SENTUHANMU

SENTUHANMU
Foto itu...


__ADS_3

Irama-irama kebahagiaan kini keluar dari mulut Yora. Dia bersenandung, menggambarkan kebahagiaannya. Sambil membuat dua gelas teh manis, untuknya dan untuk Adline.


"Tumben sekali Adline belum bangun."


Tok... tok.. tok.. Yora mengetuk pintu kamar Adline.


CEKLEK.


Adline membuka pintunya  dengan wajahnya yang pucat pasi.


"Apa kau baik-baik saja?" Yora langsung menaruh nampannya tangannya dengan segera dia tempelkan pada kening Adline.


"Ah panas sekali. Sepertinya kau demam."  lanjutnya.


"Temani aku ke rumah sakit, kak!" lirih Adline.


"Baiklah, aku akan mencari taksi dulu." Yora hendak pergi.


"Tidak perlu kak! Jungkook akan segera datang, dia akan mengatar kita."


"Ah baiklah."


Jungkook akhirnya datang, kini langkahnya tidak seperti biasanya. Dia berjalan agak cepat, mungkin saja dia cemas.


"Kau tak apa hah?" Jungkook langsung menghampiri Adline.


"Kau pucat sekali." Jungkook juga menempelkan tangannya.


"Ayo! kita harus cepat." ajak Yora.


Akhirnya mereka pergi. Tanpa mengabari Jimin, Yora dan Jungkook pergi membawa Adline ke rumah sakit.


"Aku akan menunggumu disini bersama Jungkook, bertahanlah!"


"Tidak kak! Aku ingin kau saja yang memeriksaku,"


"Pergilah," titah Jungkook.


Yora mengangguk agak ragu. Dia berjalan untuk mengganti bajunya dan langsung masuk ke ruangan Adline. Segera memeriksanya.


"Kau istirahatlah dulu, dua jam lagi kita akan pulang." Yora tersenyum setelah berhasil memeriksanya, lalu keluar membiarkan Adline beristirahat.


"Bagaimana?" Jungkook berdiri ketika melihat Yora keluar.


"Adline hanya kecapean, dia harus banyak istirahat. Jangan dulu menemuinya, biarkan dulu dia tidur, setelah itu kita bisa pulang." jelas Yora menenangkan Jungkook yang dari tadi sangat mengkhawatirkan Adline


"Ah aku sampai lupa untuk mengabari Jimin, aku akan memberitahunya sekarang."


Yora merogoh ponsel dari saku bajunya, namun...


Tring... sebuah notifikasi masuk.


Nomor tak di kenal mengirimkan sesuatu. Yora sangat penasaran, dia membukanya  perlahan. Lalu...


PREE!


Ponselnya terlepas dari tangannya.


"A-apa ini?!" batinnya tak percaya.


"Ada apa?" Jungkook menghampirinya.


"S-siapa wanita itu? Kenapa dia memeluk Jimin seperti itu!"


"Ya! Ada apa?" Jungkook khawatir, dia agak membentak Yora yang tak menghiraukan pertanyaannya.


"A-aku permisi!" Yora pergi ke toilet untuk menangis di sana.


Yora menangis sejadi-jadinya di dalam toilet. Merasa segumpal duri menusuk hatinya. Sangat sakit.


"Aku yang berjuang... tapi kenapa wanita lain yang menikamatinya..."


**


"Apa aku tak salah mengirimkan ini padanya?"


**


Jimin termenung di mejanya, setelah berusaha cukup keras untuk menghindar dari Aera, dan juga mengusirnya. Kini, Jimin semakin muak melihat Aera.


"Jika saja dia bukan putri dari Direktur Lee, sudah ku habisi dia... dasar wanita gila!" gerutunya.


Jimin calling...


"Kenapa dia menelponku sekarang?"


Yora masih terisak, membiarkan ponselnya yang berbunyi karena panggilan dari Jimin.


"Ayolah, kenapa dia tak mengangkat telponku?" Jimin mondar-mandir.


Yora terpaksa mengangkatnya, karena Jimin tak meghentikannya, dia terus saja memanggil Yora.


"Kenapa?"  Yora menahan isak tangisnya.


"Ah kau lama sekali, tidak seperti biasanya."


Yora tak menjawab.


"Yeobseo?" Jimin melihat ponselnya, memastikan bahwa dia masih terhubung dengan  Yora


"Ah kenapa disini dingin sekali..." batin Yora mulai tak enak.


"Ya..." jawab  Yora singkat


"Apa ada masalah?"


Tak ada jawaban lagi. Hanya terdengar suara ponsel yang jatuh cukup keras.


"Ah... apakah toilet ini menempelkan Ac juga?"


Yora memegang dadanya.


Yora mulai melanjutkan tangisnya, kini bukan karena Jimin lagi. Namun, karena dadanya yang mulai sesak. Dengan ponselnya yang masih terhubung dengan Jimin.


"Yora? Apa kau bail-baik saja? Kenapa kau tak menjawabku?"


"J-jim... dadaku..." lirih Yora dengan suara yang hampir habis.


"Penyakitmu kambuh?!" Jimin terdengar sangat khawatir.


"Kau dimana sekarang?"


Tutt... Jimin menutup telponnya setelah mendengar penjelasan Yora.


Jimin akhirnya sampai di rumah sakit, dia di hadang oleh Jungkook yang cemas mencari Yora kemana-mana.


"Ya! Hyung! Kau mau kemana?" Jungkook berlari menghampirinya.


"Apa kau kesini bersama Yora?" Jimin melihat ke sekeliling.

__ADS_1


"Iya, tapi tadi dia terlihat sedih. Aku tak tahu kenapa,"


"Sekarang dia dimana?"


"Aku tidak tahu. Tapi kurasa dia tadi pergi ke kamar mandi, Hyung! Temui dia!"


Jimin segera berlari.


Irama-irama kebahagiaan kini keluar dari mulut Yora. Dia bersenandung, menggambarkan kebahagiaannya. Sambil membuat dua gelas teh manis, untuknya dan untuk Adline.


"Tumben sekali Adline belum bangun."


Tok... tok.. tok.. Yora mengetuk pintu kamar Adline.


CEKLEK.


Adline membuka pintunya  dengan wajahnya yang pucat pasi.


"Apa kau baik-baik saja?" Yora langsung menaruh nampannya tangannya dengan segera dia tempelkan pada kening Adline.


"Ah panas sekali. Sepertinya kau demam."  lanjutnya.


"Temani aku ke rumah sakit, kak!" lirih Adline.


"Baiklah, aku akan mencari taksi dulu." Yora hendak pergi.


"Tidak perlu kak! Jungkook akan segera datang, dia akan mengatar kita."


"Ah baiklah."


Jungkook akhirnya datang, kini langkahnya tidak seperti biasanya. Dia berjalan agak cepat, mungkin saja dia cemas.


"Kau tak apa hah?" Jungkook langsung menghampiri Adline.


"Kau pucat sekali." Jungkook juga menempelkan tangannya.


"Ayo! kita harus cepat." ajak Yora.


Akhirnya mereka pergi. Tanpa mengabari Jimin, Yora dan Jungkook pergi membawa Adline ke rumah sakit.


"Aku akan menunggumu disini bersama Jungkook, bertahanlah!"


"Tidak kak! Aku ingin kau saja yang memeriksaku,"


"Pergilah," titah Jungkook.


Yora mengangguk agak ragu. Dia berjalan untuk mengganti bajunya dan langsung masuk ke ruangan Adline. Segera memeriksanya.


"Kau istirahatlah dulu, dua jam lagi kita akan pulang." Yora tersenyum setelah berhasil memeriksanya, lalu keluar membiarkan Adline beristirahat.


"Bagaimana?" Jungkook berdiri ketika melihat Yora keluar.


"Adline hanya kecapean, dia harus banyak istirahat. Jangan dulu menemuinya, biarkan dulu dia tidur, setelah itu kita bisa pulang." jelas Yora menenangkan Jungkook yang dari tadi sangat mengkhawatirkan Adline


"Ah aku sampai lupa untuk mengabari Jimin, aku akan memberitahunya sekarang."


Yora merogoh ponsel dari saku bajunya, namun...


Tring... sebuah notifikasi masuk.


Nomor tak di kenal mengirimkan sesuatu. Yora sangat penasaran, dia membukanya  perlahan. Lalu...


PREE!


Ponselnya terlepas dari tangannya.


"A-apa ini?!" batinnya tak percaya.


"Ada apa?" Jungkook menghampirinya.


"S-siapa wanita itu? Kenapa dia memeluk Jimin seperti itu!"


"Ya! Ada apa?" Jungkook khawatir, dia agak membentak Yora yang tak menghiraukan pertanyaannya.


"A-aku permisi!" Yora pergi ke toilet untuk menangis di sana.


Yora menangis sejadi-jadinya di dalam toilet. Merasa segumpal duri menusuk hatinya. Sangat sakit.


"Aku yang berjuang... tapi kenapa wanita lain yang menikamatinya..."


**


"Apa aku tak salah mengirimkan ini padanya?"


Jimin termenung di mejanya, setelah berusaha cukup keras untuk menghindar dari Aera, dan juga mengusirnya. Kini, Jimin semakin muak melihat Aera.


"Jika saja dia bukan putri dari Direktur Lee, sudah ku habisi dia... dasar wanita gila!" gerutunya.


Jimin calling...


"Kenapa dia menelponku sekarang?"


Yora masih terisak, membiarkan ponselnya yang berbunyi karena panggilan dari Jimin.


"Ayolah, kenapa dia tak mengangkat telponku?" Jimin mondar-mandir.


Yora terpaksa mengangkatnya, karena Jimin tak meghentikannya, dia terus saja memanggil Yora.


"Kenapa?"  Yora menahan isak tangisnya.


"Ah kau lama sekali, tidak biasanya."


Yora tak menjawab.


"Yeobseo?" Jimin melihat ponselnya, memastikan bahwa dia masih terhubung dengan  Yora


"Ah kenapa disini dingin sekali..." batin Yora mulai tak enak.


"Ya..." jawab  Yora singkat


"Apa ada masalah?"


Tak ada jawaban lagi. Hanya terdengar suara ponsel yang jatuh cukup keras.


"Ah... apakah toilet ini menempelkan Ac juga?"


Yora memegang dadanya.


Yora mulai melanjutkan tangisnya, kini bukan karena Jimin lagi. Namun, karena dadanya yang mulai sesak. Dengan ponselnya yang masih terhubung dengan Jimin.


"Yora? Apa kau bail-baik saja? Kenapa kau tak menjawabku?"


"J-jim... dadaku..." lirih Yora dengan suara yang hampir habis.


"Penyakitmu kambuh?!" Jimin terdengar sangat khawatir.


"Kau dimana sekarang?"


Tutt... Jimin menutup telponnya setelah mendengar penjelasan Yora.

__ADS_1


Jimin akhirnya sampai di rumah sakit, dia di hadang oleh Jungkook yang cemas mencari Yora kemana-mana.


"Ya! Hyung! Kau mau kemana?" Jungkook berlari menghampirinya.


"Apa kau kesini bersama Yora?" Jimin melihat ke sekeliling.


"Iya, tapi tadi dia terlihat sedih. Aku tak tahu kenapa,"


"Sekarang dia dimana?"


"Aku tidak tahu. Tapi kurasa dia tadi pergi ke kamar mandi, Hyung! Temui dia!"


Jimin segera berlari. Sampailah dia di depan pintu kamar mandinya, Yora menguncinya dari dalam, dan sekarang dia tak bisa membukakannya untuk Jimin, karena terlalu lemas.


BRAK!


Jimin mendobraknya, lalu menutup dan menguncinya lagi dari dalam.


"Kau tak apa eoh?" Jimin panik.


Sementara Yora, dia memegang dadanya. Mengatur nafas, dibarengi dengan air mata yang kini mulai menetes.


"Ah, tak bisa kah kau kuat hari ini saja Yora!" batinnya.


Jimin dengan sigap membuka jasnya, menggulung lengan bajunya. Tanpa ragu, Jimin kini menaikkan baju Yora, memeluknya sambil mengoleskan obat hangat pada punggungnya.


Yora masih terisak, dia sangat cengeng.


"Kau sudah baikan hm?" setelah agak lama Jimin memijit punggungnya.


Yora tak menjawab. Dia segera melepaskan pelukannya, ketika mengingat foto tadi. Yora menghindar dari Jimin.


"Kau kenapa?" Jimin heran, sikapnya sungguh tak biasa.


"Kenapa kau berbohong padaku!" Yora menangis lagi, kali ini dia memukul-mukul lantai.


"B-bohong apa maksudmu?" Jimin mencoba mendekati Yora, namun Yora selalu saja mundur, menghindarinya.


Kecewa dan sakit hati yang Yora rasakan, tak setimpal dengan sakit pada dadanya. Yora cukup sabar dengan semua perlakuan Jimin padanya dulu, tanpa seorang ayah dan ibu, juga tanpa teman di sekelilingnya. Hanya Adline satu-satunya yang menjadi teman Yora kala itu.


Namun, Yora juga tak bisa mencurahkan sepenuhnya semua isi hatinya. Hanya ketika bahagia saja Yora akan menceritakannya pada Adline. Selebihnya, Yora pendam sendiri dalam lubuk hatinya.


Dan sekarang, Jimin...


"Sudahlah! Aku ingin sendiri!" bentak Yora yang tak memandang Jimin sedikit pun.


Jimin yang dari tadi gagal membuatnya luluh, kini menyerah pada keadaan. Dimana dia harus mengalah dan pergi keluar.


"Bahkan, dia dengan mudahnya meninggakanku di sini sendiri!"


batin Yora menenggelamkan wajahnya dengan butir-butir air matanya yang mengalir sangat deras.


Jimin menemui Jungkook, kini dia melamun. Memikirkan apa sebenarnya kesalahannya, sehingga membuat Yora marah seperti itu.


"Hyung?" Jungkook memegang pundaknya


"Hm?"


"Apa sebenarnya yang terjadi? Apa istrimu baik-baik saja?"


"Aku tak tahu. Dia marah padaku, tapi aku tak tahu sebenarnya apa kesalahnku." Jimin mendengus sambil mengacak-acak rambutnya.


"T-tadi ku lihat dia mejatuhkan ponselnya, setelah menerima pesan dari seseorang." ucap Jungkook ragu.


"Ada yang tak beres!" Jimin pergi menemui Yora lagi.


Tapi Yora sudah tak ada di sana. Mungkin dia sudah pulang.


"Argh..." Jimin mengacak-acak rambutnya sendiri.


**


Disepanjang jalan, Yora terisak. Bisa dibayangkan berapa besar cintanya pada Jimin, sehingga dia sangat terpukul melihatnya dengan wanita lain.


Yang ada di pikirannya, "Apakah Jimin hanya memeluknya? Atau..."


Yora menghentikan langkahnya, hujan mulai turun sangat deras. Dia berteduh di depan sebuah cafe. Meratapi nasibnya sendiri.


Dia sangat takut kehilangan Jimin, belum saja Jimin menjelaskannya, Yora sudah beranggapan bahwa itu benar.


**


"Ah apa keluarganya baik-baik saja?" Tuan Oh melamun di rumahnya.


"Kau kenapa? Tak biasanya melamun seperti itu?" istrinya datang, membuyarkan lamunannya.


"Ah tidak, aku hanya mencemaskan majikanku saja." Tuan Oh tersenyum.


"Aku tadi hanya bermaksud ingin mengirimkannya pada direktur Lee, namun aku malah mengirimkan fotonya pada istrinya, aku takut sesuatu akan terjadi."


Memang, sebelumnya Tuan Oh sempat memiliki nomor ponsel Yora, karena Jimin pernah menelponnya memakai ponsel Tuan Oh.


Dan kemarin, Tuan Oh mendapat tugas dari direktur  Lee, dia harus mengawasi gerak-gerik Aera, "Jika perlu, kau potret Aera, takutnya dia akan berbuat yang tidak-tidak." titahnya, membuat Tuan Oh tak bisa menolaknya.


"Astaga... cerobohnya kau..." ucap istrinya, setelah mendengar penjelasan Tuan Oh.


"Aku takut, aku harus bagaimana?" Tuan Oh terlihat sangat cemas.


"Kau jelaskan saja pada istrinya, Tuan Jimin sudah sangat baik padamu. Apa kau tak malu?!" istrinya agak membentak Tuan Oh.


Lalu tangannya kini tergerak, mengetik pesan pada Yora.


Tring... sebuah pesan masuk.


"Nona, temui aku di Cafe Star!"


"Ah sebenarnya siapa dia?" gerutu Yora mematikan ponselnya.


Kini hujannya sudah surut. Yora berjalan, mencari sebuah cafe yang akan dia kunjungi bersama Tuan Oh.


**


Tuan Oh menghampiri Yora, yang tengah duduk, dengan penampilannya yang sedikit agak acak-acakan. Tuan Oh langsung mengenali wajah cantiknya itu, karena dia pernah melihat Yora ketika acara pernikahannya.


"Kau pasti Yora?" Tuan Oh belum duduk.


Yora mengangguk, "Apa kau yang mengirimku foto ini?" Yora bangkit dari duduknya menunjukkan layar ponselnya yang berisi foto Jimin dan Aera.


"Ah bolehkan saya duduk?"


"Silahkan." 


Akhirnya mereka duduk. Dengan Yora yang masih melihat Tuan Oh dari atas hinga bawah.


"Aku sekertaris suamimu, Oh Sang-sik!" Tuan Oh menyodorkan lengannya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


"Y-Yora." Yora membalas tangannya.


"Ah, apa kau tahu siapa wanita ini?" lanjut Yora menyodorkan ponselnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2