
Jimin, adalah seorang Direktur di sebuah perusahaan yang bernama LN Grup. Tentu saja bukan Jimin pemiliknya, melainkan milik Direktur utama di sana yaitu, Lee Do Hwa. Pria paruh baya yang memiliki seorang gadis yang sangat dia sayangi, Na Aera.
Bagaimana bisa?
Karena perusahaan peninggalan ayahnya, tidak di berikan pada Jimin. Melainkan malah di berikan pada kakak-kakak tirinya. Membuat Jimin tak di beri ruang sedikit pun untuk ikut mengelola perusahaan itu. Jimin tak berdaya, hanya bisa pasrah saja.
Jimin memiliki sekertaris yang sudah sangat lama bekerja dengannya, usianya memang lebih tua tapi Jimin sangat memepercayainya, dia Oh Sang-sik, yang kerap di panggil Tuan Oh oleh Jimin.
"Setelah menandatangi berkas ini, Direktur Lee ingin bertemu dengan Tuan, datanglah ke ruangannya segera!"
"Ah baiklah, Bagaimana keadaan kantor setelah hampir dua minggu aku tak masuk?" tanya Jimin sambil menandatangani berkasnya.
"Saya rasa baik-baik saja Tuan, tidak ada yang berubah." Tuan Oh tersenyum, membuat Jimin jadi ikut tersenyum melihatnya.
Setelah menandatangani berkas dan sedikit berbincang dengan Tuan Oh, Jimin segera bergegas menuju ruangan Direktur Lee.
"Kau menikmati cutimu hm?"
Jimin mematung, ketika yang dia lihat ternyata bukan Direktur Lee, melainkan putrinya, Na Aera. Gadis tegas dan sedikit penuntut.
Dia duduk di kursi ayahnya, sambil memainkan kertas yang ada di mejanya itu.
"Kau membohongiku!" Jimin masih enggan untuk menghampiri Aera lebih dekat. Karena dia tahu jika begitu, sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi.
"Kau hanya akan menemui ayahku! Sangat sulit untuk menemuimu seperti ini." Aera tersenyum ketus.
"Kau tahu 'kan aku sudah menikah? berhentilah menggangguku, Aera!" ucap Jimin memandang ke arah lain.
"Ayolah Jim, aku tahu kau tak mencintainya!" Aera mendekati Jimin dan menarik dasinya
Jimin menarik kembali dasinya, segera pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Aera yang kini menggerutu karena kesal.
"Sudah Tiga tahun aku berusaha untuk menaklukan hatinya, tapi aku selalu gagal. Tunggu saja, kau pasti akan menyesal, Jim!"
Na Aera, gadis cantik berusia 21 tahun, putri Direktur utama Lee Do Hwa. Selalu mengatur dan berkuasa, membuat para pegawai selalu mematuhinya, meskipun dia tak punya jabatan apapun di perusahaan ayahnya itu. Namun tingkahnya seolah-olah dialah yang memilikinya.
Na Aera dikenal sebagai gadis yang sangat dingin dan berani. Dia tak akan banyak bicara pada orang yang tak dekat dengannya, kecuali pada Jimin, meskipun beribu-ribu kali Jimin mengacuhkannya, namun bukanlah Na Aera jika akan menyerah begitu saja.
"Atur jadwal makan siangku dengan Jimin!" titahnya pada Tuan Oh.
"T-tapi Nona, Tuan Jimin akan ada meeting penting siang ini."
"Baikalah," Aera meletakkan ponselnya pada telinganya, bersiap memanggil seseorang.
"Baiklah! Akan ku atur Nona!" Tuan Oh sangat ketakutan melihat Aera seperti itu, membuat Tuan Oh terpaksa mematuhinya.
"Bagus." Aera tersenyum penuh kemenangan, lalu berjalan meninggalkannya.
Dengan berat hati, Tuan Oh mencoret daftar meetingnya siang ini. Menggantinya dengan 'Makan siang bersama Nona Aera.'
Sementara Yora di rumah kesepian, dia hanya bisa menonton tv dan memainkan ponselnya saja. Sempat ingin menghubungi Jimin, namun Yora takut akan mengganggunya.
Setelah beberapa kali memikirkannya, akhirnya Yora memberanikan diri untuk menghubungi suaminya itu.
"Y-yobseo?" Yora gugup
"*Apa kau sakit lagi eoh?"
__ADS_1
"T-tidak. Hanya saja aku ingin menanyakan sesuatu."
"Hm? Katakan."
"Apakah aku boleh kesana untuk makan siang bersamamu*?"
Yora tak yakin Jimin akan mengizinkannya.
Belum sempat Jimin menjawab, suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar.
"Akan ku hubungi lagi nanti. Jaga dirimu!"
Tuut... Jimin menutup telponnya.
"Sepertinya dia sedang sibuk, sebaiknya aku jangan mengganggunya lagi."
Batin Yora sambil tersenyum tipis, mencoba menguatkan dirinya yang sangat ingin menemui Jimin
"Masuk!" teriak Jimin
Ternyata itu Tuan Oh, dia masuk untuk memberitahu jadwal-jadwalnya hari ini.
"Apakah meeting siang ini jadi?" ucap Jimin tak menoleh Tuan Oh, dia sibuk memeriksa beberapa file.
"Tidak Tuan!" Tuan Oh menunduk.
"Eoh?" Jimin mengangkat wajahnya, menatap Tuan Oh yang tengah menunduk.
"Kalau begitu, kosongkan saja, aku akan makan siang saja dengan istriku!" Jimin kembali melanjutkan aktivitasnya.
"T-tapi Tuan, Nona Aera ingin makan siang denganmu, dia menyuruhku untuk membatalkan meetingnya, dan menggantinya dengan makan siang dengan Tuan." Tuan Oh menunduk lagi.
"Apa dia mengancammu lagi?" tanya Jimin dengan tangan yang memegang keningnya sambil mendongakkan wajahnya keatas.
"I-iya, dia hampir saja menelpon Direktur Lee, Tuan! Maafkan aku."
Setelah mengatakan itu, Tuan Oh berlutut di hadapan Jimin, merasa sangat bersalah. Karena jika dia tak menuruti Aera, maka Tuan Oh bisa-bisa di pecat, dan dia tidak bisa membiayai anak dan istrinya lagi.
"M-maafkan aku Tuan, karena jika aku tak menurutinya kau tahu 'kan resikonya? Anak-anakku masih sangat kecil Tuan!"
Ya, ini memang bukan yang pertama kalinya Tuan Oh menuruti semua perintah Aera. Tuan Oh juga tahu jika sebenarnya Jimin tidak pernah tertarik sedikit pun pada Aera.
"Sudahlah Tuan Oh, kau selalu saja seperti ini. Bangkitlah!" Jimin beranjak dari kursinya, menghampiri Tuan Oh dan membangunkannya, lalu membersihkan celananya. Jimin menepuk-nepuk celana Tuan Oh yang agak kotor.
"Kau selalu baik padaku Tuan! Tapi aku selalu saja membuatmu tak nyaman." Tuan Oh menyeka air matanya.
"Sudahlah." Jimin memeluknya, menepuk-nepuk punggung Tuan Oh.
Setelah menenangkan Tuan Oh, Jimin pun menghubungi Yora, karena dia telah berjanji akan menghubunginya lagi.
"Aku tidak bisa makan siang denganmu hari ini,maaf."
Jimin menghela nafas.
"Tak apa. Aku bisa makan siang disini bersama Adline."
"Ku tutup telponnya, ya?"
__ADS_1
lanjut Yora, tak ingin mengganggunya.
"T-tunggu!"
"Hm? Kenapa?" kini, mata Yora berbinar. Berharap Jimin akan mengucapkan sesautu yang berharga padanya.
"Aku akan terlambat pulang hari ini. Kau tidur lebih dulu, jangan menungguku, jangan masak terlalu banyak, aku akan makan di sini. Jaga Adline juga jaga dirimu. Jangan tidur terlalu larut, yang terakhir, jangan lupa matikan AC. Aku tidak ada di rumah, siapa yang akan menolongmu jika penyakitmu kambuh lagi?"
Sementara Yora hanya diam dengan mulut yang terbuka sangat lebar. Tak percaya Jimin ternyata secerewet ini.
"Yeobseo?" Jimin membuyarkan lamunannya.
"Ah baiklah. Terima kasih karena kau sudah mengkhawatirkanku."
Jimin tertunduk mendengar ucapan Yora, sepertinya dia malu.
Akhirnya Jimin dan Yora mengakhiri obrolannya. Jimin pun langsung bergegas menuju cafe yang kebetulan tidak jauh dari kantornya.
"Hanya kau yang selalu membuatku menunggu!"
Gadis itu, dia sudah menunggu Jimin dari tadi. Dengan wajah dinginnya, dia menatap Jimin. Alih-alih Jimin malah mengabaikannya.
"Hm, aku tidak pernah menyuruhmu untuk menungguku, Aera!" Jimin memundurkan kursinya, duduk dengan kaki yang ditumpangkan pada sebelah kakinya, sambil sesekali melirik jam tangannya.
"Sudah puas sekarang?" Jimin melipatkan tangan pada dadanya.
"Tidak! Aku tidak pernah puas!" Aera memajukan wajahnya dengan senyum ketus khasnya.
"Dan ya! Berhentilah mengancam Tuan Oh."
BRAK!
Aera menggebrak meja. Membuat orang-orang di sana melihat ke arah mereka.
"Aku kurang apa hah? Bilang saja Jim! Aku kurang apa?! Kenapa kau selalu mengacuhkanku? Bahkan untuk menatap mataku saja kau sangat enggan!" Aera kini terisak, air mata mulai turun dari pelupuk matanya.
"Ya! Apa kau gila? Lihatlah semua orang memperhatikan kita!" Jimin terlihat panik.
Aera akhirnya pergi dengan langkah yang setengah berlari, sambil terisak dia berjalan keluar dari cafe itu.
"Nona tak apa?" supir Aera terlihat cemas, baru kali ini dia melihat Aera menangis seperti itu.
Aera tak menjawab.
"Yeobseo?" Aera menghubungi seseorang.
"Aku tidak mau tahu, Ayah harus berbicara dengannya besok!"
Aera menutup telponnya.
Sementara Yora, dia terlihat sangat bahagia, dia menceritakannya pada Adline. Membuat Adline tak henti-hentinya menggodanya.
"Ah hentikan, aku sangat malu sekali." Yora menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sekarang aku yang mengucapkan Chukae! Kau telah berhasil merubah kakakku." Adline tertawa bahagia.
"Ah belum sepenuhnya." Yora perlahan membuka tangannya. Kini, terlihat jelas pipinya yang merah merona karena malu
__ADS_1
"Aku merindukannya, sungguh!"
Yora mulai memikirkan Jimin lagi.