
"Yora-ah? Kau sedang apa hm?"
Jimin mengirimkan pesan untuk Yora. Ia ingin sekali pergi makan siang dengannya.
"Ada apa eoh? Apa kau merindukanku?" balas Yora tak lupa menautkan emoji tertawanya. Menganggap itu hanya sebuah lelucon saja.
"Sepertinya ini lebih dari rindu..." balas Jimin.
Mereka berdua sangat asik membalas satu sama lain. Jimin masih belum mengajak Yora untuk makan siang dengannya, Jimin hampir lupa. Sementara Yora, dia sudah berada di perjalanan menuju rumah sakit, untuk menempati janjinya.
"Apa kau mau makan siang denganku?"
CEKIT!
Yora menginjak rem sangat mendadak. Kaget melihat pesan yang baru saja Jimin kirimkan padanya, dan itu yang sudah lama Yora inginkan. Makan siang bersama Jimin di kantornya, sementara rumah sakit sudah sangat dekat, mungkin hanya membutuhkan waktu lima menit saja untuk sampai kesana.
Yora membenturkan kepalanya pada setir. Merasa sangat bingung. Ia sudah terlanjur janji akan datang ke rumah sakit untuk menolongnya hari ini. Tapi jika Yora pergi, makan siangnya bersama Jimin tak akan terjadi. Yora harus memilih salah satu. Dan dia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit saja.
"Kau makan saja duluan, aku sekarang sedang tak ada di rumah! Aku sedang di rumah sakit."
Yora langsung memati dayakan ponselnya setelah mengirimkan balasan terakhirnya.
Dengan terpaksa Jimin harus makan siang sendirian.
"Hm, ini kesempatanku!" Aera yang dari tadi menguping pembicaraan mereka, kini ia sudah merencanakan sesuatu.
**
Yora berlari mencarinya, mungkin saja dia sudah lama menunggu.
"Huh... maaf aku telat!" Yora mengatur nafasnya, bulir-bulir keringat mulai menyerbu wajahnya. Karena jarak ruangannya sangat jauh.
"Ah aku jadi tak enak padamu!"
"Kim Taehyung-ssi? Namamu?" Yora memiringkan wajahnya melihat daftar nama yang tertulis di ranjangnya.
"Ya. A-aku minta maaf padamu karena perbuatanku sebelumnya."
"Sudahlah, lupakan saja. Jadi apa yang bisa ku bantu?" Yora menatap Taehyung, mengangkat alisnya ingin segera mendapat jawaban.
Sementara di kantor, setelah Jimin selesai makan siang, Aera menghampirinya. Dengan seribu rencana yang telah ia persiapkan untuk menghancurkan mereka.
"Belum puas kau membuat masalah denganku? Heh?" Jimin langsung memalingkan wajahnya kasar setelah melihat siapa yang kini masuk ke dalam ruangannya. Jimin tak memberi senyum sedikitpun untuk Aera.
"Kau yang memulainya Park Jimin-ssi!" bentak Aera, tak tahu malu berbicara dengan nada lebih tinggi dari Jimin. Aera terlihat berusaha menenangkan dirinya sendiri agar tak terpancing emosi, karena jika begitu, rencananya akan gagal.
"Baikalah, aku minta maaf padamu! Kau tahu 'kan aku sangat mencintaimu Jimin-ssi," Aera mencoba berakting sekarang, wajahnya memelas, berharap Jimin akan memaafkan perbuatannya. Namun, Jimin tak sedikit pun menghiraukannya. Jimin sibuk memainkan ponselnya.
"Baiklah, yang penting aku sudah minta maaf padamu!" Aera membalikkan badannya, hendak keluar dari sana, namun baru sampai pada ambang pintu...
BRUK!
Aera terjatuh sangat keras. Kakinya terkilir karena lantai yang sangat licin. Seseorang menaruh minyak di sana. Mungkinkah orang itu Aera sendiri? Atau...
"Aww..." rintih Aera, memejamkan matanya, merasakan sakitnya.
Jimin sempat menolehnya, namun dia tak percaya. Mungkin saja itu rencananya, itu pikir Jimin. Dia tak menolongnya, Jimin hanya menahan tawa, sangat senang melihat Aera menderita seperti itu. Jimin menutup mulutnya, tak kuasa menahan tawanya.
"Ayah..." Aera menangis sambil menelpon direktur Lee, anehnya dia tak meminta tolong pada Jimin. Ya, karena itu percuma. Jimin tak akan sudi menolongnya. Namun kenyataan berkata lain...
"Apa? Kau sedang di luar kota? Ah bagaimana ini? Aku kesakitan sekarang... hiks." Aera terus saja menangis.
Tak lama setelah itu, ponsel Jimin berbunyi.
"Ya direktur..."
"Bisakah kau menolong putriku? Aku tahu ini tak mudah bagimu, namun aku sedang di luar kota sekarang. Aku tak bisa menolongnya. Jadi, ku harap kau bisa membantuku dengan menolong Aera."
Tutt... Direktur Lee menutup telponnya. Mengisyaratkan bahwa tidak ada lagi penolakan untuk titahnya.
"Argh..." Jimin membantingkan ponselnya ke atas meja. Berjalan mendekati Aera yang masih terisak.
"Cepatlah berdiri!" titah Jimin malas.
Aera hanya menggeleng, dengan wajah yang masih menahan sakit. Membuat Jimin percaya melihatnya.
Jimin membantu Aera berdiri, memopongnya, dan mendudukannya di atas sofa.
"Sangat sakit..." lirihnya.
Terpaksa Jimin membantunya untuk berdiri. Jimin mendudukan Aera di sofa.
Aera berkaca-kaca, entah itu benar atau hanya rencananya saja.
Jimin beranjak keluar ruangannya, berniat ingin mengambilkan kotak obat untuk Aera. Namun Jimin malah meninggalkan ponselnya di sana, membuat Aera semakin lancar menjalankan misinya. Aera merogoh ponsel Jimin, dia mengirimkan pesan pada Yora.
__ADS_1
"Cepatlah kesini! Aku menunggumu!"
Aera tak meninggalkan jejak pada ponsel Jimin. Dia sangat cerdik.
Drtt drtt drtt
Yora merogoh ponsel dari saku bajunya. Mulai membuka isi pesannya.
"Ah sepertinya obrolan kita cukup sampai disini saja, aku harus pergi."
"Hm, baiklah. Jangan lupa dengan adikku."
"Oke." Yora tersenyum sebelum membalikkan badannya dan berlalu dari hadapan Taehyung. Yora sangat tak sabar ingin menemui Jimin.
15 menit kemudian...
"Aku mohon, bantu aku untuk memijatkan kakiku..." Aera memelas, membuat Jimin tak tega melihatnya. Dia pikir bahwa ini benar-benar murni, bukan rencananya.
"Sepertinya kakiku terkilir," sambungnya.
"Aku tak bisa!" Jimin memalingkan wajahnya tak menatap Aera.
Drtt drtt drtt
Direktur Lee menelponnya.
"Argh! Baiklah!" Jimin membantingkan ponselnya, mulai duduk di samping Aera.
Sementara Yora sudah datang, dia mencari ruangan Jimin, karena sebelumnya Jimin belum pernah memberitahunya.
"Lurus saja, nanti ada pintu besar di sana, itu ruangan direktur!" ucap salah satu karyawan disana.
"Ah baiklah, terima kasih."
Yora melanjutkan langkahnya, dia sempat mematung sebentar ketika sudah berada di depan pintu itu. Yora ingin mengejutkan Jimin. Tangannya sudah siap memegang gagang pintu, namun...
"Ah... Jim... kenapa sakit sekali..."
Yora tak jadi membuka pintu itu, Yora menempelkan telinganya. Suaranya... Yora mengenal suara itu.
"Aera? Apa yang dia lakukan disini?!"
"Ah..." Aera semakin menggila mendesah, padahal dia hanya di pijit saja.
Yora mundur ketika mendengar suara Jimin. Kini dia berfikir bahwa mereka sedang bercumbu disana. Yora sangat kaget mendengarnya. Dia menutup mulutnya dengan tangan kirinya.
"A-apa yang mereka lakukan?" Yora membantingkan tubuhnya pada dinding. Air matanya mengalir tak terasa.
"Aku tahu kau ada disana, Yora!" Aera memicingkan matanya ke arah luar. Mengingat bahwa rencananya kini telah berhasil.
Yora gemetar, tubuhnya mulai lemas. Sesuatu menyeruwuk dari perutnya. Yora terlihat sangat mual, dia berlari mencari toilet untuk mengeluarkan sesuatu yang membuatnya sangat mual.
Yora sangat pusing dam mual. Ia melihat wajahnya di depan cermin dekat wastafel setelah memuntahkan semuanya.
Wajahnya terlihat pucat pasi.
Tiba-tiba seseorang masuk, betapa terkejutnya Yora saat itu.
"Yora?!" Jimin masuk, dia berniat ingin mencuci tangannya. Tapi dia malah bertemu Yora disana.
"J-jim? Apakah aku salah masuk toilet?"
"Iya, ini toilet khusus pegawai pria. Kenapa kau bisa ada disini?" Jimin mendekatinya.
"Wajahmu kenapa? Kenapa sangat pucat sekali?" sambungnya memegang tengkuk Yora.
"Bukankah kau yang menyuruhku untuk datang ke sini?" Yora mulai berkaca-kaca lagi ketika mengingat kejadian tadi.
"Hah? Aku tak mengirimmu pesan apapun!" Jimin panik, mencari ponselnya di semua saku baju dan celananya. Namun dia lupa, tadi Jimin membanting ponselnya entah kemana.
"Ah aku tadi membanting ponselku, aku lupa mengambilnya," Jimin memegang kepalanya.
Sementara Yora, dia merasa sangat lemas. Penglihatannya mulai gelap. Tubuhnya ambruk saat itu juga.
Semuanya terlihat kaget ketika melihat Jimin yang setengah berlari membawa Yora masuk ke dalam mobil, membawanya ke rumah sakit yang biasa Yora kerja.
Setelah sampai, Jimin langsung membawa Yora ke tempat yang telah perawat itu tunjukkan padanya. Tak sengaja Taehyung melihatnya! Dia kebetulan sedang berjalan-jalan di sekitar rumah sakit.
"D-dokter itu?" Taehyung membulatkan matanya, tak percaya melihat Yora yang kini terbaring tak sadarkan diri.
Yora hanya pingsan, tapi Jimin cemas setengah mati melihatnya seperti itu. Jimin mondar-mandir dengan tangan yang tak lepas memegang kepalanya. Sementara Taehyung melihatnya dari kejauhan. Lalu menghampirinya, tak tega melihat Jimin yang dari tadi sangat gelisah.
"P-permisi?" Taehyung agak membungkuk, menatap Jimin segan. Takutnya dia akan marah.
"Ya?" Jimin menolehnya, terlihat matanya yang kini memerah. Tangannya gemetar.
__ADS_1
"Kau suami dokter Yora?" tanya Taehyung.
"Kau tahu?" Jimin agak mengernyitkan keningnya. Menatap Taehyung lekat.
**
"Apa yang terjadi?" Yora sadar, dia langsung menanyakan keadannya sendiri. Tak peduli siapa yang membawanya kemari.
"Selamat! Kau sedang hamil Yora," senyuman pada bibir wanita paruh baya itu kini semakin melebar. Ikut bahagia dengan kabarnya, sudah sangat lama ia mengenal Yora, bahkan ia sudah menganggap Yora seperti anaknya sendiri. Ya, dia dokter Hye.
"Aku hamil? Benarkah?" Yora terduduk, matanya membulat. Lalu ia menarik bibirnya, tersenyum tak kalah lebar dari dokter Hye. Ia terlihat sangat bahagia.
"Iya. Tunggu, aku akan memberitahu suamimu!"
"Jangan! Euh maksudku, biar nanti aku saja yang memberitahunya." Yora masih marah pada Jimin. Dia tak akan memberitahunya sekarang, anggap saja itu hukuman. Dan jika kejadian tadi ketika di kantor itu benar, maka Yora ingin bercerai saja dengan Jimin, dia sudah memikirkannya. Tak apa, Jika Yora harus merawat bayinya sendiri. Dia tak mau berbagi Jimin pada siapapun termasuk Aera. Maka Jimin harus memilih diantara keduanya.
Itulah isi lamunan Yora. Hingga tak sadar jika dokter Hye sudah pergi dari hadapannya. Namun sebelumnya Yora sempat berpesan.
"Katakan saja, aku tak apa. Aku hanya kecapean, ya?" Yora memelas, dia kekeh tak ingin memberitahu Jimin. Kau tahu Yora jika sudah marah 'kan? Ya, seperti itulah dia.
Dokter Hye keluar, di sambut dengan Jimin yang menghampirinya, "Bagaimana Dok?" Jimin cemas. Kini ia meremas-remas tangannya sendiri.
"Ah istrimu hanya kecapean saja, jaga dia baik-baik." dokter Hye mengelus pundak Jimin lembut, memberi peringatan agar dia tak membiarkan Yora lagi, Jimin harus menjaganya.
Jimin membungkuk memberi hormat sekaligus berterima kasih pada dokter Hye. Ia membalas dengan senyuman yang sangat khas darinya. Membuat Jimin ikut tersenyum dan langsung masuk menemui Yora.
Ketika Jimin masuk, Yora membalikan badannya. Enggan untuk melihat wajah Jimin. Yora sangat muak.
" Kali ini kau harus kuat akan godaan Jimin Yora! Jangan menatap matanya, jangan menatap senyumnya. Atau hukumannya akan gagal!" batinnya.
"Yora-ah..." Jimin duduk di kursi yang berada di samping Yora.
Tak ada jawaban darinya. Suasana semakin hening.
"Yora-ah..." sekali lagi Jimin memanggil Yora, kini dengan nada yang lebih menggemaskan. Jimin seperti anak kecil, Jimin menggoyang-goyangkan lengan Yora. Berharap dia akan membalikkan badan dan menolehnya.
"Jangan berbalik! Jangan tergoda dengan suaranya!"
Yora menutup dan membuka matanya, menahan semua gejolak kerinduannya. Entah berapa kali lagi Jimin akan mengecewakannya.
"Soal pesan itu... aku sungguh tak mengirimkannya padamu! Aku bahkan tak tahu sekarang ponselku ada dimana."
"Kenapa tadi aku mendengar Aera... ah sudahlah! Lagipula kau tak akan mengakuinya!" Yora masih membelakangi Jimin.
"Ya, jadi kau mendengar Aera tadi?" Jimin berbisik sambil sesekali memainkan rambut Yora.
"Jangan sentuh aku!" Yora menepis tangannya. Pertanyaan Jimin membuat emosi Yora semakin menggila. tapi Jimin malah main-main dengannya.
"Ya, dia tadi terpeleset. Aku membantu memijitkan kakinya." nada bicaranya semakin tak terdengar, karena Jimin semakin menunduk mengucapkannya.
"I-itu pun kemauan direktur Lee," sambungnya.
"Berapa kali lagi kau akan berbohong? Hah?!" bentak Yora.
"Ah wanita gila itu! Dia sudah merencanakan semuanya! Yora-ah percayalah, dia terlalu berlebihan tadi. Aku hanya memijitnya, tak lebih." Jimin mencoba mendekati Yora. Kali ini dia pindah ke seberang sana agar bisa melihat wajahnya. Namun Yora malah membalikan lagi badannya.
"Apa kau yakin tidak tergoda dengannya tadi? Kurasa tak mungkin jika tidak!"
"Yora-ah..." Jimin kini menjongkokkan tubuhnya, mengacak-acak rambutnya sendiri. Bingung harus menjelaskan seperti apa lagi untuk membuat Yora percaya.
Tanpa basa-basi, Jimin naik ke atas kasurnya menindih tubuh Yora. Jimin ingin memaku tubuh dan wajahnya.
"Ya! Apa kau gila?!" bola mata Yora yang hampir lepas dari tempatnya. Jimin berada di atas tubuhnya sekarang.
"Ya aku sudah gila! Aku sangat gila karena ini! Aku sangat gila karenamu!" Jimin memegang tengkuk Yora, tak melepaskannya. Meskipun Yora sempat berontak, namun apa daya tubuhnya yang lebih kecil dari Jimin itu kini sudah keberatan.
"Omo! Bayiku!" batin Yora baru menyadarinya.
"Ya Park Jimin! Turun! Perutku sakit." hanya itu cara agar bisa membuat Jimin turun dari sana. Jika tidak, bagaimana nasib bayi mereka?
"Ah m-mianhae,"
Yora tak menjawab. Dia malah memicingkan matanya, sinis melihat Jimin.
"Akhirnya..." batin Yora, mengelus perutnya.
"Kau tak mau pulang?"
"TIDAK!" bentak Yora menarik selimutnya.
Jimin hanya mendengus, bukannya marah, Jimin malah gemas melihat Yora yang seperti itu. Jimin sempat tertawa kecil, sambil menunduk. Jimin memang sangat mudah untuk tertawa.
"Ya! Apa ada yang lucu?!" ternyata Yora mendengarnya.
"Iya kau lucu, seperti bayi!" Jimin mengigit bibirnya. Memperhatikan Yora.
__ADS_1