
"Apakah Jimin tak mempunyai teman?" Yora memecah keheningan.
"Ada. Hanya satu!" tukas Adline.
"Dia Jeon Jungkook, teman kakakku dari kecil. Usianya memang lebih muda dari kakakku, namun, dia cukup dewasa untuk menghadapi segala masalah yang menimpanya." jelas Adline, membuatnya semakin penasaran.
"Dan---"
Ucapan Adline terpotong karena tiba-tiba sebuah panggilan masuk. Dengan nama Jungkook di sana. Apakah dia teman Jimin yang barusan Adline ceritakan?
"Dia menelpon!" bisiknya sambil menutup mulut.
"Aku saja yang angkat kak!" Adline sangat antusias setelah Yora memperlihatkan layar ponsel Jimin, dia merebut ponselnya dengan cepat. Sepertinya ada yang tidak beres dengan Adline.
"Lama sekali kau mengangkat panggilanku Pendek! Dari mana saja kau?!"
"Ya! Ini aku, Adline!"
"Ups... mian, aku kira ini Jimin. Kenapa kau yang mengangkatnya? Dia kemana?"
"Dia sedang tidur! Tumben sekali kau menelpon kakakku, ada perlu apa?"
"Wah... sekarang kau menjadi lebih garang ya! Aku jadi tak sabar ingin melihatmu."
Adline terdiam, pipinya memerah. Dia sangat senang ketika Jungkook mengatakan, Dia tak sabar ingin menemuinya. Kini, Adline tak bisa berkata apa-apa lagi.
Adline menyukai Jungkook dari pertama kali Jimin mengenalkannya padanya. Adline sangat tertarik pada Jungkook karena dia sangat termasuk ke dalam kriteria pria idamannya.
Menurut Adline, Jungkook merupakan pria yang paling sempurna setelah kakaknya. Selain tampan, Jungkook juga pintar dan multitalenta. Meskipun dia agak bad boy, tapi Adline sangat menyukainya.
Jimin tidak tahu soal itu. Begitupun Jungkook. Adline hanya memendamnya sendiri, tanpa bercerita pada siapapun di dunia ini.
"Argh..." Jimin keluar dari kamarnya, berjalan menghampiri Adline dan Yora.
"Ini! Jungkook tadi menelpon!" Adline menyodorkan ponsel Jimin.
Jimin langsung saja mengambil tanpa basa-basi. Dia pergi ke dapur.
Disusul oleh Yora.
"Apa kau sudah mendingan?" Yora berdiri di belakang Jimin. Sempat ragu menyapanya, namun Yora tak bisa menahan kekhawatirannya itu.
__ADS_1
"Aku sudah baik!" Jimin tanpa menoleh Yora.
"Boleh ku lihat lukanya?" Yora berjinjit, mencoba melihat luka bekas sengatan itu.
Namun Yora agak terpeleset, sehingga ketika Jimin membalikan badannya, Yora jatuh ke dalam pelukan Jimin.
Yora kini dapat menatap jelas wajah mulus Jimin, dengan hembusan nafasnya yang terasa mengenai wajahnya.
Mereka tampak tak ada masalah dengan itu, Jimin kini menatap Yora, tapi matanya tiba-tiba saja jadi memerah.
Dengan tangannya yang masih menempel pada punggung Yora, Jimin kini terbuyarkan. Agak mendorong tubuh Yora agar menjauh dari tubuhnya.
"M-maaf." Yora menunduk.
Jimin pergi tanpa basa basi. Dengan matanya yang masih memerah.
"Apa yang aku lakukan? Oh Tuhan jantungku..."
Yora tampak bahagia karena itu, dia tak henti-hentinya memegang dadanya, mencoba mengembalikan ketenangan pada detak jantungnya itu.
Tak terasa, satu minggu berlalu.
Namun, Jimin dan Yora belum pernah melakukan hubungan yang biasanya dilakukan oleh pengantin-pengantin baru di luaran sana.
"Biarlah waktu yang akan menyembuhkanmu,Jim. Karena aku saja, mungkin tidak akan cukup."
Malam ini Jungkook datang ke rumah Jimin. Dia datang tanpa mengabari Jimin terlebih dahulu.
"Ah Hyung, aku sangat merindukanmu!"
Kini, semuanya berkumpul di ruang keluarga.
Jungkook tampak sangat senang ketika melihat Jimin, mereka sudah seperti saudara saja. Tak ada yang canggung diantara keduanya. Bahkan yang membuat Yora tercengang adalah ketika Jimin yang tiba-tiba bersikap sangat manis dan hangat pada Jungkook, sementara pada Yora saja tidak pernah seperti itu.
"Lihatlah kakakku, jika dia sudah nyaman dengan seseorang, maka dia akan seperti anak kecil, sangat manja!" bisik Adline pada Yora.
Yora hanya mengangguk sebagai jawaban. Dengan mulut yang sedikit agak terbuka karena masih tak percaya.
"Maafkan aku, aku tak datang ke acara pernikahanmu Hyung!" ucap Jungkook merasa bersalah.
"Tak apa. Lagi pula, kuliahmu itu lebih penting." Jimin mengacak-acak rambut Jungkook gemas.
__ADS_1
Lalu, semuanya tertawa. Begitu pun dengan Jimin. Kini matanya tenggelam, sudah menjadi ciri khasnya ketika tersenyum.
"Hatiku meleleh melihatnya. Apakah dia tak bisa bersikap seperti ini saja padaku?"
Jungkook membuyarkan lamunan Yora kala itu.
"Bolehkah aku berbicara denganmu?" ucap Jungkook.
"T-tentu saja!"
Lalu, Mereka berdua pergi dari sana. Menjauh dari Jimin dan Adline.
"Ah bagaimana hubunganmu dengannya?" Jungkook sambil menatap ke depan.
"Ya seperti yang kau tahu, Jimin masih sama. Dia masih belum bisa menerimaku." Yora tersenyum tipis, menyembunyikan kepedihannya.
"Aku sangat berharap padamu agar tidak meninggalkannya. Aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri." kini Jungkook menatap Yora, dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Tidak semudah itu aku meninggalkannya. Kau tenang saja, aku akan berusaha!"
"Aku sangat senang, akhirnya Adline tak salah memilihkan istri untuknya! Terima kasih."
Yora mengangguk sambil tersenyum tipis pada Jungkook.
**
Matahari kini sudah tenggelam, tanda malam akan tiba. Tapi Jungkook belum pulang juga.
Ternyata dia berencana akan pergi le luar, mengajak Adline jalan-jalan.
"Apakah kau perlu ku temani?" tanya Jimin yang mengantar mereka di gerbang.
"Ah kakak... aku ini sudah besar! Jangan seperti itu, lagi pula dia bisa menjagaku." rengek Adline.
"Iya Hyung, kau tenang saja. Aku akan menjaganya dengan baik." tukas Jungkook sangat bersemangat.
Ya, Jungkook pun sudah tahu riwayat penyakit Adline. Bagaimana tidak, mereka berteman sudah sangat lama sekali. Seolah-olah tak ada lagi rahasia di antara mereka.
Akhirnya mereka pergi, dan Jimin pun masuk kembali ke dalam rumah.
Sementara Yora, dia sedang menonton tv di ruang tengah sendiri. Dengan perasaan iri dalam hatinya, melihat Jungkook dan Adline yang pergi jalan-jalan berdua.
__ADS_1
"Kapan Jimin akan mengajakku jalan-jalan? aku bosan."