
"Apakah dia baik-baik saja?"
Taehyung masih duduk di bangku tunggu dekat ruangan Yora. Dia terlihat berfikir dan melamun. Taehyung kesepian disana. Besok dia akan pulang. Taehyung ingin menanyakan apakah adiknya sudah Yora bawa? Tapi keadaannya tak memungkinkan untuk itu. Taehyung gelisah, terpaksa dia mengirimkan pesan pada Yora.
Drtt drtt drtt
Yora membuka ponselnya, masih setia membelakangi Jimin yang tengah cemberut karena Yora tak mempedulikannya.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Siapa?" tanya Jimin penasaran. Jimin berusaha mengintip isi pesannya apa dan dari siapa, namun Yora menghalanginya. Dia terlihat membalas pesannya, sementara Jimin, dia nampak sudah sangat kesal.
"Yora-ah.."
"Daripada terus saja memanggil namaku, lebih baik kau pulang dan tidur!" ketus Yora, masih sibuk mengetik pesannya.
"Aku tak bisa tidur jika tidak denganmu!"
"Yasudah, kau tidur disitu saja!" jari indah Yora menunjuk sebuah sofa yang terletak tak jauh dari tempat tidurnya. Yora menunjukkannya tanpa menatap Jimin sedikit pun. Jimin terpaksa beranjak dengan tubuh yang oleng seperti orang mabuk, dia terlihat tak bersemangat sedikit pun.
"Bagaimana dengan adikku?"
Yora menggigit jarinya ketika melihat pesan Taehyung yang satu ini. Yora bingung harus menjawab apa. Yora sudah berjanji akan membawa adiknya setelah ia pulang dari rumah sakit tadi, namun Yora malah pergi ke kantor Jimin dan berakhir di rumah sakit. Membuatnya merasa bersalah.
"Aku belum membawanya. Aku tadi sangat tak enak badan. Mungkin besok, aku akan membawanya. Mianhae!"
"Ah lebih baik jangan! Lagi pula besok aku akan pulang. Jadi kau tak perlu membawakan dia untukku."
"Ya! D-diamkan ponselmu, aku tak bisa tidur karena berisik!" teriak Jimin, kesal karena Yora lebih sibuk memainkan ponselnya.
Yora tak menggubrisnya, "Aku akan membuatmu terjaga semalaman!" batinnya, tersenyum sinis.
Taehyung kembali ke ruangannya. Dan langsung tertidur, tak sabar ingin segera pulang dan menemui adik tercintanya.
Rencana Yora gagal, Jimin ternyata sudah terlelap, bahkan terlihat sangat nyenyak. Berbeda dengan Yora, dia tak bisa tidur, dia masih memikirkan kejadian tadi. Satu minggu lagi Jimin ulang tahun. Yora berniat akan memberikan surat keterangan kehamilannya sebagai hadiah. Namun lagi-lagi hatinya masih enggan untuk mempercayainya lagi. Sedikit kemungkinan Yora akan mempercayai Jimin, kecuali jika dia mempunyai bukti yang kuat, maka Yora akan percaya.
Jimin sangat lelah, Yora tahu itu. Dia bekerja siang dan malam hanya untuknya dan untuk Adline. Yora sebelumnya belum pernah sekali pun membayangkan akan ada pihak ketiga diantara mereka. Yora hanya selalu membayangkan hal-hal indah ketika bersamanya. Yora hanya ingin mengingat semua keindahan ketika bersamanya, Yora tak ingin mengingat hal-hal buruk yang pernah di laluinya bersama Jimin. Namun lagi-lagi kepalanya tak selaras, sekarang Yora selalu memikirkan hal-hal buruk tentang hubungannya, Aera, dan kehilangan Jimin. Membuatnya sangat takut melebihi apapun.
**
"Ya! Sudah kubilang, jangan menghubungiku lagi! Aku tak butuh uangmu!"
Taehyung terlihat murka.
"A-apa?! Kau jangan main-main denganku!"
Hampir saja ponselnya terjatuh, ketika mendengar suara adik perempuannya yang sedang menangis tersedu-sedu sambil memanggilnya.
"Oppa... aku takut..." suara gadis kecil itu membuat Taehyung berkaca-kaca. Dengan terpaksa Taehyung harus menurutinya, demi keselamatan adik semata wayangnya.
"B-baiklah, aku akan menemuimu sekarang!"
Taehyung mengeraskan rahangnya, melempar ponselnya, lalu terduduk dengan tangan yang menonjok-nonjok dinding. Dia terlihat sangat kesal.
Setelah dia berbincang pada salah satu perawat disana, kini Taehyung pergi keluar dari rumah sakit itu, segera menuju tempat adiknya di culik oleh wanita biadab yang terus memaksa Taehyung untuk menjadi kaki tangannya.
TOK... TOK... TOK...
Taehyung mengetuk pintu dengan kasarnya. Ia berada di sebuah gubuk kosong yang sudah tak terpakai. Wanita itu menyekap adiknya disana.
"Ku kira kau tak akan datang Kim Taehyung-ssi."
"Apa lagi yang kau mau sekarang?!"
Aera, wanita itu yang sudah lama bekerja sama dengan Taehyung untuk menjatuhkan orang-orang yang menganggu kehidupannya. Meskipun hanya secuil masalah, Aera tak akan segan-segan untuk melenyapkannya hanya dengan sekali perintah pada Taehyung.
__ADS_1
Terakhir, Taehyung tertembak karenanya, Aera memerintahkannya untuk melenyapkan seorang pria yang menurut Aera, dia menantangnya karena Aera menolaknya. Pria itu murka hingga menjelek-jelekkan Aera di media sosialnya. Sebenarnya itu bukan sepenuhnya salah Pria itu, jika Aera menolaknya secara baik-baik, mungkin ini tak akan terjadi. Namun, Aera menolaknya di depan umum waktu itu. Bisa di bayangkan betapa malunya pria itu.
Dari sanalah semua masalah berawal. Aera selalu di teror, dia bahkan hampir lenyap karena seseorang hendak menyerempet tubuhnya ketika ia turun dari mobilnya hendak masuk ke sebuah kafe. Beberapa kejadian buruk selalu menimpanya karena pria itu. Itulah yang membuat Aera sangat murka, ia memerintahkan Taehyung untuk membunuhnya. Namun, pria itu terlalu kuat, dia mempunyai senjata yang sangat banyak. Taehyung di tembak secara diam-diam ketika sedang memata-matai pria itu. Pria itu tahu, Taehyung mata-mata Aera, bahkan pria itu tahu bahwa Taehyung ingin membunuhnya. Dia sangat cerdik.
"Kali ini aku tak akan menyuruhmu untuk membunuh orang itu lagi! Pekerjaanmu akan lebih menyenangkan dari sebelumnya."
Aera duduk dengan menatap Taehyung dengan tatapan mengintimidasi. Dia terlihat tak akan segan-segan untuk membunuh adiknya jika Taehyung tak menuruti perintahnya. Tatapannya seolah-olah memaksa Taehyung untuk tetap menjadi kaki tangannya.
"Katakan aku harus apa sekarang?!" Taehyung tak menatapnya, dia terus saja melihat adiknya yang tengah menangis tersedu-sedu dengan tubuh kecilnya yang diikat tali pada kursi tua. Taehyung berkaca-kaca. Apakah hidupnya akan terus saja diinjak seperti ini? Apakah hidupnya akan bergantung pada orang lain terus seperti ini? Apakah Taehyung tak bisa hidup bebas? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di kepalanya.
"Tugasmu hanya menjadi sekertaris direktur di perusahaan ayahku! Selain kau mendapat gaji dariku, kau juga akan dapat gaji dari perushaan. Kau dan adikmu akan hidup lebih layak lagi. Bagaimana?"
Aera memainkan ponselnya, tak menatap Taehyung sedikit pun. Dia sesekali tersenyum sinis menatap ponselnya, senyum itu seolah-olah Aera tunjukkan untuk Taehyung.
"Hanya itu?!" Taehyung agak kaget mendengar ucapan Aera, biasanya Taehyung akan di beri tugas yang sangat berbahaya. Namun kali ini bisa di bilang paling aman. Apakah Aera tak main-main dengan ucapannya?
"Bawa adikmu!" Aera beranjak, berlalu dengan melemparkan amplop berisi uang pada Taehyung. Belum sempat Taehyung menyetujuinya, Aera sudah menganggap bahwa Taehyung akan mau dan setuju. Aera sungguh wanita yang sangat berbahaya.
"Oppa... kau kemana saja?"
Gadis kecil bernama Kim Mirae itu mendekati kakaknya, sambil menangis tersedu-sedu ia memeluk Taehyung.
"Kau tak apa?" Taehyung memegang wajah bulatnya. Yang kini memerah karena Mirae tak henti-hentinya menangis.
Kim Mirae, berusia 5 tahun. Dia di besarkan oleh Taehyung, setelah ibunya meninggal dua tahun lalu. Kim Mirae gadis kecil yang sangat cantik, lihatlah kakaknya, dia juga sangat tampan!
"Oppa! A-aku ingin pulang!"
"Ayo!" Taehyung tersenyum, sedikit mencubit pipi tembem Mirae untuk menghiburnya. Mirae sangat ketakutan, dan itu gara-gara Aera. Taehyung menuntun lengan Mirae, bergegas membawanya jalan-jalan sebelum mereka pulang. Taehyung sangat merasa bersalah karena ia telah membiarakan adiknya menangis berhari-hari ketakutan di rumah sendirian. Entah bagaimana Mirae bisa bertahan hidup selama Taehyung di rumah sakit berhari-hari.
**
TOK... TOK... TOK..
"Masuklah..." suara parau Yora terdengar, dia menangis semalaman, membuat suaranya menjadi seperti itu.
"Aku hanya kecapean saja. Dan kenapa aku tahu aku disini?"
"Aku pergi ke kantor kak Jimin tadi, lalu salah satu petugas kebersihan, menemukan ponsel ini di ruang kerja kak Jimin!" Adline merogoh ponsel itu, menunjukkannya pada Yora.
"Ini ponselnya 'kan?" sambung Adline melihat Jimin.
Yora hanya mengangguk. Lalu mengambil ponsel Jimin dari tangan Adline.
Adline berlari menuju Jimin. Dia membangunkannya.
"Kakak!" Adline menggoyang-goyangkan tubuhnya sangat keras.
"Kenapa kau ada disni? Hoam..." Jimin meregangkan tangannya sambil menguap. Menatap Adline dengan mata yang baru setengah terbuka.
"Apa kau tak akan berangkat kerja?"
"Ya! Kenapa kau tak membangunkanku dari tadi?!" teriak Jimin bangkit dari tidurnya. Menatap Yora yang tengah berbaring di kasurnya.
"Ada apa dengan mereka?" batin Adline, kaget melihat Jimin yang berteriak pada Yora. Biasanya dia akan bersikap sangat lembut pada Yora, namun kali ini dia berteriak, tidak seperti biasanya.
Jimin keluar dari sana. Dia mungkin langsung pulang ke rumah untuk segera mandi dan bersiap. Sementara Yora, dia masih disana ditemani Adline.
"Apa ada masalah?" tanya Adline memecah keheningan. Adline memegang tangan Yora, menatapnya sambil tersenyum.
Yora menggeleng, "Hanya masalah kecil, jangan khawatir." Yora mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum. Yora tak mau menceritakan masalah yang sebenarnya pada Adline, Yora tak mau jika harus membahas Aera lagi. Yora bahkan sudah sangat muak padanya.
"Baikalah, sekarang kau harus pulang dan beristirahat di rumah, ya?"
Akhirnya mereka meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
**
Taehyung bersiap di depan cermin besarnya. Ia mengenakan jas berwarna hitam, dengan dasi yang berawarna biru tua, nampak serasi dengan kemeja dalamnya yang juga berwarna biru tua. Sepatu hitamnya kini nampak berkilau. Dengan rambut yang kini jauh lebih rapih dari sebelumnya. Layaknya seorang CEO, Taehyung sungguh sangat tampan!
"Oppa, kau sangat tampan." Mirae menutup mulut mungilnya dengan kedua tangannya. Sepertinya Mirae malu, dia seperti seorang gadis remaja yang sedang memuji kekasihnya. Mirae sangat pintar memainkan ekspresinya.
Taehyung tertawa mendengarnya, "Kau juga sangat cantik!" Taehyung tak kalah memuji adiknya. Mirae tersenyum menunjukkan gigi-gigi kecilnya. Sangat gemas.
**
Taehyung berjalan masuk, semua mata tertuju padanya. Semua orang nampak mematung melihat kedatangan Taehyung yang tiba-tiba.
"Siapa dia?"
"Dia sangat tampan!"
"Apakah dia pegawai baru?"
"Dia bukan manusia!"
"Aku harus mendaptakan nomor ponselnya!"
"Aku penggemar pertamamu Tuan!"
Semuanya nampak berhamburan melihat Taehyung. Bahkan ada juga yang sampai tak mengedipkan matanya ketika Taehyung berjalan melewati mereka. Taehyung dengan Jimin tak ada bedanya, mereka berdua sangat ramah pada siapapun disana. Taehyung pun selalu memberi hormat pada mereka, meskipun ini pertama kali untuknya, Namun Taehyung belajar sangat cepat hanya dengan melihat sekelilingnya.
Aera sudah memberitahunya, bahwa ia harus masuk ke ruang mana dan bertemu dengan siapa.
TOK... TOK.. TOK...
"Masuk."
"Selamat pagi Tuan! Aku sekertarismu sekarang! direktur Lee yang memerintahkanku."
Taehyung tak menatap Jimin, ia menunduk. Begitu pun Jimin, ia tak menatap Taehyung. Jimin sibuk membaca filenya.
"Baiklah! Selamat bekerja, kuharap kau tak akan melakukan kesalahan saat bekerja denganku!"
Suara yang tak asing untuk Taehyung. Dengan terpaksa Taehyung mengangkat wajahnya dengan cepat, memastikan bahwa orang itu benar-benar ia kenal. Dan... ternyata benar.
"K-kau?!" Taehyung membulatkan matanya. Tak percaya.
Dengan refleks Jimin pun menolehnya, "K-kau?!" Jimin berdiri, mengerutkan alisnya, mencoba menatap wajah Taehyung dari kursinya yang cukup jauh dari keberadaan Taehyung.
Taehyung membungkuk, memberi hormat.
"M-maaf Tuan!" Taehyung kembali menunduk, menautkan tangannya.
"Kenapa bisa?" Jimin duduk, dengan mata yang terus saja menatap Taehyung lekat.
"Aku belum tahu namamu," sambungnya.
"Kim Taehyung."
"Baiklah... namaku Park Jimin, aku direktur disini." Jimin mulai melepaskan kecanggungannya.
Taehyung mengangguk sangat sopan. Dia tak banyak bicara karena segan.
"Hm, bersikaplah layaknya seorang teman! Kau tak perlu seperti itu padaku, usia kita mungkin tak jauh berbeda." Jimin tersenyum, lalu melanjutkan aktivitasnya, membuka file-filenya yang menumpuk.
"Kau ini atasanku, mana bisa aku seperti itu." Taehyung menatap Jimin lalu menunduk lagi.
"Ayolah... kalau begitu anggaplah aku sebagai temanmu, bukan atasanmu. Lagi pula aku tak punya teman disini. Bagaimana?" Jimin sudah ada di hadapan Taehyung sekarang. Senyum hangatnya mampu membuat Taehyung tersentuh. Ia baru kali ini menemukan orang yang terlihat sangat tulus dengan perkataanya.
"Baiklah." Taehyung dengan nada yang masih rendah. Hampir tak terdengar. Entah kenapa Taehyung sebelumnya adalah orang yang sangat pemberani, namun ketika berhadapan dengan Jimin, nyalinya jadi ciut. Apakah karena Jimin orang baik?
__ADS_1
Jimin menepuk bahunya sambil tersenyum. Lalu kembali lagi pada kursinya.