
Tiba-tiba Jimin masuk, dan berjalan melewati Yora, tanpa menolehnya sedikit pun.
"K-kau mau kemana?!" teriak Yora menghentikan langkahnya.
"Tidur!" jawabnya singkat.
"Aku ikut!" Yora langsung mematikan tv nya dan bergegas menyusul Jimin.
"Apa yang ku katakan? Ah bodoh!"
"M-maksudku, aku juga akan tidur." Yora tersenyum tipis dan memainkan tangannya.
Jimin tak menjawab, dia melangkahkan kakinya dengan terburu-buru, dengan diikuti Yora yang kini sudah ada di belakangnya.
Jimin duduk di sofa, seperti biasa, dia akan tidur di sofa lagi.
Akhirnya, setelah menunggu Jimin terlelap. Yora baru bisa memejamkan matanya. Namun, ada satu masalah, Yora lupa mengatur suhu AC nya, dan itu sangat dingin.
Malam semakin larut, udara dari luar yang masuk lewat ventilasi kamarnya itu, kini berbaur dengan udara yang di keluarkan oleh mesin AC. Membuat kedua udaranya menyatu, dan itu membuatnya semakin dingin.
Yora terbangun, memegang dadanya.
"Ah, sesak sekali... bagaimana ini?"
Kini, yang di rasakan Yora adalah, lehernya serasa di cekik oleh puluhan tangan, dadanya sesak, dan kini air mata keluar dari mata indahnya itu.
"Aku harus minta tolong pada siapa?"
Yora hanya bisa menangis menahan sesaknya. Membuat Jimin terbangun dan memeriksa apa yang terjadi.
"Ada apa?"
"D-dadaku...S-sesak...Hiks..." Yora semakin kencang menangis.
"Sudah minum obat?" Jimin agak cemas melihatnya seperti itu.
Yora menggeleng sebagai jawaban. Karena itu akan sia-sia, penyakitnya tidak akan sembuh dengan obat.
Jimin terpaksa menghampiri Yora, duduk di depannya, walaupun jaraknya agak jauh.
"A-aku akan membawakan obat untukmu!" Jimin hendak pergi, namun...
"T-idak perlu, P-ijatkan s-saja punggungku... ohok..." Yora semakin sesak.
Jimin terlihat sangat ragu, namun melihat keadaan Yora sekarang, membuatnya merasa tak tega.
"K-kemarilah!"
Yora memajukan badannya, menghapus jarak diantara mereka. Yora membalikan badannya.
"Ah kenapa aku sangat gugup?"
Jimin mulai meletakkan tangan mungilnya itu perlahan pada punggung Yora. Dan memijitnya perlahan, walaupun kini tangannya gemetar hebat, karena sebelumnya dia belum pernah melakukan itu.
"Ah...masih sesak Jim..." Yora mulai menangis lagi, tak kuasa menahan sesaknya itu.
Setelah berfikir cukup keras, akhirnya Jimin mengingat sesuatu.
Jika seseorang memiliki penyakit sesak apada dadanya, maka jika penyakitnya kambuh, kau harus menggosokan obat hangat pada tubuhnya.
Terbesit di kepalanya, Jimin pernah membaca itu pada salah satu buku.
"T-tunggu sebentar, aku akan mencari kotak obat!"
Jimin berlari, meninggalkan Yora yang kini tengah terisak.
"Haruskah aku membuka bajunya? Ah yang benar saja!"
__ADS_1
T-tapi obat ini harus di gosokkan pada tubuhmu, pakailah ini di kamar mandi!" Jimin gugup.
"Aku tak bisa! Bahkan untuk bernafas saja aku sangat kesulitan!"
Yora kini duduk berhadapan dengan Jimin. Membuat Jimin tak bisa menghindari tatapannya, dan juga matanya yang kini sangat bengkak dan memerah karena dia tak berhenti menangis.
Yora memeluk Jimin. Menangis dalam pelukannya.
"Bantu aku! Kumohon..."
"Ttapi kau harus membuka bajumu dulu, jika tidak, bagaimana aku bisa menggosokkannya?" Jimin benar-benar gemetar kali ini, detak jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelumnya.
Tanpa menunggu lama, Yora membuka bajunya. Kini, hanya menyisakan Bra yang menempel di tubuh mulusnya itu.
Kembali memeluk Jimin. Seolah-olah tak ada keraguan dalam hatinya, Yora tak mempedulikannya. Lagi pula apa salahnya? Jimin 'kan sudah menjadi suaminya sekarang.
"M-maaf." Jimin melepaskan tali branya dengan mata yang sesekali terpejam.
"Gila, aku bisa gila!"
Jimin menggosokkan obatnya, dan memijitnya perlahan. Membuat Yora menghentikan tangisnya.
Tapi tak melepaskan cengkraman tangannya, malah semakin erat Yora memeluk Jimin.
Setelah cukup lama, Jimin menyadari sesuatu. Suhu AC yang sangat dingin, mungkin itu yang membuat penyakitnya kambuh.
Yora kini tertidur di pelukan Jimin. memaku semua pergerakannya.
"Baiklah, sekarang aku sudah melihatnya!"
Dengan refleks tangan Jimin kini mengusap rambut Yora perlahan dan juga menempelkan dagu lancipnya pada kepala Yora.
"Ternyata tidak seburuk itu."
Jimin tersenyum tipis.
**
Matahari mulai naik ke permukaan, rasa sesak yang dirasakan Yora semalam, kini tak lagi terasa. Yora hanya merasakan kehangatan yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan.
"*Apa semalam aku seperti ini? Jimin tidur denganku? Oh lihatlah tangannya, dia memelukku!"
"YA! APA JIMIN SUDAH MELIHATNYA*?"
Batin Yora setelah membuka matanya. Dan yang pertama terlihat adalah wajah Jimin yang begitu dekat dengan wajahnya.
"Kau sudah bangun hm?..." Jimin berbicara dengan mata yang masih tertutup, terlihat sangat lelah.
Yora merapatkan selimutnya, membalutkan pada badannya.
"Maaf aku tidur disini!" Jimin kembali memejamkan matanya.
"K-kenapa harus minta maaf? Aku tak keberatan." ucap Yora gugup.
Jimin baru menyadarinya, dia terperanjak dari tidurnya.
"Terima kasih, kau sudah menolongku semalam." Yora mencoba menghangatkan suasana.
Jimin beranjak, pergi mengambil sebuah handuk yang menggantung, lalu melemparkannya pada Yora.
"Mandilah! Bersihkan badanmu!" Jimin duduk dan menautkan tangannya, tak berani menatap Yora.
Yora bergegas masuk ke dalam kamar mandi, dia berjinjit-jinjit di dalam sana. Sangat bahagia melihat sedikit perubahan pada Jimin, yang kini lebih memperhatikannya.
"Apa aku mimpi?"
Yora kini selesai membersihkan seluruh badannya. Dia terlihat sangat segar hari ini.
__ADS_1
Yora tertegun, ketika melihat ada nampan yang berisi roti dan susu di atas mejanya.
"Siapa yang menyiapkan ini untukku?"
Yora menghampiri nampannya, dengan handuk yang masih membaluti tubuhnya.
Karena kebetulan dia sangat lapar, jadi Yora memakannya.
Sementara Jimin, dia berniat ingin kembali ke kamarnya, mengambil ponselnya yang tertinggal.
"Apa Jimin tak membawa ponselnya?" gerutu Yora ketika melihat ponsel Jimin yang tergeletak di atas meja
Satu langkah lagi Jimin masuk, namun dia menghentikan langkahnya, ketika melihat Yora yang masih berbalut dengan handuk. Jimin takut mengganggunya, jadi dia berniat ingin kembali ke luar.
BRUKK!
Jimin terpeleset, karena lantainya baru saja di pel. Dia sungguh sangat ceroboh, selalu seperti itu.
"Kau tak apa?" Yora menghampirinya, dengan mulut yang masih penuh dengan roti.
"Tak apa. Aku baik-baik saja!" Jimin terlihat sangat gugup dan malu, sambil sesekali memegang pantatnya.
"A-aku hanya ingin mengambil ponselku," lanjutnya.
"Ambilah! Kenapa kau tak masuk saja hm?"
"Aku takut mengganggumu." Jimin menundukkan kepalanya.
"Ya! Aku sekarang melihatnya! Aku sangat ingin menggigit pipinya yang kini memerah. Demi kerang ajaib, dia sangat kekanak-kanakan, membuatku gemas melihatnya."
Dadanya kini berdebar, Yora tak kuasa melihat Jimin seperti itu padanya.
"Ayo ambilah!" Yora menarik tangannya masuk ke dalam dan Jimin tak bisa menolaknya.
"Apa kau yang membawakanku ini?" Yora menunjuk nampannya.
Jimin mengangguk, "Kau sedang sakit, istirahtlah yang cukup! Aku akan pulang terlambat hari ini, jika kau butuh sesuatu panggil Adline atau jika sesuatu terjadi, kau bisa menghubungiku."
"Aku tak menyadarinya karena terlalu bahagia. Hingga melupakan bahwa hari ini Jimin akan pergi ke kantornya. Dan aku, tidak menyiapkan apa-apa untuknya!"
"Ya, aku sudah lebih baik sekarang. Kau boleh pergi."
Jimin pergi, membuat Yora agak sedih melihatnya. Yora sangat ingin melihat Jimin berada di rumah setiap hari.
Perubahan yang sangat pesat yang kini dirasakan oleh Yora. Dia mendapat begitu banyak kejutan dari perubahan Jimin.
Apakah Jimin sudah mulai mencintainya?
"Kak? Kau tahu? Aku sangat bahagia sekarang." Adline melompat-lompat dia atas sofa.
"Apakah kalian sudah resmi berpacaran?" Yora mendekatkan wajahnya pada wajah Adline
"Hm..." Adline pura-pura berpikir.
"Ah sudah kuduga, Chukae!"
"Aku sangat malu, dia menyatakan persaannya padaku." Adline menutup wajahnya yang sudah memerah itu.
"Jungkook, dia laki-laki yang sangat baik, jangan kecewakan dia, hm?"
"Tak akan! Aku akan bertahan dengannya apapun yang terjadi! Sungguh." Adline berbicara penuh penegasan.
"Aku akan mencontohmu kak! Kau juga sudah bertahan dengan kakakku. Kakakku sangat beruntung." lanjutnya sambil mengelus tangan Yora.
"Ya, aku juga sangat bahagia sekarang!" Yora sangat antusias, dia sungguh tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya sendirian.
"Ah oke oke jangan di jelaskan lagi, aku tahu! Apalagi alasan kakak bahagia jika bukan karena kakakku."
__ADS_1
"Tepat sekali." Yora mengedipkan matanya.