pada Yora.
Setelah mereka pergi, Yora kembali lagi ke dalam rumahnya.
Dilihatnya layar ponselnya, sudah menunjukkan pukul 22:00 malam. Tapi Jimin belum datang juga. Membuat Yora semakin khawatir di buatnya.
Yora menunggu kedatangan Jimin, dia mondar-mandir lalu duduk dan akhirnya berbaring di sofa itu. Tak terasa, Yora terlelap.
Adline tiba-tiba pulang, setelah Yora terlelap agak lama. Adline tak tega membangunkannya. Dia hanya duduk di sampingnya saja, untuk menemaninya sambil menonton tv.
"Kak? Kau dimana?"
Adline mengirim pesan pada Jimin, karena dia juga khawatir.
"Aku sedang di jalan. Malam ini sangat macet sekali, heh." balasnya.
Memang, ketika tadi Adline pulang pun, jalanan sangat macet. Tak heran Jika Jimin juga terjebak macet. Adline masih bisa memakluminya.
Oh ya, Adline juga tak tahu menahu tentang Aera, karena Jimin tidak pernah menceritakannya.
"Jim... ah kenapa kau lama sekali, eoh?"
Yora mengigau, dia sampai memimpikannya.
Adline mengelus rambutnya, mencoba menenangkan Yora.
Setelah cukup lama Adline menunggu, akhirnya Jimin datang juga.
"Ah akhirnya!" Adline menghembuskan nafasnya lega.
"Kenapa Yora tidur disini?" Jimin membulatkan matanya ketika melihat Yora yang sudah terlelap di sofa.
"Dia menunggumu!" Adline sambil sesekali menguap karena mengantuk.
"Kau pergi saja tidur! Biar ini nanti kuurus." titah Jimin.
"Ah baiklah." Adline langsung masuk ke dalam kamarnya.
Jimin membuka jas hitamnya, juga membuka dasinya. Menaruh tas kerjanya dan langsung membuka lemari es karena dia merasa kehausan dari tadi.
Dia duduk di bawah, tepat di dekat Yora. Dengan tangan yang masih memegang gelas, dia sesekali memperhatikan wajah istrinya itu.
Sempat ragu, namun Jimin tak tahan melihat rambutnya yang kini menutupi sebelah wajah Yora, membuatnya ingin segera menyingkapkannya.
Tangannya kini tergerak, menyingkapkan rambutnya dan menyelipkannya pada telinganya, agar tak terurai lagi.
Setelah cukup puas memandang wajah Yora, Jimin kini mengangkat tubuh Yora, memindahkannya ke kamarnya.
"Kau sudah pulang?" ucapnya seperti mengigau, Jimin tak menghiraukannya, dia segera menaruh tubuh Yora di atas kasur empuknya itu.
Jimin menghembuskan nafas, merasa lega setelah memindahkannya. Dia lalu mandi dan tidur di samping Yora.
Jimin nampak tak bisa tidur. Dia hanya menatap kosong ke atap-atap langit kamarnya. Sepertinya dia sedang banyak pikiran.
**
Tring... tring... tring...
Alarmnya berbunyi, membuat Yora terpaksa membuka mata, untuk mematikannya.
Dilihatnya tak ada siapapun di sana, di sampingnya juga di sofa kamarnya, Yora tak menemukan Jimin di sana.
"Ah mungkin dia sedang mandi."
Yora menunggu Jimin di kasurnya, tersenyum sangat bahagia, berharap dugaannya benar.
Namun, tebakannya salah. Jimin juga tak ada di kamar mandi.
__ADS_1
Tring... sebuah pesan masuk.
"*Aku sudah pergi dari tadi. Maaf tidak membangunkanmu lebih dulu. Hari ini aku ada pertemuan dengan Direktur Lee, jadi aku tidak boleh terlambat."
"Bolehkah aku menangis*?"
Yora berbicara pada dirinya sendiri
"Tak apa. Jangan telat makan, nee?"
Yora membalasnya dengan tangan yang kini gemetar hebat, menahan tangisnya yang sudah tak tertahan lagi.
Tak ada balasan lagi dari Jimin. Membuat Yora benar-benar mengeluarkan air matanya.
Kerinduannya yang sangat besar pada Jimin, membuat Yora tersiksa. Rindunya selalu menuntut temu, di sela-sela Jimin sedang sibuk-sibuknya bekerja.
Hari-harinya terasa sangat lama, dia habiskan hanya untuk memikirkan dan mencemaskan Jimin. Tak ada lagi. Yora sudah jatuh terlalu dalam padanya.
"Direktur Lee telah tiba, sebaiknya Tuan segera menemuinya!" ucap Tuan Oh.
Jimin mengangguk, Jimin berjalan dengan wajah malas bertemu dengannya. Dia tahu bahwa direktur Lee akan membicarakan tentang Aera, bukan soal pekerjaan.
"Duduklah!" titah direktur Lee, setelah Jimin membungkuk memberi hormat padanya.
"Ada apa direktur memanggilku?" tanya Jimin, mempersingkat waktu.
"Ah, semenjak kau cuti, Aera tak henti-hentinya merengek padaku. Dia selalu ingin bertemu denganmu." direktur Lee tertawa sangat keras setelah mengatakan itu.
"Hm," Jimin hanya mengangguk, dia sangat muak ketika membahas ini.
"Jadi, ku harap kau bisa meluangkan sedikit waktumu untuk Aera." direktur Lee menepuk punggung Jimin, lalu berjalan keluar dari sana.
Namun, kenyataannya yang di pikirkan Jimin adalah bagaimana dia bisa meluangkan sedikit waktunya untuk Yora, bukan untuk Aera.
Di satu sisi, Jimin tak bisa menolak titah diretur Lee. Di sisi lain, Jimin tak tertarik pada Aera. Bagaimana pun Yora lebih menarik menurutnya.
Jimin kembali ke ruangannya, dia menghubungi Tuan Oh agar segera datang ke sana.
"Ya? Ada apa Tuan?" Tuan Oh berdiri di hadapan Jimin.
Jimin menarik Tuan Oh, mendudukannya di sofa, dengan Jimin yang kini ikut duduk di sampingnya.
"Aku ingin bertanya," Jimin tersenyum.
"Santailah, jangan canggung seperti itu. Anggap saja kau sedang berbicara dengan putramu, oke?"
"Ah baiklah." Tuan Oh menghela nafas.
"Aku sangat malu bertanya ini padamu." Jimin menggaruk kepalanya.
"Hhhh?" Tuan Oh membulatkan matanya.
"Ehem, kita mulai saja. Kau 'kan sudah lama menikah, dan menurutku kau suami yang sangat baik Tuan Oh, izinkan aku untuk mengetahui rahasia di balik suksesnya kau menjadi seorang suami yang baik." Jimin mendekatkan wajahnya, menatap Tuan Oh lekat sambil sesekali menyeringai.
"Ah itu?" Tuan Oh ikut menyeringai.
Jimin mengangguk sangat cepat. Ingin segera tahu jawabannya.
"Yang ku lakukan selama ini, hanya selalu mengalah, dan harus mengerti perasaan istriku. Aku tak pernah memukul atau melakukan kekerasan lainnya ketika aku sedang marah, lebih baik aku pergi saja dari rumah. Aku juga selalu memperlakukannya dengan lembut, karena wanita selalu menginginkan itu Tuan! Aku lihat Tuan sangat sibuk akhir-akhir ini, maka luangkanlah sedikit waktu untuk istrimu, mungkin saja dia rindu menghabiskan waktu denganmu Tuan!" jelas Tuan Oh membuat Jimin tertunduk.
"Aku akhir-akhir ini pulang ketika istriku sudah tidur, dan aku kembali berangkat kerja sebelum istriku bangun. Heh..." Jimin menghela nafas.
"Mwo?" Tuan Oh membulatkan matanya.
"Percepat semua jadwalku! Pastikan hari ini aku pulang lebih awal!" Jimin beranjak dan kembali pada kursinya.
"Baiklah Tuan!" Tuan Oh terlihat sangat bersemangat.
Hari ini, Jungkook datang menemui Adline .
"Apkah Hyung belum pulang?" tanya Jungkook melihat ke sekeliling sambil melihat jam tangannya.
"Hm, ini sudah pukul 08:00, tapi dia belum pulang juga." lanjut Jungkook.
"Kakakku memang sibuk akhir-akhir ini, jadi dia sering terlambat pulang." tukas Adline.
Sementara Yora hanya menunduk, Jungkook mengingatkannya lagi pada Jimin.
"Kau baik-baik saja?" Jungkook memastikan.
Yora hanya mengangguk sambil tersenyum.
Kebetulan Yora telah membuatkan mereka Cake, sehingga dengan lahapnya Jungkook dan Adline memakannya. Mereka sangat romantis.
__ADS_1
"Kemarilah! Lihat bibirmu!" Jungkook tertawa melihat bibir Adline yang penuh dengan sisa makanan seperti anak kecil.
Adline merapatkan badannya, "Bibirku kenapa?" Adline mendekatkan wajahnya pada wajah Jungkook.
Jungkook langsung mengelap bibir mungil Adline dengan ibu jarinya. Sangat lembut, sambil sesekali tersenyum, menunjukkan gigi kelincinya yang khas itu.
Adline tersenyum, menatap Jungkook lekat. Mereka sampai tak menyadari bahwa Yora memperhatikan mereka.
"Ah aku akan ke belakang dulu sebentar!" Yora akhirnya merasa tak enak, dia jadi malu sendiri melihat kemesraan mereka.
Adline lalu menyenggol tangan Jungkook, dan membulatkan matanya.
"Aku tak menyadarinya Tuhan!" Jungkook memukul-mukul sofanya.
"Aku juga!" Adline menutup mulutnya yang tengah terbuka.
Jimin mengakhiri pekerjaannya, tak sia-sia dia bekerja sangat keras hari ini. Akhirnya Jimin bisa pulang lebih awal.
"Rumah terasa sangat sepi, padahal sekarang baru jam 21:00, apakah Yora dan Adline sudah tidur?"
Jimin melihat jam tangannya meamastikan bahwa yang dia lihat benar.
Akhirnya dia sampai di depan pintu kamarnya, tadinya dia ingin langsung masuk, namun setelah memegang gagang pintunya, Yora ternyata menguncinya.
Terpaksa Jimin harus mengetuk pintunya.
Tok... tok.. tok...
"Ah pasti aku sedang bermimpi!" Yora dengan bantal yang dipakai untuk menutupi telinganya.
Jimin mengetuk lagi, "Kau sudah tidur?"
"Sial, kenapa suaranya masih saja terngiang-ngiang di telingaku!" Yora masih menganggap itu hanya imajinasinya.
"Apakah dia marah padaku?" Jimin nampak heran
"Yasudah, aku tidur di luar saja!" teriak Jimin hendak berbalik, namun...
CEKLEK... Yora akhirnya membuka pintunya
Yora mematung, melihat laki-laki yang dari kemarin dia rindukan, kini ada di depannya. Yora sungguh tak bisa berkata apa-apa.
"K-kenapa kau sudah pulang?"
"Apa kau mau aku menginap di kantor, hm?" Jimin menaikkan sebelah alisnya.
Yora memalingkan wajahnya, tak ingin menampakkan matanya yang sudah berkaca-kaca karena terlalu senang melihat kedatangannya.
"Aku tahu kau marah, maafkan aku." Jimin menunduk sambil mengusap alisnya.
"Aku sudah pulang sekarang, dan kau juga belum tidur. Kemarilah!" Jimin membuka kedua tangannya, mempersilahkan Yora untuk masuk ke dalam pelukannya.
Tanpa basa-basi Yora merangkulnya, sangat erat, sambil terisak. Membuat tubuh Jimin sedikit oleng karena Yora terlalu keras merangkulnya.
"Ow..." Jimin tertawa sambil mengelus rambut Yora, dia menempelkan dagu lancipnya pada kepala Yora.
"Kau tahu? Aku sangat merindukanmu!" Yora memukul pelan dada Jimin.
"Maafkan aku hm? Aku janji tak akan pulang telat lagi." Jimin mendongakkan wajah Yora untuk menatapnya.
Bukannya diam, Yora malah semakin kencang menangis. Terharu, karena melihat perubahan Jimin yang kini sudah terbilang sembuh sepenuhnya, juga karena akhirnya rindu itu kini terbalaskan.
"Ah kenapa kau menangis? Apakah aku salah berbicara?" Jimin melepaskan dekapannya, kini tubuhnya agak membungkuk, dengan tangan yang kini memegang pundak Yora, menatapnya tak berkedip.
Yora menggeleng, dan memeluk Jimin lagi.
"Aish..." Jimin tertawa melihat tingkah istrinya itu, Yora bahkan tak mau melepaskan dekapannya. Sehingga dengan terpaksa Jimin masuk ke kamarnya sambil merangkul Yora.
"Lepaskanlah dulu, lihat bajuku sudah sangat basah karena air matamu, setelah aku mandi, kau boleh memelukku lagi, bahkan jika perlu kau boleh memakannya, sepertinya kau sangat menyukai tubuhku hm?" Jimin menggoda Yora, berhasil membuat Yora melepaskan pelukannya, dengan pipinya yang kini memerah.
"Ya! Aku tidak menyukai tubuhmu! Tubuhmu jelek!"
"Apa kau yakin?" Jimin mulai membuka satu persatu kancing bajunya.
"Ya! Kau mau apa?!" Yora mulai gugup.
"Mandi!" Jimin berlalu dengan handuk di pundaknya, dia tak berhenti tertawa hingga masuk ke kamar mandi.
"A-apa ada yang lucu?" Yora memegang pipinya.
Ya, yang membuat Yora ingin terus memeluk Jimin, karena aroma tubuh Jimin yang sangat Yora suka. Dia selalu nyaman ketika berada dalam dekapannya.
"Ah... akhirnya..." Yora membantingkan tubuhnya pada kasur empuk berwarna putih itu.
__ADS_1