
Semuanya berlalu begitu saja. Bagai air mengalir. Kini, direktur Lee sudah sadar dari masa kritisnya yang cukup memakan waktu beberapa hari.
"Syukurlah... aku sangat mengkhawatirkanmu direktur!"
Jimin memeluknya, dengan pakaian rapihnya, Jimin memenuhi perintah direktur Lee untuk segera menemuinya di rumah sakit.
Aera dan Taehyung juga sudah ada disana. Sepertinya direktur Lee akan membicarakan sesuatu yang sangat penting dengan mereka.
"Apa kau sudah tahu mengenai Aera dan pria itu?" ucapnya agak berbisik, dengan tatapannya pada Aera dan Taehyung yang sangat lekat.
Jimin menggeleng. Ia memang belum mengetahui apapun tentang kejadian sebenarnya. Jimin bukan tipe orang yang selalu penasaran pada masalah orang lain. Selama itu tak menyangkut dirinya, Jimin santai-santai saja.
Akhirnya direktur Lee membeberkan semuanya, dia menceritakannya pada Jimin di hadapan keduanya. Jimin hanya sesekali menoleh mereka, merasa tak percaya dengan apa yang telah keduanya perbuat.
"Kalian harus segera menikah, jika tak ingin melihatku mati konyol disini!"
"Ta---"
"Aku akan segera pindah ke luar negri setelah kalian nikah nanti! Aku akan menghabiskan sisa umurku disana. Aku tak siap jika nanti orang-orang tahu tentang kejadian menjijikkan ini!"
"Perusahaan? Bagaimana?" lagi-lagi Aera menyela pembicaraan ayahnya.
"Kau, gantikan aku!" direktur Lee menujuk Jimin yang tengah menatap kosong.
"Kenapa tidak aku saja ayah?! Aku 'kan putrimu!" Aera berdiri, menghampiri direktur Lee yang tengah duduk di atas ranjangnya.
"Ya! Itu dulu! Sekarang kau bukan putriku lagi!" bentaknya sambil sesekali mengerang dan memegang dadanya.
"Kau, gantikan posisi Jimin!" kali ini direktur Lee menunjuk Taehyung.
Taehyung berdiri, lalu membungkuk berterima kasih dan memberi hormat. Dia tampaknya sudah pasrah dengan keadaan, Taehyung bahkan tak banyak bicara kala itu. Dia hanya menuruti semua perintah direktur Lee. Terlebih lagi, Taehyung merasa malu pada Jimin, dia takut Jimin akan membencinya karena ini.
"Ah kenapa tidak Taehyung saja direktur? Lagi pula dia calon menantumu, dia yang lebih berhak menggantikan posisimu." Jimin membuka mulut, sekarang dia merasa tak enak pada Taehyung.
"Aku sudah mengenal kau lebih dulu. Kau selalu bisa ku andalkan! Aku percaya padamu!"
Memang tak bisa di pungkiri, Jimin memang selalu menjadi yang terbaik bagi direktur Lee. Selain ke gigihannya dalam bekerja, dia juga sangat jujur. Sangat jarang menemukan orang seperti Jimin pada zaman sekarang. Itulah alasan direktur Lee selalu mengedepankannya.
Aera tak tahan melihatnya yang kini seolah-olah hanya menjadi keset bagi ayahnya. Aera pergi dengan menghentakkan kaki cukup kasar. Dia nampak sangat marah. Taehyung hendak mengejar dan menghentikannya, namun...
"Biarkan saja! Kau diam saja disini," ucap direktur Lee sangat lembut.
"Ah aku tahu kau pria baik. Namun, aku yang telah gagal mendidiknya. Mungkin inilah balasan dari semuanya."
Air mata mulai menetes dari pelupuk mata direktur Lee. Mengingat dia yang telah gagal mendidik Aera, ia telah gagal. Jimin dan Taehyung mencoba menghampiri dan menenangkannya. Jimin ikut berkaca-kaca melihatnya yang seperti itu. Hatinya ikut tertusuk. Bagaimanapun, direktur Lee sudah Jimin anggap seperti ayahnya sendiri. Jimin sangat berterima kasih atas semua yang telah ia lakukan untuknya dari dulu hingga sekarang!
"Cepatlah nikahi dia!" direktur Lee menyeka air matanya, lalu menoleh Taehyung. Ia memegang bahunya dengan tangan keriputnya yang gemetar.
Taehyung mengangguk, ia pun sama dengan Jimin. Taehyung sudah lama menjadi yatim piatu. Itu akan sangat menyakitkan jika yang sekarang ada di hadapannya itu adalah ayahnya. Itu yang Taehyung bayangkan dalam benaknya. Taehyung merindukannya.
"Maafkan aku." Taehyung menunduk dan memainkan tangannya. Ia ikut menjatuhkan air matanya. Sementara Jimin, tiba-tiba ia menolehnya, lalu menepuk-nepuk bahunya.
"Ya! Kau pria! Kenapa kau menangis? Jangan cengeng!"
"Aku merindukan Appa ku." tangisan Taehyung semakin pecah tak terbendung, ia benar-benar dengan perkataannya. Setelah melihat direktur Lee seperti itu, Taehyung jadi teringat ayahnya yang sudah lama meningalkannya.
__ADS_1
Direktur Lee membuka tangannya, mempersilahkan Taehyung untuk memeluk dirinya. Meskipun ia masih marah padanya, namun direktur Lee juga masih punya hati, ia tak tega melihat Taehyung seperti itu. Tanpa basa-basi Taehyung memeluknya penuh haru. Tangisannya masih berlangsung, ia bahkan sampai terisak. Direktur Lee pun tak tega melihat Jimin yang sepertinya teringat pada ayahnya. Direktur Lee mengisyaratkan dengan tangannya agar ikut memeluknya bersama Taehyung. Mereka nampak tenggelam dalam hangatnya dekapan, ya, dekapan seorang ayah!
**
"Kapan Jungkook akan pulang? Apa kau sudah tahu?"
"Belum. Dia tak memberitahuku kak!"
Yora yang tengah bercengkrama hangat dengan Adline di ruang tengah agak melenceng dari topik yang di bahas. Yora menenanyakan itu, ia penasaran dengan hubungan mereka. Apakah masih berjalan dengan baik atau malah sebaliknya.
"Tapi kau masih sering berkomunikasi dengannya 'kan?" Yora merapatkan tubuhnya, menatap Adline tanpa mengedip. Berharap Adline akan menjawab hal-hal baik mengenai hubungannya dengan Jungkook. Yora tak mau melihat Adline selalu termenung karena terlalu merindukannya.
"Tentu saja. Setiap hari Jungkook selalu menghubungiku." Adline tersenyum, lalu mengelus tangan Yora lembut.
"Ah syukurlah..." kini Yora dapat bernafas dengan lega setelah mendengar jawaban yang ia harapkan. Yora membalas senyuman tak kalah hangat pada Adline, Yora juga mengelus tangannya.
**
"Aku harap kau bisa mengubah dia, aku yakin kau bisa!"
Itulah ucapan terakhir dari direktur Lee sebelum Jimin dan Taehyung pergi. Taehyung hanya mengangguk sebagai balasan. Meskipun ia tak yakin, namun Taehyung belum mencoba, Taehyung pun akan berusaha untuk belajar menerima Aera apa adanya, Taehyung akan belajar mencintainya sepenuh hatinya. Meskipun kini senyuman Yora selalu terbesit di kepalanya.
Taehyung tak mau membuat perasaan direktur Lee terlukai kembali.
**
"Aku tak ingin hamil! Aku hanya akan mengandung anak Jimin! Aku tak mau... hiks."
Aera memukul-mukul perutnya yang sudah agak membuncit. Aera sungguh masih mengingat Jimin yang jelas-jelas sampai kapan pun tak'kan pernah bisa ia miliki. Bahkan kini ia membawa pisau di tangannya, entah apa yang akan ia perbuat dengan benda tajam nan mengkilat itu.
"Aku tak tahan dengan ini semua! Aku tak mencintai pria brengsek itu... hiks."
Darah segar sudah mulai mengalir pada lantai kamarnya, Aera seperti tak merasakan sakit sedikit pun dengan itu. Air mata yang kini telah bercampur dengan darah, itulah yang kini mengalir di bawahnya.
BRUK!
seseorang mendobrak pintu kamarnya yang tengah di kunci dari dalam.
"Apa yang kau lakukan?!" ternyata itu Taehyung, matanya membulat melihat cairan merah yang kini mengalir di bawah tubuh gadis yang tengah mengandung bayinya itu.
"Siapa yang menyuruhmu untuk menemuiku disini hah?! Apakah ini perintah Ayahku?!" bentaknya.
"Jangan mendekatiku, atau aku akan menusukkan ini!" lanjutnya yang kini menodongkan pisaunya pada perutnya sendiri.
Membuat Taehyung berdecik, ia harap ini hanya mimpi buruk, dan Taehyung ingin segera bangkit dari mimpi ini.
"Kau tahu? Aku kesini karena aku peduli padamu, aku takut terjadi sesuatu, dan aku terlambat!"
"Untuk apa kau melakukan ini?! Untuk apa! Aku akan mengakhiri hidupku hari ini, enyahlah dari hadapanku!"
"Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan sekarang?'"
Taehyung kehabisan akal sekarang, Aera tak'kan cukup untuk sekedar di bujuk. Kecuali...
Taehyung meninggalkan Aera sebentar untuk menghubungi seseorang. Sementara Aera, mulai melemas karena darah yang keluar dari tangannya semakin deras. Namun dia tetap bersikeras. Membuat Taehyung terus saja membujuknya dari jauh, Aera masih tak menginjinkannya untuk mendekatinya sejengkal pun.
__ADS_1
10 menit kemudian...
"Ya! Apa kau gila!"
Jimin datang, ia sangat kaget melihat Aera yang kini bersimbah darah. Jimin datang karena Taehyung menghubunginya tadi. Itulah satu-satunya cara untuk membuat Aera agar menghentikan aksinya.
Aera hanya menatapnya, ia tak banyak bicara ketika melihat kedatangan Jimin. Aera membantingakan pisau yang tengah ia pegang ke hadapan mereka. Pisau yang sudah penuh dengan darah, membuat keduanya agak mundur perlahan.
Wajahnya sangat pucat, matanya mulai sayu.
Taehyung berlari menghampirinya, menjatuhkan kepala Aera pada dadanya.
"Aku sudah bilang aku akan menikahimu! Kenapa kau melakukan hal bodoh ini! Kau tahu? Bukan hanya kau yang merasa tertekan dan menderita, aku juga merasakan semuanya! Dasar bodoh!"
Taehyung meneteskan air matanya tak terasa. Hatinya tiba-tiba sakit melihat Aera yang kini sudah lemas tak berdaya di pangkuannya.
"Kau ingin membunuh anak yang tak berdosa ini hah?! Kau memang sudah gila!"
Aera mengangkat bibirnya, senyum angkuh khasnya, kini ia sunggingkan sampai akhirnya Aera menutup matanya.
"Dia benar-benar bodoh!"
Taehyung menggendongnya, dengan langkahnya yang sangat cepat. Membawa Aera masuk ke dalam mobil Jimin. Jimin hanya mematung, menatap pisau itu membuatnya teringat sesuatu.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Taehyung menghubunginya, Jimin tak menyadarinya. Ternyata disana sudah tak ada siapapun. Setelah menerima telpon dari Taehyung, Jimin segera bergegas menyusul mereka. Dia berhenti sejenak untuk menepuk kakinya, ia merasa lemas.
"Ah kenapa lagi denganku?" Jimin berjalan keluar dengan kaki yang gemetar.
"K-kau saja yang menyetir, aku tak bisa." Jimin menatap kosong, masuk dan duduk di samping Aera. Sementara Taehyung, dia bergegas pindah ke kursi depan dan langsung menghidupkan mesin mobilnya.
Setibanya di rumah sakit...
Taehyung berlari menggendong Aera yang sudah tak berdaya.
Sementara Jimin. Dia duduk dan melamun di bangku tunggu, air matanya mengalir tiba-tiba. Kejadian itu kembali terbesit di kepalanya. Andai saja pisau itu benar-benar ibunya tancapkan pada lehernya, mungkin Jimin tak akan ada di dunia ini sekarang. Kakinya gemetar, seluruh badannya gemetar. Untungnya dokter Hye melihatnya yang tengah menangis dengan seluruh tubuh yang gemetar hebat.
"Kau kenapa?" dokter Hye berlari menghampiri Jimin.
"J-jangan mendekat!" bentaknya, menghindar dari dokter Hye.
Jimin berlari entah kemana, sementara dokter Hye langsung menghubungi Yora, agar cepat datang.
**
"Dimana dia?" nafasnya yang masih terengah-engah, keringatnya pun sudah mulai bercucuran. Yora yang memegangi perut buncitnya berjalan setengah berlari mencari keberadaan dokter Hye. Kekhawatiran nampak sangat jelas di mata indahnya.
"Dia lari kesana! Coba cari di atap!"
Yora berlari dengan tangan yang masih setia memegangi perutnya.
Memang, sebelumnya Jimin sangat sensitif melihat darah yang menempel pada pisau. Menurutnya, itu sangatlah mengerikan. Kejadian pada masa lalu itu akan kembali terbesit di kepalanya. Itu memanglah hal sepele, namun, bagi orang seperti Jimin, itu sangatlah menyakitkan. Rasa traumanya sangat tinggi. Jimin seperti di beri kesempatan hidup ke dua kalinya oleh Tuhan kala itu.
__ADS_1