
"Bagaimana dok?" Taehyung terperanjak melihat dokter yang keluar dari ruangan Aera. Sebelumnya Taehyung nampak sangat gelisah, biar bagaimana pun dia tetap menghawatirkannya.
"Ikut saya." ucap dokter itu. Tak lama kemudian Taehyung pun mengikutinya dari belakang. Sepertinya ini sangat serius!
Setelah dokter itu menyilahkan Taehyung untuk segera duduk, ia mulai menautkan kedua tangannya diatas meja. Sambil sesekali menghembuskan nafas panjangnya.
"A-ada apa dok? Bagaimana keadaan istri saya?" Taehyung yang mulai merasakan firasat buruk, kini sangat penasaran dengan apa yang akan di bahas dokter itu setelah tadi ia memeriksanya. Wajah Taehyung menegang seketika.
"Apakah selama ini kau tak memerhatikan pola makan dan pola tidur istrimu Tuan?" pertanyaan yang membuat jantung Taehyung hampir berhenti berdetak. Ia ingat, selama Aera hamil ia belum pernah memerhatikan pola makan dan pola tidurnya sedikit pun. Taehyung tertegun, ia bingung harus menjawab apa.
"Ah pasti tidak." lanjutnya setelah melihat reaksi Taehyung yang sangat menampakkan raut wajah malu dan menyesal. Di tambah lagi ia langsung menundukkan wajahnya, sangat jelas sekali perubahannya.
"L-lalu bagaimana keadaannya dok?"
Lagi-lagi dokter itu menghembuskan nafas panjangnya sebelum memulai pembicaraan yang sangat serius ini.
"Pola makan dan pola tidur istrimu sangat hancur Tuan. Itu menyebabkan ia sering kelelahan secara tiba-tiba bahkan ia bisa sampai tak sadarkan diri seperti ini. Juga gizi yang masuk ke dalam perutnya sangat tak memenuhi kebutuhan si bayi, bahkan bisa di bilang bayi dan istrimu kekurangan cukup banyak gizi. Kau tahu 'kan ini bisa berpengaruh sangat besar terhadap ibu dan bayinya? Bisa-bisa nanti bayimu tak selamat, begitu pun dengan istrimu. Saya sarankan banyak-banyaklah perhatikan istrimu dengan baik Tuan! Tak ada kesempatan yang datang dua kali."
Taehyung keluar dari ruangan dokter itu setelah agak lama berbincang. Bukannya ia langsung menemui Aera, ia malah duduk di bangku tunggu dekat ruangan Aera. Ia memegang kepalanya sambil mengerang beberapa kali. Entah dia sedang menyesalinya atau--- ah hanya dia dan Tuhan yang tahu apa yang sekarang ia rasakan.
Di tambah lagi ucapan terakhir dokter itu yang kini selalu terbesit di kepalanya, "Jangan biarkan istrimu stres!" itu membuat Taehyung semakin gila. Sekarang ia harus benar-benar menjaganya dengan baik.
Sementara Yora pun memiliki sedikit permasalahan dengan kandungannya sekarang. Akhir-akhir ini Yora sering terlihat keluar masuk rumah sakit. Itu karena perutnya yang selalu kram secara tiba-tiba.
"Sakit lagi?" Jimin panik, ia menghentikan mobilnya setelah melihat Yora yang kini mengerang sambil memegang perutnya.
Jimin memutar balikan mobilnya dengan cepat untuk segera membawa Yora ke rumah sakit. Awalnya Yora menganggap ini hal yang wajar, namun setelah merasakannya berkali-kali ia jadi khawatir.
"Dokter Hye tak masuk hari ini... kita ke rumah sakit lain saja." ucap Yora dengan tangan yang masih setia memegang perutnya, Jimin semakin tak tega melihatnya. Ia memegang tangan Yora sangat erat, membiarkannya mencengkram genggaman itu sebagai pelampiasan rasa sakitnya. Keringatnya mulai mengalir, Yora kini tak bisa membendung tangisannya lagi.
"Kau harus kuat, aku tak bisa melihatmu seperti ini."
Tibalah mereka di rumah sakit yang kebetulan ada Aera yang juga sedang di rawat di sana. Tak lama kemudian Yora di bawa ke ruangan khusus untuk segera di tangani, sementara Jimin, dia nampak gelisah menunggunya di luar.
BRAK!
PREE!
BRUGH!
Suara-suara itu membuat Jimin terperanjak dari duduknya. Ia mencoba mendengarkan dan mendekati arah sumber suara. Sepertinya itu berasal dari salah satu ruangan disana. Bukannya Jimin berniat lancang menguping, hanya saja yang ia takutkan ada hal-hal yang tak diinginkan disana, atau bisa jadi itu membahayakan pasiennya. Jimin tak bisa tinggal diam, ia melihat dari balik pintu yang kebetulan terdapat jendela kecil disana, jadi ia bisa melihat ke dalam dengan sangat jelas.
"Aera?!" bisiknya setengah membentak, matanya membulat melihat Aera yang sedang mengamuk seperti macan betina yang kelaparan. Disana yang ia lihat ada Taehyung yang mencoba menyuapinya untuk makan, namun beberapa kali Aera menolak bahkan tak segan-segan ia memecahkannya. Itu yang menyebabkan suara-suara tadi tercipta. Pecahan mangkuk, piring, dan juga gelas telah berserakan disana. Tak lupa dengan nampan-nampannya yang juga tengah berserakan. Aera mengacaukan semuanya.
__ADS_1
Jimin tak bisa membiarkannya, ia tak tega melihat Taehyung yang sepertinya tak di hargai sedikit pun oleh istrinya sendiri. Jimin memutuskan untuk masuk.
"K-kau?" Taehyung terkejut melihat kedatangan Jimin yang tiba-tiba. Dengan tangan yang mengeluarkan darah, Taehyung nampak gemetar. Namun mangkuk bubur itu masih setia ia pegang. Sepertinya ia mencoba membersihkan serpihan-serpihan tajam itu.
Jika saja itu bukan Taehyung, Jimin enggan melihatnya. Darahnya mengalir begitu deras. Sementara Aera masih menatap kosong, entah dia menyadari kedatangan Jimin atau tidak.
"Obati dulu lukamu,"
"T-tapi---"
"Biar aku saja! Aku akan membantumu." Jimin sepertinya sudah tak tahan melihat Taehyung seperti itu. Sehingga membuatnya mengambil keputusan tanpa berfikir dua kali.
Akhirnya Taehyung pergi untuk segera mengobati lukanya. Meninggalkan Aera dan Jimin disana.
"Ya! Lihat ini! Kau sudah mengacaukan semuanya." Jimin mengambil alih mangkuk yang tadi sempat Taehyung pegang. Ia membersihkan bercak-bercak darahnya dengan tisu. Jimin menggeleng melihat Aera yang sama sekali tak memperhatikannya.
"Kau harus makan!" jika saja ia tak membayangkan Yora, bagaimana sulitnya ia mengandung, maka Jimin akan memarahi Aera habis-habisan sekarang. Hanya saja, ia selalu mengingat Yora. Meskipun Aera terkadang selalu membuat ulah dan membuatnya geram, Aera tetap harus di perlakukan dengan baik.
"Apa ini benar kau?" lirihnya yang kini menatap Jimin. Bibir pucatnya mulai bergerak, tangannya pun mulai meraih sebelah tangan Jimin. Merasa tak percaya dengan apa yang sekarang ia lihat.
"Ini bukan mimpi." lanjutnya.
Taehyung sudah selesai mengobati lukanya, ia berniat ingin kembali ke ruangan Aera. Namun, setelah Taehyung berdiri dan melihat mereka di balik pintu, Taehyung mundur dan duduk di bangku tunggu. Ia merasa bahwa mungkin Aera membutuhkan Jimin sekarang, tapi tidak dengannya.
"Apa kau suaminya?" ucap dokter yang waktu itu sempat Aera temui di toilet. Ya, dia dokter So yang memeriksa Yora. Dia tak tahu jika yang ia kira suami Yora ternyata suami Aera.
Dokter So melihat ke sekeliling, tidak ada lagi orang lain disana selain dari Taehyung. Itu membuatnya berfikir bahwa Taehyunglah suaminya dan dia sedang menunggunya.
"Tid---"
"Ah ikut aku, aku harus berbicara serius denganmu." dokter So menyela pembicaraannya, Taehyung bingung, ia harus bagaimana sekarang? Taehyung mematung lima detik setelah dokter So mengisyaratkan untuk segera mengikutinya dari belakang. Dengan terpaksa Taehyung mengikutinya.
"Makanlah! Jangan menyusahkan suamimu seperti ini. Apa kau tak kasihan padanya eoh?" Jimin menatap Aera datar dengan tangan yang sudah siap menyuapinya. Jimin tak banyak bicara kala itu.
Matanya berbinar, Aera dengan lahapnya memakan apapun yang Jimin berikan padanya. Jika diibaratkan, serpihan disana pun mungkin akan Aera makan selama itu Jimin yang menyuapinya. Entah apa yang ada di benaknya, padahal sudah beberapa kali Jimin selalu bilang bahwa ia hanya menganggap Aera sebagai adiknya saja, tak lebih. Namun Aera malah jatuh terlalu dalam padanya, itu yang membuat Aera jadi tersiksa. Ia menyiksa diri sendiri.
"Baiklah dengarkan aku baik-baik."
"Tap---"
"Sudah diam dulu. Aku akan menjelaskannya padamu." lagi-lagi dokter So menyela pembicaraan Taehyung, itu akan menjadi sia-sia. Karena dokter So selalu menyelanya ketika Taehyung ingin menjelaskan yang sebenarnya.
Taehyung akhirnya mengangguk pasrah. Dokter So tak memberikan sedikit pun celah untuk Taehyung berbicara. Namun Taehyung juga mendengarkan dengan baik, ia akan menyampaikan semuanya pada Jimin. Semoga semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
"Berapa kali istrimu mengalami kram dalam sehari?" dokter So menatap Taehyung dengan tangan yang sudah siap mencatat jawabannya.
"A-aku tak tahu. Jadi selama ini dia selalu mengalami kram?" Taehyung malah balik bertanya pada dokter So. Dengan wajah terkejutnya Taehyung seperti di sambar petir dua kali. Yang pertama kabar buruk dari Aera, yang ke dua dari Yora.
Dokter So menggeleng lalu menautkan kedua tangannya diatas meja, "Kau ini suaminya. Apa kau tak tahu soal ini?" dokter So yang di kenal dengan dokter yang kerap kali ceplas ceplos ketika berbicara, membuat Taehyung beberapa kali bungkam dan bisu.
Memang semenjak Taehyung dan Jimin dekat, Taehyung sering mengirim pesan singkat untuk Yora setiap harinya. Di mulai dari menanyakan sudah makan atau belum? Sudah ini sudah itu, Taehyung selalu rutin menanyakaknnya tanpa sepengetahuan Jimin. Namun, Yora kadang tak pernah menggubris pesan darinya. Ia pikir itu hanya akan buang-buang waktu saja. Lebih baik ia membalas pesan dari Jimin saja.
Sementara Aera, Taehyung tak pernah sekali pun memperhatikannya. Mungkin itulah sebabnya Taehyung sangat merasa bersalah ketika mendengar penjelasan dokter mengenai keadaan Aera tadi.
Yora melihat ke sekeliling untuk mencari Jimin. Selang infus di tangan dan hidungnya cukup mengganggu sekarang. Jika saja hanya lengannya saja yang memakai selang infus, mungkin Yora akan langsung mencabutnya saja. Namun kali ini berbeda, badannya terasa sangat remuk, Yora tak bisa bergerak. Wajahnya pucat, tak henti-hentinya ia memandang ke arah pintu putih itu, berharap Jimin akan masuk. Namun setelah hampir 30 menit Yora menunggu, Jimin tak datang juga.
"Kemana dia? Apa dia meninggalkanku disini?"
**
"Aku sudah sangat lama ingin melakukan ini Jim."
Jimin yang tengah duduk sambil melipat tangannya diatas dada mengernyitkan keningnya heran. Apa yang ingin ia lakukan?
"Ya, aku sangat ingin kau menyuapiku seperti tadi. Aku tak tahu namun itu selalu menggangguku. Apakah ini kemauan bayinya?" Aera sangat antusias menjelaskan pada Jimin tentang keinginannnya itu. Aera nampak segar dan sehat setelah tadi Jimin menyuapinya cukup banyak makanan.
"Aku harus pergi!" Jimin beranjak dari duduknya, lalu keluar dari ruangan Aera secepat kilat.
Dokter So dan Taehyung keluar dari sana bersamaan, dikarenakan dokter So ada urusan lain lagi. Namun karena Jimin tak fokus, ia hendak masuk ke ruangan Yora, tanpa menghiraukan Taehyung dan dokter So yang sudah berada dekat bangku tunggu.
"Tunggu!" dokter So menghentikan Jimin yang selangkah lagi akan masuk ke ruangan Yora.
"Iya?" Jimin membalikkan badannya dengan cepat, menoleh ke arah sumber suara.
"Kau siapanya?" dokter So melipat tangannya diatas dada. Menanyakannya dengan nada yang agak ketus.
"Aku suaminya." Jimin tersenyum tipis hendak melanjutkan lagi langkahnya. Namun tangannya di tarik.
"Dia suaminya! K-kenapa---" dokter So melirik ke dua pria itu dengan tatapan yang bergantian.
"Maksudmu?" Jimin nampak bingung dengan ucapan dokter So. Ia mundur dari posisinya, tatapannya menjadi sangat serius sekarang.
"Dokter selalu menyela pembicaraanku. Itu sebabnya kau tak mendengarkan penjelasanku. Aku bukan suaminya, melainkan dia!" Taehyung menunjuk Jimin. Ia memberanikan diri untuk membuka mulut.
"Oh, ini kesalahanku, maaf!" dokter So nampak terkejut dengan penjelasan Taehyung. Akhirnya ia membungkuk pada Jimin sebagai tanda maaf nya karena telah ceroboh.
"Aku ada urusan mendadak, sebaiknya kau jelaskan lagi padanya apa yang telah aku jelaskan tadi padamu mengenai istrinya."
__ADS_1
Dokter So pergi dengan langkah terburu-buru meninggalkan Jimin dan Taehyung yang kini diam mematung.