
Setelah Jimin berhasil menenangkan Yora, kini mereka memutuskan untuk pulang saja.
Yora tak mau mengobati lukanya di rumah sakit terlebih dahulu, dia hanya ingin mengobatinya di rumah, bersama Jimin.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini Tuan?"
Pesan masuk dari Tuan Oh. Membuat Jimin membantingkan ponselnya malas ke atas nakas mobilnya. Tak sempat membalasnya, bukan karena dia kesal pada Tuan Oh, melainkan dia tak ingin membahas soal pekerjaan ketika bersama Yora. Sungguh, Jimin tak menaruh curiga sedikit pun pada Tuan Oh.
"Siapa?" Yora masih terisak, dengan tangannya yang kini mulai terasa perih. Ia meniupinya tak dengan mata yang masih meninggalkan bekas air matanya.
"Tuan Oh," balas Jimin malas. Jimin tertegun melihat Yora yang kini tak henti-hentinya meniupi tangannya. Jika bisa, Jimin ingin memindahkan rasa sakit yang Yora rasakan pada tubuhnya. Jimin mengemudi tak seperti biasanya, dengan kecepatan tinggi Jimin ingin segera mengobati lukanya.
CEKIT!
Mobil berhenti tepat di depan rumah mereka.
"Mandilah dulu, lihat wajah dan tubuhmu, sangat kotor sekali!"
Yora beranjak untuk menuruti perintah Jimin. Meskipun Jimin sendiri belum mandi, namun Yora lebih kusut darinya, "Wanita memang takkan pernah dewasa, dia akan seperti anak kecil yang selalu ingin di manja." Jimin berbicara pada dirinya sendiri, sempat tersenyum mengingat Yora.
Setelah Yora mengganti pakaiannya, kini ia duduk diatas kasur dengan Jimin yang berjongkok di depannya, "Jangan menyakiti dirimu lagi! Aku tak suka jika ada sedikit pun luka pada tubuhmu Yora-ah." Jimin sibuk mengoleskan obat merah dengan kapas pada luka Yora.
"Kau juga!" ucap Yora gugup, akan sangat aneh jika tiba-tiba ia bersikap hangat pada Jimin setelah marah-marah padanya tadi.
Jimin tersenyum menenggelamkan matanya, mendongakkan wajahnya menatap Yora. Setelah mendengar ucapan Yora yang menurutnya cukup menyentuh.
"M-mian."
Jimin yang hendak pergi menyimpan kotak obat, menghentikan langkahnya, dan menoleh Yora, "Heh?"
"Aku selalu tak bisa mengendalikan diri jika menyangkut tentangmu! Maafkan aku yang selalu menyusahkanmu!"
Jimin menyimpan kotak obat itu di bawah. Dia kini duduk di samping Yora, "Aku sangat senang melihatmu seperti ini," Jimin menatap Yora.
Yora menjawabnya dengan bibir yang kini mulai mengerut kesal, "Jadi, kau senang ketika aku terluka? Kau senang melihatku menangis?" tanya Yora ketus, memalingkan wajahnya.
"Aigoo... secara tidak langsung kau sangat takut kehilanganku 'kan?" Jimin semakin mendekatkan wajahnya, menghapus semua jarak diantara mereka.
"Ya! Kau ketahuan sekarang! " batin Yora.
Jimin tertawa melihat pipi Yora yang kini memerah, selalu saja berhasil membuatnya tersungkur malu.
"Aku sangat kesepian disini, aku bosan." Yora akhirnya mencurahkan keluh kesahnya selama ia tinggal di rumah Jimin.
"Kita buat saja si kecil, oke?" Jimin sangat antusias menyarankan itu, nampak sangat bersemangat.
"Ya! Aku belum siap!"
"Tapi aku sudah siap! Ayolah... Yora-ah," rengeknya seperti anak kecil. Membuat Yora menggeleng, sudah bisa di pastikan malam ini dia akan bergadang lagi semalaman.
**
"A-adikku? Ah bagaimana keadaannya sekarang?"
Pria itu tersadarkan dari tidurnya. Dia nampak cemas pada adiknya.
Pria itu berjalan keluar dengan langkahnya perlahan, ingin mencoba kabur dari sana. Dia tak punya uang sepeser pun untuk membayar administrasinya. Dengan pakaian rumah sakitnya, ia berjalan mengendap-endap.
__ADS_1
"Ehem!" seseorang menghentikan langkahnya.
"Kim Taehyung-ssi? Kau mau kemana hah?" ternyata perawat tadi. Dia memergoki Taehyung yang hendak kabur dari sana.
"Sudah ku bilang dari awal! Aku tak punya uang! Tapi kenapa kalian malah memaksaku untuk tinggal di sini? Jadi, ini bukan tanggung jawabku, aku ingin pulang. Adikku di rumah sendirian! Bagaimana jika seseorang mencoba menculiknya? Atau bahkan ingin membunuhnya? Oh shit! Hanya dia harta berharga satu-satunya yang ku miliki di dunia ini."
Taehyung memasang wajah sedihnya, mencoba berakting di depan perawat itu, dengan harapan perawat itu akan merasa iba padanya dan memulangkannya.
"Apakah dia waras?" batin perawat itu, merasa aneh.
"Dengarkan aku Kim Taehyung-ssi! Aku tak peduli dengan apa yang barusan kau bilang. Kau tak usah menjekaskan kemiskinanmu padaku. Atau aku akan mentertawakanmu." memang perawat yang satu ini sangat blak-blakan jika berbicara.
"Hah? Kau bilang aku miskin?!" Taehyung mencoba mengulang ucapan si perawat. Dengan nada tinggi, dia menatap perawat itu keji.
"Dokter Yora sudah membayar semua biayanya! Puas kau?!"
Taehyung tertegun mendengarnya. Matanya sedikit membulat, mulutnya agak terbuka. Shock mungkin.
"Siapa dia? Yang mana?" Taehyung mengabsen setiap orang di sekelilingnya.
"Dia yang tadi mengobatimu!" balas si perawat ketus.
Taehyung tak menjawab, dia kembali masuk ke kamarnya. Kepalanya mulai memunculkan banyak pertanyaan tak masuk akal, "Aku tak mengenalnya, begitu pun dengan dia! Tapi kenapa dia baik sekali? Aku tak mau lagi berhutang pada siapapun!" Taehyung bergidik, berbicara pada dinding. Dia sangat aneh namun menggemaskan. Penampilannya memang terlihat garang, namun hatinya tak seperti itu.
**
"Jimini-ah..." Yora menepuk-nepuk pipinya. Melepaskan tangannya yang terus saja memaku pergerakan Yora.
"Nghhh..." Jimin yang bertelanjang dada tak membuka matanya sedikit pun. Dia masih enggan untuk bangkit dan bersiap.
Jimin mengerang sambil menguap, ia hanya mengenakan celana pendek warna hitam, kesukaannya. Dia mulai beranjak masuk ke kamar mandi dengan handuk yang ia kaitkan pada bahunya.
**
Sudah hampir satu minggu Tuan Oh tak masuk kerja. Karena Tuan Oh mulai sakit-sakitan. Membuat Jimin terpaksa harus mencari lagi sekertaris baru.
"Sepertinya kau harus mencari sekertaris baru lagi!"
Direktur Lee yang bersilat kaki pada kursinya, menyarankan Jimin untuk segera mencari sekertaris baru. Ini memang bukan bagian dari rencananya. Direktur Lee tak setuju apabila Jimin mencari sekertaris untuknya adalah seorang wanita. Takutnya Aera akan marah besar padanya, karena merasa tersaingi.
Jimin pun berfikir seperti itu, tak mungkin jika sekertaris barunya nanti seorang wanita. Masalah-masalah akan bermunculan lagi. Jimin tak mau itu terjadi. Aera saja Jimin sudah sangat muak, apalagi nanti.
**
"Aku tak punya hutang lagi padamu! Nyawaku sudah menjadi taruhannya. Dan sekarang aku tak mati, aku tak mau lagi menjadi kaki tanganmu!"
Tutt... Taehyung menutup teleponnya dengan penuh emosi.
"Wanita gila!" umpat Taehyung membantingkan ponselnya ke atas kasur.
Taehyung masih berada di rumah sakit, lukanya belum pulih. Masih harus di rawat beberapa hari lagi di sana. Taehyung sangat mencemaskan adik perempuannya, ia di rumah sendirian. Entah dia masih hidup atau tidak sekarang. Taehyung hampir gila memikirkannya.
"Ya?!" teriaknya memanggil salah satu perawat yang berlalu lalang disana.
"Iya? Kau memanggilku?" perawat itu menghampiri Taehyung yang berdiri di ambang pintu dengan setengah badannya yang masih berada di dalam.
"Aku boleh membawa adikku kesini? Adikku sendiri di rumah! Aku takut dia dalam bahaya, tolonglah..." rengek Taehyung membuat si perawat mengernyitkan keningnya bingung. Sejak kapan rumah sakit menjadi penampungan anak-anak.
__ADS_1
"Tidak bisa Tuan! Maaf!" perawat itu berlalu meninggalkan Taehyung.
Taehyung masuk lagi ke dalam. Memikirkan lagi bagaimana dia bisa membawa adiknya ke sini.
Sungguh, Taehyung tak punya satu pun saudara. Bahkan tetangganya pun tak peduli padanya. Mereka tak menganggap Taehyung ada.
"Sebaiknya aku coba meminta bantuan pada dokter itu lagi. Siapa tahu dia bisa menolongku!"
**
"Sudah... kau tak boleh menangis. Aku akan kembali, tak akan lama! Sungguh!" Jungkook mengusap air mata yang terus saja mengalir di pipi Adline.
Yora dan Adline kini ada di bandara, mengantar kepergian Jungkook yang akan kembali untuk melanjutkan kuliahnya di luar negri. Yora hanya memandang mereka di kejauhan, dengan tangan yang ia gigiti, merasa terharu melihat mereka. Yora ikut berkaca-kaca.
Adline memeluk Jungkook sangat erat, tak melepaskannya. Dengan isak tangisnya, Adline masih setia menenggelamkan wajahnya dalam dekapan hangatnya. Ini tak mudah untuk Adline.
"Ya... Adline yang ku kenal tidak cengeng seperti ini." Jungkook mencoba mendongakkan wajah Adline untuk menatap matanya.
"A-aku tak bisa membiarkanmu pergi! A-aku masih merindukanmu!" Adline sambil terisak, menatap Jungkook. Air matanya tak terbendung lagi, baru kali ini ia menangis hingga seperti ini. Sebelumnya, Adline di kenal dengan wanita yang sangat kuat. Namun akhirnya lemah hanya karena seorang pria yang sangat ia cintai.
"Aku akan mengabarimu setiap hari," tangan Jungkook tergerak, mengelus rambut Adline lembut. Sambil sesekali menyeka air matanya, Jungkook berkaca-kaca.
Yora akhirnya menghampiri mereka. Mengingatkan bahwa Jungkook harus segera masuk ke dalam pesawatnya sebentar lagi.
"Masuklah..." titah Yora, menepuk pundak Jungkook.
Hidung Jungkook terlihat sangat memerah. Begitu pun dengan Adline. Mereka berdua terlihat sangat berat untuk melepaskan satu sama lain. Pasangan satu ini harus melalui ujian yang cukup berat. Tak mudah melakukan hubungan jarak jauh seperti ini. Memang, sebelumnya Adline tak menghiraukan Jungkook yang jauh di sana, karena dulu, perasaannya belum sebesar ini.
Drtt drttt drttt
Tiba-tiba ponsel di saku Yora bergetar.
"Yeobseo?"
Wajahnya kaget, beberapa kali Yora terlihat mengernyitkan keningnya. Dia nampak berpikir keras, entah siapa penelpon itu, yang jelas sekarang Yora sangat cerewet, sempat berdebat dengan si penelpon itu. Terlihat dari bibirnya yang monyong-monyong berbicara pada si penelpon itu. Nampaknya Yora tak akur dengannya.
Lima menit, Yora menempelkan ponsel itu pada telinganya. Wajahnya kini berubah, menjadi sedih, mungkin dia merasa iba dengan apa yang barusan mereka bicarakan.
"Baiklah..."
Yora mengakhiri obrolannya. Kembali menuju Jungkook dan Adline yang masih tersedu-sedu. Membuat Yora terpaksa menahan Adline yang selalu berontak menahan kepergian Jungkook.
Jari tangan Adline yang semula bertautan dengan Jungkook, mulai dilepaskan perlahan. Itupun karena Yora menahan tubuhnya, sementara Jungkook, dia terus berjalan sambil mendorong koper. Menyeka air matanya sendiri yang tak tega melihat Adline.
"Lepaskan aku! Aku tak mau..." Adline berontak dari pelukan Yora. Membuat Yora tak sadar meneteskan air matanya sambil membelai rambut Adline lembut. Yora terus menenangkan Adline, dengan membawanya keluar dari sana.
Sebelum Adline pergi dari sana, Jungkook membalikan badannya. Menatap Adline dengan senyum yang terpaksa ia sunggingkan padanya, Jungkook sungguh tak bisa menahan semuanya. Ia melambaikan tangannya. Dan berlalu dari sana.
Tangisan Adline pecah, kini ia tak berontak. Melainkan jatuh kedalam dekapan Yora. Yora yang ikut terisak melihatnya seperti itu, membayangkan jika Jimin yang pergi, dan Yora berada di posisi Adline, bagaimana? Yang pasti dia akan menangis lebih parah dari Adline.
"Masih ada ini?" Yora mengangkat ponselnya sambil mengelap air mata Adline. Yora mencoba memberi senyuman terhangatnya.
"Kau masih bisa berbicara dan melihatnya melalui ini," sambung Yora memasukkan Adline ke dalam mobilnya.
Adline tertidur setelah berhenti menangis. Membuat Yora dapat bernafas dengan lega. Yora merogoh ponsel pada nakasnya. Menghentikan mobilnya sebentar, dan mulai mengetik pesan pada seseorang.
"Sepertinya aku akan sedikit terlambat menemuimu. Aku harus menangani sesuatu dulu."
__ADS_1