setan kecil

setan kecil
part 9


__ADS_3

9 tahun kemudian....


Di sebuah bar terlihat seorang gadis yang tengah duduk sendiri di salah satu meja bar dengan segelas bir ditangannya. Rambut hitam panjang terurai, bibir merah dengan pakaian minim. Dia terlihat menikmati minumannya, hingga seseorang datang. Seorang pria tampan dengan berpakaian rapi, dengan angkuh dia duduk santai di samping gadis itu.


"Sepertinya kau butuh teman." sapa pria itu menatap tajam gadis di sampingnya.


Iris merahnya mengamati gadis dihadapannya dari atas hingga bawah. Hidung mancung dengan bibir tipis berwarna pink. Sesekali ujung jemarinya menyentuh bibir.


Gadis yang sudah setengah mabuk itu menatap kearah pria di dekatnya. Matanya melebar, mengagumi pria yang kini berada didepannya.


"Kau ingin menemaniku?" Tanya gadis itu dengan senyum menggoda.


"Apapun akan aku lakukan untukmu." Senyum pria itu.


****


Selang satu jam pria tadi keluar dari sebuah kamar di lantai dua bar tersebut. Dengan mengenakan celana hitam dan kemeja putih yang belum dikancingkan, hingga memamerkan otot perutnya yang sempurna.


"Ahhh, hanya bentuk tubuhnya saja yang Bagus." Gumam Pria itu sedikit kecewa.


Tak berapa lama seseorang telah berada di belakang pria itu dan memberi hormat padanya.


"Bagaimana Howen kau sudah mendapatkan informasinya?" Pria itu melirik pada Howen.


"Pangeran Alexis, sebaiknya anda kembali dulu ke istana, terjadi sedikit masalah di sana." Howen mencoba mengatakannya dengan hormat. 3


"Apa lagi yang mereka perbuat, berhenti memanggilku Pangeran aku sudah menjadi Raja." Alexis berbalik dan menatap tajam Howen.


"Maafkan saya Yang Mulia." Howen menunduk.


"Kau membosankan, berhenti bersikap serius. Aku baru berusia tujuh belas tahun, tapi aku menua dengan cepat karena orang-orang disekitarku terlalu serius. Apa kau tahu, banyak gadis-gadis mengira aku sudah berusia duapuluh tahun." omel Alexis, dengan kesal dia berjalan cepat meninggalkan Howen di belakangnya.


****


Langit tampak kemerahan, tanah dan bebatuan hitam pekat. Udara terasa dingin, suasana begitu sepi. Sebuah tempat yang jauh dari gambaran bumi yang hijau.

__ADS_1


Tiba-tiba saja entah dari mana Alexis dan Howen muncul, dengan sebuah pakaian lengkap dan rapi Alexis melangkah cepat memasuki sebuah gerbang besar dengan santainya. Sorot mata tajamnya terlihat menatap lurus kedepan, beberapa penjaga dengan cepat menunduk memberi hormat saat Alexis melewati mereka.


Hingga, Alexis memasuki sebuah ruangan besar yang di penuhi oleh para iblis yang kini berada di bawah kekuasaannya. Dengan gagah Alexis melangkah menuju singgasananya dan Howen berdiri disamping kanan Alexis mendampingi tuannya dengan Setia.


"Jadi, siapa yang mengganggu waktu bersenang-senangku?" Tanya Alexis begitu duduk di kursi singgasananya. "Apa kalaian meragukan aku lagi?" Tanya Alexis sedikit meninggikan suaranya.


"Kau sudah menjadi Raja kami selama dua tahun, kami akui kau cukup hebat sebagai setengah iblis yang bisa mengalahkan Raja kami sebelumnya. Tapi kerajaan ini tidak hanya membutuhkan pemimpin saja. Apa kau lupa kau memiliki tanggung jawab untuk melindungi kerajaan ini?" Terdengar suara lantang seseorang yang mulai memprotes pemerintahan Alexis.


"Kerajaan ini baik-baik saja. Aku tidak pernah menemukan masalah ataupun keluhan dari iblis lain. Hanya kau saja yang kebanyakan tingkah." Alexis menyilangkan kakinya menatap tajam pria di hadapannya yang tengah mengajukan protes.


"Malbork, membutuhkan pemimpin yang lebih matang, yang mampu membawa kami ke Puncak kejayaan." Teriak Pria di hadapan Alexis penuh semangat, di sambut sorakan iblis-iblis lain yang hadir dalam acara tersebut.


CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI


"Biarku tebak, pemimpin yang cukup matang, tua, jelek, banyak tingkah dan suka protes itu kau bukan, Gyles?" Alexis tersenyum miring, dia segera beranjak berdiri, dari tangannya muncul sebilah pedang panjang secara tiba-tiba.


Alexis berjalan santai menuruni beberapa anak tangga dan menghampiri Gyles.


"A.. Apa maksud anda? Sa.. Saya hanya bilang.... "


Dengan cepat Alexis melesat dan saat dia berhenti di hadapan Gyles. Pedang Alexis sudah menempel di kulit leher Gyles, siap untuk memotong leher pria itu kapan saja.


Seluruh iblis dalam ruangan itu terdiam. Tak ada satupun yang berani mendekat atau mencegah Alexis. "Jadi, siapa yang keberatan jika aku memimpin Malbork?" Teriak Alexis lantang pada seluruh iblis disana.


Tak ada jawaban, semua iblis bungkam. "Kerajaan ini hampir hancur saat aku merebutnya dari pemimpin kalian sebelumnya, setengah dari wilayah kalian sudah kembali pada kekuasaan Malbork. Para iblis bisa keluar masuk dari dunia manusia, membuat perjanjian dengan mereka. Kesejahteraan dan kemakmuran di capai dalam waktu dua tahun, apa aku kurang matang?" Alexis menatap Gyles. "Atau kau hanya iri padaku? Aku masih muda, tampan, banyak wanita menginginkanku dari kalangan iblis maupun manusia. Ahhh.. Aku hampir lupa, aku pintar dan juga hebat." Alexis membanggakan dirinya pada Gyles.


"Aku terlalu baik karena membiarkanmu hidup, harusnya aku juga mengirimmu ke neraka bersama ayahmu Raja sebelumnya. Howen, minta pengawal membuang iblis penghasut ini ke luar dari wilayahku. Aku tidak ingin melihatnya lagi menginjakkan kaki di kerajaanku." Perintah Alexis.


Dengan cepat beberapa pengawal istana masuk atas perintah Howen dan menyeret Gyles keluar istana. "Dengar aku akan membalasmu, akan aku pastikan kau akan menyesali semua ini Alexis." Teriak Gyles saat pengawal menyeretnya keluar.


******


Seseorang baru saja memasuki sebuah ruangan besar.


Blammm...

__ADS_1


Suara pintu yang tertutup terdengar memenuhi ruangan begitu sepi. Dengan wajah letih dia membanting tubuhnya di salah satu kursi empuk dalam ruangan itu. Seorang laki-laki dengan iris abu-abu dan rambut kehitaman dia terlihat menikmati saat istirahatnya.


"Rhodri!!" Sebuah suara terdengar.


Cermin besar di belakangnya menampakkan sosok lain yang menatap pria yang tengah duduk di kursi.


"Ayah, bisakah kita membahasnya nanti. Aku lelah, semua tugas kerajaan ini menguras seluruh tenagaku. Biarkan aku istirahat sejenak." Terdengar suara malas Rhodri.


"Apa kau melupakan ayahmu dan melupakan balas dendam kita. Sekarang kau akan berpihak pada Devian karena dia akan mengangkatmu menjadi Putra mahkota. Dengar kakekmu mati di tangan tentara Devian dan saat ini ibumu mendekam di penjara karena dia." Terdengar suara Lantang ayah Rhodri penuh kemarahan.


"Aku tahu, aku tidak akan melupakan apapun. Hanya saja aku lelah hari ini, biarkan aku istirahat sejenak saja." kata Rhodri kesal.


"Baiklah, aku hanya mengingatkanmu. Jika saja kau melupakan apa yang sudah di perbuat Devian." Gumam Sosok dalam cermin itu.


Pranggg...


Rhodri melemparkan sebuah fas emas di atas mejanya kearah cermin. Membuat cermin itu retak, namun retakan-retakan itu perlahan menyatu kembali dan utuh seperti tak pernah ada goresan sedikitpun.


Suara gaduh dari kamar Rhodri membuat seorang pelayan berlari tergopoh-gopoh memasuki kamar pria itu dengan cemas. "Tuan apa terjadi sesuatu?" tanya pelayan itu cemas.


"Tidak apa-apa, aku tanpa sengaja menjatuhkan fas bunga disana." Jawab Rhodri santai.


Rhodri segera beranjak dari kursinya dan berjalan kearah ranjang. "Aku lelah, kau keluarlah!!" Perintah Rhodri pada pelayannya.


*****


Meja oval besar di kelilingi oleh beberapa orang dalam ruangan itu. Di bagian paling ujung, seorang dengan iris merah dan rambut perak tengah menatap serius semua orang yang hadir disana.


"Jadi, belum ada yang mengetahui keberadaan buah itu?" Tanyanya dengan wajah serius.


"Belum, yang mulia. Seluruh iblis di kerajaan telah mencoba mencari tahu tapi tak ada yang menemukannya." Jawab seorang dari mereka.


"Waktu yang kita miliki tidak banyak, keadaan Ratu semakin menurun sejak anak pembangkang itu memutuskan untuk kabur. Apa kalian juga belum mengetahui keberadaannya?" Devian menatap kebagian kanannya.


Sebagian menundukkan kepala, mengisyaratkan kalau mereka tak menemukan keberadaan Putra Devian.

__ADS_1


"Pangeran Alexis selalu berpindah, dia sesekali berada di dunia manusia. Tapi beberapa iblis juga pernah melihatnya didunia iblis. Ada beberapa kabar yang mengatakan pangeran berada di Malbork, tapi kami tidak bisa melakukan pencarian disana karena itu diluar kekuasaan anda." Jelas salah satu dari mereka.


"Begitu rupanya, kirimkan pesan dan hadiah untuk Raja Malbork minta ijin padanya kalau kalian harus melakukan pe carian seorang kriminal yang melarikan diri. Jangan sampai mereka tahu Pangeran yang tengah kita cari." perintah Devian. "Baiklah, kita akhiri pertemuan ini. Aku harus kembali ke Aldwick. Panglima aku serahkan keamanan kerajaan padamu, jika terjadi sesuatu kau bisa langsung menemuiku." Devian lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan itu dan segera kembali ke Aldwick.


__ADS_2