
"A-ppa..."
Jimin tertawa haru mendengar gadis kecilnya yang kini sudah bisa memanggilnya appa. Jimin menggendongnya sambil terus menciumnya. Sementara Yora tersenyum melihat mereka dari jauh.
"Ah ini tak adil. Aku yang menemaninya setiap hari, tapi dia belum juga bisa menyebut Eomma." Yora menghampiri mereka dan langsung mengambil Magy dari pangkuan Jimin.
Jimin malah tersenyum meledek melihat Yora yang berpura-pura sedih mengatakannya pada Magy yang belum mengerti apa-apa.
Yora langsung memukul Jimin pelan karena kesal. Dia selalu saja seperti itu.
"Akhh... lihatlah Eommamu sayang. Dia memukul Appa, akhh..." Jimin berakting di depan Magy. Lalu Magy tertawa melihat Appanya seperti itu, Magy menepuk-nepukkan tangannya. Yora dan Jimin pun akhirnya ikut tertawa melihat putri kecil mereka yang kini sudah sangat pintar.
Magy sudah berusia lima bulan sekarang. Namun perkembangannya sangat pesat. Magy sudah sangat pintar. Itu karena kerja keras Yora dan Jimin yang selalu mengajarinya sedikit demi sedikit dari bayi. Itu membuat Magy menjadi pintar sekarang. Tentu saja Yora dan Jimin merasa perjuangan mereka ternyata tak sia-sia.
**
Swiss.
"Apa kau sebenci itu padaku?" tanya Taehyung dengan mata yang masih terfokus melihat bayinya yang kini sudah ada dalam dekapannya.
"Apa maksudmu? Sudahlah aku masih lelah, kenapa kau menanyakan hal bodoh itu terus padaku? Aku sudah mulai bisa menerimamu tapi kenapa--"
"Aku hanya bertanya lima kalimat padamu. Kenapa kau menjawabnya sebanyak itu? Cukup jawab iya atau tidak." ucap Taehyung yang kini menatap Aera karena agak kesal mendengar jawabannya yang tak masuk akal.
"Memangnya kenapa kau bertanya itu padaku? Ku kira kau sudah sangat tahu jawabannya." Aera dengan nada ketusnya mencoba merebut Sang bayi dari Taehyung, namun ia tak memberikannya pada Aera. Taehyung masih ingin menggendongnya lebih lama.
"Soobin sangat mirip denganku. Ya, jawabannya pasti kau sangat membenciku, aku tahu itu." Taehyung lalu memberikan Soobin padanya. Dan duduk di samping Aera sambil memperhatikan bayi mungilnya yang kini sudah berusia kurang lebih tiga bulan.
"Apa hubungannya dengan kemiripin dia padamu? Kau gila, kenapa kau selalu berkata yang tak masuk akal eoh?" Aera membulatkan matanya menatap Taehyung. Dengan bibir yang sedikit mengerut karena kesal.
__ADS_1
"Konon kata orang, kalau kau sedang hamil dan sangat membenci seseorang, maka nanti bayimu akan mirip orang itu. Dan kau salah satunya." Taehyung menjatuhkan tubuhnya pada kasur empuknya sambil tersenyum menatap langit-langit kamarnya.
"Apa sekarang kau masih membenciku?" dengan sigap Taehyung bangkit dan menatap Aera lekat. Hingga tak ada jarak di antara mereka sekarang.
"Ya! K-kau juga pasti sudah tahu jawabannya." Aera gelagapan, ia terlihat canggung dengan terus saja sedikit mundur untuk menghindari Taehyung yang tak berkedip menatapnya.
"Aku tahu jawabannya. Kau tidak membenciku lagi. Aku tahu itu." Taehyung tersenyum sangat lebar dengan mata yang masih terfokus pada Aera.
"Bodoh! A-aku masih membencimu!"
"Aku tak percaya." Taehyung sedikit mengerutkan keningnya lalu pergi dari hadapannya. Entah dia akan pergi kemana, namun itu sudah menjadi rutinitasnya setiap hari. Ia akan terus saja bertanya apakah Aera masih membencinya atau tidak? Ya, kini Taehyung sudah sangat mencintainya. Yora sudah lama ia lupakan.
"Ahh bodoh! Kenapa aku masih menjawab pertanyaannya seperti itu. Sementara aku selalu memberikan semua yang dia minta dariku. Akan sangat terlihat kebohonganku ini."
Kim Soobin, nama malaikat kecil mereka. Memang tak bisa di pungkiri, wajahnya sangat mirip Taehyung. Sepertinya Aera tak diberi kesempatan untuk berada pada wajah mungilnya itu. Apa yang Taehyung katakan tadi memang ada benarnya juga. Aera terlalu benci padanya.
**
"Aku berencana akan pindah lagi ke Korea nanti." TH
"Jinjja? Kau tak bercanda?" JM
"Wah kalau begitu, Soobin dan Magy akan segera bertemu." YR
Yora yang mengutak-atik ponsel Taehyung kemudian membaca pesan dari grup chatnya. Ia membukatkan matanya, ketika melihat isi pesan yang baru saja lima menit yang lalu Taehyung kirimkan pada Yora dan juga Jimin.
"Aku berencana akan pindah lagi ke Korea nanti." TH
"Apa dia sudah benar-benar gila?" Aera menutup mulutnya yang kini terbuka dengan tangannya. Sebelumnya, Taehyung tak pernah membahas ini dengannya. Lalu kenapa tiba-tiba dia berencana seperti itu?
__ADS_1
"Iya aku sudah gila! Puas kau." tanpa Aera sadari, Taehyung sudah ada di belakangnya.
Hampir saja ponselnya melayang karena kaget, "Ya!" bentaknya.
"Kenapa? Kau tak mau pindah lagi ke Korea? Kau ingin tetap disini selamanya?" tanyanya seraya duduk dan mengambil ponselnya dari tangan Aera.
"Ya, aku nyaman-nyaman saja berada disini. Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba ingin pindah kesana?" Aera menatapnya penuh curiga. Tak biasanya Aera bersikap begitu, apakah ia curiga---
"Apakah kau mengingat Yora dan ingin menemuinya? Kau merindukannya? Ya! Apakah itu benar? Kau akan bertemu dengan dia di Korea 'kan? Atau... kau akan pindah dan membawa Soobin bersamamu dan kau meninggalkan aku disini sendiri? Iya?!"
Taehyung melotot melihat Aera yang berbicara tanpa jeda, "Wah kau kenapa?" Taehyung memegang keningnya.
"Ya! Jawab pertanyaanku Kim Taehyung!" wajah Aera mulai memerah, matanya berkaca-kaca, dan akhirnya ia menutup mata dengan tangannya. Aera menangis di hadapan Taehyung sekarang, entah ada apa dengannya. Yang jelas bukankah Aera cemburu?
"Kau menangis? Apa keputusanku ini salah? Jika kau tak mau tak apa. Kita akan tinggal disini selamanya." Taehyung mendekati Aera yang sudah terisak.
"Aku hanya ingin kau menjawab pertanyaanku!"
"Tidak. Aku sudah lupa dengan dia. Itu bukan alasanku untuk pindah lagi ke Korea. Ya, Aera-ah aku sungguh sudah melupakannya. Aku hanya mengingat kau dan Soobin sekarang. Tak ada lagi." Taehyung mengelus lembut rambut Aera dan membawanya ke dalam dekapannya.
"Apa kau menangis karena kau tak mau aku bertemu dengannya lagi? Kau cemburu?" lanjut Taehyung sambil mengelap air matanya.
"Ya! Aku masih membencimu!" Aera memukul dadanya dan memeluk Taehyung sangat erat.
"Aigoo, lagi-lagi aku tak percaya." Taehyung tertawa lalu mendongakkan wajah Aera, ia mengecup pelan bibirnya sambil terpejam. Alhasil, Aera pun berhenti menangis. Dan mereka pun membuka mata secara bersamaan.
"Aku juga membencimu!" lanjut Taehyung tersenyum tipis dan menenggelamkan Aera dalam dekapannya lagi. Taehyung tersenyum melihat Aera yang kini menangis karenanya.
"Aku telah melupakan Jimin demi Taehyung. Meskipun itu sangatlah sulit untukku. Tapi akhirnya aku bisa melupakannya. Tapi, aku tetap membenci Yora. Aku benci melihatnya yang selalu bahagia bersama Jimin."
__ADS_1