SENTUHANMU

SENTUHANMU
Bayi perempuan


__ADS_3

"Huh... huh... huh..." Yora mengatur nafasnya. Ia berteriak dan menangis sangat keras, menahan rasa sakit yang kini ia rasakan pada seluruh badannya. Terasa sangat remuk.


Sementara Jimin yang ada disana juga ikut berkaca-kaca melihat sang istri yang kini berjuang untuk melahirkan sang buah hati ke dunia. Sungguh Jimin tak tega melihatnya, namun apa boleh buat Jimin hanya bisa membantu menyemangatinya saja.


"Aku disini, kau harus kuat sayang." Jimin beberapa kali mengecup kepala Yora. Dengan tangannya yang menggenggam erat tangannya. Jimin terus membisiki Yora dengan kata-kata penyemangatnya.


"Akhhhhhh..."


"Akhhh..."


Setelah beberapa jam Yora berjuang, akhirnya...


"Oekk... oekk.. oek..."


Mata Jimin berbinar, setelah mendengar tangisan sang buah hati yang telah lama ia tunggu. Jimin dan Yora mengehembuskan nafas lega melihatnya. Hampir saja Jimin menangis karena terharu melihat perjuangan Yora yang susah payah barusan.


"Ah selamat bayi kalian perempuan." dokter Hye tersenyum, sambil membersihkan bayinya. Dokter Hye nampak sangat lembut dan hati-hati sambil terus menerus tersenyum gemas melihat sang bayi.


"Kau telah berhasil melewatinya! Terima kasih." Jimin mencium pucuk kepala Yora. Sedangkan Yora sibuk mengatur nafasnya, memang melahirkan secara normal itu sangatlah tak mudah.


Dokter Hye membersihkan bayinya dengan penuh kasih sayang. Sementara Jimin sudah terlihat sangat tak sabar ingin segera menggendong sang buah hati ke dalam pangkuannya.


"Sangat cantik!" dokter Hye menyerahkan bayinya pada Jimin.


Jimin dengan tangan yang agak gemetar mencoba menerima sang bayi untuk segera ia dekap. Jimin tak henti-hentinya tersenyum melihat bayinya yang kini sedang menguap, itu sangat menggemaskan.


"Lihatlah dia sangat cantik sepertimu." Jimin duduk di samping Yora yang tengah ikut tersenyum melihat tingkah konyol Jimin. Yora mendudukkan dirinya dengan perlahan. Ia melihat buah hatinya yang kini telah lahir ke dunia dengan selamat. Yora menciumnya, tak lama kemudian dia menangis, mungkin karena lapar. Jimin segera menyerahkannya pada Yora untuk segera di beri ASI.


"Kita akan beri nama siapa?" tanya Jimin sambil mengelus pipi kecilnya. Jimin nampak gemas melihatnya, bahkan ia terus saja menciuminya. Membuat Yora agak kesal karena Jimin selalu mengganggunya.


"Ya! Sudahlah..."


"Kenapa? Apa aku tak boleh mencium bayiku sendiri?" Jimin cemberut, menatap Yora layaknya anak kecil yang di suruh berhenti bermain oleh ibunya.


"Dia sedang tidur. Kau jangan mengganggunya." Yora berbisik pada telinga Jimin. Membuatnya berdecik, lalu mundur sedikit dari tempat semula.


"Untuk namanya..." lanjut Yora nampak berfikir.


"Magy! Ya, Park Magy. Bagaimana? Nama yang sangat cantik untuk bayi kita yang juga sangat cantik." Jimin menyeringai, matanya sangat berbinar, berharap Yora akan setuju dengan pendapatnya.


"Ah boleh juga. Park Magy, terdengar sangat langka. Aku menyukainya." Yora tersenyum lalu menatap sang bayi gemas.


"Ah matanya sama denganmu Jim! Lihatlah!" Yora terkekeh melihatnya yang kini sudah bangun, namun matanya terlihat masih memejam. Itu karena mungkin matanya terlalu sipit sama seperti ayahnya.


"Iya kah?" Jimin terkejut mendengar ucapan Yora barusan. Ia kembali mendekati mereka dan langsung memastikannya sendiri. Setelah melihatnya agak lama, ia langsung tersenyum dan lagi-lagi menenggelamkan matanya.


"Ah iya, matanya sangat mirip denganku."


"Aku harus mengabadikannya."


Jimin mengeluarkan ponselnya, pertama ia memotret bayinya sendiri, yang ke dua ia memotret bayi dan ibunya, yang ke tiga ia memotret dirinya dan sang bayi, dan yang terakhir, dia memotret dirinya, Yora, dan sang buah hati.

__ADS_1


"Bagus! Aku menyukainya!" Jimin mencium lagi pipi bayinya gemas. Yora hanya bisa tersenyum melihatnya.


"Aku bersyukur Jimin tak kecewa. Meskipun sebelumnya ia sangat menginginkan bayi laki-laki, dan kenyataannya--- ah tapi syukurlah dia terlihat sangat menyayanginya. Aku sangat lega."


**


Satu minggu berlalu...


Kini, Yora mulai merasakan kesulitan yang sesungguhnya. Bagaimana sulitnya menjadi seorang ibu, itu tak seindah yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun Yora selalu terhibur melihat gadis kecilnya yang hari demi hari tumbuh dalam pengawasannya. Itu sangat membuatnya bahagia melebihi apapun.


"Kak..."  tiba-tiba suara yang tak asing mulai terdengar dari arah ruang tamu. Adline, dia pasti sudah sangat tak sabar melihat keponakan barunya yang menggemaskan itu.


"Ah kau, apa kabar?" Yora bangkit dan langsung memeluknya. Adline baru saja tiba di Korea kemarin. Ia banyak pergi berlibur ke luar negri bersama Jungkook akhir-akhir ini. Itulah sebabnya Adline baru bisa menemui Yora hari ini.


"Baik. Sangat baik. Bagaimana denganmu?" Adline membalas senyum hangat Yora yang selalu membuatnya ikut tersenyum jika melihatnyaa. Sementara Jungkook ada di belakang mereka.


"Bolehkah aku menggendongnya?" Jungkook terlihat sangat antusias ingin menggendong Magy. Rasanya tak lengkap jika melihat bayi dan ia tak menggendongnya, itulah katanya.


"Tentu saja." Yora dengan senang hati mengizinkannya untuk menggendong gadis kecilnya itu.


Ekspresi Jungkook tak jauh beda dengan Jimin ketika ia pertama kali melihat Magy. Jungkook tak henti-hentinya tersenyum gemas. Jungkook sudah sangat pantas untuk menjadi seorang ayah. Membuat Adline  asik memandang pria di hadapannya. Adline nampak berkaca-kaca. Ia langsung pamit untuk pergi ke toilet pada mereka.


Adline berbohong, ia ternyata pergi ke taman belakang rumah. Dan...


"Maafkan aku... ah aku merasa gagal menjadi istrimu... aku telah mengecewakan kau dan juga ibumu... mianhae."


Tangis Adline pecah. Ia terduduk di tanah,badannya tiba-tiba lemas ketika mengingat kata dokter waktu itu. Adline benar-benar sangat merasa bersalah. Padahal ini memanglah bukan keinginannya. Namun, mungkin keberuntungan belum berpihak padanya.


Wajahnya sudah sangat pucat. Adline benar-benar hancur.


"Ya! Kenapa kau menangis seperti ini eoh?" Jungkook terkejut melihat Adline yang sudah terduduk di tanah. Jungkook berlari menghampirinya.


"Maafkan aku..." Adline bahkan tak sanggup menatap matanya. Air matanya malah mengucur semakin deras ketika Jungkook menghampirinya.


"Sudah ku bilang ini bukan salahmu. Sudahlah... aku tak suka melihatmu seperti ini." Jungkook mengelap air matanya yang terus mengalir.


"Aku telah mengecewakan semua orang! A-aku---"


"Sudah stttt... mungkin Tuhan belum mempercayai kita. Kita harus bisa menerima ini. Lagi pula ibuku juga mengerti,"


Jungkook membawa Adline ke dalam dekapannya. Dan Adline pun semakin terisak. Ya, memang Adline sangat menginginkannya, namun semuanya tak berjalan sesuai keinginannya.


**


"Begitulah... Jadi kami sering pergi ke luar negri bukan hanya karena liburan semata. Namun, kami kesana untuk menjalankan terapi." jelas Jungkook pada Yora.


Ya, Adline ternyata tak bisa hamil. Karena rahimnya terlalu lemah. Kau tahu kan Adline sangat rentan terkena penyakit? Itulah sebab utamanya. Ia tak bisa hamil karena rahim dan tubuhnya yang selalu lemah. Jika pun ia bisa hamil, maka akan lebih banyak resiko kegugurannya di bandingkan keselamatannya.


Yora memeluk Adline setelah mendengar penjelasan Jungkook, "Kenapa kau tak bilang padaku eoh?" Yora berkaca-kaca nenatap Adline yang juga mulai meneteskan air matanya lagi.


"Aku tak mau kau dan kakakku khawatir."

__ADS_1


"Ingat kata-kataku. Bahkan kau tak salah dalam hal ini. Bahkan kau tidak bisa menyalahkan siapapun disini. Dulu, kau selalu meyakinkan aku untuk bisa menyembuhkan kakakmu. Dan hasilnya, kau sudah lihat kan bagaimana perubahannya sekarang? Kau tahu itu semua tak lepas dari usaha dan perjuanganku. Beberapa kali berpikir untuk mundur, namun ternyata aku malah terus saja maju. Kau juga harus sama sepertiku, aku yakin suatu saat nanti kau akan bisa hamil kau akan sehat, dan kau harus percaya dan berusaha. Aku tahu ini tak mudah, namun berusahalah dulu. Usaha tak'kan menghianati hasil. Yakinkan dirimu untuk bisa sembuh Adline, jangan tenggelam dalam kesedihan ini sehingga membuat tubuhmu semakin memburuk. Aku mohon, sayangilah dirimu demi aku, Jungkook, Jimin, dan demi semua orang yang menyayangimu."


Tak terasa air mata menetes pada pipinya. Yora sungguh tak bisa membiarkan Adline tenggelam dalam kesedihannya yang selalu berlarut-larut. Yora sudah menganggapnya seperti adik kandungnya sendiri. Yora juga selalu ikut merasakan apa yang kini Adline rasakan. Ia juga bisa membayangkan bagaimana jika ia yang berada di posisi Adline sekarang. Ini bukanlah hal yang sangat mudah.


"Tolong beritahu dia juga agar jangan pernah lagi menyuruhku untuk menikah lagi!" teriak Jungkook pada Yora, ia juga terlihat menangis, terlihat dari hidungnya yang memerah dengan wajah yang menunduk.


"Kenapa hm? Kenapa kau menyurunya untuk menikah lagi? Memangnya kau sudah sanggup kehilangannya." tanya Yora menarik dagu Adline agar menoleh ke arahnya.


Lagi-lagi Adline semakin kencang menangis.  Tentu saja ia belum siap bahkan tidak akan pernah siap untuk melihat prianya menikah lagi.


"Katakan padanya kak! Aku menyuruhnya melakukan itu karena aku sayang padanya. Aku tahu dia sangat ingin punya bayi kan? Maka, menikahlah dengan wanita lain yang tak berpenyakit sepertiku."


"Katakan padanya! Jika dia sayang kenapa tak berjuang bersama? Apa mungkin itu tandanya dia sudah tak mencintaiku lagi?"


Yora terkekeh melihat mereka. Ia menggeleng sambil tersenyum. Bagaimana mereka bisa beradu mulut di depannya? Dan yang membuat Yora sangat ingin tertawa adalah mereka berdua malah menangis.


"Ya! Kalian sudah dewasa, selesaikan masalah kalian dengan baik. Aku tak mau melihat kau cengeng seperti ini Jungkook-ah. Kau ini pria kau harus kuat."


"Ah mianhae." Jungkook langsung mengelap air matanya sendiri dan langsung menghampiri Adline. Yora pun pergi dari hadapan mereka, karena Magy ternyata terbangun dan menangis.


"Ya! Maafkan aku, aku begini karena aku kesal. Aku tak mau menikahi wanita lain selain dirimu. Aku hanya mencintaimu Adline, apa kau tak tahu? Apapun keadaanmu, aku tak akan pernah meninggalkanmu." Jungkook mengelus lembut rambut Adline, sambil merapihkannya ia mencoba tersenyum dengan hidungnya yang sudah memerah.


"Aku membencimu!" Adline memukul pelan lengan kekar Jungkook dan langsung memeluknya sangat erat.


**


"Bagaimana keadaanmu disana? Apakah semuanya baik-baik saja?" Jimin terlihat sedang berbincang pada seseorang di telpon.


"Ya, aku jauh lebih baik disini. Meskipun agak sulit aku menyesuaikan diri disini."


"Bagaimana keadaan istrimu?"


"Aera sedang di rawat di rumah sakit sekarang. Beberapa hari ke belakang ia sering mendapat gangguan pada perutnya, itu sebabnya ia harus di rawat beberapa hari ini."


"Ah begitu. Bayiku juga sudah lahir. Kau tahu? Dia sangat cantik,"


"Wah aku ingin melihatnya. Bisakah kau kirimkan fotonya padaku? Apakah dia mirip denganmu?"


"Ya, matanya sangat mirip denganku. Selebihnya dia sangat mirip dengan istriku. Sungguh ini tak adil."


"Haha aku juga penasaran nanti bayiku akan mirip pada siapa? Aku atau Aera?"


"Aku tak tahu, yang jelas wajah kalian akan ada pada bayinya. Semoga istrimu lekas sembuh. Jaga dia dengan baik,"


"Tentu saja."


"Ah tunggu, bagaimana dengan direktur? Apa dia juga baik?"


"Ya, dia juga sangat baik. Sekarang, aku sudah sangat akrab dengannya, aku sangat senang."


"Ah syukurlah."

__ADS_1


__ADS_2