SENTUHANMU

SENTUHANMU
Aera dan Taehyung dalam masalah


__ADS_3

"Lalu ada apa kau ingin menemuiku disini?"


Senyuman yang terus keluar dari bibir Yora membuat Taehyung semakin canggung di buatnya. Taehyung yang belum pernah mencintai siapapun sebelumnya, kini ia merasakannya. Jantungnya yang berdegup sangat kencang, perasaan apakah ini?


"Ah iya, aku hanya ingin bererima kasih padamu. Kau telah menyelamatkan nyawaku ke dua kalinya." Taehyung memberanikan diri untuk menatap Yora, ia tersenyum padanya. Tangannya yang tak diam, membantu memgurangi kecanggungannya kala itu.


"Itu sudah menjadi tugasku sebagai seorang dokter, tak apa." Yora memegang kedua tangan Taehyung, bukan apa-apa, karena Yora sudah menganggap Taehyung sebagai adiknya. Namun tidak dengan Taehyung, kini ia mematung, jantungnya berdetak semakin tak beraturan.


"Aku harus segera pergi! Jaga dirimu baik-baik!" lagi-lagi Yora menepuk bahunya sebelum pergi. Yora membuat Taehyung tak berdaya. Yora memang seperti itu pada semua orang, sifat ramahnya memang tak bisa ia hilangkan sejak kecil, maka dari itu, ia bersikap seperti itu pada Taehyung. Namun Taehyung beda, ia belum pernah di perlakukan seperti itu oleh seorang wanita. Terakhir kali Taehyung hanya menjadi bahan uji coba Aera, Aera si wanita iblis itu, tak pernah memperlakukannya selembut Yora.


"Taehyung kau kenapa?!'' dia nampak menampar-nampar dirinya sendiri. Dengan tangan yang menjadi bantal di atas meja cafe itu. Taehyung benar-benar tersentuh.


**


Taehyung segera pergi ke kantor, ia tak enak pada Jimin yang mungkin sudah lama menunggunya.


"Maaf aku terlambat!" Taehyung menunduk, tak berani menatap Jimin yang tengah sibuk membuka file-filenya seperti biasa.


"Tak apa. Aku bisa memakluminya." Jimin menghentikan aktivitasnya, menatap Taehyung sekilas. Lalu melanjutkan lagi aktivitasnya.


"Ah kenapa mereka sangat baik padaku?"


**


"Ayah? Kenapa kau tak memecat Jimin saja?"


"Aku tak bisa, aku sudah berjanji pada ayahnya."


Pria tua itu, apa hubungannya dengan ayah Jimin? Kenapa dia berbicara seperti itu pada Aera.


"Janji?" Aera merapatkan tubuhnya. Penasaran dengan apa yang baru saja ayahnya ucapkan.


"Sudahlah, aku harus pergi sekarang, jika tidak, aku akan terlambat!" Direktur Lee pergi dengan membawa tas kerjanya, ia nampak sangat rapih. Sepertinya ia akan menemui kliennya hari ini.


"Cih," Aera mendengus, ia tak pernah suka pada siapapun yang mengabaikannya, Aera akan membencinya. Aera sudah sangat bosan di acuhkan dan di abaikan oleh seorang Park Jimin. Maka dari itu, Aera sangat membencinya.


**


Taehyung sangat stres hari ini, pekerjaan, adiknya, Yora dan Aera, membuat kepalanya ingin meledak seketika. Cinta, nasib, dan tekanan selalu ia rasakan. Yang ada di kepalanya saat ini adalah bagaimana caranya agar Taehyung bisa terbebas dari wanita berhati iblis itu? Bagaimana nasib adiknya nanti? Dan perasaan apakah yang selalu hadir ketika ia berjumpa dengan Yora?

__ADS_1


23:00 WKS.


Bukannya langsung pulang ke rumah, Taehyung malah mampir ke sebuah club ternama disana. Ya, dia merasa sangat stres sekarang, bukannya ia tak penat. Hanya saja pikirannya selalu menampilkan pertanyaan-pertanyaan yang mustahil untuk menemukan jawabannya. Taehyung tak'kan pernah merasa tenang, setiap kali memikirkan semua hal yang menyangkut cinta dan hidupnya.


"Aku pesan satu gelas bir dan soju!"


Taehyung duduk disana, menatap lekat minuman berawarna kuning itu. Pertama kalinya ia pergi dan minum di sebuah club. Ia sangat terdesak dengan pemikiran konyolnya. Jika saja ia tak punya adik, maka mati lebih baik. Begitulah menurutnya.


Padahal, dengan mati saja, tidak akan membuat semuanya selesai. Bahkan itu akan tambah memperumit semuanya. Mati itu tak enak, kenapa semua orang sangat ingin mati ketika memiliki masalah yang bahkan itu bisa di selesaikan secara baik-baik.


Satu gelas bir sudah ia teguk habis, tak lupa dengan botol hijau itu yang juga sudah tak tersisa setetes pun di dalamnya. Matanya kini sayu dan memerah, namun itu tak membuat Taehyung menghentikan minumnya. Ia bahkan memesan satu botol lagi dan segelas bir, dengan ukuran yang lebih besar dari sebelumnya. Ya, mungkin hanya dengan begitu Taehyung akan merasa agak baikan.


"Bawakan aku satu botol soju, seperti biasa!"


Titah wanita yang sudah tak asing di telinga Taehyung. Ia datang dan duduk di sebelahnya. Belum sempat menyadari bahwa itu adalah Aera, wanita yang paling ia benci di dunia.


Taehyung yang sedang mabuk, tak memperhatikan gadis di sampingnya yang juga terus memesan soju. Sepertinya Aera juga sedang sangat stres.


Dengan mata yang sayu, dan tubuh yang agak oleng Taehyung mulai membuka mulut, "Kapan kau kemari?"


Aera pun sudah kehilangan kesadarannya, yang ia lihat kini bukanlah Taehyung, melainkan Jimin. Begitu pun dengan Taehyung, yang ia lihat bukan Aera, melainkan Yora. Ah dasar!


Aera menggelayutkan kedua tangannya pada bahu Taehyung yang tengah menatapnya sangat lekat, "Aku sudah berada disini dari tadi... apa kau tak menyadarinya? Jimin-ssi?" jari indah Aera menekan pelan dada Taehyung. Mencoba menggodanya, dengan bibir yang terangkat, menandakan ia sedang tersenyum penuh kemenangan.


Bukan hanya bar saja yang tersedia disana, melainkan penginapan yang sangat nyaman juga tersedia. Secara tak sadar Taehyung memopong Aera masuk ke dalam salah satu kamar disana. Demi neptunus, apapun yang  akan mereka lakukan, ini akan menjadi bencana besar!


Masih ingat dengan pria yang ingin Aera lenyapkan? Yap, pria yang pernah ia permalukan, hingga membuatnya ingin melenyapkan Aera. Dia kini tahu semuanya, pria itu sangat licik dan pintar. Sebelumnya ia hanya mengikuti Aera, namun, melihatnya yang berjalan gontai bersama seorang pria masuk ke dalam sebuah kamar, bukankah itu kesempatan emasnya untuk menghancurkan Aera? Bahkan jika perlu ia akan mempermalukannya. Dengan begitu, itu akan imbas.


Pria itu mengintip mereka dalam lubang pintu, "Cih, wanita ******!" umpat pria itu, mengarahkan lensa kameranya pada Taehyung dan Aera yang kini sudah tak memakai kain sehelai pun pada tubuh mereka. Pria itu lancar menjalankan aksinya. Ia memotret semua kejadian yang tengah keduanya lakukan. Mereka berhubungan badan!


**


"Apa kau tak menyesal menikah denganku hm?"


Yora dengan nada lembutnya bertanya pada suami tercintanya. Keduanya berada di balkon selarut itu, nampaknya mereka akan bergadang semalaman hanya untuk menikmati waktu luang di malam hari yang jarang mereka miliki, keduanya sibuk. Beberapa kali Jimin sudah memberi peringatan agar Yora menjaga kesehatannya dengan baik. Namun berkali-kali juga Yora malah terus saja pergi bekerja. Itu memang satu-satunya cara mengusir jenuh yang ada. Namun ia juga harus ingat bahwa ada bayi dalam perutnya yang benar-benar harus ia jaga.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


Balas Jimin menoleh ke arahnya, menggenggam tangan Yora, lalu menyimpannya diatas paha kekarnya. Jimin tersenyum menatap kedua tangan mereka yang kini bertautan.

__ADS_1


"Aku hanya penasaran saja. Aku takut jika kau menyesali semuanya."


Jimin memutar badannya sempurna. Menatap Yora lekat, beberapa kali menciumi tangan Yora yang masih saja melekat pada tangannya. Jimin tersenyum, "Apa aku terlihat seperti itu?"


"B-bukan itu maksudku. Aku hanya takut saja." Yora gugup, meskipun itu sudah sering terjadi. Namun kegugupan yang selalu muncul ketika Jimin menatapnya, sungguh tak biasa. Hanya Jimin yang mampu membuatnya seperti orang bodoh.


"Ini sudah larut, sebaiknya kita tidur. Besok kau akan bekerja." Yora melepaskan tautannya, beranjak dari duduknya. Kecanggungannya belum sepenuhnya hilang, akan sangat terlihat jika ia terus berada di dekat Jimin.


Secepat kilat Jimin menarik kembali tangan Yora, membuat tubuhnya spontan terduduk kembali, "Aku ingin minta ja---"


"Dua hari yang lalu 'kan sudah! Apa itu tak cukup eoh?" Yora menyipitkan matanya, tatapannya mulai mengintimidasi. Dengan kedua tangan yang bertumpu di dada, Yora tak menoleh Jimin.


"Jadi kau menyuruhku untuk tidur dengan wanita lain?" Jimin menainkan kuku-kukunya. Secara langsung ia mengancam Yora dengan halus. Sontak mata Yora membulat, melepaskan tumpuan tangannya, lalu menatap Jimin lekat.


"Ya! Kau menginginkannya?!" bentak Yora, membuat Jimin terperangah menatapnya. Jimin telah membangunkan macan betina yang sedang tidur.


"Tidak. Aku hanya menginginkan dirimu!"


CUP!


Jimin menyumpal mulut Yora dengan bibir tebalnya, tak ada penolakan, bahkan Yora membalas lumatannya. Ya, Jimin semakin liar, ia menggendong tubuh Yora untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia sudah semakin panas. Jimin selalu menang dalam hal apapun.


**


BRAK!


"Kau pikir aku bodoh hah?!"


Pria paruh baya itu menggebrak meja sangat kasar, dngan sebelah tangannya memegang dadanya. Dia nampak kesakitan, setelah melihat isi amplop berwarna coklat itu yang menampilkan gambar anak kesayangannya sedang melakukan hal menjijikan.


"T-tapi ayah, aku bisa jelaskan semuanya!"


Aera duduk dengan memegangi kaki ayahnya, berharap dia bisa mendengarkan penjelasan yang sebenarnya. Aera menangis, memohon-mohon agar ayahnya memaafkannya.


PLAK!


Gamparan yang pertama kali direktur Lee daratkan di pipi Aera.


"Ayah aku mohon dengarkan ak---"

__ADS_1


BRUK!


Tubuh direktur Lee ambruk. Dadanya sakit melihat anak semata wayangnya yang kini sudah di jamah laki-laki yang tak ada hubungan apapun dengannya. Harga dirinya kini di pertaruhkan untuk itu. Orang tua mana yang rela anak gadisnya berbuat seperti itu, bahkan tanpa ikatan pernikahan. Itu akan sangat memalukan.


__ADS_2