SENTUHANMU

SENTUHANMU
Jimin-ah


__ADS_3

Setelah cukup lama Jimin memikirkannya. Akhirnya tak ada pilihan lain selain meminjam ponsel Aera. Jimin hanya ingin mendengar suara istrinya, memastikan dia baik-baik saja. Hanya itu...


"Berikan ponselmu padaku!" Jimin tak menolehnya.


Aera beranjak mendekati Jimin, dengan kebahagiaan yang kini menggebu-gebu di hatinya. Merasa memenangkan permainan.


Setelah mengambil ponsel Aera, Jimin melangkahkan kakinya keluar ruangannya, setengah berlari Jimin ingin segera menghubungi istri tercintanya.


Ternyata Aera menyimpan nomornya, Jimin jadi mudah untuk segera menghubunginya. Ia tempelkan ponsel berukuran besar itu pada telinganya, berharap Yora akan mengangkatnya.


"Y-yeobseo?"


PREE!


Yora menjatuhkan ponselnya, setelah mendengar suara Jimin. Yora mengambilnya lagi, dengan tangan yang kini gemetar hebat, memastikan bahwa itu nomor Jimin bukan Aera. Namun di sana terpampang jelas nama Aera. Membuatnya tak bisa berkata apa-apa lagi. Yora menutup mulutnya, menahan isak tangis yang kini mulai menyerbu pelupuk matanya. Serasa di hantam petir, itulah yang kini ia rasakan.


"Yora-ah? Kau baik-baik saja?"


Jimin panik, kenapa Yora tak menjawabnya sedikit pun. Jimin memegang kepalanya, mengernyitkan keningnya, mencoba menunggu suara Yora keluar dari ponselnya.


"K-kau sedang dimana?"


Akhirnya Yora membuka mulutnya, sambil sesekali menghindarkan ponselnya agar isak tangisnya tak terdengar.


"Huh... aku di kantor, mungkin sebentar lagi aku pul---"


Tutt... Yora mengakhiri obrolannya.


"Ah aku sungguh tak bisa mengendalikan tangisanku sendiri!"


Yora membantingkan ponselnya ke atas meja, sementara tubuhnya masih setia duduk di bawah lantai putihnya tanpa alas, dengan sedikit darah yang bercecer dari punggung jemarinya. Ingin rasanya Yora menangis dan berteriak sangat kencang, namun ia masih memikirkan Adline, dia tak mau jika Adline mengetahui semua masalahnya.


"Ya! Apa sebelumnya kau menghubungi Yora?!" Jimin dengan nafas yang memburu menghampiri Aera, Jimin mendekatkan wajahnya dengan mata yang kini membulat. Jimin menunjuk-nunjuk Aera dengan ponselnya, sambil sesekali mengeraskan rahangnya. Jimin sangat marah sekarang.


"Aku hanya memastikan bahwa itu nomor istrimu!" jawab Aera dengan santainya. Ia tak mempedulikan Jimin yang kini menatapnya penuh amarah, Aera malah sibuk memainkan kuku-kukunya sambil sesekali meniupnya. Tak ada rasa bersalah sedikit pun dalam hatinya.


BRAK!


Jimin menggebrak mejanya sangat keras. Aera sungguh mencari mati kepadanya.


"Heh!" Aera berdecik dengan bola matanya yang berputar melihat aksi Jimin. Dengan sedikit senyum mengejeknya ia sunggingkan.


Jimin bergegas keluar dengan jas hitam di tangannya. Meninggalkan Aera yang kini tertawa bahagia, layaknya orang gila.


**


Tap Tap Tap...


Yora berlari dengan jas putih yang menggelantung pada lengannya. Menerobos masuk kerumunan orang-orang yang sedang berlalu lalang. Kini, matanya mulai mengabsen ke setiap sudut  ruangan, mulai mencari seorang perawat yang menghubunginya tadi.

__ADS_1


"Mana pasiennya?" Yora mengatur nafasnya, mencoba memakai jas putih khasnya sebagai seorang dokter. Matanya masih sembab, tangannya yang lecet dan masih menempelkan darah, ia biarkan seperti itu. Tak peduli dengan keadaannya sekarang.


"Dia ada di UGD Dok, hanya saja dia satu-satunya pasien yang sangat sulit di atur! Semua dokter dan perawat sudah sangat kesal padanya!" ucapnya menghembuskan nafas sangat panjang, seperti sudah putus asa dengan usahanya sebelumnya. Perawat itu menggeleng-gelengkan kepalanya, keringatnya mulai turun dari rambutnya. Terlihat sangat lelah, membuat Yora merasa iba padanya.


"Baiklah, biar aku yang urus! Kau istirahat saja!" titah Yora, mengelus pundaknya lembut, tak lupa dengan senyumnya yang sangat hangat, membuat perawat itu tak bisa menolak  titahnya.


Sebelumnya, perawat itu menghubungi Yora, memberitahukan padanya bahwa ada salah satu pasien yang kekeh ingin pulang, padahal lukanya sangat parah. Dia tertembak pada bagian perutnya. Pasien itu sangat keras kepala, dia tak ingin siapapun memyentuhnya, bahkan dia tak mau di obati. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Terpaksa, semua menunjuk Yora untuk membujuk dan menanganinya segera. Karena dia satu-satunya dokter di sana yang pandai meluluhkan hati pasiennya.


Masalahnya hilang seketika, kini kepalanya hanya tertuju pada pasien itu. Yora tak memikirkan Jimin sedikit pun kala itu, mungkin ini ada manfaatnya. Karena dengan Yora bekerja seperti ini, ia jadi bisa mengatur emosinya, dan juga bisa melupakan masalahnya.


CEKLEK!


Yora sempat menutup matanya sebelum memasuki ruangan itu. Langkahnya ia sengaja perlambat, dengan bibir yang siap untuk merekahkan senyuman. Yora melihat pria yang bersimbah darah itu, sedang diikat diatas tempat tidurnya.


"Ya! Kenapa semua orang memaksaku untuk tetap tinggal disini?!"


Pria dengan tubuh kekar itu membulatkan matanya pada Yora, penampilannya seperti seorang berandalan. Dengan rambut hitamnya yang sangat kusut, matanya memerah, namun kulitnya sangat putih dan tingginya melebihi Jimin tentunya. Bibirnya tak berwarna karna pucat. Mungkin saja dia sudah kehilangan banyak darah.


"Kau tertembak! Kenapa kau tak membiarkan kami untuk menyelamatkanmu eoh?" Yora membalas tatapan seram milik pria jangkung itu. Tatapan Yora kini mengintimidasi, dia mendekatinya, dan mulai memakai sarung tangan karetnya mulai mengeluarkan jarum suntik untuk membiusnya.


"Ya! Apa kau tuli?! Aku bisa mengobati lukaku sendiri!" pria itu memberontak, namun talinya sangat kuat mengikat badan kekarnya. Wajahnya semakin memucat, darahnya menggenang, membuat Yora sempat bergidik beberapa saat. Sebelumnya ia belum pernah melihat darah sebanyak itu.


"Sudahlah! Diam saja!" jarum suntik itu mulai Yora tusukkan pada lengannya, Yora tak ingin dia mati karena kehabisan darah. Namun, sebelum obat biusnya bekerja, pria itu sempat berkata...


"A-aku t-tak punya uang untuk m-membayar s-semuanya."


**


"Ponselnya juga mati kak!" Adline menunjukkan layar ponselnya setelah ia menempelkannya pada telinganya. Membuat keduanya cemas.


Jimin menggaruk-garuk kepalanya, berdecik dan mengigit bibirnya sendiri sebelum ia masuk ke kamarnya dan menjatuhkan badannya di atas kasur. Menatap langit-langit dengan tangan yang kini memegang keningnya yang mengerut. Mencoba menenangkan diri, dan mengingat tempat-tempat yang sering Yora kunjungi.


Karena lelah, Jimin tak sadar, dia terlelap karena keasikan berbaring di sana. Ia langsung beranjak, melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam.


"Arghh..." Jimin berteriak sangat menggema, memenuhi ruangannya kala itu. Kekesalan sangat nampak jelas pada wajahnya sekarang. Tentu saja ini semua berasal dari si wanita perusak, Aera.


**


Satu jam berlalu setelah Yora berhasil mengeluarkan butir-butir peluru dari perut pria tadi. Kini, dia belum sadarkan diri.


Yora duduk di bangku tunggu, dengan jas putihnya yang sedikit kotor karena bekas darah yang dikeluarkan pria tadi tidaklah sedikit. Tangannya tergerak, mengelap bekas keringatnya yang keluar dari sela-sela rambutnya. Kini, bukan hanya hatinya yang acak-acakan, namun wajah dan pakainnya juga sangat kusut dan kucel.


Yora sempat mengingat perkataan pria itu.


"Jadi, dia bersikeras untuk pulang karena tak punya uang untuk membayar biaya operasinya?" batinnya merasa iba.


Tiba-tiba perawat tadi datang menghampirinya, dengan senyum yang kini tergambar dari bibirnya menyodorkan selembar kertas yang di balut lagi dengan map berawarna hijau.


"Dok, ini biaya yang harus pria itu bayar!"

__ADS_1


"Ah... coba ku lihat." Yora mengambilnya, mulai membuka dan membacanya. Biayanya memang lumayan sangat besar, mustahil pria itu bisa membayarnya. Yora menutup kembali map yang berisi kertas itu, lalu merogoh kartu dalam dompetnya dan memberikannya pada perawat itu.


"Aku akan membayarnya! Ambilah!" Yora menyodorkan sebuah kartu, seperti  kartu ATM pribadinya.


"Eoh? Apa Dokter yakin? Ini biayanya sangat mahal!" matanya membulat setelah melihat Yora menyodorkan kartu itu, tak lupa dengan mulutnya yang kini terbuka sangat lebar. Namun ia segera menutupnya dengan tangannya.


Yora mengedipkan sebelah matanya dibarengi gelak tawa, membuat perawat itu tak bisa menolaknya. Dan langsung saja ia membawa kartunya untuk menyelesaikan administrasi pria itu.


"Apa Dokter Yora datang ke sini hari ini?" matanya penuh harap. Hanya rumah sakit satu-satunya tempat pelarian Yora, itu yang sempat terbesit dalam kepala Jimin.


Setelah mendapat jawaban yang ia inginkan. Jimin berlari mencarinya, membuka setiap ruangan yang ada. Mencari wanita yang sangat ia cemaskan.


"Yora-ah?!"


Senyuman yang sangat lebar dibarengi dengan nafasnya yang masih tak beraturan, Jimin akhirnya menemukan Yora yang tengah terduduk sambil termenung. Suasana di sana sudah cukup sunyi, karena ini sudah sangat larut. Namun Yora masih kesal dengan Jimin. Membuatnya malas untuk pulang.


"Apa-apaan dia? Kenapa menyusulku kesini?" Yora berbicara pada dirinya sendiri, tubuhnya refleks bangkit dengan mata yang membulat kaget. Ingin lari menghindari Jimin, namun entah kenapa kakinya sangat sulit untuk di gerakkan. Yora terpaku dengan tangan yang kini mengepal dan mata yang berkaca-kaca.


"Huh... a-aku mencarimu kemana-mana..." Jimin masih mengatur nafasnya.


Yora memalingkan wajahnya. Dengan tangan yang sesekali menyeka air matanya yang selalu menyerbu. Membuatnya berceloteh dalam hati.


"Ya! Yora! Kenapa kau rapuh sekali hah?"


"T-tanganmu kenapa?" setelah mengamati tubuh Yora dari atas hingga bawah, kini Jimin menyadari luka pada jemarinya. Mencoba memegang tangannya, namun Yora menepisnya.


"Aku tak apa!" isak tangis yang ia tutupi tak bisa menipu Jimin. Yora terus saja  melempar wajahnya, tak menatap Jimin sedikit pun.


"Kau kenapa hm? Apa aku melakukan kesalahan lagi?" Jimin memegang tengkuknya lembut, meskipun sempat ada penolakan, namun lagi-lagi Yora luluh ketika menatap matanya.


"Apa yang telah kau lakukan bersama Aera?!" Yora melepaskan tangan Jimin. Air matanya jatuh tak terasa, ketika mengingat hal itu.


"M-maksudmu? Aku tak melakukan apapun bersama Aera, sungguh!" Jimin mengernyitkan keningnya, mentap Yora lekat, dengan bibirnya yang selalu ia gigiti ketika sedang berada di situasi seperti ini.


Yora tak menjawab. Tubuhnya lemas, dia berjongkok dengan wajahnya yang kini bertumpu pada kedua tangannya. Tak kuasa menahan tangis yang sempat ia ingin keluarkan dari kemarin. Yora menangis terisak-isak, sangat kencang. Membuat Jimin ikut menjongkokkan tubuhnya, sangat kaget melihat Yora yang tiba-tiba menangis seperti itu tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ah sudahlah, kau bisa jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya, ya?" bujuk Jimin membelai rambut kusutnya sambil mengelus-elus punggungnya.


"Kita obati saja lukamu, selagi kita ada di sini." Jimin mencoba membangkitkan tubuh Yora, sekuat tenaga.


"Kau jahat! Aku membencimu!" Yora memukul dada Jimin sangat keras, kini tubuh Yora terduduk. Wajahnya tertunduk, meneteskan air matanya pada keramik berwarna krem itu.


"Ya, ya! Lihat aku! Aku sungguh tak berbuat macam-macam pada Aera. Bahkan untuk menyentuhnya saja aku tak sudi!"


"Kau percaya padaku 'kan?" sambungnya mendongakkan wajah Yora yang hampir tersungkur pada lantai, karena terlalu menunduk.


"Aku hanya bisa menyentuhmu! Tidak dengan wanita lain, apalagi Aera." Jimin menenggelamkan wajah Yora pada dada bidangnya. Tak ada penolakan, Yora bahkan menghentikan tangisnya. Jimin mengelap air matanya, mengusap-usap jari Yora yang terluka.


Hm, masalah pada rumah tangga mereka memang cukup rumit. Namun, setidaknya selalu ada yang mengalah dan sekaligus menjadi penenang dianatara keduanya. Yora yang mudah tersentuh hatinya, mudah rapuh namun juga mudah luluh. Sedangkan Jimin? Dia sangat memahami Yora, dia selalu menjadi obat dan juga menjadi penenangnya. Masalah datang bergantian menguji seberapa tangguhnya rumah tangga yang baru saja mereka bangun. Apakah akan roboh begitu saja hanya dengan tiupan angin sepoi-sepoi?

__ADS_1


__ADS_2