
"Hanya itu?" tanya Jimin datar, setelah mendengarkan penjelasan Taehyung mengenai Yora. Selama Taehyung berbicara, Jimin nampak tak memperhatikannya. Dia hanya memandang kosong ke arah lain.
"Maaf." Taehyung menunduk dengan tangannya yang kini saling bertautan.
Mereka duduk di bangku tunggu. Namun beda dari biasanya, Jimin yang sangat cerewet dan ramah, tiba-tiba menjadi diam membisu. Taehyung sangat terpukul melihat perubahan Jimin seperti itu. Ia merasa sangat bersalah sekarang.
Kedua pria tampan yang kini duduk di bangku itu tiba-tiba tak saling menegur sapa. Keduanya nampak acuh dan dingin.
Jimin lalu beranjak dan masuk ke ruangan Yora, meninggalkan Taehyung yang kini menatap kepergiannya sambil sesekali mengeraskan rahangnya.
Jimin masuk dan langsung menghampiri Yora yang tengah berbaring lemas diatas kasurnya, "Kau tak apa eoh? Apa masih sakit?" Jimin mengelus rambut Yora lembut, matanya sangat jelas menampakkan kekhawatiran yang dari tadi ia pendam.
"Kau darimana?" lirihnya mendongakkan wajahnya untuk menatap Jimin. Sementara tangannya tergerak melepaskan elusan dari rambutnya, dan kini Yora menggenggam erat tangan Jimin.
"Ah tadi aku ada urusan sebentar." senyum khasnya selalu membuat Yora meleleh. Tak kuasa rasanya ketika Yora melihat Jimin seperti itu. Rasa sakitnya selalu terobati dengan senyum manis dan hangat miliknya.
Setelah agak lama mereka berbincang. Raut wajah Yora tiba-tiba berubah. Wajah pucat yang kini di barengi dengan air mata yang telah berkumpul, membuat Jimin terperanjak, Jimin pikir Yora mengalami kram lagi, namun kenyataannya bukan itu.
"Aku takut Jim...hiks." air matanya menetes, sungguh Yora tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya selama ini yang ia pendam sendiri. Yora menggenggam tangan Jimin sangat erat dengan air mata yang kini mengalir deras di pipinya.
"Apa perutmu sakit lagi?" Jimin bangkit dari duduknya, ia menatap Yora lekat. Bahkan Jimin hendak pergi untuk memanggil dokter, namun Yora menghentikannya.
"A-aku takut akan terjadi sesuatu pada bayi kita..."
"Aku takut..."
Wajah Jimin yang tadinya menegang, kini mulai tenang. Ia menghembuskan nafas panjangnya sambil sesekali tersenyum tipis pada Yora. Ia duduk kembali dan mulai berbicara serius lagi dengannya.
"Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku." Jimin mencium tangan Yora. Ia selalu menguatkannya dengan caranya sendiri. Meskipun kekhawatiran Jimin tak kalah besar darinya, tapi Jimin pandai menyembunyikannya, Jimin tak mau menampakkannya pada Yora. Menurutnya, itu hanya akan membebaninya saja.
**
"Jimin membantumu untuk menghabiskan ini semua?" tanya Taehyung tanpa menoleh Aera. Dia duduk agak jauh darinya, Taehyung masih memikirkan Jimin, hingga dia tidak memperhatikan Aera yang kini lebih sehat dan segar dari sebelumnya.
"Ku rasa kau sudah tahu jawabannya." senyum angkuh khasnya kini terukir kembali, setelah sekian lama Taehyung tak pernah melihatnya. Aera merasa menang lagi kali ini. Keinginannya sudah terpenuhi.
Tak ada respon, Taehyung menunduk dengan tangan yang sudah saling bertautan. Perasaannya sedang campur aduk. Yang Taehyung rasakan sekarang adalah kekesalan yang sudah memuncak. Ingin marah namun Taehyung merasa itu semua memang salahnya. Jimin, Yora, dan Aera adalah penyebab terciptanya kekesalan yang sekarang sudah hampir meledak. Jimin yang tiba-tiba berubah, Yora yang selalu ada di pikirannya, dan terakhir, Aera yang tak pernah menghargainya.
"Aku harus bisa mengendalikan diriku."
**
Satu bulan kemudian...
Setelah memikirkannya dengan sangat matang, akhirnya Taehyung memutuskan untuk pindah ke Swiss menyusul mertuanya untuk tinggal disana bersama Aera.
Taehyung melakukan itu bukan tanpa alasan semata, melainkan itu satu-satunya cara agar ia dan Aera bisa melupakan orang yang selalu muncul di pikiran mereka.
Taehyung tak bisa membiarkan dirinya yang terus saja memikirkan Yora. Begitu pun dengan Aera, Taehyung juga tak mau melihat Aera yang terus menerus menyiksa dirinya karena Jimin.
__ADS_1
Semoga keputusannya benar. Taehyung sudah menceritakan semuanya pada direktur Lee mengenai Aera. Dan direktur Lee pun setuju dengan usul Taehyung untuk tinggal di Swiss bersamanya.
Mungkin perlahan Taehyung akan mencoba itu dengan jarak. Jarak yang sangat jauh semoga segera bisa melupakan semuanya yang telah tertinggal di Korea selama ini. Taehyung benar-benar ingin meninggalkan semua kenangannya disini, dia tak mau membawanya ke Swiss, karena itu akan sangat menyiksanya.
"Cepatlah! Sebentar lagi kita akan berangkat." Taehyung memberi intruksi agar Aera segera mempercepat aktivitasnya yang dari tadi sangat lambat sekali. Taehyung berdiri tegap di hadapan Aera, dengan sebelah tangan yang masuk ke dalam saku celananya tak lupa dengan matanya yang kini hanya terfokus pada layar ponselnya. Sepertinya Taehyung sedang mempersiapkan keberangkatannya.
Aera nampak tak semangat mengemas barang-barangnya. Akan sangat percuma jika ia marah-marah pada Taehyung sekarang. Bahkan lagi-lagi di akan menang karena telah membuat direktur Lee berada di pihaknya. Aera memasukkan bajunya ke dalam koper dengan sangat lambat dan berantakan. Ia menatap ke depan dengan tatapan yang kosong.
Bagaimana tidak, Aera tak akan bisa melihat Jimin lagi, pria yang sangat ia cintai itu, kini akan sangat sulit untuk bisa bertemu dengannya, bahkan itu mustahil!
Aera tenggelam dalam lamunannya, dia sepertinya tak mendengarkan intruksi dari Taehyung barusan.
"Ya! Apa kau tak mendengarkanku eoh?" Taehyung melemparkan ponselnya ke atas kasur, ia nampak kesal dengan Aera yang tak memperhatikan lawan bicaranya.
"Puas kau?! Setelah merusak semuanya, dan sekarang kau ingin membuangku jauh! Bshkan sangat jauh!" bentaknya sambil beranjak dan menatap Taehyung penuh kemarahan. Aera mengeraskan rahangnya geram.
Taehyung yang sekarang tidak akan pernah membungkuk lagi di hadapannya, tapi ia akan membuat Aera membungkuk di hadapannya, "Jadi kau fikir hanya kau saja yang menderita karena ini?!" Taehyung maju semakin dekat, mengikis semua jarak di antara mereka. Taehyung terus saja menyeret tubuh Aera hingga sampai pada dinding berwarna putih itu. Tak ada tatapan angkuhnya lagi, kini hanya tatapan memelasnya yang mengisyaratkan pada Taehyung untuk segera mundur dari hadapannya. Namun Taehyung tak akan melepaskannya begitu saja.
"Tatap aku!" tangannya sudah ada pada rahang putih nan mulus milik sang istri. Entah siapa yang sekarang Taehyung lihat, yang jelas tatapannya sangat lekat dan matanya juga berkaca-kaca.
Aera memalingkan wajahnya dengan cepat. Jantungnya mulai berdetak tak beraturan. Perasaan apa itu? Kenapa Aera tak melawannya? Aera nampak pasrah pada keadaan yang membuatnya tak berdaya.
CUP...
Taehyung menempelkan bibirnya pada bibir Aera. Sementara matanya memejam, membuat Aera menjadi ikut memejam juga. Taehyung menggigit sedikit bibir Aera karena dia tak meresponnya. Dengan terpaksa, Aera pun ******* bibir pria yang tak pernah ia cintai sama sekali itu, sekarang ia bahkan berhasil membuat Aera menjadi manusia yang tak berdaya dan menyerah begitu saja.
**
Tangan indahnya mengelus perut yang kini sudah sangat besar. Ia nampak tersenyum sendiri, mengajaknya berbicara, dan juga membelai penuh kasih sayang. Sang buah hati yang sebentar lagi akan lahir ke dunia ini. Sebuah kebahagiaan yang tiada taranya bagi seorang Yora. Sesekali ia menatap lurus ke arah sana sambil meminum segelas teh yang ada di tangannya sekarang. Yora menghela nafas panjang beberapa saat ketika ia mengingat Jimin yang kini tak ada di sampingngnya, sementara ia sangat merindukannya.
Ingin rasanya Yora bersandar pada bahu kekar miliknya. Sambil menikmati senja yang kini sangat indah terlihat disana.
Jimin belum pulang dari kantornya. Dia sangat sibuk akhir-akhir ini. Tentunya karena mengurus pekerjaan dan keberangkatan Taehyung dan Aera yang dalam hitungan jam akan mulai pergi ke bandara.
Kemarin Jimin dan Taehyung sempat membicarakan hal ini. Mereka bertemu di salah satu cafe dekat kantor.
"Apa kau yakin? Kau akan kehilangan posisimu jika kau pergi." Jimin menatapnya dengan tangan yang sudah ia gigiti. Ia akan sangat kehilangan Taehyung jika dia benar-benar pergi. Jimin sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri.
"Aku sangat yakin." Taehyung berusaha memberikan senyum terhangatnya. Mencoba menipunya dengan senyuman itu.
"Ah hampir saja aku lupa. Aku titipkan Mirae padamu. Aku minta sedikit waktumu setiap minggunya untuk mengunjungi adikku. Jangan katakan apapun tentangku di hadapannya. Dan jika ia bertanya ka---"
"Iya, aku mengerti. Aku sangat mengerti." Jimin menghela nafas, lalu menunduk setelah melihat mata Taehyung yang kini sudah di penuhi dengan air mata.
Jika di tanya yakin atau tidaknya, sudah pasti Taehyung tidak sepenuhnya yakin dengan keputusannya. Meskipun ia sudah memikirkannya beribu-ribu kali, namun entah kenapa rasanya sangat berat sekali untuknya. Swiss sangatlah jauh, selain jauh, Taehyung harus kembali beradpatasi lagi pada lingkungannya yang baru nanti, dan itu bukanlah hal yang mudah.
**
"Kau harus di rawat disini hingga besok. Mungkin besok waktunya." ucap dokter Hye seraya mengelus lembut rambut Yora yang sudah acak-acakan bercampur dengan keringatnya yang mengalir begitu deras. Ini bulan ke sembilan, dan mungkin ini waktunya.
__ADS_1
Ya, Yora mengalami kram lagi pada perutnya, atau bisa di bilang Yora akan segera melahirkan. Jimin yang menunggunya di luar nampak sangat panik, ia tak bisa diam semenjak Yora mulai masuk pada ruangan khusus bersalin.
"Hm jangan khawatir. Besok kau akan segera melihat buah hatimu." dokter Hye menghampirinya, mencoba untuk menenangkannya. Dokter Hye sempat berbincang agak lama dengan Jimin disana. Selain membahas mengenai keadaan Yora, dokter Hye juga tentu sedikit menghiburnya. Sangat jelas terlihat, Jimin yang biasanya tidak seperti yang sekarang dokter Hye lihat. Dia sangat tegang dan gugup. Mungkin saking bahagianya.
"Ah aku masih tak percaya. Besok aku--- ah."
Jimin mengusap wajahnya beberapa kali. Tangannya sangat dingin, keringatnya mulai menetes dari rambutnya. Tak lupa juga dengan matanya yang kini berbinar.
Dokter Hye hanya tersenyum melihat Jimin. Ia menepuk bahunya sambil berlalu dari hadapannya. Dokter Hye memakluminya, Jimin sudah menantikannya cukup lama, dan sekarang waktunya.
Jimin pun segera masuk untuk menemui Yora.
Senyuman yang terus ia sunggingkan menjadi penguat untuk Yora.
"Aku sudah tak sabar." Jimin menyeringai, dia mengelus perut buncit Yora dan menciumnya.
"Sudahlah Jim, geli..." lirih Yora, memukul kepalanya pelan. Jimin malah sengaja mendiamkan bibirnya dan bahkan mengecup perutnya berulang kali.
"Ini terakhir kalinya aku akan mencium perutmu. Besok mungkin perutmu sudah tak besar lagi." Jimin dengan polosnya.
"Apa kau yakin ini terakhir kalinya? Kurasa sebelum aku hamil pun kau selalu mencium perut---"
"Ah iya, aku lupa. Aku suka perutmu." Jimin menggigit bibirnya, menatap Yora dengan tatapan smirk khasnya.
"Aku jamin setelah melahirkan nanti kau tak akan menyukai perutku lagi." suaranya hampir habis, suara Yora sudah sangat serak karena dari tadi ia menangis sangat kencang menahan sakit pada perutnya.
"Ah aku tak yakin." Jimin memainkan tangan Yora, ia menarik kursi untuk segera duduk di sampingnya. Jimin kini tak menatapnya.
"Perutku akan rusak Jim. Kau akan jijik melihatnya." Yora memasang wajah sedihnya. Ia sudah lama tak menggoda Jimin. Jadi sekarang ia akan menggodanya.
"Yasudah, nanti aku tak akan mencium perutmu lagi."
"Huh... sudah ku dug---"
"Aku akan mencium bibirmu saja setiap hari sebagai gantinya." Jimin menaikkan kedua alisnya. Itu seperti sebuah ancaman besar bagi Yora.
Mata Yora langsung membulat ketika mendengar ucapan Jimin barusan, "A-aku hanya bercanda. Perutku akan tetap bagus tenang saja." Yora mulai gugup dan canggung setelah melihat Jimin yang kini menatapnya tanpa mengedipkan mata.
Meskipun ini sudah sering ia dapatkan dari Jimin, namun tetap Yora tak pernah sanggup untuk menghilangkan ke gugupan dan kecanggungannya ketika Jimin bersikap seperti itu.
"Bagus. Aku akan mencium perutmu juga." Jimin masih tak mengedipkan matanya, ia masih setia memegang tangan Yora dan memainkannya.
"Juga?" tanya Yora kikuk.
"Iya, aku akan mencium bibir dan perutmu juga. Jadi aku mendapat dua bagian itu setiap harinya. Oke? Sepakat." Jimin mengaitkan jari kelingking mungilnya pada jari kelingking milik Yora, seperti sedang berjanji Jimin tertawa setelah melihat Yora yang melongo di buatnya.
"Ya! Kenapa tanganku jadi tak berdaya dan malah menurutinya? Ah sudahlah, Tanpa membuat kesepakatan pun, dia akan tetap memaksaku."
__ADS_1