SENTUHANMU

SENTUHANMU
Racun


__ADS_3

"Oppa!" Mirae berlari dari dalam rumah, memeluk Taehyung senang.


"Oppa! Tadi aku bertemu Eonni  cantik,"


Taehyung mengerutkan keningnya, mendengar perkataan Mirae barusan. Siapakah wanita itu? Apakah Aera?


Tapi tak mungkin Aera, dia pastinya sudah membawa Mirae, tapi ini tidak.


"Kau tahu namanya?" Taehyung menatap Mirae, berharap Mirae mengetahuinya. Taehyung membelai rambut Mirae.


"Yo-ra." Mirae tersenyum, melafakan nama Yora dengan nada seperti mengeja. Mirae ternyata bisa mengingat namanya.


"Ah, dia." bisik Taehyung menghembuskan nafasnya pelan.


Taehyung menuntun Mirae untuk masuk ke dalam. Mirae tak henti-hentinya menceritakan Yora, dia sangat senang padanya. Taehyung ikut tersenyum mendengarkannya, kali ini Mirae sangat ceria. Tak seperti ketika bertemu dengan Aera.


"Begitukah?"


"Iya, dia sangat cantik! Dia memberiku banyak permen!"


**


"A-adline?" Yora berdiri di belakang Adline yang tengah menyeduh mie instan untuknya. Adline terkejut ketika mendapati Yora yang sudah ada di belakangnya.


"Ah kau mengagetkanku! Ada apa?" Adline memutar tubuhnya menghadap Yora. Tak mempedulikan mie instannya yang tengah mengembang dengan api yang besar menggebu-gebu.


"Kau matikan dulu itu!" Yora menunjuk kompornya. Itu sangat berbahaya.


Setelah Adline mematikannya, Ia membalikan tubuhnya lagi. Menatap Yora yang terlihat gelisah, "Kau mau sesuatu?" Adline coba menebak.


Yora mengangguk, wajahnya kini tertunduk. Tapi tanpa di sadari, Jimin berdiri di ambang pintu dapur, memperhatikan mereka. Bahkan menguping pembicaraan mereka. Belum sempat Yora mengungkapkan keinginannya, Jimin memotongnya.


"Aku sudah pulang! Sebaiknya kau minta tolong padaku saja!" Jimin berjalan menghampiri mereka, dengan sedikit rekahan senyum di bibirnya ketika menatap Yora sekilas. Lalu kini menatap Adline dengan tangannya yang kini sudah berada di bahu adik tercintanya.


"Istirahtlah!"


Adline kini tak bisa menolaknya. Selain ia tak mau mengganggu mereka, ia juga harus banyak beristirahat. Adline pergi ke kamarnya, dengan membawa semangkuk mie instant yang sempat ia seduh tadi.


"Katakan, kau mau apa?" Jimin menatap Yora yang tengah gelisah, tatapannya sangat lekat. Tubuhnya masih lelah, namun senyumannya selalu menutupi semuanya.


"A-aku mau mangga yang sangat manis." Yora menunduk, memainkan tangannya. Merasa tak enak dengan keinginannya yang selalu menuntut tanpa kenal waktu.


Jimin melirik jam tangannya, " Ini sudah malam, aku akan membelikannya besok ya?"


"Aku mau sekarang!" Yora menatap Jimin segan. Sungguh dia tak enak padanya. Namun, Yora harus minta tolong pada siapa lagi?


Jimin nampak bingung, Jimin tak tahu banyak pedagang buah di dekat rumahnya. Masalahnya, ini sudah sangat malam, mana ada pedagang yang masih membuka tokonya sekarang. Jimin terpaksa menelpon Taehyung.


Taehyung yang tengah menidurkan adiknya, segera pergi agak jauh dari Mirae, setelah menyadari ponselnya yang dari tadi tak mau diam.


"Yeobseo?"


"Apa kau tahu tempat penjual buah mangga yang masih buka sekarang?"


Sambil menunggu Jimin, Yora duduk dekat meja makan. Ia nampak tak mau menunggu.


Taehyung ingat, dia masih punya buah itu di lemari es nya. Taehyung sempat membelinya kemarin, namun karena Miare kurang menyukainya, mangga itu masih ada tersimpan disana.


"Aku  punya di rumah,  aku akan mengantarkannya ke rumahmu."


"Ah syukurlah... maaf merepotkanmu."


Jimin menutup telponnya. Bernafas lega, "Tunggu, sekertarisku akan mengantarkan mangganya kesini sekarang." ucap Jimin.

__ADS_1


"Sekertaris? Tuan Oh?" Yora nampak penasaran apakah sekertaris itu Tuan Oh, atau dia baru.


"Bukan. Dia sekertaris baru." Jimin sambil membuka jasnya. Menggantungkannya pada lengannya. Lalu duduk di samping Yora.


"Pria? Atau..."


"Dia pria. Kau tak usah khawatir."


Tak lama kemudian, Taehyung sudah berdiri di depan pintu mewah milik majikannya itu.


Sempat ragu untuk mengetuknya, Taehyung menarik dan mengeluarkan nafasnya. Dia seperti orang yang akan naik ke atas altar pernikahan, sangat canggung.


TOK... TOK... TOK...


Taehyung mengetuk pintu sambil sesekali memejamkan matanya.


Jimin membukanya, lalu menyuruh Taehyung untuk masuk terlebih dahulu. Taehyung tak bisa menolaknya.


"Baiklah." Taehyung masuk. Mulai mengabsen setiap sudut ruangan dan benda yang ada di sekelilingnya. Rumah mewah, Taehyung baru merasakan sensinya sekarang.


Betapa terkejutnya Yora ketika melihat siapa yang kini ada di hadapannya. Yora membulatkan matanya, "K-kau? Kenapa bisa?" Yora menatap Jimin dan Taehyung bergantian.


"Kalian sudah saling kenal 'kan?" Jimin menatap Yora.


"I-iya. Dia pasienku."


Jimin tersenyum, menarik tangan Yora untuk duduk bersama mereka. Sementara Taehyung pun ikut duduk, dengan wajah santainya, karena ia sudah tahu semuanya.


"Dia sekertaris baruku." Jimin tersenyum dan menatap Taehyung. Dengan tangan yang tak lepas menggenggam tangan Yora. Membuat Taehyung sesekali meliriknya.


"Hm," Yora mengangguk sambil merogoh mangga yang barusan Taehyung bawa, "Kalian lanjutkan saja mengobrolnya ya? Aku akan makan ini dulu." Yora membawa semua mangganya. Membuat Taehyung dan Jimin terdiam menatap Yora, dengan mulut mereka yang agak menganga.


"Ngomong-ngomong, ini... aku akan membayar mangganya!" Jimin merogoh dompetnya, mengambil uang untuk diberikan pada Taehyung.


Jimin menghembuskan nafas, mengambil kembali uangnya. Lalu menautkan tangannya sambil berkata, "Kenapa kau baik sekali eoh?"


"Kau orang baik. Masa aku akan bersikap buruk padamu." Taehyung tersenyum sangat hangat pada Jimin.


Setelah cukup lama mereka berbincang, akhirnya Taehyung pulang. Sementara Yora belum juga kembali dari dapur. Membuat Jimin segera memeriksanya ke sana.


"Ah... kenyang sekali..."  Yora yang bersandar pada kursi di meja makan, terlihat kekenyangan. Semua mangga dari Taehyung, ia habiskan. Tanpa menyisihkan sedikit saja untuk Jimin. Yora sungguh-sungguh dengan keinginannya.


"Kau habiskan semuanya?" Jimin melotot, melihat biji mangga yang berserakan. Semuanya sudah nampak bersih, tak tersisa.


"Heem. Kenapa? Kau mau?" Yora menatap Jimin dengan mulut yang sangat belepotan bekas buah mangga. Entah bagaimana dia memakannya. Membuat Jimin mendekatinya, menenggelamkan matanya gemas, Jimin mengambil tisu yang ada disana, mengelapkannya pada Yora.


"Lihat, kau seperti anak kecil." gelak tawa sempat keluar dari mulut Jimin. Membuat Yora mengerutkan bibirnya, merasa kesal dan juga bahagia.


"Ah anakmu menyiksaku Jim! Maksudku anak kita."


Batin Yora, menatap Jimin yang masih sibuk melap bibirnya. Yora membayangkan reaksinya ketika mendengar bahwa semua ini keinginan bayi yang ada dalam perutnya saat ini.


**


"Apa dia hamil?"


Taehyung saja sudah meyadarinya. Tapi kenapa Jimin belum? Apakah dia tak pernah curiga sedikit pun pada Yora yang selalu meminta hal-hal yang kadang membuatnya mengernyitkan kening.


Taehyung masih membuka matanya, dengan tangan yang ia letakkan dibawah kepalanya. Ia menatap langit-langit kamarnya.


TRING...


"Temui aku besok. Ku tunggu kau di ruangan ayahku!"

__ADS_1


Aera mengirimnya pesan. Membuat Taehyung berdecik, "Wanita ini!" Taehyung memejamkan matanya. Tak membalas pesan itu.


**


Drtt drtt drtt ...


Alarm ponsel Yora berbunyi, ia mematikannya segera sambil melihat pukul berapa sekarang. Ternyata masih pukul 05:00 pagi. Yora bangkit, kali ini dia akan menyiapkan semuanya sebelum Jimin bangun. Hari ini, hari special baginya. Yora ingin memanjakannya hari ini, tidak tapi hari-hari berikutnya juga.


Yora memasakan sarapan untuk Jimin. Menyiapkan bajunya yang akan ia pakai kerja hari ini. Entah Jimin akan ingat hari ini hari ulang tahunnya, atau dia tak akan mengingatnya sama sekali.


Yora memasukkan surat yang dokter Hye berikan padanya waktu itu. Surat keterangan kehamilannya. Ia masukkan pada sebuah kotak berwarna ungu, yang tutupnya sudah diikat pita berwarna merah. Tak lupa juga dengan jam tangannya yang Yora beli waktu itu, sebagai hadiah untuk Jimin.


"Kau sudah bangun?" Jimin yang masih setengah sadar, bangkit dari tidurnya. Melihat Yora yang sudah duduk bersantai di sofa kamarnya. Dengan majalah di tangannya, Yora tampak mengacuhkan Jimin.


"Yora-ah? Kau tak mendengarkanku?" Jimin mendekat hendak memeluknya, namun Yora menjauh.


"Kau belum mandi, kau bau." Yora dengan datarnya.


"Ya!" Jimin cemberut kesal. Dia diam mematung di hadapan Yora. Matanya belum sepenuhnya terbuka. Ingin sekali Jimin tidur kembali dalam pelukan Yora, namun Yora malah mengacuhkannya.


Jimin sepertinya benar-benar lupa. Bahwa hari ini hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga melupakan hari paling berkesan ini.


Dia menuju kamar mandi, dengan sesekali menabrak barang yang ada. Jimin masih ngantuk sepertinya. Ingin sekali Yora tertawa terbahak-bahak, namun misinya akan hancur, jika ia melakukannya.


"Ya Tuhan... dia seperti zombie..." batin Yora, menutup wajahnya dengan majalah yang ia pegang, agar suara tawanya tak terdengar oleh Jimin dari kamar mandi.


**


Jimin melahap semua makanan yang ada, Yora hanya memperhatikannya, dia tak ikut makan.


"Kau tak makan?" mulutnya masih penuh dengan makanan, tapi dia tak bisa diam. Dia terus saja berceloteh.


Yora menggeleng,  sedikit tersenyum, sebagai jawaban, "Aku akan pergi ke rumah sakit hari ini."


Sebelumnya, dokter Hye menghubunginya. Meminta bantuan, agar Yora segera pergi ke rumah sakit. Pasien disana terlalu banyak, sedangkan sebagian dokter banyak yang tak masuk. Jadi, dengan terpaksa dokter Hye meminta bantuan pada Yora. Dokter Hye tahu tentang kehamilan Yora, dia takkan memberikan pekerjaan yang terlalu berat padanya. Itu juga berguna untuk Yora, agar ia tak stres karena kebanyakan diam di rumah.


Jimin menghentikan suapannya, mulutnya yang penuh tiba-tiba berhenti menguyah. Jimin langsung menelannya dengan kasar, "Apa perlu ku antar?"


"Jika kau tak keberatan." Yora berlalu untuk bersiap, dia akan berangkat bersama Jimin. Yora harus segera bersiap.


Mereka sudah sampai di depan rumah sakit. Jimin menatap Yora, "Jaga diri baik-baik."


Yora mengangguk. Hendak membuka pintu untuk keluar, tapi Jimin menarik tangannya. Lalu mengecup bibirnya kilat. Yora mematung, dia tak membayangkan jika Jimin akan melakukan itu padanya.


Jantungnya hampir meledak, sepertinya Yora yang mendapat kejutan hari ini.


"Hehe." Jimin menyeringai, lalu mengusap bibir Yora dengan ibu jarinya.


"Aku akan terlambat," Yora sedikit mengacak-acak rambut Jimin, rambutnya yang sudah rapih, kini menjadi berantakan karena Yora. Dia tersenyum mengejek Jimin dari luar setelah berdiri menunggunya pergi dari sana.


Jimin melambaikan tangannya, tersenyum. Lalu pergi.


**


16:00, Taehyung terlihat berjalan menuju ruangan direktur Lee. Dia terlihat sangat terburu-buru.


"Ada apa?"


Taehyung berdiri di depan Aera yang tengah duduk di kursi ayahnya.


"Duduklah Kim Taehyung-ssi, aku hanya ingin sedikit berbincang denganmu." Aera berdiri, lalu berjalan men dekati Taehyung. Ia duduk di sofa, lalu disusul Taehyung yang juga duduk di depannya.


"Cepat katakanlah!"

__ADS_1


Aera lalu bertepuk tangan, mengisyaratkan seseorang agar segera masuk ke dalam ruangannya.


__ADS_2