
"*Aku tahu ini tak mudah bagiku, menikah dengan seseorang yang tidak ku kenal sama sekali. Terlebih Adline menceritakan bahwa sikapnya terhadap wanita sungguh tak biasa. Aku jadi takut, tapi aku selalu memikirkan Adline."
"Usiaku mungkin tak jauh beda darinya, Adline sepertinya sangat menyayangi Jimin. Selama di rumah sakit, Adline tak henti-hentinya membicarakan kakaknya itu, membuatku sedikit demi sedikit mengenal kepribadiaannya, meskipun tak langsung, aku hanya tahu dari Adline saja."
"Kata Adline, Jimin sangat menyayanginya, dia merawat dan menjaganya dengan baik. Bahkan seperti seorang ibu yang sedang merawat anaknya. Itu kata Adline."
"Lalu, Adline berkata lagi padaku, bahwa sebenanrnya Jimin laki-laki yang lembut dan penyayang. Namun, karena traumanya yang ia dapati ketika kecil, membuatnya kini enggan bergaul dengan wanita."
"Kau tahu Jimin begitu karena apa?
Adline bilang dia begitu karena ketika kecil Jimin sering dipukuli dan disiksa oleh ibunya sendiri, bahkan sering kali Jimin tak diberi makan selama beberapa hari ketika melakukan kesalahan, untung saja dia bisa bertahan hidup*."
Ibunya sangat membenci dia, padahal ketika bayi, ibunya sungguh menginginkan anak laki-laki. Tapi ketika Jimin menginjak usia tiga tahun, ibunya mulai berbuat kejam padanya. Bahkan sangat kejam.
Kenapa Adline bisa tahu?
Karena sebelumnya Jimin pernah bercerita padanya.
"Aku sungguh tidak bisa menyepelekan soal mental seseorang, aku seorang dokter sekaligus mengerti sedikitnya tentang Psikolog. Kejadian seperti itu memang sering terjadi. Hanya saja ada yang mentalnya kuat dan ada yang lemah. Jika seseorang dengan mentalnya yang kuat, maka dia tidak akan mengalami trauma berat seperti itu. Tapi, jika mentalnya seperti Jimin, lemah, maka itu sangat mudah membuatnya trauma bahkan depresi. Mungkin Jimin pikir, semua wanita didunia ini sama seperti ibunya, kecuali Adline. Jadi aku bisa memahaminya."
Kini Yora mencoba menemui Adline di rumahnya. Karena Yora merasa sangat rindu padanya.
"Kak Yora?!" teriak Adline ketika melihat Yora di ambang pintunya.
"Boleh 'kan aku main ke sini?" ucap Yora sambil memeluk Adline.
"Tentu saja! Aku sangat senang melihatmu datang kesini." Adline menarik Yora untuk masuk kedalam.
"Kak..." Adline memanggil Jimin.
Jimin pikir Adline memanggilnya bukan karena Yora, dia tak menyangka jika Yora kini ada di rumahnya.
"Ya?" Jimin turun dari kamarnya, belum sempat melihat Yora.
Namun, dia berbalik ketika melihat Yora ada di sana bersama Adline. Jimin hendak masuk lagi ke kamarnya, namun Adline menahannya dan memaksa Jimin untuk duduk bersama mereka.
Terlihat jelas wajah Jimin yang kini berubah, dia terus saja menunduk tanpa menoleh Yora dan Adline. Dia terlihat agak gemetar.
"Kak, aku sudah putuskan bahwa kau akan menikah dengan kak Yora." ucap Adline membuat Jimin terperanjak dari duduknya.
"Apa?!"
"Kau sudah setuju 'kan kak?" Adline menoleh ke arah Yora.
Yora hanya mengangguk, dia sudah memutuskan akan menyetujui keinginan Adline. Karena Yora juga ingin menyembuhkan Jimin.
__ADS_1
"Ini demi adikmu! Aku tahu kau sama sekali tak mengenaliku, tapi izinkan aku untuk menjadi perantara untuk menyembuhkanmu. Dia sangat ingin sekali melihat kau menikah! Apa kau tak kasihan padanya?" ucap Yora.
"Aku sehat! Aku tak sakit! Kenapa kau berkata aku harus sembuh?" Jimin berbicara dengan mata yang menatap kearah lain.
Adline hanya mengangkat bahunya pura-pura tak mengerti dengan apa yang barusan Jimin katakan.
"Ayolah kak... aku mohon..." Adline memelas.
"Tidak! Aku tak mau!" Jimin menggeleng sangat cepat.
"Kalau kau tak mau! Aku akan pergi saja dari rumah ini, biarkan aku menjadi gelandangan saja diluar sana!" ucap Adline sambil terisak.
Jimin terlihat sangat pusing mendengarnya. Dia menggaruk-garuk kepalanya, mengurut keningnya sendiri dan kembali duduk dengan wajah yang ditutupi oleh tangannya.
Sementara Adline, Yora menenangkannya.
"Aku berjanji setelah kita menikah nanti, aku tidak akan menyentuhmu." ucap Yora meyakinkan Jimin agar dia mau.
Belum ada jawaban darinya. Dia masih seperti sedang memikirkannya.
"B-baiklah, ini demi Adline."
Akhirnya Jimin setuju, dan Adline langsung memeluknya sangat erat. Dia sangat senang akhirnya Jimin akan menikah.
**
Kini, Jimin sudah siap dengan jas hitamnya yang sangat cocok, membuatnya semakin terlihat gagah dan tampan.
Sementara Yora, dia juga sudah siap dengan gaun pengantinnya yang elegan, sederhana namun sangat mempesona. Sangat cocok dengan tubuhnya.
"Kau jangan gugup kak, aku akan ada di sampingmu." ucap Adline memegang tangan Jimin.
"Aku tak yakin." terlihat jelas tangannya yang gemetar hebat kala itu, namun perlahan Jimin bisa mengendalikan dirinya.
Jimin dan Yora sudah dipanggil untuk segera menuju altar, akhirnya perdebatan kecil pun sempat terjadi diantara mereka sebelum melangkah keluar.
"B-bisakan kita keluar tanpa kau menggandeng tanganku?" tanya Jimin gugup.
"Astaga Jim, lihat ini." Yora mengangkat gaunnya yang lumayan berat itu.
"Aku tak bisa berjalan jika tak memegangmu, bagaimana jika nanti aku tersandung?" Yora menatap Jimin yang sangat gugup.
"Yasudah, tapi jangan terlalu lama." Jimin kemudian mendekati Yora ragu, dan memberikan tangannya pada Yora.
Yora hanya berdecik sambil menggeleng. Baru kali ini dia bertemu dengan manusia seperti dia. Aneh sekali ya.
__ADS_1
Semuanya sudah selesai di laksanakan, mereka sudah saling mengikat janji suci. Layaknya pengantin pada umumnya, namun ada satu hal yang mengganjal. Jimin tak mau ada adegan berciuman dengan Yora diatas altar.
Dan itu sudah menjadi kesepakatan mereka sebelumnya. Jangankan berciuman, disentuh saja dia tak mau.
Malampun telah tiba...
"Kak, kau terpaksa harus tidur di kamar kakakku." ucap Adline menatap Yora sedih.
"Katanya disini ada kamar tamu?" tanya Yora.
"Iya ada, hanya saja kamarnya terkunci. Dan aku lupa menyimpan kuncinya dimana." Adline menepuk keningnya.
"Ah, apakah Jimin tidak akan marah?" Yora terlihat agak ragu untuk melangkahkan kakinya.
"Coba saja dulu, jika dia marah, kakak bisa menemuiku." Adline mengedipkan sebelah matanya.
Tap...
Tap...
Tap...
Yora mulai berjalan menuju kamar Jimin.
CEKLEK...
Jimin sedang duduk di sana, itu yang pertama kali Yora lihat ketika masuk.
"K-kau?!" Jimin terperanjak dan langsung berdiri melihat kedatangan Yora.
"Kata Adline aku harus tidur disini, kamar tamunya terkunci, dan Adline lupa menyimpannya dimana." jelas Yora lembut.
"Lagipula kita 'kan sudah menikah Jim." lanjutnya sambil tersenyum.
"A-aku akan tidur disini, dan kau boleh tidur disana." Jimin menunjuk sofa dan kasurnya itu mengisyaratkan bahwa dirinya akan tidur di sofa, dan Yora tidur di kasurnya.
"Disini saja. Aku 'kan sudah janji tidak akan menyentuhmu." ajak Yora sambil menepuk-nepuk kasurnya.
"Tidak, aku disini saja." Jimin menggeleng sangat cepat.
"Yasudah." Yora akhirnya menyerah
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 00:00 malam.
"Tidak Ibu... jangan lakukan itu padaku! Aku sayang padamu, jangan lakukan itu, tolong..." Jimin mengigau.
__ADS_1
Yora terperanjak dari tidurnya setelah mendengar itu. Lalu berlari menghampiri Jimin.
"Jim... kau tak apa?" Yora mengelus tangannya.